بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masjidil Haram [ المسجد الحرام ] adalah masjid suci yang berdiri mengelilingi Kabah dan terletak di kota Mekkah. Masjid ini merupakan Masjid terbesar di dunia dan  mulai dibangun pada masa Khalifah Umar bin Khattab.  Dan ditengah tengah masjid inilah berdiri Kabah yang merupakan kiblat shalat umat Islam hingga akhir jaman. Kiblat kedua adalah Masjidil Aqsha.

Sebenarnya ada dua hal penting yang harus kita pahami ketika kita menyebut Masjidil Haram, dan orang sering tertukar dalam hal ini.

Pertama, sekarang ini sebutan Masjidil Haram dipahami mayoritas umat Islam sebagai Masjid yang mengelilingi Kabah.  Tetapi harus diingat, bahwa masjid ini belum ada pada jaman Nabi Muhammad ﷺ.  Mesjid ini baru ada ketika era Khalifah Umar bin Khattab.

Kedua, sedang pengertian Masjidil Haram yang disebut dalam Al Quran adalah sebuah wilayah yang didalamnya ada Baitullah/ Kabah sebagai kiblat pertama.  Wilayah itulah yang disebut Mekah.  Sehingga yang dimaksud dengan sebutan mesjid dalam Al Quran, adalah sebuah wilayah, area atau tempat yang dijadikan sebagai tempat ibadah.

Jadi, ketika kita menyebut Masjidil Haram adalah suci sejak penciptaan langit dan bumi, maka yang dimaksud masjid disini adalah wilayah Mekah.  Sehingga Mekah disebut juga Tanah Haram.

Begitu juga ketika kita menyebut Masjidil Haram merupakan mesjid tertua yang pertama kali  dibangun di muka bumi, maksudnya bangunan tempat ibadat yang ada di Masjidil Haram, maka jelas yang dimaksud adalah Kabah.

Masjid ≈

Apakah yang dimaksud Masjid dalam Al Quran?  Penting untuk kita pahami lebih dulu apa yang disebut dengan Masjid oleh Allah Ta’ala. Karena pengertian masjid yang tepat akan membantu kita memahami sejarah Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjidil Thursina dengan benara.

Kata masjid terulang sebanyak 28 kali di dalam Al Quran.

Lafazh اَلْمَسَاجِدُ adalah jamak dari lafazh مَسْجِدٌ

Masjid (مَسْجِدٌ) dengan huruf jiim yang dikasrahkan adalah tempat khusus yang disediakan untuk shalat lima waktu. Sedangkan jika yang dimaksud adalah tempat meletakkan dahi ketika sujud, maka huruf jiim-nya di fat-hah-kan. مَسْجَدٌ. [ Lihat Lisaanul Arab karya Ibnu Manzhur, bab ad-Daal, fasal al-Miim (III/204-205) dan Subulus Salaam karya ash-Shan’ani (II/179) ]

Dari segi bahasa, kata tersebut terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim.

Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya tempat bersujud.

Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum Muslim. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al Jin [72] ayat 18 :

 وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا 18

Dan sesungguhnya mesjid mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda :

وَ جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًاوَطَهُوْرًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِيْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ، فَلْيُصَلِّ

..Dan bumi ini dijadikan bagiku sebagai tempat shalat serta sarana bersuci (tayammum). Maka siapa pun dari umatku yang datang waktu shalat (di suatu tempat), maka hendaklah ia shalat (di sana). [ Muttafaq ‘alaih : al-Bukhari, kitab at-Tayammum, bab Haddatsanaa Abdullah bin Yusuf (no. 335) dan Muslim kitab al-Masaajid, bab al-Masaajid wa maudhi’ush shalaah (no. 521) ]

‘Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri. [ HR Bukhari dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah ]

Jika dikaitkan dengan bumi ini, masjid bukan hanya sekadar tempat sujud dan sarana penyucian. Di sini kata masjid juga tidak lagi hanya berarti bangunan tempat shalat, atau bahkan bertayamum sebagai cara bersuci pengganti wudu tetapi kata masjid di sini berarti juga tempat melaksanakan segala aktivitas manusia yang mencerminkan kepatuhan kepada Allah ﷻ .  Dengan demikian, masjid menjadi pangkal tempat Muslim bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya bersauh.

Dan ketika Allah Ta’ala menyebut mesjid dalam Al Quran, maka itu berarti sebuah wilayah/ tempat/ area yang disucikan dan digunakan untuk tunduk menyembah kepada Allah ﷻ .  Dengan atau tanpa ada bangunan yang berdiri didalamnya.

Al Quran menyebut fungsi mesjid antara lain yang tertulis dalam surat An Nuur [24] ayat 36 – 37 :

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ 36

Bertasbih kepada Allah di mesjidmesjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,

رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ 37

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.

