بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hafalan bukanlah metode belajar yang berdiri sendiri. Ia bagian dari satu rangkaian/proses menuntut ilmu yang secara langsung diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat beliau . Jika kita telusuri lebih jauh, perintah baginda Rasulullah ﷺ untuk menghafalkan Al Quran kala itu bukan hanya karena kemuliaan, keagungan dan kedalaman kandungannya, akan tetapi juga untuk menjaga otentisitas Al Quran itu sendiri.

Demikian juga dengan hafalan Al Hadis, sangat berperan dalam menjaga otentisitas dan keberlangsungan Hadis hadis Rasulullah ﷺ. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim misalnya, dua Muhaddith yang sejak kecil berkunjung ke berbagai tempat dan negara hanya untuk menemui dan belajar langsung kepada para ulama yang hafal dan memahami Hadis hadis Rasulullah ﷺ dengan sangat baik. Pentingnya hafalan Hadia ini telah Rasulullah ﷺ isyaratkan dalam sebuah sabda beliau :

“Semoga Allah menjadikan berseri seri wajah seseorang yang mendengar dari kami Hadits lalu dia menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah dari sahabat Zaid bin Tsabit r.a.).

Disamping berkaitan dengan otentisitas, hafalan juga berkaitan dengan pemahaman dan pengamalan. Sebagai utusan Allah ﷻ, baginda Rasulullah ﷺ, penerima wahyu (Al Quran), memiliki kemampuan menangkap, memahami, dan menafsirkan firman Allah swt dengan sangat baik. Jadi, seperti apa dan bagaimana kandungan Al Quran dijelaskan dan dilakukan langsung oleh Rasulullah ﷺ .  Al Quran surat An Nahl [16] ayat  44 :

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ 44

keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,

 

Hafalan Hadis pun demikian, diikuti pemahaman. Para ulama, dalam menghafal satu Hadis misalnya, diperoleh dari ulama yang otoritatif, bukan sekedar dari membaca buku yang diproduksi secara luas tanpa bimbingan orang-orang yang ahli (Muhaddith). Al-Muhaddith Imam Bukhari misalnya, berkunjung ke berbagai negara untuk bertemu langsung dengan banyak ulama dalam rangka menghafal Hadith dan memahami isinya. Guru-guru beliau banyak sekali, di antara yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa dan Abu Al Mughirah.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam setiap hafalan Hadis, harus ada proses pemahaman ilmu dari sang ulama kepada sang murid. Oleh karenanya, umat Islam masa klasik tidak pernah diresahkan oleh Haditshadits atau ayatayat yang bertebaran secara sepotong-potong di tengah umat. Ayatayat dan Hadits selalu dipelajari dalam konteks, tidak sekedar dihafalkan tanpa penjelasan yang memadai.

Sebagai sumber utama umat Islam, hafalan Al Quran dan Al Hadis memberi andil sangat besar dalam perkembangan peradaban Islam.

Melihat peran sentral tersebut, maka tidak heran jika para ulama memandang bahwa hafalan Al Quran adalah satu keniscayaan. Bahkan ada yang sampai menyatakannya sebagai prasyarat bagi siapapun yang ingin mendalami ilmu-ilmu Keislaman secara luas. Sebab bagi mereka, menuntut ilmu itu ada tahap-tahapnya. Dan tahap yang paling atas dan utama adalah menghafal Al-Quran, terang Abu Umar bin Abdil Barr.

Al-Hafizh An-Nawawi juga menegaskan : “Yang pertama kali dimulai adalah menghafal Al Quran yang mulia, dimana itu adalah ilmu yang terpenting diantara ilmu ilmu yang ada. Adalah para salaf dahulu tidak mengajarkan ilmu-ilmu Hadits dan Fiqh kecuali kepada orang yang telah menghafal Al Quran (An-Nubadz fii Adabi Thalabil ‘Ilmi, p. 60-61).

Apa keutamaan menghafal al Quran itu?

Banyak hadits dari Rasulullah ﷺ yang menganjurkan untuk menghafal Al-Quran, agar diri orang muslim tidak lepas dari kitab Allah ﷻ , seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’ :

إن الذي ليس في جوفه شيء من القرأن كالبيت الخرب

“Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun dari al-Qur’an, maka ia seperti rumah yang roboh.” (diriwayatkan At-Tirmidzy).

Rasulullah ﷺ menghormati orang-orang yang menghafal Al Quran dan mengajarkannya, menempatkan mereka pada kedudukan tersendiri dan melebihkan mereka dari pada yang lainnya. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata, “Rasulullah ﷺ mengirim beberapa orang utusan yang jumlahnya cukup banyak. Lalu beliau mengecek mereka satu persatu, tentang hafalan al-Qurannya.

Rasulullah ﷺ tiba pada salah seorang di antara mereka yang paling muda usianya. Beliau bertanya, “Apa yang engkau hafal wahai fulan?”

Orang itu menjawab, “Aku hafal ini dan itu serta surat Al Baqarah.”

Beliau bertanya, “Apakah engkau hafal surat Al Baqarah?”

“Benar”, jawabnya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “pergilah dan engkau adalah pemimpin rombongan.”

Seseorang yang lebih terpandang di antara mereka berkata, “Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku untuk menghafal surat Al Baqarah melainkan karena aku takut tidak mampu melaksanakan isinya.”

Lalu beliau bersabda, “pelajarilah Al-Quran dan bacalah ia. Sesungguhnya perumpamaan Al-Quran bagi orang yang mempelajarinya lalu dia membacakannya, seperti kantong kulit yang diisi minyak kesturi, yang aromanya menyebar ke segala penjuru. Siapa yang mempelajarinya lalu dia tidur, seperti kantong kulit yang diikatkan kepada minyak kesturi.”

Jika demikian ini perlakuan Rasulullah ﷺ terhadap seseorang ketika masih hidup, maka setelah meninggal, jasadnya didahulukan pengurusannya oleh Rasulullah ﷺ, seperti perlakuan terhadap para syuhada’ perang uhud.

Rasulullah ﷺ biasa megutus para Qori’ di antara para sahabat, untuk mengajarkan kewajiban-kewajiban Islam dan adab-adabnya, karena mereka hafal kitab Allah dan lebih mampu melaksanakan tugas ini. Di antara mereka itu adalah tujuh puluh orang yang mati syahid di perang Bi’r Ma’unah yang terkenal dalam tarikh, karena pengkhianatan orang-orang musyrik.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

“Orang yang membaca Al Quran datang pada hari kiamat, lalu Al Quran berkata, ‘ya Rabbi berilah dia pakaian’. Maka dia diberi mahkota kemuliaan. Kemudian Al Quran berkata lagi, ‘ya Rabbi tambahilah’. Maka dia diberi pakaian kemuliaan. Kemudian Al Quran berkata lagi, ‘ya Rabbi ridhailah dia’.

Maka Allah ridha padanya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘bacalah dan tingkatkanlah’. Dan dia ditambahi satu kebaikan dari setiap ayat.” ( Diriwayatkan At Tirmidzi )

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