Betulkah Rasulullah memiliki tanda kenabian berupa tanda pada fisik beliau ? Dan seperti apakah tanda itu ?

Berikut kita simak hadis hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam bukunya yang terkenal : SYAMAIL MUHAMMAD SAW.

Said bin Yazid meriwayatkan :
Bibi membawa saya menghadap Nabi saw. Bibi berkata, “Wahai Rasulullah! Keponakanku ini sakit”. Maka beliau mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan untuk saya, lalu beliau berwudhu, kemudian saya meminum bekas air wudhu beliau. Setelah itu, saya berdiri di belakang beliau, seketika saya melihat tanda kenabian diantara kedua pundak beliau, bentuknya seperti kancing tirai.

HR Tirmidzi, Bukhari, Muslim dan Thabrani

.

Jabir bin Samurah r.a. meriwayatkan :
Saya melihat tanda kenabian di antara kedua pundak Rasulullah yaitu daging berwarna merah sebesar telur burung merpati.

HR Tirmidzi, Muslim dan Ahmad

.

Abu Zaid Amru bin al-Akhthab al Anshari r.a. berkata kepada Ilba’ bin Ahmar :
Rasulullah pernah berkata kepada saya, “Wahai Abu Zaid! Mendekatlah dan usaplah pungungku!” Maka saya pun mengusap punggung beliau, seketika jari jemari saya menyentuh tanda (kenabian). Ilba’ bertanya, “Seperti apa tanda kenabian itu?” Abu Zaid menjawab, “Gumpalan rambut”.

HR Tirmidzi dan Ahmad

.

Dari hadis hadis diatas jelaslah bahwa tanda kenabian secara fisik itu memang ada. Dan tanda itu terletak di punggung beliau, antara kedua pundak.  Seperti apakah ? Apa persisnya bentuk kenabian itu sayang sekali hadis yang ada kurang spesifik menjelaskan.  Dalam bukunya Syamail Muhammad, Imam Tirmidzi mengumpulkan sekitar 8 hadis yang kesemuanya tidak sama isinya.

Jabir bin Samurah mengatakan bahwa tanda kenabian itu berupa daging [lebih] berwarna merah sebesar telur burung merpati. Said bin Yazid mengatakan bentuknya seperti kancing tirai. Abu Zaid malah mengatakan seperti gumpalan rambut.

Tapi hadis hadis itu sepakat bahwa tanda itu berupa tanda fisik pada punggung nabi. Da jelas itu berupa [semacam] daging lebih yang bisa jadi  sekali waktu terlihat kemerahan, atau kehitaman [ merah yang sangat ? ] namun bentuknya semua sepakat berupa bulatan.

Tidak adanya lebih banyak hadis yang menjelaskan seperti apa tanda kenabian di punggung beliau, bisa jadi itu adlaah cara Allah SWT untuk menjaga agar dikemudian hari tidak ada orang yang berupaya membuat buat tanda kenabian serprti itu. Dengan teknologi kedokteran yang sudah semakin maju, tentu hal itu bukan hal yang sulit.

Disamping itu jelaslah Allah ingin agar hamba hambaNya tidak terlalu ribut mempersoalkan tanda fisik kenabian. Karena ada tanda kenabian NON FISIK yang sifatnya jauh lebih penting untuk dikaji lebih jauh. Yakni tanda kenabian berupa mukjizat Al Quran.  Dengan mempelajari tanda kenabian mukjizat Al Quran ini, maka umat akan jadi lebih mengenal Nabi mereka, dan senantiasa bertambah tebal iman mereka.

.


Betulkan Tanda Kenabian Itu Berupa Stempel [ ada tulisannya ] ?

stempelkenabian

Adanya pendapat bahwa tanda kenabian pada fisik nabi adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Sungguh itu suatu perbuatan yang ghuluw [ berlebih lebihan ] dalam menyikapi tanda kenabian nabi. Dan ghuluw adalah pintu masuk syetan [ syiah ] dalam mengobok obok iman orang muslim.

Mari kita perhatikan klaim Syiah yang telah menyebarkan kebodohan soal tanda kenabian ini.

“Manakala Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. menceritakan sifat-sifat Rasulullah Saw., maka ia akan bercerita panjang lebar dan akan berkata: “Di antara kedua bahu Rasulullah Saw. terdapat khatam (tanda) kenabian, yaitu khatam para nabi [khatam nubuwah] .”

HR. Ahmad ‘Ubadah adh-Dhabi, Ali bin Hujr dan lainnya, yang mereka terima dari Isa bin Yunus dari Umar bin Abdullah dari Ibrahim bin Muhammad yang bersumber dari salah seorang putera Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw..

.

Dari Jabir bin Samurah Ra. mengemukakan perihal Khatam Nabi sebagai berikut: “Aku pernah melihat khatam (kenabian), ia terletak di antara kedua bahu Rasulullah Saw. Bentuknya seperti sepotong daging berwarna merah sebesar telur burung dara.”

