بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jebakan logika menjadi salah satu celah bagi umat yang lemah pondasi ilmu agamanya, untuk dipermainkan setan.  Seseorang yang ilmu agamanya belum ajeg, seringkali jadi permainan kaum sekuler liberal untuk digoyang keimanannya.  Itulah sebabnya umat Islam harus terus belajar dan belajar tentang ilmu agama, bukan hanya ilmu duniawi yang dipelajari.  karena jika tidak, kita bisa tergelincir menjadi kafir karena jebakan literasi kaum dajjal.

Sebagai salah satu contoh yang kelihatannya sepele dan remeh, tetapi ternyata ampuh juga untuk memalingkan iman umat.  Yaitu ketika mereka orang orang kafir, sekuler liberal itu mengatakan bahwa : Muhammad itu adalah Penutup Para Nabi. Khotam an Nabiyyīn [خاتم النبيين].

Seperti yang tercantum dalam surat Al Ahzab ayat 40 :

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٤٠﴾

Artinya : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rosulullah dan penutup nabinabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab : 40)

 

Dari ayat diatas bukankah sudah jelas, bahwa Muhammad adalah Penutup Para Nabi, tetapi bukan Penutup Para Rosul.  Jadi, datangnya Rosul sesudah Muhammad, adalah hal yang mungkin.  Karena yang ditutup adalah kenabian, dan bukan kerosulan.

Sepintas, logika diatas benar bukan?  karena yang tertera dalam Al Quran dan hadis, jelas disebutkan bahwa Muhammad adalah Penutup Para Nabi, dan bukan Muhammad adalah Penutup Para Nabi dan Rosul.  Jadi, bila ada rosul sesudah Muhammad, maka itu adalah hal yang mungkin.

Permainan Logika

Bagi mereka yang awam, jebakan literasi diatas akan sangat mudah menggelincirkan iman mereka.  Tetapi yang paham, tentu akan mentertawakan.  Dimana jebakannya?

Karena ternyata tidak semua umat paham, bahwa Nabi itu tingkatannya dibawah Rosul.  Artinya, anda tidak mungkin jadi Rosul, kalau belum jadi Nabi.  Jadi anda harus jadi Nabi dulu, baru bisa menjadi Rosul.

Semua Rosul itu adalah Nabi, tetapi Nabi, belum tentu Rosul.  Jangan dibalik.  Karena Rosul itu adalah nabi yang mendapat kekhususan, keistimewaan.

Sehingga ketika Allah Ta’ala menyebut : Muhammad adalah Penutup Para Nabi, itu sudah amat tepat.  Karena bagaimana mungkin ada Rosul, bila sudah tidak ada lagi Nabi?  Bukankah Rosul itu berasal dari Nabi?

Justru jika disebut : Penutup Para Rosul, maka konsekuensinya, bisa jadi bakal ada Nabi lagi … Karena yang ditutup adalah Rosul, logikanya, yang ditutup sekolah SMA …, tapi SMP masih bisa dibuka kan?

Tapi kalau sekolah SMP yang ditutup, apa mungkin orang masih bisa belajar sampai ke SMA?

Jadi,  jika tidak ada Nabi setelahnya maka tidak mungkin ada Rasul (pula) setelahnya.  Karena kedudukan kerasulan lebih khusus daripada kedudukan kenabian, karena sesungguhnya setiap Rasul adalah Nabi bukan sebaliknya.

Mudahnya, seorang sarjana, pasti dia lulusan SMA. Tapi lulusan SMA, belum tentu Sarjana.

Dalam hal ini terdapat beberapa hadits yang mutawatir dari sekelompok sahabat, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari At Thufail bin Ubay bin Ka’b dari Bapaknya dari Muhammad Rosulullah, Beliau bersabda :

“Perumpamaanku dari para Nabi adalah seperti seorang lelaki yang membangun rumah, dia memperindahnya dan melengkapinya, namun dia meninggalkan satu tempat sebesar batu bata dan dia tidak meletakkannya, maka orang-orang berkeliling mengitari bangunan dengan terkagum kagum sambil mengatakan, ‘seandainya tempat batu bata ini sempurna’, maka saya dari para Nabi itu seperti tempat batu bata itu”.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Bundar dari Abi Amir al Al Aqadi, dan beliua (Tirmidzi) mengatakan,”Hasan Shahih” (Tafsir al Quran al Azhim juz VI hal 428)

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
.