Masjidil Haram Adalah Mekah ≈

Allah ﷻ berfirman dalam Al Quran surat At Taubah [9] ayat 28 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini [ maksudnya pada tahun penaklukan kota Mekkah] ….. ”

Dan Allah ﷻ  juga berfirman dalam Al Quran surat Al Hajj [22] ayat 25 :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ ۚ وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sesungguhnya orang orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih”

Yang dimaksud Masjidil Haram dalam dua ayat suci diatas, adalah jelas Kota Mekah, Saudi Arabia.

Masjidil Haram adalah Kabah ≈

Al Quran surat Al Baqarah [2] ayat 144 :

 …… فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ …….

…..   maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya …..

♥♥♥

Lalu bagaimana dengan mesjid yang mengeliling Kabah itu? Apakah namanya?

Pada era Rasulullah , di sekitar Kabah tidak ada yang namanya bangunan mesjid.  Bahkan sebelum Mekah di bebaskan, yang ada hanyalah berhala berhala besar dan beberapa perkakas jahiliah seperti tempat menyembelih hewan sesembahan.  Dan semua berhala itu dihancurkan saat Fat’hu Mekah. Tetapi tetap belum ada bangunan mesjid di sekitar Kabah.  Konsentrasi Rasulullah masih terfokus pada penyebaran Islam ke seluruh Jazirah Arabia dan sekitarnya,

Jadi sejak dibangunnya Kabah sampai era Khalifah Umar, hanya terdiri dari halaman yang luas dan ditengahnya ada Kabah.  Tidak ada dinding yang mengelilinginya, hanya bangunan rumah rumah penduduk Mekah yang mengelilingi halaman itu, yang seakan akan dia adalah dindingnya.  [ Ath Thabaqat, Ibnu Sa’id bin Muhammad Sa’id Al-Baghdadi, Dar Shadr, Beirut, Bab 2 Hal 95-105 ]

Di sela rumah rumah tersebut teradapat lorong lorong yang mengantar ke Kabah, dinamakan dengan nama nama kabilah kabilah yang melaluinya atau yang berdekatan dengannya, diperkirakan luas Masjidil Haram pada masa Rasulullah ﷺ  antara 1490 sampai 2000m² [ Sirah Ibnu Hisyam, Ibnu Hisyam, Bab 4, Hal 275-296 ]

Lalu kapan mulai dibangun Masjidil Haram seperti yang kita kenal sekarang?

Pembangunan Masjidil Haram dimulai pada era Khalifah Umar bin Khatthab, yang kemudian terus mengalami perbaikan demi perbaikan hingga mencapai bentuknya yang sekarang ini.  Dan masjid itu memang dinamakan Masjidil Haram, mengikuti nama yang tercantum dalam Al Quran.

Masjidil Haram Dan Masjidil Aqsha ≈

Berbicara tentang Masjidil  Haram [ baca : Kabah }, maka kita juga harus berbicara tentang Masjidil Aqsha.  Karena ke dua Masjid itu disebut secara bersamaan dalam Al Quran surat Al Israa’ [ 17 ]  Dua masjid itu ‘dikembarkan’ oleh Allah. Dipersamakan. Dipersatukan. Menyebut Masjidil Haram adalah sama dengan menyebut Masjidil Aqsha.  Begitu pula sebaliknya.  Menyebut Masjidil Aqsha adalah juga berbicara tentang Masjidil Haram.

Dan inilah point point penting yang mempersamakan keduanya :

  • Keduanya adalah mesjid yang awal awal berdiri di muka bumi. Dan sama sama dibangun oleh Nabi Adam عليه السلام
    • Yang pertama kali dibangun Nabi Adam عليه السلام adalah Masjidil Haram/ Kabah. Jadi bangunan ibadah yang didirikan di muka bumi pertama kali, adalah Masjidil Haram/ Kabah. Dan Nabi Adam membangun Kabah bisa jadi berbentuk 4 persegi panjang [ yang sekarang ini berbentuk kubus ] dan setelah ribuan tahun, menjadi hancur atau runtuh sehingga yang tersisa hanya berupa tembok/ pondasi pendek  secara berkeliling.
      • Pembangunan kedua dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام dan anaknya Ismail : meninggikan pondasi/ tembok Kabah, dan setelah mengalami beberapa kali renovasi, bentuk Kabah sekarang menjadi PERSEGI EMPAT.
    • 40 tahun setelah membangun Baitullah, Nabi Adam عليه السلام membangun Masjidil Aqsha. Bagaimana bentuk Masjidil Aqsha yang dibangun Nabi Adam, saya belum menemukan sumber sejarah yang bisa saya pertanggungjawabkan ke-otentikannya.  Jadi saya hanya bisa menulis bahwa setelah 40 tahun, Nabi Adam kemudian membangun Masjidil Aqsha yang luasnya 1.4 H – luas ini tidak berubah hingga saat ini.
      • Kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام dan anaknya Ishaq meninggikan atau menyempurnakan pondasi itu. Dan di jaman Nabi Dawud  عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام, bait itu mengalami perubahan bentuk yang luarbiasa karena kekokohan dan keindahan rancangan Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.
  • Keduanya di’ikat’, di’erat’kan di’hubung’kan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.
  • Keduanya menjadi tempat singgah Nabi Muhammad ﷺ dalam perjalanan Isra’ Mi’raj.
  • Nama kedua mesjid itu sama sama diberikan langsung oleh Allah
  • Nama keduanya disebut dalam Al Quran.
    •  Al Quran surat Al Israa’ [17] ayat 1 :
    •  سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 1
    • Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
  • Keduanya adalah masjid yang suci.  Khusus untuk Masjidil Haram, kesuciannya adalah sejak penciptaan langit dan bumi.
    • Rasulullah ﷺ bersabda pada hari penaklukan kota Mekkah :
      إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

