بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mu’adz bin Jabal ( Bahasa Arab : معاذ بن جبل  wafat 18 H di Urdun, Syria pada usia 36 tahun ) adalah satu dari 4 Sahabat Pemegang Kunci Al Quran yang disebut Rasulullah ﷺ.   Mu’adz juga sahabat Anshar teladan, ia ikut serta dalam Baiat Aqabah Dua dan termasuk As Sabiqun Al Awwalun.  Mu’adz adalah penghafal Al Quran terbaik, periwayat hadis, cendikiawan fiqih dan duta besar Islam yang pertama yang dikirim Rasulullah.

Karena ketekunan dan kecerdasannya dalam ilmu dan daya hafal Al Quran yang amat baik, serta menuliskan Al Quran dalam lembaran lembaran kayu dan kulit, maka Rasulullah bersabda :

“Pelajarilah Al Quran dari empat orang ini yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal

Ia adalah cendekiawan  dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqih, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana yang halal dan yang haram.  Allah ﷻ mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah.  Mu’adz juga merupakan duta besar Islam yang pertama kali yang dikirim Rasulullah.

Utusan Baiat Aqabah Kedua Yang Termuda

Nama panjangnya adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, sedangkan nama julukannya adalah “Abu Abdurahman”.

Pada tahun 622 M atau satu tahun sebelum hijrah, tatkala Rasulullah ﷺ mengambil baiat dari 72 orang-orang Anshar pada perjanjian/ Baiat Aqabah yang kedua.  Diantara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat Rasulullah ﷺ.  Ia penuh perhatian dan sikapnya menenangkan. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya. Nah, itulah dia Mu’adz bin Jabal RA. Usianya saat itu sekitar 18 tahun.

Setelah itu ia kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia bahkan berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat terkemuka misalnya Amru bin al Jamuh.

 

Pelita Ilmu

Pada waktu Rasulullah ﷺ berhijrah ke MadinahRasulullah ﷺ mempersaudarakanya dengan Abdullah bin Mas’ud. Dan Mu’adz senantiasa berada bersama dengan Rasulullah ﷺ sehingga ia dapat memahami Al Quran dan syariat syariat Islam dengan baik. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al Quran serta paling memahami syariat syariat Allah ﷻ. Oleh sebab itulah Rasulullah ﷺ memujinya dengan bersabda :

“Yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal.” (Hadist Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Berani Mengemukakan Pendapat

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu’adz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ketika Rasulullah ﷺ hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’adz?”

“Kitabullah,” jawab Mu’adz.

“Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?”, tanya Rasulullah ﷺ  pula.

“Saya putuskan dengan Sunnah Rasul.”

“Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?”

“Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia,” jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah ﷺ. “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.
Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu’adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai “orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram
Pada suatu hari Rasulullah ﷺ bersabda, “Hai Mu’adz! Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan : ‘Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu.”

Mu’adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat.

Pada suatu pagi Rasulullah ﷺ bertemu dengan Mu’adz, maka beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu’adz?”

“Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah,” jawabnya.

“Setiap kebenaran ada hakikatnya,” kata Rasulullah ﷺ pula, “maka apakah hakikat keimananmu?”

“Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka.”

Maka sabda Rasulullah ﷺ, “Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!”

Periwayat Hadis

Mu’adz juga seorang periwayat hadis.  Ia banyak meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan meriwayatkan darinya ialah Anas bin Malik, Masruq, Abu Thufail Amir bin Wasilah. Selain itu, Muadz merupakan salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al Quran pada zaman Rasulullah ﷺ.

Paling Paham Halal Haram

Mu’adz bin Jabal adalah orang yang paham tentang halal dan haram. Termasuk halal dan haram dalam transaksi dan perdagangan. Ia tidak mengenal bertransaksi dengan unsur maysir (spekulasi), ghoror (tipuan), gheis (curang) apalagi ikhtikar (menimbun barang) dan riba. Kekayaan yang didapat pun tak lebih dari buah ketekunan dan kecerdasan, yang mendapatkan taufiq dari ar-rozzaq Allah ﷻ jauh dari segala syubhat apalagi yang haram.

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A’idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW.

Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

“Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu’adz bin Jabal,” tutur A’idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, “Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu’adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya.”

Dan Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, “Kalau tidaklah berkat Mu’adz bin Jabal, akan celakalah Umar!”

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: “Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara.”

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu’adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun!

Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya.

 

Kasih Sayang Umar Kepada Mu’adz

Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu’adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu’adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.

Kemudian Umar datang ke rumahnya dan mengemukakan usulannya untuk membagi dua harta Mu’adz (membagi dua kekayaan Muadz dan menyerahkannya kepada negara, sebagai bentuk kehati-hatian Umar sebagai pengelola negara).

Muadz pun menolak dengan argumen yang cerdas dan hujjah yang kuat. Diskusi hangat dua sahabat mulia itu pun berakhir dan Umar berpamitan meninggalkannya.

