بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masjidil Aqsha [ المسجد الاقصى‎ ]   adalah satu dari 4 mesjid suci dan penting dalam Islam.  Yakni : Masjidil Haram, Masjidl Aqsha, Masjid Thursina dan Masjid Nabawi.  Masjidil Aqsha inilah kiblat kedua umat Islam, seperti yang diajarkan Rasulullah ﷺ hingga 17 bulan setelah hijrah ke Madinah. Kiblat pertama tentu saja Kabah [Masjidil Haram], lalu Masjdil Aqsha dan kemudian kiblat shalat diubah kembali menghadap Kabah hingga akhir jaman.

Namun Masjidil Aqsha sering juga disebut kiblat pertama.  Itu karena memang Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama bagi umat Muhammad Rasulullah ﷺ !  Karena kiblat yang dikenalkan oleh Rasulullah ﷺ  pertama kali adalah Masjidil Aqsha.  Itulah sebabnya, jika shalat, Rasulullah selalu menempatkan [posisi] Kabah, diantara dirinya dan Masjidil Aqsha.  Jadi, Rasulullah menghadap Masjidil Aqsha, sekaligus juga menghadap Kabah.  Setelah hijrah,  baru kiblat diubah ke arah Kabah.

Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi, masjid pertama adalah Masjidil Haram/ Kabah.

Inilah masjid yang paling banyak ‘melibatkan’ para nabi, baik dalam hal pembangunan maupun pelestariannya.   Sedikitnya ada 5 Nabi dan Rasul yang terlibat dalam pembangunan Masjidil Aqsha. Yakni Nabi Adam, Ibahim, Ishaq, Daud dan Sulaiman.  Awalnya Nabi Adam membangun sebuah masjid dalam areal Masjidil Aqsha yang seluas 1.4 H itu.  Bangunan masjid itu bisa jadi hanya berupa pondasi pendek. Kemudian Nabi Ibrahim dan [Nabi] Ishaq menyempurnakan bangunan mesjid itu.  Di era Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, mesjid ini menjadi bangunan yang amat kokoh dan indah.  Tetapi sejarah mencatat, setelah itu masjid ini mengalami berbagai macam peristiwa, mulai dari pembakaran, perusakan, pembangunan lagi, dibakar lagi dst.  Dan penting untuk dipahami kita semua, bahwa bangunan Masjidil Al Aqsha itu telah hancur lebur, dan hanya menyisakan sedikit saja, pada tahun

Sekarang, dalam area Masjidil Aqsha yang seluas 1.4 H itu berdiri sedikitnya 80 bangunan bersejarah, diantaranya adalah Masjid Kubah Batu atau Dome of The Rock dan Masjidil Qibli.

Masjidil Aqsha adalah bagian penting dari ke-imanan kita. Bagian penting dari sejarah ummat Islam dimasa lalu, masa kini, dan akan menjadi bagian paling penting dalam kehidupan ummat di masa yang akan datang.  Karena peristiwa peristiwa besar di akhir jaman, banyak berpusat di Masjidil Aqsha.

Masjidil Haram Dan Masjidil Aqsha    

Berbicara tentang Masjidil  Haram [ baca : Kabah }, maka kita juga harus berbicara tentang Masjidil Aqsha.  Karena ke dua Masjid itu disebut secara bersamaan dalam Al Quran surat Al Israa’ [ 17 ]  Dua masjid itu ‘dikembarkan’ oleh Allah. Dipersamakan. Dipersatukan. Menyebut Masjidil Haram adalah sama dengan menyebut Masjidil Aqsha.  Begitu pula sebaliknya.  Menyebut Masjidil Aqsha adalah juga berbicara tentang Masjidil Haram.

 Dan inilah point point penting yang mempersamakan keduanya :

  • Keduanya adalah mesjid yang awal awal berdiri di muka bumi. Dan sama sama dibangun oleh Nabi Adam عليه السلام
    • Yang pertama kali dibangun Nabi Adam عليه السلام adalah Masjidil Haram/ Kabah. Jadi bangunan ibadah yang didirikan di muka bumi pertama kali, adalah Masjidil Haram/ Kabah. Dan Nabi Adam membangun Kabah bisa jadi berbentuk 4 persegi panjang [ yang sekarang ini berbentuk kubus ] dan setelah ribuan tahun, menjadi hancur atau runtuh sehingga yang tersisa hanya berupa tembok/ pondasi pendek  secara berkeliling.
      • Pembangunan kedua dilakukan oleh Nabi Ibrahim عليه السلام dan anaknya Ismail : meninggikan pondasi/ tembok Kabah, dan setelah mengalami beberapa kali renovasi, bentuk Kabah sekarang menjadi PERSEGI EMPAT.
    • 40 tahun setelah membangun Baitullah, Nabi Adam عليه السلام membangun Masjidil Aqsha. Bagaimana bentuk Masjidil Aqsha yang dibangun Nabi Adam, saya belum menemukan sumber sejarah yang bisa saya pertanggungjawabkan ke-otentikannya.  Jadi saya hanya bisa menulis bahwa setelah 40 tahun, Nabi Adam kemudian membangun Masjidil Aqsha yang luasnya 1.4 H – luas ini tidak berubah hingga saat ini.
      • Kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام dan anaknya Ishaq meninggikan atau menyempurnakan pondasi itu. Dan di jaman Nabi Dawud  عليه السلام dan Nabi Sulaiman عليه السلام, bait itu mengalami perubahan bentuk yang luarbiasa karena kekokohan dan keindahan rancangan Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.
  • Keduanya di’ikat’, di’erat’kan di’hubung’kan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.
  • Keduanya menjadi tempat singgah Nabi Muhammad ﷺ dalam perjalanan Isra’ Mi’raj.
  • Nama kedua mesjid itu sama sama diberikan langsung oleh Allah
  • Nama keduanya disebut dalam Al Quran.
    •  Al Quran surat Al Israa’ [17] ayat 1 :
    •  سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 1
    • Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
  • Keduanya adalah masjid yang suci.  Khusus untuk Masjidil Haram, kesuciannya adalah sejak penciptaan langit dan bumi.
    • Rasulullah ﷺ bersabda pada hari penaklukan kota Mekkah :
      إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