      “Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat “. [HR al Bukhari, no. 3189; Muslim, 9/128, no. 3289, dan lainnya]

    •  Al Quran surat An Naml [27] ayat 91 :
      إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ 91

      Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

  • dan diberkahi, yang keberkahan keduanya adalah untuk seluruh umat manusia.
    • Ali ‘Imran [3] ayat 96 :
      إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 96

      Sesungguhnya rumah yang mula mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

    • Al Anbyaa’ [21] ayat 71 :
      وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ 71

      Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.

  • Keduanya adalah mesjid yang menjadi kiblat shalat
  • Tidak akan bisa dimasuki Dajjal
  • Skala denah bangunan keduanya sama
  • Keduanya memiliki peran penting sejak awal, sepanjang dan di akhir kehidupan manusia di bumi
Masjidil Haram 
Letak Mekkah, Arab Saudi
Dibangun olehUmar Bin Khattab dan terus dipercantik oleh penguasa selanjutnya. Bahkan hingga kini
Keutamaan* Merupakan Kiblat Shalat
* Mesjid Pertama yang dibangun di muka Bumi
* Satu dari dua mesjid yang diberkahi
* Mesjid suci dan mulia sejak awal diciptakan bumi dan langit
* 1 dari 4 masjid suci yang tidak dapat dimasuki Dajjal
* Kota yang aman
* Disinilah nanti Al Mahdi akan di baiat pada akhir jaman
* Kota Mekah adalah kota yang paling dicintai Allah dan Rasulullah
* Satu satunya tempat dimana hati umat Islam wajib dipalingkan kearahnya.
* Namanya diberikan langsung oleh Allah. Lihat surat Al Israa' [17] ayat 1
* Kota yang Allah ﷻ bersumpah deminya. Al Quran surat At Tin [95] ayat 1 - 2
* Tempat singgah Rasulullah dalam Isra dan Mi'raj
* Kota yang Didoakan Nabi Ibrahim عليه السلام seperti termaktub dalam Al Quran surat Ibrahim [14] ayat 35
* Berziarah ke Masjidil Haram ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah
* Satu satunya tempat yang dipersilahkan shalat kapanpun saja
* Satu satunya tempat dimana orang musyrik dilarang memasuki kota Mekah hingga hari akhir
* Amal Baik dan Buruk Dilipat-gandakan di Kota Makkah.
* Shalat di Masjidil Haram 100.000 kali pahalanya dibanding tempat lain
* Terdapat Kabah yang menjadi kiblat shalat
* Tempat dilaksanakannya haji dan umroh
Koordinat geografi 21,422°LU 39,826°BT
Al-Haram
Spesifikasi
Kapasitas 900,000 jama'ah (meningkat hingga 4,000,000 jama'ah saat musim Haji)
Menara 9
Tinggi menara 89 m (292 ft)
Spesifikasi
Kapasitas 900,000 jama'ah (meningkat hingga 4,000,000 jama'ah saat musim Haji)
Menara 9
Tinggi menara 89 m (292 ft)
Masjid Masjid Penting Dalam Islam 
Masjid Suci & Diberkahi1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
Masjid Suci dan Bersejarah1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
4. Masjid Nabawi
Masjid Awal Mula Dimuka Bumi1. Masjidil Haram atau Kabah
2. Masjidil Aqsha
Masjid Yang Menjadi Kiblat Shalat1. Masjidil Haram/ Kabah
2. Masjidil Aqsha
3. Kembali lagi ke Masjidil Haram atau Kabah
2 Masjid Pertama Yang Diibangun Rasulullah1. Masjid Quba
2. Masjid Nabawi
Masjid Yang Menjadi Saksi Perpindahan KiblatMasjid Qiblatain di Madinah
Masjid tempat lokasi shalat Jumat pertama RasulullahMasjid Jumat di dekat Quba, Madinah
Masjid Yang Tidak Bisa dimasuki Dajjal1. Masjidil Haram
2. Masjid Nabawi
3. Masjidil Aqsha
4. Masjid Thursina
Masjid Yang Tidak Bisa Dimasuki Ya'juj & Ma'jujMasjid Thursina
Masjid Yang Dibangun Atas Dasar Ketakwaan1. Masjid Quba
2. Masjid Nabawi
Masjid yang disebut Allah dalam Al Quran1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
4. Masjid Nabawi
5. Masjid Quba
6. Masjid Dhirar
Masjid Yang Dilarang Allah untuk Shalat didalamnyaMasjid Dhirar di dekat lokasi mesjid Quba