HR. Sa’id bin Ya’qub ath-Thalaqani dari Ayub bin Jabir dari Simak bin Harb yang bersumber dari Jabir bin Samurah Ra.

.

Dalam Syarh al-Barzanji dikatakan: “Ia (Khatam an-Nubuwwah) adalah daging atau lemak yang hitam (nampak timbul) bercampur kekuningan (seperti urat), lalu sekelilingnya itu ada bulu-bulu rambut yang beriring-iringan seperti bulu kuda (yang halus).

Khatam an-Nubuwwah atau tanda, cap, stempel kenabian atau biasa disebut sebagai lambang “tawajjuh” merupakan cap kenabian sebagai salah satu legalitas tanda kenabian Rasulullah Muhammad Saw. Khatam an-Nubuwwah ini terdapat pada antara pundak Rasulullah Saw. Munculnya stempel kenabian ini dikatakan sejak Rasulullah Saw. dilahirkan. Pendapat lain mengatakan munculnya setelah beberapa saat dilahirkan. Begitu muncul tanda kenabian tersebut bersamaan dengan keluarnya cahaya yang menjulang tinggi ke atas langit.

Diantara asrar (rahasia) dari Khatam an-Nubuwwah tersebut adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi Ra.: “Siapa yang berwudhu kemudian melihatnya (Khatam an-Nubuwwah) di waktu Shubuh, maka Allah menjaganya sampai sore hari. Siapa yang melihatnya di waktu Maghrib, maka Allah menjaganya sampai waktu Shubuh. Siapa yang melihatnya pada permulaan bulan, maka Allah menjaganya sampai akhir bulan dari bala’ dan marabahaya. Siapa yang melihatnya pada waktu bepergian, maka kepergiannya akan menjadi berkah. Dan siapa yang meninggal pada tahun itu juga, maka Allah menutupnya dengan keimanan. Yang terpenting yang saya kehendaki dari Allah bahwa orang yang melihatnya dengan pandangan cinta dan iman sepanjang umurnya sekali saja, maka Allah menjaganya dari semua yang dibenci sampai berjumpa dengan Allah.” (Madarij ash-Shu’ud Syarh al-Barzanji halaman 50-52).

.

Al-Allamah az-Zurqani dalam al-Mawahib al-Laduniyyah Syarh ‘ala asy-Syamail al-Muhammadiyyah berkata: “Al-Hakim dan at-Tirmidzi berkata: “Ia (Khatam an-Nubuwwah) bagaikan telur burung merpati. Di dalamnya tertulis kalimat: “Allahu wahdahu laa syariika lahu.” Dan di luarnya tertulis: “Tawajjahu haitsu syi’ta. Fainnaka manshurun.” Sedangkan dalam Tarikh an-Naisabur menambahkan: “ Di dalam Khatam an-Nubuwwah itu juga tertulis: “Muhammadun rasulullah.”

Al-Mawahib al-Laduniyyah Syarh ‘ala asy-Syamail al-Muhammadiyya juz 1 halamaman 85

.

Kisah tentang seorang sahabat Ukasyah bin Muhshan yang menuntut balas [ qishas ] terhadap nabi karena telah ‘mencambuk’ Ukasyah saat perang Badar, amat terkenal. Dan hampir semua umat muslim pernah mendengar kisah yang penuh keharuan itu. Bagaimana seorang sahabat yang mencari akal untuk dapat ‘menempelkan’ kulit badannya dengan kulit badan nabi, tak seorangpun rasanya yang tidak meneteskan air mata mendengar kisah itu.

Dalam kisah haru itu Syiah telah menyelipkan fakta menyesatkan, karena meyusupkan informasi keji. Mari simak penggalan kisah tersebut dalam versi syiah :

“Tanpa berkata-kata lagi, Rasulullah Saw. langsung membuka pakaiannya. Hingga tampaklah badan Rasulullah Saw. dari bagian perutnya hingga ke atas. Putih dan penuh cahaya barakah.

Menyaksikan pemandangan itu, serentak semua sahabat yang hadir menjerit dan menangis pilu. Mereka tak sampai hati melihat Rasulullah Saw. diperlakukan seperti itu. Tetapi, yang demikian itu adalah kehendak Rasulullah Saw. Dan kehendak Rasulullah Saw. berarti sama juga dengan kehendak Allah Azza wa Jalla.

Sementara itu, Ukasyah yang memandang tubuh Rasulullah Saw. dari jarak yang paling dekat, menjadi gemetar sekujur tubuhnya. Selama beberapa menit, ia telah menahan gejolak perasaannya untuk memperoleh kesempatan yang diidam-idamkan. Sebuah keinginan yang sudah tertancap sejak awai keislamannya. Keinginan itu pernah ingin ia laksanakan pada masa Perang Badar, tetapi tak juga dapat terlaksana.