      “Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat “. [HR al Bukhari, no. 3189; Muslim, 9/128, no. 3289, dan lainnya]

    •  Al Quran surat An Naml [27] ayat 91 :
      إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ 91

      Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

  • dan diberkahi, yang keberkahan keduanya adalah untuk seluruh umat manusia.
    • Ali ‘Imran [3] ayat 96 :
      إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 96

      Sesungguhnya rumah yang mula mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

    • Al Anbyaa’ [21] ayat 71 :
      وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ 71

      Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.

  • Keduanya adalah mesjid yang menjadi kiblat shalat
  • Tidak akan bisa dimasuki Dajjal
  • Skala denah bangunan keduanya sama
  • Keduanya memiliki peran penting sejak awal, sepanjang dan di akhir kehidupan manusia di bumi
Kesalahan Umum Memahami Masjidil Aqsha

Kesalahan umum umat Islam dalam memahami Masjidil Aqsha adalah karena mayoritas umat tidak paham yang mana sebenarnya yang disebut Masjidil Aqsha.  Umat juga tidak terlalu memahami apa itu Baitul Maqdis atau Al Quds atau Yerusalem.  Sebenarnya kesalahan serupa juga menimpa pada Masjidil Haram.  Baca lebih detil : Masjidil Haram

Masjidil Aqsha adalah masjid tertua kedua yang dibangun di muka bumi.  Masjid ini mencakup area seluas 1.4 H.  Nabi Adam-lah yang pertama yang membangunnya atas perintah Allah.  40 tahun sebelum Nabi Adam membangun Masjidil Haram.

Disinilah kesalahan pertama terjadi.  Karena disebut sebagai masjid tertua, maka persepsi umat itu adalah masjid yang berupa bangunan lengkap utuh, ada atap, jendela, pintu, bahkan mimbar.  Tidak.

Ketahuilah, ketika Allah menyebut Masjdil Aqsha, maka itu berarti adalah area tanah seluas 1.4 H.  Dan ketika  Nabi Adam عليه السلام
membangun Masjidil Aqsha, itu bukan berati, Nabi Adam membangun bangunan berupa mesjid yang seluas 1.4 H.  Awalnya dahulu saat Nabi Adam عليه السلام
membangunnya bisa jadi hanya berupa tembok/ pondasi yang dibuat secara berkeliling, membentuk  PERSEGI PANJANG.

Kemudian Nabi Ibrahim dan Ishaq, membangun kembali tembok tsb.  Setelah itu giliran Nabi Daud dan terakhir Nabi Sulaiman menyempurnakannya menjadi bangunan ibadah yang kokoh dan indah.  Nah, ketika peristiwa Isra’ Mi’raj tiba, mesjid itu ternyata hanya tinggal  reruntuhan.   Namun tembok yang mengelilingi, masih berdiri kokoh meski tidak utuh pada saat didatangi Rasulullah ﷺ saat Isra’ Mi’raj

Sehingga Masjidil Aqsha bukanlah sebuah ‘bangunan’ mesjid seperti yang kita lihat bayangkan.  Sejatinya ia adalah sebuah area [kompleks] yang terletak di Baitul Maqdis.  Bangsa Arab menyebut Baitul Maqdis sebagai Al Quds dan masyarakat Internasional menyebutnya Yerusalem.  [ Terletak di Palestina ].  Dan dalam kompleks Masjidil Aqsha itu sekarang ini terdapat lebih dari 60 bangunan bersejarah dan 6 buah diantaranya adalah mesjid !