≈ Keutamaan Masjid Haram ≈

  1. Merupakan kiblat shalat umat Islam hingga akhir jaman.  Sebelumnya kiblat shalat adalah Masjidil Aqsha, yakni selama 13 tahun penyebaran Islam di Mekah dan 17 bulan setelah hijrah di Madinah.
    • Di dalam hadits disebutkan sebagai berikut :
      عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا حَتَّى نَزَلَتْ الْآيَةُ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ…

      Artinya : Dari Al Bara bin ‘Azib berkata, “Saya shalat bersama Nabi  ﷺ menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan [setelah hijrah], sampai turun ayat di dalam Surah Al Baqarah : …WAHAITSU MA KUNTUM FAWALLAU WUJUHAKUM SYATROH…” (H.R. Bukhari).

    • Dari Bara bin Azib : Kami shalat bersama Nabi ﷺ menghadap Baitul Maqdis sampai selama 16 bulan setelah Hijrah, sampai akhirnya turun surat Al Baqarah [2] ayat 144 :
    •  نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ 144
    • Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
    • Bukti peninggalan adanya peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, terbukti dengan adanya Masjid Qiblatain di Madinah. Masjid Qiblatain merupakan masjid tempat di mana Rasulullah ﷺ menerima perintah pemindahan arah kiblat itu. Maka disebut Masjid Qiblatain artinya masjid dua kiblat.
  2. Mesjid pertama yang dibangun dimuka bumi. Yang kedua adalah Masjidil Aqsha.
    • Disebutkan dalam Shahihaini, bahwa Abu Dzar رضي الله عنه bertanya kepada Rasulullah ﷺ : “ Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di bumi? Nabi ﷺ menjawab : *Al Masjidil Haram. Aku bertanya lagi : Kemudian apa? Nabi ﷺ menjawab : Al Masjidil Aqsha. Aku bertanya : Berapakah jarak antara keduanya? Nabi ﷺ menjawab : 40 tahun. Kemudian di mana pun kalian mendapati waktu sholat, maka sholatlah. Sesungguhnya ada keutamaan di dalamnya.
    • إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 96
    • Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah [ Mekah ] yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.  Ali ‘Imran [3] ayat 96
  3. Satu dari dua mesjid yang diberkahi.  [ Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha ].  Lihat surat Al Israa’ [17] ayat 1.
  4. Satu dari dua mesjid yang suci.  Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Khusus untuk Masjidil Haram, kesucian itu sudah sejak awal diciptakan bumi dan langit
    • Dan Mekah adalah kota suci mulia sejak diciptakan langit dan bumi.  Rasulullah ﷺ bersabda pada hari penaklukan kota Mekah :
      إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

      “Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat”.   (HR Al-Bukhari, no. 3189; Muslim, 9/128, no. 3289)

      Allah ﷻ berfirman dalam Al Quran surat An Naml [27] ayat 91 :

      إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

      “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”

  5. Merupakan 1 dari 4 masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal pada hari akhir nanti.  Ke 4 masjid tsb adalah : Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjid Thursina
    • “Sesungguhnya dia akan berdiam di muka bumi selama 40 hari dalam waktu tersebut dia akan mencapai setiap sumber air dan tidak akan mencapai empat masjid : Masjidil Haraam, Masjid Nabawi, Masjid ath Thuur, dan Masjidil Aqsha.” [   Al-Fathur Rabbani (XXIV/76, Tartiibus Saa’aati).
      Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/343). Ibnu Hajar berkata, “Para Perawinya adalah tsiqah.” Fat-hul Baari (XIII/105).
      [10]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ bab Qaulullahi Ta’aala Wadzkur fil Kitaabi Maryam (VI/477, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih ibni Maryam wal Masiihid Dajjal (II/233-235, Syarh an-Nawawi)  ]
  6. Merupakan kota yang aman
    • Dengan seizin Allah, Mekkah akan tetap dalam perlindunganNya, dan menjadi negeri aman tenteram. Hal ini sebagai wujud Allah telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Allah ﷻ berfirman dalam surat Ibrahim [14] ayat 35 :
      وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

      “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : “Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”.

      Perlindungan Allah terhadap kota Mekkah, dan khususnya Kabah, telah dibuktikan. Sebagai contoh, Allah telah menjaga Kabah dari serbuan pasukan gajah pimpinan Raja Abrahah yang bertekad menghancurkannya.

