بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Ada banyak kisah tentang bagaimana seorang mukmin menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pemimpin, melakukan ‘protes’, perlawanan, ketidaksepakatan …
 
Umar bin Khattab termasuk Khalifah yang amat sering diprotes. Bila umat tidak menyukai aturan yg diterapkan Umar, biasanya mereka akan langsung bicara dihadapan Umar, didepan orang banyak. Sambil berkata : Aku akan mengadukanmu nanti di padang Masyar …
 
Mendengar itu Umar akan galau, dan langsung bertanya : Apa salahku ya fulan …?’
dan selanjutnya, terjadilah dialog antara pemimpin dan rakyatnya.
 
Pada era Rasulullah, protes protes juga terjadi. Misalnya dalam peristiwa perjanjian Hudaibiyah 628 M atau 6 H, bukan tidak sedikit para sahabat yang keberatan dengan perjanjian itu. Muncullah protes protes para sahabat kepada Rasulllah langsung. Mereka memandang perjanjian itu berat sebelah, tidak adil dan menzolimi mereka. Tapi Rasulullah memilki pertimbangan lain sehingga perjanjian itu tetap berlanjut.
Kasak kusuk masih tetap terjadi. Ketidakpuasan masih tetap mengganjal.
 
Terutama Umar, yang masih saj tidak puas. Ia segera ‘curhat’ pada Abu Bakr. Lalu, apa kata Abu Bakr?
 
“Ya Umar, dia adalah Rasulullah. Ucapan dan perbuatannya pasti benar!”
 
simple dan benar. Mendengar kata kata Abu Bakr, Umar langsung sadar dan menangis memohon ampun pada Allah Ta’ala.
 
Intinya, protes kepada pemimpin bukanlah sesuatu yang haram dalam Islam. Buktinya Rasulullah tak pernah marah, menghardik mereka yang memprotes kebijakannya atau mengatakan itu adalah sesuatu yang haram.
 
Pada saat Rasulullah mengajak para sahabat untuk bermusyawarah sebelum beliau mengambil keputusan atas sebuah masalah, sejatinya itu berarti Rasuullah bersiap untuk mendapatkan jawaban tidak atau bahkan penentangan dari para sahabat.
Dan itu adalah sesuatu yang wajar saja.
 
Ada sebuah peristiwa menarik yang terjadi yang melibatkan Khalid bin Walid dan Salim Maula Abi Hudzaifah.
 
Khalid adalah panglima perang yang brilian, gagah berani, cerdas dan amat kuat. Dia juga salah satu orang terpandang di suku Quraisy.
 
Sebaliknya Salim adalah mantan budak yang ketika masuk Islam ia dibebaskan. Malah ia diangkat anak oleh mantan majikannya !
 
Salim juga sahabat yang amat cerdas. Kepandaiannya dalam memahami dan menguasi Al Quran sungguh mengagumkan. Dan ia menjadi andalan para sahabat, tempat bertanya tentang Kitabullah ( al Quran ).
 
Begitu pandainya Salim, sampai sampai Rasulullah ﷺ menyuruh Kaum Muslimin belajar Al Quran daripadanya.
 
Rasulullah ﷺ bersabda :
 
Pelajarilah Al Quran dari empat orang ini yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Huzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal.
 
Pada Salim رضي الله عنه terhimpun keutamaan keutamaan yang terdapat dalam Agama Islam. Keutamaan keutamaan itu berkumpul pada diri dan sekitarnya, sementara keimanannya yang mendalam mengatur semua itu menjadi suatu susunan yang amat indah.
Tetapi meski mantan budak, Salim tidak pernah merasa rendah diri atau merasa dirinya berbeda dengan yang lain. Seperti Bilal, Islam mejadikan mereka manusia yang bermartabat dan mulia.
 