Dan yang disebut Masjidil Aqsha bukanlah Dome Of The Rock atau Masjid Al Qibli, atau yang lainnya.  Tetapi keseluruhan kompleks yang luasnya 1.4 Hektar.  Yang di atasnya terdapat lebih dari 60 bangunan bersejarah ! Baca : Apa Saja Bangunan Yang Ada Di Masjidil Aqsha

Israel sebagai pihak yang menjajah, memang sengaja menampilkan Dome Of The Rock ketika umat Islam berkunjung/ berwisata ke Masjidil Aqsha atau searching di internet.  Hal itu bisa dipahami, karena Israel memang ingin dunia dan umat Islam menyangka, bahwa masjidil Aqsha dalam keadaan ‘baik baik saja’.  Tetap megah dan kokoh berdiri.

Padahal sejatinya Yahudi Israel tengah melakukan penggalian di bawah masjid Al Aqsha yang tujuannya adalah untuk meruntuhkan seluruh bangunan yang berada di kompleks Al Aqsha.  Bila sudah runtuh, Yahudi Israel laknatullah berambisi untuk membangun kembali bait Salomon yang mereka klaim dulunya berada di komples Al Aqsha.

Peristiwa Isra’ Mi’raj 

Sekarang kita akan membahas sedikit saja soal Isra’ Mi’raj.  Terutama terkait bangunan bangunan yang ada di Masjidil Aqsha agar kita semua mendapat gambaran yang menyeluruh tentang Masjidil Aqsha ini.

Dalam peritiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi pada satu atau dua tahun sebelum Hijrah.  Saat itu ada 3 mahkluk istimewa yang melakuan Isra’ Mi’raj itu  Yakni Rasulullah ﷺ, Malaikat Jibril dan satu hewan utusan Allah ﷻ yang kita kenal sebagai Buraq.

Dengan Malaikat Jibril sebagai pilotnya, berangkatlah dari Masjidil Haram iring iringan 3 mahkluk luarbiasa itu.  Tidak berapa lama menunggang Buraq, sampailah beliau ﷺ  dan Jibril ke suatu tempat yang banyak pohon kurmanya. Jibril berkata, “Ya Muhammad, turun dan berdoalah kepada Allah ﷻ di tempat ini”

Nabi disuruh oleh Jibril agar melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat. Kepada Rasulullah ﷺ, Malaikat Jibril menjelaskan, “Tahukah engkau bahwa engkau shalat di Thaibah (Madinah) dan disitulah engkau kelak berhijrah”.

Kemudian perjalanan dilanjutkan. Di suatu tempat Jibril menyuruh Rasulullah ﷺ turun untuk shalat sunnah 2 rakaat. “Inilah Thuur Sina, tempat Musa bercakap cakap langsung dengan Allah ﷻ ” kata Jibril.

Perjalanan dilanjutkan kembali dan untuk ketiga kalinya Jibril memerintahkan untuk berhenti disuatu tempat dan menyuruh melakukan shalat sunnah 2 rakaat lagi. Setelah selesai sholat berkatalah Jibril kepada Rasulullah ﷺ, “Tahukah engkau dimana engkau sholat kali ini?” Engkau sholat di Baitul Lahm, tempat Nabi Isa عليه السلام dilahirkan”.

Akhirnya, sampailah mereka ke Masjidil Aqsha, yang saat itu kondisinya rusak parah.  Bangunan mesjid yang terakhir dibuat Nabi Sulaiman dengan sangat indah, kokoh dan megah, sudah tidak berbentuk lagi.  Kecuali tembok yang mengelilinginya masih ada meski tidak lagi utuh.

Ktika tiba di Masjidil Aqsha, Palestina, maka titik landing Rasulullah ﷺ adalah yang sekarang disebut Masjid Al Buraq.  Disinilah buraq mendarat, menurunkan Rasulullah dan kemudian Rasulullah menambatkan buraq pada salah satu batu yang ada disitu.

Kira kira dititik itulah sekarang diatasnya berdiri Masjid Al Buraq.   Pintu masuknya menuruni tangga di bawah pekarangan Masjid Al Aqsha, dan juga ada pintu masuk lain yang lebih tinggi. Hanya dibuka pada saat shalat Jumat dan shalat shalat ‘Id.

Dan Masjid Al Buraq ini memiliki sebuah pintu yang indah dan kokoh, namanya adalah Pintu Al Maghariba.  Pintu ini pernah direstorasi pada masa Sultan Muhammad bin Kalawun dari Kesultanan Mamalik di tahun 1313.

Masjid Al Buraq dan Pintu Al Maghariba berdempetan dengan tembok setinggi   yang terkenal dengan sebutan Tembok Ratapan [ Wailing Wall atau HaKotel HaMa’aravi ] selebar 60 meter.  Itu sebabnya dari Pintu Al Maghariba ini kita bisa melihat orang orang Yahudi sedang menjedug jedugkan kepala mereka di Tembok Ratapan.

Usai menambatkan Buraq, kemudian Rasulullah dituntun Jibril menuju ke titik berikutnya, yakni yang sekarang disebut Jami’ Al Qibly atau Masjid Al Qibly.  Disinilah Jibril lagi lagi menyuruh Rasulullah untuk shalat 2 rakaat.  Tetapi berbeda dengan 3 tempat sebelumnya, di Masjidil Aqsha ini Rasulullah tidak shalat sendirian, melainkan meng-imami puluhan nabi dan rasul juga para malaikat !