Keinginan Ukasyah itu adalah mencium bagian tubuh Rasulullah Saw. Sebab, ia ingin memperoleh berkah dari tubuh kekasih Allah yang mulia itu. Kini, kesempatan yang ia peroleh bukan saja sekadar mencium bagian kaki Rasulullah Saw. Melainkan ia memiliki peluang untuk dapat mencium tanda kenabian Rasulullah Saw. Ukasyah menangis keras dan memeluk tubuh Rasulullah Saw. dengan penuh kerinduan.

Ia segera memeluk tubuh Rasulullah Saw. yang putih bersinar itu dan mencium tanda kenabian beliau. Tanda kenabian itu terletak di punggung Rasulullah Saw. Tepat di antara dua belikatnya. Di sana tertulis kalimat “Bakhin bakhin manshurun tawajjah haitsu syi’ta fa innahu manshur” (Bagus, bagus. Orang yang ditolong, datanglah menghadap sekiranya engkau kehendaki. Maka, sesungguhnya dia adalah orang yang ditolong).

Cerita bahwa pada tanda kenabian terdapat tulisan “Bakhin bakhin manshurun tawajjah haitsu syi’ta fa innahu manshur” (Bagus, bagus. Orang yang ditolong, datanglah menghadap sekiranya engkau kehendaki. Maka, sesungguhnya dia adalah orang yang ditolong)‘ ini amat menggelikan sekaligus membahayakan.

Menggelikan karena ternyata ada banyak tulisan disana. Simak saja :

Terdapat tulisan Allahu wahdahu laa syariika lahu.” Dan di luarnya tertulis: “Tawajjahu haitsu syi’ta. Fainnaka manshurun.” Sedangkan dalam Tarikh an-Naisabur menambahkan: “ Di dalam Khatam an-Nubuwwah itu juga tertulis: “Muhammadun rasulullah.” Dan dalam kisah Ukasyah, tertulis “Bakhin bakhin manshurun tawajjah haitsu syi’ta fa innahu manshur” (Bagus, bagus. Orang yang ditolong, datanglah menghadap sekiranya engkau kehendaki. Maka, sesungguhnya dia adalah orang yang ditolong).

Ini sungguh keji. Mengapa ?

Pertama, dan yang paling mengelikan adalah adanya tulisan Muhammadun Rasulullah. Bila benar ada tulisan seperti itu, maka sebenarnya tak akan ada cerita dimana Muhammad SAW dinista, dicemooh, diragukan kebenarannya bahkan dikatakan gila ?

Bukankah di punggung beliau sudah ada tulisan Muhammadun Rasulullah dan Allahu wahdahu laa syarika lahu ? bukan kah itu sudah sebuah bukti yang tak terbantahkan ? Tetapi kenapa kenyataannya risalah nabi tetap tidak diyakini kebenarannya bahkan nabi dianggap gila ? Jadi jelaslah bawha bukti kenabian itu hanya berupa bentuk fisik dan bentuk bentuknya sudah tertulis dalam kitab kitab umat Nasrani dan Yahudi [ dalam versi asli ] sehingga tinggal perlu mencocokkan saja. Dan ditambah dengan bukti kenabian lainnya.

Kedua, jika dalam tanda kenabian itu ada tulisan, maka itu bisa juga diartikan bahwa umat Islam diperbolehkan menato tubuhnya sejauh tato itu berupa tulisan seperti tulisan pada tanda kenabian. Jadi intinya, tato tidak haram bahkan bisa jadi dianjurkan. Aneh bukan?

Ketiga, apalagi ada klaim bahwa bila seseorang melihat sekali sajaseumur hidup tanda khatam nubuwah itu dengan pandangan cinta dan iman , maka  Allah menjaganya dari semua yang dibenci sampai berjumpa dengan Allah.” [Madarij ash-Shu’ud Syarh al-Barzanji]. Sungguh tidak masuk akal bila dengan hanya memandangnya, meski memandang dengan penuh cinta dan iman, maka Allah akan menjaga kita selamanya dari semua yang dibenci.

Keempat, jika ada tulisan Muhammadun Rasulullah di punggung beliau, maka itu berarti tulisan itu akan menyertai kemana saja nabi pergi dan berbuat. Termasuk, maaf, buang air besar dan bejima’ dengan istri istri beliau. Padahal, itu adalah kalimat syahadat, yang tidak semestinya dibawa kedalam kamar mandi. Ikut dibawa ketika kita buang air besar atau kecil. Karena itu berarti kita tidak memuliakan kalimat kalimat syahadat.

Bukankah memakai kaos yang berisi doa atau ayat Quran saja kita dilarang karena khawatir kita masuk kamar mandi dengan kaos tersebut ?

Jadi, sangat tidak masuk akal bila tanda kanabian itu berupa tulisan syahadat. Itu artinya kita tidak memuliakannya.  Begitulah kaum syiah dalam mengobok obok iman umat Islam.

*gambar diatas diklaim syiah sebagai tulisan pada khatam nubuwah yang ada di punggung Nabi diatas tanda kenabian beliau.

.