  7. Disinilah nanti Al Mahdi akan di baiat pada akhir jaman.  Beliau akan dibaiat di antara Hajar Aswad dengan Makam Ibrahim
  8. Kota Mekah adalah kota yang paling dicintai Allah dan Rasulullah, dan disinilah Baitullah/ Kabah berdiri. Seandainya Rasulullah ﷺ tidak terusir dari kota itu, niscaya beliau tidak akan meninggalkannya. Ini tercermin dari sabda Rasulullah ﷺ :
    وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

    “Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintaiNya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)” [ Hadits shahih riwayat at-Tirmidzi. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 3925. ]

  9. Satu satunya tempat dimana hati umat Islam wajib dipalingkan kearahnya. Disebut dalam Al Quran dalam Surat Al Baqarah [2] ayat 149 – 150 :
     وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

    Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

     وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

    Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang lalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

  10. Namanya diberikan langsung oleh Allah
  11. Kota yang Allah ﷻ  bersumpah deminya.  Al Quran surat At Tin [95] ayat 1 – 2 :
    • Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ 1
      dan demi bukit Sinai, وَطُورِ سِينِينَ 2
      dan demi kota (Mekah) ini yang aman, وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ 3
      sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ 4
  12. Tempat singgah Rasulullah dalam Isra dan Mi’raj, yakni masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Seperti dalam surat Al Israa’ [17] ayat 1 :
    . سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    • Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke  Masjidil Aqsha  yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
  13. Kota yang Didoakan Nabi Ibrahim عليه السلام seperti termaktub dalam Al Quran surat Ibrahim [14] ayat 35 :
    وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ 35

    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata : “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala berhala..

    Dalam hadits disebutkan :

    “Sesungguhnya Ibrahim meng-Haram-kan kota Makkah dan mendoakan untuk penghuninya. Dan aku mengHarāmkan kota Madinah sebagaimana Ibrahim meng-Haram-kan kota Makkah, dan aku mendoakan untuk sha’ dan mud-nya seperti yang didoakan Ibrahim untuk penghuni Makkah.” (HR Muslim)

  14. Berziarah ke Masjidil Haram ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah. Penyataan ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ : “Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha”. [ HR Abu Hurairah ]
  15. Satu satunya tempat yang dipersilahkan shalat kapanpun saja, termasuk shalat di waktu terlarang misalkan ketika matahari terbit atau tenggelam
  16. Satu satunya tempat dimana orang musyrik dilarang memasuki kota Mekah hingga hari akhir
  17. Amal Baik dan Buruk Dilipat-gandakan di Kota Makkah.  Allah berfirman dalam surat Al Hajj [22] ayat 25 :
     إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ 25

    “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir, dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.”

  18. Shalat di Masjidil Haram pahalanya 100.000 kali lipat dibanding yg lain.  “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 (dibandingkan) shalat di selainnya. Dan shalat di Masjidil Aqsha 500 kali lipat“ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, no. 1406. Hadits dishahihkan oleh Al Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata : “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146).
  19. Terdapat Kabah yang menjadi kiblat shalat umat Islam, setelah sebelumnya kiblat shalat adalah Masjidil Aqsha
  20. Disinilah tempat dilaksanakannya ibadah haji dan umroh

≈ Pengertian Nama Masjidil Haram ≈

Masjidil Haram  artinya masjid yang memiliki tanah haram. Kenapa dinamakan tanah haram, para ulama mengatakan karena di dalam tanah itu berlaku berbagai ketentuan yang mengharamkan kita melakukan berbagai hal, seperti berburu, mengangkat senjata, mematahkan tumbuhan dan seterusnya, termasuk juga haram untuk dimasuki oleh kafir.

Berikut penjabaran alasan disebut tanah haram :

1. Haram Dimasuki Orang Kafir
Dasar larangan bagi orang non muslim untuk memasuki wilayah al-haram di Makkah Al Mukarramah adalah sebuah firman Allah ﷻ dalam Al Quran surat At Taubah [9] ayat 28 :

  …يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا  28

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini,”

Kenajisan orang musyrik ini memang bukan najis ‘aini, sehingga jasad orang musyrik pada dasarnya tetap suci, bahkan bekas minum mereka pun tidak najis. Namun kenajisan mereka adalah najis secara maknawi.

At-Thabari rahimahullah menafsirkan,

فلا تدعوهم أن يقربوا المسجد الحرام بدخولهم الحرم . وإنما عنى بذلك منعهم من دخول الحرم ، لأنهم إذا دخلوا الحرم فقد قربوا المسجد الحرام .

“Janganlah kalian biarkan mereka (orang kafir) mendekati masjidil haram dengan masuk ke kota Mekkah. Maka perhatikanlah larangan kepada mereka memasuki kota Mekkah karena jika mereka masuk, mereka akan mendekati Masjidil Haram.” (Tafsir At-Thabari 19/141, Muassasah Ar-Risalah, Syamilah)

2. Batas Tanah Haram

Allah ﷻ telah menyucikan seluruh kawasan sekitar Makkah, sebagaimana Allah ﷻ menyucikan kota Makkah itu sendiri. Demikianlah tanah yang disucikan Allah ﷻ sejak diciptakannya bumi sampai hari kiamat nanti.

Batas batas Masjidil Haram atau tanah Haram, adalah merupakan sebuah wilayah ‘suci’ yang berada di dalamnya kota Mekah.