ما شاء الله … bisa kita bayangkan luarbiasa sekali peristiwa ini terjadi.  Baru kali inilah sepanjang bumi dibuat, itulah kali pertama seluruh nabi nabi Allah, para Rasul dan Malaikat berkumpul di satu tempat dan melakukan shalat ! سبحان الله …

Masjid al Qibly atau Masjid Kiblat ini disebut juga Masjid al Umar. Karena masjid ini dibangun oleh Sayyidina Umar bin Khattab dengan batang-batang pohon – sama seperti Masjid Nabawi yang dibangun Rasulullah ﷺ di tahun 636 M.  Masjid Al Qibly berkapasitas 3.000 jamaah.

Dinamakan Masjid Qibly [ Kiblat ] karena memang disitulah tempat Rasulullah shalat, dan menjadi kiblat shalat umat Islam yang pertama.

Mesjid ini dibangun kembali pada masa Sultan Abdul Malik bin Marwan, dan selesai pada masa anaknya Al Walid bin Abdul Malik. Masjid ini sudah beratus ratus kali diserang musuh; penyerangan terbesar pada tahun 1969, ditandai dengan hancurnya Mimbar Salahuddin di Masjid al Aqsha.

Usai shalat, Jibril menuntun Rasulullah menuju titik dimana Buraq sudah disiapkan para malaikat, untuk kemudian mereka melanjutkan perjalanan Isra’ Mi’raj ini.  Pada saat untuk menaiki Buraq, Rasulullah menaiki sebuah batu besar [ الصخرة ] yang kelak batu itu akan melayang ke udara, seakan akan ingin ikut terbang ke langit.

Tepat diatas batu itu, dibangunlah Kubah As Sakhrah  [ قبة الصخرة  / Kubah Batu ].  Nah, Kubah Batu inilah yang kita kenal sebagai Dome of The Rock.  Bangunan yang bentuknya kita kenal seperti sekarang ini dibangun oleh Sultan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 685-705.

Bentuk bangunan segi delapan, dengan tinggi 35 meter. Kubah ini dilapisi potongan emas, sementara bangunannya dihiasi dengan porselin khusus, khat yang sangat indah dan lantainya keramik. Di masa Perang Salib bangunan ini dijadikan gereja dengan ditambahi sebuah altar sementara bulan sabit besar di kubah diganti dengan salib. Pada tahun 1187, Salahuddin AlAyyubi mengembalikan Kubah As Sakhrah ke fungsi semula. Pada tahun 2009, Turki memperbarui hiasan bulan sabit pada Kubah As Sakhrah dengan biaya 250 ribu Euro.

Arti Nama Al Aqsha

Nama Masjid Al Aqsha adalah nama yang diberikan oleh Allah ﷻ seperti yang tercantum dalam Al Quran surat Al Israa’ [17] ayat 1 :

 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 1

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha  yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dan bila diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, maka masjidil Aqsha  berarti “masjid terjauh”.

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan yang dilakukan Muhammad Rasulullah dari Masjid Al Haram menuju Masjid Al Aqsha, dan kemudian naik ke surga.   Dalam kitab Shahih Bukhari dijelaskan bahwa Muhammad dalam perjalanan tersebut mengendarai Al Buraq. Istilah “terjauh” dalam hal ini digunakan dalam konteks yang berarti “terjauh dari Mekkah“.

Jadi jelas, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, yang disebut oleh Allah Ta’ala dengan Masjid Al Aqsha sesungguhnya bukan lah sebuah mesjid dalam arti bangunan mesjid seperti yang dipahami oleh mayoritas umat Islam.  Tetapi sebuah tanah lapang yang dikelilingi oleh tembok tanpa  bangunan apapun disitu, kecuali reruntuhan bekas bangunan Masjid yang dulunya dibangun oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.  Dan ditempat batu batu tersebutlah Rasulullah dan para Nabi melakukan sholat.

Al Haram Asy Syarif

Masjidil Aqsha juga disebut Al Haram Asy Syarif [ Bahasa Arab : الحرم الشريف,  bahasa Inggris : Temple Mount atau al Haram ash Sharīf, artinya : “tanah suci yang mulia” ]   Maksudnya “Haram” artinya suci, seperti pada istilah Tanah Haram (tanah suci), Alharamain (dua tanah suci), Masjidil Haram (Masjid Suci) yang maksudnya tempat yang diharamkan melakukan perbuatan yang melanggar kesuciannya.

Al Haram Asy Syarif atau “tanah suci yang mulia” ini oleh umat Yahudi dan Kristen disebut sebagai Temple Mount  atau Bait Suci [ bahasa Ibrani: הַר הַבַּיִת, Har haBáyit ].  Dan merupakan suatu tempat paling suci dalam agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri.  Di salah satu sisi tembok Bait Suci itulah terdapat tembok ratapan yang terkenal.

