بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ada banyak ayat Al Quran yang mengharamkan pemimpin non Muslim dipilih oleh orang Islam, salah satunya Surat Al Maa-idah [5] ayat 51 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 51

Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

‎Dalam ayat tersebut, Allah ﷻ menggunakan pilihan kata pemimpin dengan kata Walu. Padahal ada begitu banyak padanan kata pemimpin dalam bahasa Arab selain kata wali. Misalnya kata Amir, Raa’in, Haakim, Qowwam, Sayyid dan sebagainya.

Mengapa Allah ﷻ gunakan pilihan kata pemimpin dalam ayat tersebut dengan kata Wali?

Karena secara bahasa, kata Wali memiliki akar kata yang sama dengan kata wilaayatan (wilayah/daerah). Karena itu, penggunaan kata wali mengindikasikan definisi pemimpin yang dimaksud ayat tersebut pemimpin yang bersifat kewilayahan.

Dengan kata lain, non Muslim yang dilarang umat Islam memilihnya menjadi pemimpin adalah pemimpin yang menguasai suatu wilayah mayoritas kaum Muslimin.

Wallahu a’lam bil showab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..