Pagi-pagi keesokan harinya Mu’adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu’adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. “Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!”

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu’adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. “Tidak satu pun yang akan kuambil darimu,” ujar Abu Bakar.

“Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik,” kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu’adz.

Andai diketahuinya bahwa Mu’adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu’adz.

Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Dan sungguh Umar tidak hasad dan iri dengan kekayaan Mu’adz, tidak pula ia menuduh Mu’adz bermaksiat dengan mencari jalan haram dalam menumpuk kekayaan.  Namun ia hanya takut karena saat itu Islam sedang mengalami kejayaan dan kegemilangan. Sedang di luar sana banyak tokoh-tokoh yang memanfaatkan hal tersebut dengan bergelimang harta tanpa kejelasan sumber halalnya. Inilah yang ditakuti Umar, tidak lebih.

Sebagai pengajar di Makkah dan Yaman

Setelah kota Makkah dibebaskan Rasulullah ﷺ, penduduk Makkah memerlukan tenaga-tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama mereka untuk mengajarkan syariat agama Islam. Rasulullah ﷺ lantas menyanggupi permintaan tersebut dan meminta supaya Mu’adz tinggal bersama dengan penduduk Makkah untuk mengajar Al Quran dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah.

Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah ﷺ guna meng-isytihar-kan keislaman mereka dan meminta kepada Rasulullah ﷺ supaya mengantarkan tenaga pengajar kepada mereka. Begitupun maka Rasulullah ﷺ memilih Mu’adz untuk memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat.

Di Yaman selain berdakwah menyebarkan dan mengajarkan Islam, Mu’adz bin Jabal juga berdagang sebagaimana para sahabat lainnya. Karena kepandaian dan ketekunannya pulalah, maka ia berhasil meningkatkan omset dagangnya dan berubah menjadi pribadi yang kaya raya, santun dan faqih. Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Mu’adz masih berada di Yaman.

Nabi mengirimnya ke negeri Yaman untuk mengajar, memberikan pengetahuan agama dan mendidik sampai hapal al-Quran kepada penduduk Yaman. Rasulullah sendiri yang mengantarnya dengan berjalan kaki hingga ke perbatasan Madinah.  Tangan kanan Rasulullah menuntun kuda yang dikendarai  Mu’adz. Dan Nabi bersabda kepadanya: ” Sungguh, aku mencintaimu“.

Wafat di Urdun, Syria

Setelah Umar bin Khattab dilantik menjadi khalifah, ia mengutus Mu’adz untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi di kalangan Bani Kilab. Ia pun sukses menjalankan misi itu.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar pula, gubernur Syam (sekarang Mesir) mengirimkan Yazid bin Abu Sufian untuk meminta guru bagi penduduknya. Lalu Umar memanggil Mu’adz bin Jabal, Ubaidah bin As-Somit, Abu Ayub Al-Ansary, Ubay bin Ka’ab dan Abu Darda’ dalam satu majelis.

Khalifah Umar berkata kepada mereka : “Sesungguhnya saudara kamu di negeri Syam telah meminta bantuan dariku supaya mengantar siapa saja yang dapat mengajarkan Al Quran kepada mereka dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam. Oleh karena itu bantulah aku untuk mendapat tiga orang dari kalangan kamu semoga Allah merahmati kamu. Sekiranya kamu ingin membuat pengundian, kamu boleh membuat undian, jika tidak aku akan melantik tiga orang dari kalangan kamu.”

Lalu mereka menjawab : “Kami tidak akan membuat pengundian dengan memandang bahwa Abu Ayub telah terlalu tua, sedang Ubai pun senantiasa mengalami kesakitan, dan yang tinggal hanya kami bertiga saja.” Kemudian Umar berkata kepada mereka : “Kalian mulailah bertugas di Hims, sekiranya kamu suka dengan keadaan penduduknya, bolehlah salah seorang diantara kamu tinggal di sana. Kemudian salah seorang daripada kamu hendaknya pergi ke Damsyik, dan seorang lagi pergi ke Palestina.”

Lalu mereka bertiga keluar ke Hims dan mereka meninggalkan Ubaidah bin As-Somit di sana, Abu Darda’ pergi ke Damsyik. Mu’adz bin Jabal terus berlalu pergi ke negara Urdun, Syria. Mu’adz bin Jabal berada di Urdun pada saat negeri tersebut tengah terserang wabah penyakit menular.

Menjelang akhir hayatnya, Mu’adz berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan.”

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, “Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan…” Dan nyawa Mu’adz pun melayanglah menghadap Allah.

Akhirnya Mu’adz bin Jabal wafat terkena wabah hebat itu pada tahun 18 H, waktu itu usianya masih 36 tahun.

Sumber :
Biografi Mu’adz dalam Al-Ishabah no.8039 karya Ibn Hajar Asqalani dan Thabaqat Ibn Sa’ad 3/Q2,120
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu (Wafat 18 H)
Inspiring Muadz bin Jabal: Dai Muda yang Kaya Raya dan Lembut Hati

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