Baca : Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis Dan Yerusalem

Baitul Maqdis

Lalu bagaimana dengan penyebutan nama Baitul Maqdis ? Apakah sama dengan yang dimaksud dengan Masjidil Aqsha ?

Masjidil Aqsha adalah nama yang diberikan oleh Allah ﷻ seperti dalam surat Al Israa’ [17] ayat 1.  Namun Rasulullah ﷺ juga menggunakan nama Baitul Maqdis untuk menyebut Masjidil Aqsha.

Selain itu, istilah atau nama Baitul Maqdis juga bisa berarti lebih luas daripada Masjidil Aqsha yang ‘hanya’ seluas 14.4 Hektar.

Ini, persis dengan sebutan Masjidil Haram yang memiliki 2 makna, yakni pertama adalah Tanah Haram dengan batas batas yang tegas.  Dan kedua adalah Kabah.

Lima Kali Disebut Dalam Al Quran

Baitul Maqdis disebut sebagai Negeri Barakah atau Tanah Barakah sebanyak 5 kali dalam 4 Surah Makkiyah yaitu Surah Al Anbiyaa’ [21], Surah Saba’ [34], Surah Al-A’raaf [7] dan Surah Al Israa’ [17].

Surat Al A’raf [7] ayat 137 :

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الأرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ 137

Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israel disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Firaun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.

Surah Al Anbiyaa’ [21] ayat 71 :

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ 71

Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah barakahi untuk sekalian manusia.

Ayat 81 :

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ 81

Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah barakahi. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.

Surat Saba’ [34] ayat 18 :

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ 18

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan barakah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarakjarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.

Surat Al Israa’ [17] ayat 1 :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 1

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

****

  • 4 ayat pertama, adalah kejadian yang berkaitan dengan masa sebelum Islam [ Nabi Muhammad ], menyebut (Baitul Maqdis) sebagai ‘Al-Ardh al-lati Barakna fiha’ – tanah atau negeri yang telah kami karuniai Barakah.
  • Ayat yang ke 5, yang berkaitan dengan Perjalanan Malam (Isra’) Rasulullah ﷺ mengacu kepada Masjid al Aqsha : al-ladzi Barakna Hawlahu, yakni “yang telah kami lingkari/ lingkupi dengan Barakah.”

Ini artinya 4 ayat yang pertama : mengacu kepada keseluruhan negeri yang telah dikaruniai Barakah. Dan negeri itu dapat didefinisikan batas batasnya secara geografis.
Sementara ayat yang ke 5, mengacu kepada sebuah titik pusat yakni Masjidil Aqsha yang disekelilingnya dilingkupi [ haula ] dengan Barakah.

Batas Masjidil Aqsha sendiri sudah jelas , tetapi, untuk menentukan sejauh mana ‘sekelilingnya’ yang dilingkupi Barakah, ini akan sulit atau bahkan tidak mungkin didefinisikan (kawasannya) secara geografis.

Ringkasnya, dapat dikatakan bahwa 4 ayat yang pertama mengacu kepada kawasan Baitul Maqdis sementara ayat yang ke 5 mengacu kepada Pusat Barakah di Baitul Maqdis, yakni Masjid al Aqsha.
– Dan uraian ini sama persis dengan ayat ayat tentang Masjidil Haram

Abd al Fattah M. El Awaisi dalam bukunya Introducing Islamicjerusalem, menuliskan bahwa di Makkah, Barakah itu terdapat di Kabah [semata mata]. Sementara di Baitul Maqdis, barakah itu melingkupi Masjid Al Aqsha.

Surat Ali ‘Imran [3] ayat 96 :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 96

‘Sesungguhnya rumah yang mula mula ditegakkan untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia’

Ayat diatas menurut Awaisi menjelaskan bahwa Barakah itu ada ‘hanya’ ada di Baitullah.

Sedang dalam surat Al Anbyaa’ [21] ayat 71 :

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ 71

‘Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah barakahi untuk sekalian manusia’
According to one verse in the Quran, Islamicjerusalem is ‘the land which We have given Barakah for everyone in the universe’

Dari ayat itu juga dijelaskan bahwa barakah itu telah diberikan Allah sebelum jaman Nabi Ibrahim, jika tidak sejak diciptakannya bumi. Dan uniknya dari Islamicjerusalem ini adalah Barakah diberikan sebelum tanah itu menjadi tanah para nabi.
Menjadi tanah para nabi, hanyalah satu bagian dari menifestasi Barakah. Dan Barakah ini menjadikan Islamicjerusalem sebuah tempat tujuan yang ideal untuk semua orang untuk hidup disana dan menikmati Barakah.

Tetapi ada pendapat ulama sejarah yang lain, yang menyebutkan bahwa barakah pada Masjidil Haram, tidak hanya ada di Kabah, tetapi juga disekitarnya, dan untuk seluruh alam.   Karena kata kata : bagi semua manusia, itu artinya adalah barakah dan petunjuk.  Jadi barakah dan petunjuk yang ada di Kabah [ Masjidil Haram ] adalah untuk seluruh manusia.  Ini selaras dengan panggilan haji itu sendiri, yang memang ditujukan kepada seluruh yang bernyawa.