Suatu ketika, setelah peristiwa pembebasan Mekah [ Fathu Mekah ], Rasulullah  ﷺ mengirimkan beberapa rombongan ke kampung dan suku suku Arab di sekeliling Mekah  Untuk menyampaikan kepada penduduknya bahwa Rasulullah ﷺ sengaja mengirim mereka itu untuk berda’wah, dan  bukan untuk berperang.
untuk ekspedisi kali ini, Rasulullah menunjuk Khalid bin Walid رضي الله عنه.  Dan pesan Rasulullah amat jelas dan terang : ini adalah ekspedisi damai, tidak boleh ada pertumpahan darah.
.
Ketika Khalid رضي الله عنه sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkannya terpaksa mengunakan senjata dan menumpahkan darah.
 
Salim yang juga ikut serta dalam ekspedisi ini [ dan juga para sahabat yang lain! ] tentu kaget melihat pembuuhan itu. Kontan Salim menegur keras Khalid, sang pemimpin ekspedisi.
Khalid, seorang komandan perang yang brilian dan amat berani, orang terpandang di Quraisy, ditegur oleh mantan budak dan miskin.  Dan kejadian itu terjadi di depan para sahabat.
Coba bayangkan, bila hal itu terjadi di masa sekarang, mungkinkah ada orang miskin papa berani menegur dengan sengit atas kesalahan yang dilakukan bos besar?
Bila bukan karena Islam, maka peristiwa itu tidak akan mungkin terjadi !
Khalid pada awalnya diam saja, tentu ia segera menyadari kesalahannya. Tetapi kemudian ia membela dirinya, akhirnya meningkat menjadi perdebatan yang sengit. Tetapi Salim tetap berpegang pada pendiriannya dan mengemukakannya tanpa takut takut atau bermanis mulut.
 
Dimata Salim, Khalid bukanlah sebagai salah seorang bangsawan Mekah atau Panglima Perang yang telah memenangkan pertempuran pertempuran besar. Tidak !
Salim hanya melihat bahwa ada ketidakadilan, ada kesalahan fatal yang terjadi, yang bila didiamkan, maka ini bisa menyulut perang yang cukup besar.  Sedangkan Salim tahu, Rasulullah sudah harus fokus pada peperangan melawan Romawi, dan bukan lagi perang melawan suku suku kecil Arabia.
Sungguh Salim tidak takut akan kebesaran nama Khalid.  Baginya, kebenaran harus diucapkan.  Meski itu pahit !
 
Serta ia menentang dan menyalahkan Khalid yang posisinya adalah pemimpin,  itu bukanlah karena ambisi atau suatu maksud tertentu.
Sejatinya, Salim hanya melaksanakan nasihat yang diakui haqnya dalam Islam, dan yang telah lama didengarnya dari Rasulullah ﷺ.  
Bahwa nasihat itu merupakan teras dan tiang tengah Agama, sabdanya : Agama itu ialah nasihat … ! “Agama itu ialah nasihat … ! “Agama itu ialah nasihat … !
 
Sewaktu peristiwa ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau memohon ampun kepada Tuhannya amat lama sekali sambil katanya : “Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh Khalid … !”
 
Juga peristiwa tersebut tak dapat dilupakan oleh Umar رضي الله عنه, ia pun mengambil perhatian khusus terhadap pribadi Khalid katanya : “Sesungguhnya pedang Khalid terlalu tajam … !”
 
Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, katanya : “Adakah yang menyanggahnya … ?
 
Alangkah agungnya pertanyaan itu, Rasulullah ingin tahu, adakah umatnya yang berani menegus kesalahan Khalid, Panglima Perang yang perkasa dan brilian itu?
Dan ketika ada yang menjawab : Ada Ya Rasulullah.  Dialah Salim yang menegur dan menyanggah Khalid hingga terjadi pertengkaran sengit.
Seketika amarah Rasulullah ﷺ menjadi surut mendengar itu. Beliau bersyukur, masih ada umatnya yang berani melawan ketidakadilan, kesewenang wenangan dan kezaliman.  
Bagi Rasulullah, protes itu menjadi wajib, manakala kesalahan yang dilakukan pemimpin, berpotensi besar akan terjadinya kerugian, kemalangan, kekalahan bahkan malapetaka. Dan Nabi mencintai mereka yang berani menentang kezaliman. Karena, barang siapa yang hanya diam ketika kezaliman terjadi disekelilingnya, ia laksana berdiri di lautan api.  Yang apinya menjilati dirinya, tanpa ia sadari !

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