Dan batas batas ini tidak akan berubah satu incipun, meskipun Kota Mekkah dan Madinah terus mengalami perkembangan dan pembangunan besar-besaran.   Karena batas batas tanah suci sudah ditentukan Allah ﷻ melalui malaikat dan nabiNya,  yang saat ini ditandai dengan pendirian tugu  tugu pembatas.

Ketika Kabah kali pertama dibangun oleh Nabi Adam, saat itu para malaikat turun ke bumi dan menunjukkan pada Adam batas batas tanah haram/ suci.

Konon, batas batas itu dijaga oleh para Malaikat agar Iblis tidak dapat mencapainya guna menggoda dan menyesatkan Nabi Adam dan keturunannya.

Kemudian pada pembangunan Kabah kedua oleh Nabi Ibrahim dan ismail, dikisahkan bahwa Malaikat Jibril memberitahu Nabi Ibrahim tentang batas batas Tanah Suci/ Haram.  Malaikat kemudian  menyuruhnya untuk menandainya dengan menancapkan batu. Ibrahim pun melaksanakannya.

“Tanah Haram” merupakan bagian wiliyah kota Mekah yang memiliki keistimewaan. Di antaranya, bagi orang yang ihram, baik untuk haji maupun umrah, semua syarat ihram wajib dipenuhi sebelum masuk melintasi batas Tanah Haram. Demikian pula, pepohonan dan binatang yang berada di Tanah Haram tidak boleh diganggu-gugat. Ini merupakan bagian dari keberkahan yang Allah berikan kepada Ka`bah dan daerah di sekitar Ka`bah. Siapa saja yang memasukinya, diberi jaminan keamanan, sampai-sampai binatang dan tumbuhan yang berada di dalamnnya.

Allah berfirman dalam Al Quran surat Ali ‘Imran [3] ayat 97 :

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ 97
وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barang siapa memasukinya (Tanah Haram) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

Orang yang pertama kali meletakkan batas Tanah Haram adalah Nabi Adam عليه السلام. Beliau memasang tapal batas dengan dipandu Malaikat Jibril. Tapal batas ini tidak pernah diubah atau diganggu sampai zaman Rasulullah ﷺ.

Setelah Pembebasan Makkah (Fath Mukkah), Rasulullah ﷺ atas wahyu dari Allah,  mengutus Tamim lbn Asad al-Khaza’i untuk memperbaiki dan memperbarui tanda tanda tersebut. Kemudian diteruskan oleh khalifah Umar bin Khattab  رضي الله عنه.  Beliau memerintahkan 4 orang Quraisy untuk memperbarui tapal batas tersebut. Saat ini, tapal batas itu, dipasang dalam bentuk gapura besar di jalan-jalan utama menuju kota Mekah. (Al-Azraqi, Akhbar Makkah, 2:406)

Tanda-tanda batas Tanah Suci saat ini mencapai 943 buah yang ditancapkan di atas gunung, bukit, lembah, dan di tempat-tempat yang tinggi.

Namun, kebanyakan dari tanda-tanda tersebut telah terpendam, sehingga tiada yang tersisa kecuali yang sempat diperbaiki kembali oleh para penerus sesudahnya.

Panjang kawasan Tanah Suci Makkah ialah 127 km dan luasnya kurang lebih 550 km persegi. Dalam kawasan tersebut, Allah telah menjadikannya sebagai tempat kembali (matsdbah), tempat bertemunya seluruh manusia, dan sebagai tempat yang aman (amna).

Allah berfirman dalam surat Al Hajj [21] ayat 25 :

 إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ 25

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara lalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.

Batas-batas Tanah Haram tersebut adalah Masjid Tan’im, daerah Ji’ranah, Al-Hudaibiyyah, Nakhlah, Adlat Laban, dan Ahl al-Haram.

Sampai akhirnya, di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab رضي الله عنه, beliau memerintahkan 4 orang Quraisy untuk memperbarui tapal batas tersebut. Saat ini, tapal batas itu, dipasang dalam bentuk gapura besar di jalan-jalan utama menuju kota Mekah. (Al-Azraqi, Akhbar Makkah, 2:406)

Berikut ini batas Tanah Haram saat ini :

1. Arah barat : Jalan Jeddah–Mekah, di Asy-Syumaisi (Hudaibiyah), yang berjarak 22 km dari Ka`bah.
2. Arah selatan : Di Idha`ah Liben (Idha`ah: tanah; Liben: nama bukit), jalan YamanMekah dari arah Tihamah; berjarak 12 km dari Ka`bah.
3. Arah timur : Di tepi Lembah `Uranah Barat, berjarak 15 km dari Ka`bah.
4. Arah timur laut : Jalan menuju Ji`ranah, dekat dengan daerah Syara`i Al-Mujahidin, berjarak 16 km dari Ka`bah.
5. Arah utara : Batasnya adalah Tan`im; berjarak 7 km dari Ka`bah. (Shafiyurahman Al-Mubarakfuri, Sejarah Mekah, hlm. 167)

Referensi :
Al-Azraqi, Akhbar Makkah, Mauqi’ Jami’ Al-Hadits.
Shafiyurahman Al-Mubarakfuri, Sejarah Mekah, Darus Salam, Riyadh, 1426 H.