•••

Batas Batas Baitul Maqdis

Dalam bukunya Introducing Islamicjerusalem, Prof Abd al Fattah M. El Awaisi menjelaskan bahwa ketika Allah menyebut ‘negri yang suci’ maka batas batas atau wilayah negri yang suci itu bisa didefinisikan, diukur dengan jelas dan tegas secara geografis.  Begitu juga ketika disebut Masjidil Aqsha.

Tetapi ketika disebut ‘yang Kami berkahi sekelilingnya’, maka hal itu sulit dipetakan.  Karena barakah itu memancar bagaikan gelombang audio dari pemancarnya.  Ia memancar ke sekelilingnya, pancaran itu berupa lingkaran demi lingkaran.  Dan semakin jauh lingkarannya, maka ‘kekuatan’ barakah itu akan semakin hilang.

Sekarang kita akan bahas dulu soal batas batas Baitul Maqdis.

Banyak orang menyangka, bahwa yang dimaksud dengan Baitul Maqdis adalah wilayah yang mengelilili atau yang ada disekeliling Masjidil Aqsha.  Padahal berdasarkan sumber sejarah yang ada, tidaklah demikian.  Baitul Maqdis lebih dari sekedar desa atau bahkan kota.  Bahkan Baitul Maqdispun bukanlah negri Palestina.  Baitul Maqdis adalah sebuah negri yang dibarakahi Allah yang meliputi suatu kawasan tertentu di Syam. Yang batas batasnya sudah ditentukan oleh Allah sendiri.

Prof Awaisi menyebutkan bahwa dari sejarah dan geografi, kita ketahui bahwa Baitul Maqdis bukanlah kota kecil atau ‘hanya’ sebuah kota yang dikelilingi oleh tembok atau sekelompok penduduk kota. Akan tetapi Baitul Maqdis adalah sebuah wilayah yang mencakup didalamnya beberapa desa, kota bahkan negara!

Dalam tesis PhD-nya, Prof Awaisi telah menulis batas batas Baitul Maqdis dengan berbagai bukti.  Salah satunya adalah dari kisah Abu Bakar As Sidiq, ketika Abu Bakar membagi pasukan pasukan perangnya dan mengirimnya ke daerah yang spesifik dalam sejarah Siria. Saat itu Abu Bakar mnugaskan Amir Ibn Al Aas untuk pergi ke Palestina dan Aelia !

! عليك بفلسطين و ايلياء

Dalam bahasa Arab, kata ‘و’ artinya dan, dan itu juga berarti pemisahan dan hal itu jelas menunjukkan perbedaan antara FIlistin dan Aelia !

Ini artinya, Filistin dan Aelia [ umum mengenalnya sebagai nama lain yang digunakan pada masa Romawi untuk Baitul Maqdis ] adalah 2 wilayah yang berbeda. Dan kata yang disebut sesudah ‘و’ [dan] menunjukkan sebagai kata yang lebih penting atau lebih berarti atau lebih ditekankan.

Kemudian, ketika Khalifah kedua, Umar bin Khattab menaklukan Aelia, ia menggunakan kata Aelia dalam dokumen Jaminan Keamanan. Nama Aelia adalah nama yang diberikan Romawi sesaat setelah mereka menguasai Baitul Maqdis dan nama itu tetap dipergunakan oleh kaum muslim meski Baitul Maqdis sudah dalam wilayah kekuasaan mereka.   Hingga masa awal Dinasti Umayyah, nama Aelia tercantum dalam mata uang mereka.  Praktik seperti ini memang biasa dilakukan oleh Khalifah ketika mereka menguasai sebuah wilayah, hanya untuk mendukung aturan atau sistem yang sudah berjalan, dan bukan membuat perubahan besar.

Setelah berbagai studi pustaka yang dilakukan, Prof Awaisi mendapatkan fakta bahwa batas batas Baitul Maqdis adalah dari 40 miles ke 40 miles.

Bahkan pada periode teakhir kekuasaan Ottoman, selama berlaku hukum hukum yang dikeluarkan oleh Khalifah Abdul Hamid !!, kami menemukan batas batas administrasi yang mirip dengan hanya sedikit perbedaan.

Pada tahun 1887 daerah ini bahkan dikenal sebagai ‘propinsi paling mandiri di Jerusalem. Liwa’ al Quds al Mustaqil al Mumtaz.  Hal itu terkait langsung dengan Istambul dan termasuk provinsi berikut : Jerusalem, Jaffa, Hebron, Gaza dan Beersheba.  Pendeknya, Baitul Maqdis buknlah kota atau pemukiman perkotaan, tetapi adalah sebuah wilayah yang mencakup beberapa desa, kota bahkan negara, dimana Masjidil Aqsha termasuk didalamnya.

Dari 5 ayat yang menjelaskan tentang Baitul Maqdis, yang paling jelas adalah dalam surat As Saba’ 34 ayat 18 :

 وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّامًا آمِنِينَ 18

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.

Lihat gambar.

Teori Lingkaran

Untuk menjelaskan apa yang disebut Barakah, dan daerah mana saja

batas batas Baitul Maqdis itu ibarat batas tanah haram Mekah.  Karena batasnya disebutkan dalam hadis Rasulullah.

 

Yerusalem

Lalu bagaimana dengan sebutan Yerusalem ?

Ketahuilah, jika kita umat Islam menyebut daerah sekeliling Masjidil Aqsha yang ikut diberkahi Allah dengan sebutan Baitul Maqdis.  Maka orang orang Yahudi menyebut Baitul Maqdis sebagai Yerusalem.

 Masjidil Aqsha
LetakDi Baitul Maqdis atau disebut juga Al Quds.
Barat dan Yahudi menyebutnya di Yerusalem Timur, Palestina
Dibangun olehNabi Adam, kemudian oleh Nabi Ibrahim dan Ishaq, lalu disempurnakan oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Arti NamaMesjid Terjauh [ dari Mekah, saat itu ]
Sebutan Lain Al Haram Asy Syarif [ Tanah Suci yang Mulia ]
* Barat menyebutnya : Temple Mount.
* Yahudi menyebutnya : Bait Suci Pertama
Keutamaan* Mesjid kedua yang dibangun di muka bumi, yang pertama Masjidil Haram
* Kiblat pertama umat muslim
* 1 dari 2 mesjid yang diberkahi Allah
* Pembangunannya melibatkan 5 Nabi
* Baitul Maqdis adalah rumah dan bahkan markaz para Nabi dan Rasul.
* 1 dari 4 Masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal [ Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjid Thursina ]
* Namanya diberikan langsung oleh Allah
* Tempat singgah Rasulullah dalam Isra' Mi'raj
* Disinilah Rasulullah memimpin shalat dengan makmum para nabi, rasul dan malaikat
* Menjadi tempat terhubungnya langit dan bumi, karena dari sinilah Rasul terbang ke Sidratul Muntaha
* Berziarah ke Masjidil Aqsha ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah
* Pahala shalat 500 kali dibanding tempat lain
* Tempat I'tikaf yang Sempurna
* Dianjurkan ber-ihrom dari Masjidil Aqsha
* Masjidil Aqsha adalah Tanah Waqaf Milik Islam
* Merupakan 1 dari 4 masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal pada hari akhir nanti.
* Masjidil Aqsha adalah tempat yang akan dibebaskan oleh hamba hamba-Nya kelak
* Disinilah nanti Nabi ‘Isa Al Masih akan membunuh Dajjal Al Masih di Pintu Lod [ Baitul Maqdis ]
* Tempat Malhamah Kubra terjadi
StatusDijajah Oleh Yahudi Laknatullah
Masjid Masjid Penting Dalam Islam 
Masjid Suci & Diberkahi1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
Masjid Suci dan Bersejarah1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
4. Masjid Nabawi
Masjid Awal Mula Dimuka Bumi1. Masjidil Haram atau Kabah
2. Masjidil Aqsha
Masjid Yang Menjadi Kiblat Shalat1. Masjidil Haram/ Kabah
2. Masjidil Aqsha
3. Kembali lagi ke Masjidil Haram atau Kabah
2 Masjid Pertama Yang Diibangun Rasulullah1. Masjid Quba
2. Masjid Nabawi
Masjid Yang Menjadi Saksi Perpindahan KiblatMasjid Qiblatain di Madinah
Masjid tempat lokasi shalat Jumat pertama RasulullahMasjid Jumat di dekat Quba, Madinah
Masjid Yang Tidak Bisa dimasuki Dajjal1. Masjidil Haram
2. Masjid Nabawi
3. Masjidil Aqsha
4. Masjid Thursina
Masjid Yang Tidak Bisa Dimasuki Ya'juj & Ma'jujMasjid Thursina
Masjid Yang Dibangun Atas Dasar Ketakwaan1. Masjid Quba
2. Masjid Nabawi
Masjid yang disebut Allah dalam Al Quran1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
4. Masjid Nabawi
5. Masjid Quba
6. Masjid Dhirar
Masjid Yang Dilarang Allah untuk Shalat didalamnyaMasjid Dhirar di dekat lokasi mesjid Quba
Keutamaan Masjidil Aqsha
  1. Masjidil  Aqsha adalah masjid kedua yang di bangun di muka bumi.  Yang pertama adalah Masjidil Haram.  40 tahun sebelumnya, dibangun Masjidil Haram.
    • Disebutkan dalam Shahihaini, bahwa Abu Dzar رضي الله عنه bertanya kepada Rasulullah ﷺ :
      “ Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di bumi? Nabi ﷺ menjawab : *Al Masjidil Haram. Aku bertanya lagi : Kemudian apa? Nabi ﷺ menjawab : Al Masjidil Aqsha.
      Aku bertanya : Berapakah jarak antara keduanya? Nabi ﷺ menjawab : 40 tahun. Kemudian di mana pun kalian mendapati waktu sholat, maka sholatlah. Sesungguhnya ada keutamaan di dalamnya.
      yang dimaksud Nabi dengan Al Masjidil Haram adalah bangunan [ Baitullah ] yang ada di Masjidil Haram [ Bakkah/ Mekkah ]
      Surat Ali ‘Imran [3] ayat 96 :
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 96