≈ Perbedaan Dengan Batas Miqat ≈

Batas Tanah Haram, berbeda dengan batas Miqat.

Miqat adalah batas bagi dimulainya Ibadah Haji atau Umrah (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi Miqat, seseorang yang ingin mengerjakan Haji atau Umrah perlu mengenakan kain Ihram dan melakukan Niat.

Miqat secara harfiah berarti batas yaitu garis demarkasi atau garis batas antara boleh atau tidak,atau perintah mulai atau berhenti, yaitu kapan mulai melapazkan Niat dan maksud melintasi batas antara Tanah Biasa dengan Tanah Suci.

Sedangkan batas tanah haram yang berlaku semua ketentuan tentang tanah haram itu adalah batas miqat makani sebagaimana yang berlaku buat jamaah haji.

Maka para batas batas miqat itulah seorang non muslim sudah tidak boleh lagi masuk ke dalamnya.

  • Di sebelah timur ada Dzatu ‘Irqin, yaitu batas orang yang masuk dari arah negeri Iraq.
  • Bergeser ke Selatan masih di timur ada Qarnul Manazil.
  • Paling selatan, yaitu dari arah negeri Yaman, ada Yalamlam.
  • Sedangkan dari arah utara, beberapa kilometer dari Kota Madinah, ada Bi’ru Ali, atau disebut juga dengan Dzil Hilaifah.
  • Di sebelah Barat ada Juhfah atau disebut juga Rabigh.

Maka kota Makkah seluruhnya tentu saja termasuk wilayah tanah haram. Artinya, orang kafir tidak boleh masuk wilayah ini.

3. Ketentuan Terkait dengan Wilayah Al Haram

Selain tidak boleh dimasuki oleh non muslim, tanah Al Haram di Makkah juga memiliki ketentuan ketentuan lainnya, antara lain :

1. Shalat di wilayah Al Haram Makkah akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, yaitu 100.000 kali. Hal itu sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ :

Dari Jabir رضي الله عنه sesunggunya Rasulullah ﷺ bersabda : “Shalat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) shalat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu (dibandingkan) shalat di selainnya.“ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, no. 1406. Hadits dishahihkan oleh Al Mundziri dan Al-Bushoiry. Al-Albany berkata : “Sanadnya shahih sesuai persyaratan Bukhori dan Muslim, Irwaul Ghalil, 4/146).

2. Tidak ada larangan untuk melakukan shalat kapan pun, bahkan termasuk pada waktu waktu yang sebenarnya haram untuk melakukan shalat. Seperti pada saat matahari terbit, terbenam atau pas di atas kepala. Rasulullah ﷺ telah bersabda :

Dari Jubair bin Muth’im bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda : “Wahai Bani Abdi Manf], janganlah kalian melarang seoranpun yang akan thawaf (mengelilingi tujuh kali) sekitar Kabah, dan seorang yang akan menunaikan shalat pada waktu malam atau siang,” (HR Abu Daud dan Nasa’i, dan Tirmidzi dan Ibnu Majah dan di shahihkan al Albani).

Rasulullah mengkhususkan sabdanya ini kepada Bani Abdi Manaf karena beliau mengetahui bahwa pemerintahan dan kekuasaan di Makkah kembali pada mereka, karena mereka adalah pemimpin pemimpin Makkah, dan urusan urusan dalam haji (menjamu jamaah haji dengan memberikan minum, makanan, pengamanan) mereka yang melakukannya. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr th 1995 M – 1415 H, hal 531 juz 3, pen).

3. Haram Membawa Senjata
Di tanah Haram Makkah, haram hukumnya membawa senjata. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu, ia berkata : saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : “Tidak diperbolehkan bagi kalian membawa senjata di Makkah,” (HR Muslim).

Larangan ini jika tidak ada hajat kebutuhan membawa senjata, jika ada hajatnya maka diperbolehkan. (Syarh Shahih Muslim Imam Nawawi, hal 130-131, juz 9 jilid ke 5 cetakan Daarul fikr, pen).

4. Haram Menumpahkan Darah (Pembunuhan) dan Mematahkan Tumbuhan
“….maka sejak itu (negeri Makkah) haram dengan keharaman Allah ﷻ  hingga hari kiamat, duri durinya tidak boleh dipatahkan, binatang buruannya tidak boleh di usir (diganggu), barang yang jatuh di Makkah tidak boleh diambil, kecuali untuk mencari (pemiliknya), tumbuh-tumbuhannya tidak boleh ditebang…..,” (HR Bukhari dan Muslim)

Seluruh umat islam diperintah untuk memalingkan wajahnya dan hatinya kearah masjidil haram dimanapun berada, hal ini di perkuat dengan surah al-Baqarah ayat 149 dan 150.

Perintah ini hampir sama derajatnya dengan perintah Allah yang lain seperti hal melakukan sholat, zakat, puasa, haji sebagai wujud hati yang terikat dan ingat kepada Allah dalam segala hal duniawi ini.

Sebagaimana dalam firman Allah ﷻ dalam surat Al Baqarah [2] ayat 149 – 150 :

 وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ 149

Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

. وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ 150

Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang lalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini 150 sehubungan dengan peristiwa berikut : Ketika Rasulullah ﷺ diperintahkan Allah ﷻ untuk mengganti arah qiblat dari Baitul Maqdis ke Kabah.  Lalu kaum Musyrikin Mekkah berkata : “Muhammad dibingungkan oleh agamanya. Ia memindahkan arah qiblatnya ke arah qiblat kita. Ia mengetahui bahwa jalan kita lebih benar daripada jalannya. Dan ia sudah hamir masuk agama kita.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi melalui sanad-sanadnya.

≈ Sejarah Pembangunan Masjidil Haram

Dibangun Oleh Umar

Pembangunan sekaligus perluasan Masjidil Haram dimulai pada tahun 638 [ era khalifah Umar bin Khattab ].  Umar kemudian membeli rumah rumah di sekeliling Kabah dan diruntuhkan untuk tujuan perluasan.  Dan  memasukkan area tanahnya ke dalam Masjidil Haram, mengubininya dengan hamparan kerikil, kemudian dia membangun tembok mengelilingi masjid setinggi kurang satu depa (6 kaki), dan membuatkan beberapa pintu, dan lampu-lampu minyak penerang masjid diletakkan di dinding ini, diperkiran luas tambahan ini adalah 840m2.

Ini adalah perluasan pertama untuk Masjidil Haram. Pada tahun 26 H/646 M Khalifah Utsman bin Affan melajutkan pembangunannya dengan membuat koridor koridor sebagai tempat berteduh untuk orang orang.

Diperkirakan luas perluasan ini mencapai 2040 m2. Di tahun 65 H/ 684 M setelah Abdullah bin Zubair menyelesaikan pemugaran Kabah. dia memperluas Masjidil Haram dengan sangat besar, sehingga menuntut untuk memberikan atap di sebagian darinya, diperkirakan perluasan ini mencapai 4050 m2

Masa Daulah Umayyah

Dan di tahun 91H/709 M, Khalifah Kesultanan Umayyah Umawi Walid bin Abdul Malik memerintahkan untuk perluasan Masjidil Haram, dan membangunnya dengan bangunan yang kokoh,  dan mendatangkan pilar-pilar marmer dari Mesir dan Syam, dan Ujungnya diberi lempengan emas, dan masjid diatapi dengan kayu sajj (semacam kayu jati) yang dihiasi. Dan dibuat untuknya beranda, di temboknya diberi lengkungan dan di alas lengkungannya di beri mosaik (kepingan batu), perluasaan ini adalah untuk bagian timur, diperkirakan tambahan ini seluas 2300 m2

Masa Daulah Abbasiyah

Pada tahun 137 H/754 M Khalifah Kekhalifahan Abbasiyah Abu Ja’far an-Nilansyur al Abbasi memerintahkan untuk memugar Masjidil Haram dan memperluasnya serta menghiasinya dengan emas dan mosaik, dan dia adalah orang pertama yang menutup Hijir Ismail dengan marmer, diperkirakan tambahan ini seluas 4700 m2. Dan di tahun 160 H/776 M Khalifah al Mahdi memperluas Masjidil Haram dari arah timur, barat dan utara, dan tidak memperluas bagian selatan disebabkan adanya jalan untuk air bah Wadi Ibrahim, tambahan perluasan ini diperkirakan 7950m2.[25] Dan tatkala Khalifah al Mahdi menunaikan haji tahun 164 H/ 780 M dia memerintahkan agar jalan air bah wadi Ibrahim dipindah, dan memperluas bagian selatan sehingga Masjidil Haram menjadi segi empat, tambahan perluasan ini di perkirakan mencapai 2360 m2.

Pada di tahun 281 H/894 M Khalifah al-Mu’tadhid Billahi memasukkan Daar An Nadwah ke dalam Masjidil Haram, rumah ini cukup luas terletak di arah utara masjid, memiliki halaman yang luas, dahulunya biasa disinggahi oleh para khalifah dan gubernur, kemudian ditinggalkan, maka dimasukkanlah ke dalam masjid, dibangun di atasnya menara. dan diramaikan dengan pilar-pilar dan kubah-kubah serta koridor-koridor, diatapi dengan kayu sajj yang dihiasi, tambahan ini diperkirakan seluas 1250 m2. Dan di tahun 306 H/918 M.  Khalifah al Muqtadir Billahi al Abbasi memerintahkan agar menambah pintu Ibrahim di arah barat masjid, dahulunya adalah halaman yang luas di antara dua rumah Siti Zubaidah, luasnya diperkirakan 850 m2.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