Sesungguhnya rumah yang mula mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah [ Mekah ] yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

  • Kiblat pertama umat muslim.  Yakni selama 13 tahun penyebaran Islam di Mekah dan 17 bulan setelah hijrah di Madinah.
    •  Di dalam hadits disebutkan sebagai berikut :
      عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا حَتَّى نَزَلَتْ الْآيَةُ الَّتِي فِي الْبَقَرَةِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ…

      Artinya : Dari Al Bara bin ‘Azib berkata, “Saya shalat bersama Nabi  ﷺ menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan [setelah hijrah], sampai turun ayat di dalam Surah Al Baqarah : …WAHAITSU MA KUNTUM FAWALLAU WUJUHAKUM SYATROH…” (H.R. Bukhari).

    • Dari Bara bin Azib : Kami shalat bersama Nabi ﷺ menghadap Baitul Maqdis sampai selama 16 bulan setelah Hijrah, sampai akhirnya turun surat Al Baqarah [2] ayat 144 :
    •  نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ 144
    • Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
    • Bukti peninggalan adanya peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, terbukti dengan adanya Masjid Qiblatain di Madinah. Masjid Qiblatain merupakan masjid tempat di mana Rasulullah ﷺ menerima perintah pemindahan arah kiblat itu. Maka disebut Masjid Qiblatain artinya masjid dua kiblat.
  • Satu dari 3 masjid yang diberkahi. [ Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Thursina/ Lembah Thuwa ].  Lihat : surat Al Israa’ [17] ayat 1.  Dan keberkahan itu ditujukan kepada sekalian manusia.Al Anbiyaa‘ [21] ayat 71 :وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ 71Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.Surat Ali ‘Imran [3] ayat 9 :إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 96Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
  • Satu dari dua mesjid yang suci.  Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Khusus untuk Masjidil Haram, kesucian itu sudah sejak awal diciptakan bumi dan langit
    • Dan Mekah adalah kota suci mulia sejak diciptakan langit dan bumi.  Rasulullah ﷺ bersabda pada hari penaklukan kota Mekah :
      إِنَّ هَذَا الْبَلَدَ حَرَّمَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

      “Sesungguhnya kota ini, Allah telah memuliakannya pada hari penciptaan langit dan bumi. Ia adalah kota suci dengan dasar kemuliaan yang Allah tetapkan sampai hari Kiamat”.   (HR Al-Bukhari, no. 3189; Muslim, 9/128, no. 3289)

      Allah ﷻ berfirman dalam Al Quran surat An Naml [27] ayat 91 :

      إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَٰذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

      “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”

    • Surah Al Maa-idah [5] ayat 21 :
       يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ 21

      Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang orang yang merugi

  • Melibatkan [sedikitnya] 5 Nabi dalam pembangunannya.  Masjid Al Aqsha dibangun pertama kali oleh Nabi Adam عليه السلام , hanya berupa pondasi/ tembok pendek yang mengelilingi tanah seluas 1.4 H.   Kemudian Nabi Ibrahim عليه السلام  dan anaknya Ishaq عليه السلام menyempurnakan pondasi itu.Ibnul Qayyim Al Jauzy menyebutkan,   Masjidil Aqsha dibangun kembali di atas pondasinya oleh cucu Nabi Ibrahim عليه السلام, yakni Nabi Ya`qub bin Ishaq bin Ibrahim عليه السلام. Keturunan berikutnya, Nabi Dawud bin Ya’qub عليه السلام membangun ulang masjid itu. Bangunan Masjidil Aqsha diperbaharui oleh putera Nabi Dawud عليه السلام, yakni Nabi Sulaiman عليه السلام. Mereka para nabi utusan Allah ﷻ membangun kembali Masjidil Aqsha adalah untuk tempat ibadah mendirikan shalat di dalamnya, bukan mendirikan kuil sinagog seperti klaim Zionis Yahudi.
  • Baitul Maqdis adalah rumah dan bahkan markaz para Nabi dan Rasul.  Mulai dari Nabi Adam, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Dawud, Sulaiman, Isa hingga Muhammad ﷺ.  Semuanya pernah menetap di Baitul Maqdis.
    • Nabi Dawud, Nabi Sulayman dan Nabi ‘Isa عليه السلام bermarkas di Baitul Maqdis.
    • Maryam ibunda ‘Isa عليه السلام dinazarkan oleh ibunya, istri Imran, untuk beribadah menyembah Allah di Baitul Maqdis. Di sinilah, di mihrabnya, Maryam dikunjungi Jibril عليه السلام yang mengabarkan akan kelahiran ‘Isa عليه السلام.
    • Nabi Ibrahim عليه السلام yang dilahirkan di Iraq di tepi sungai Efrat berda’wah di sana sampai turun perintah untuknya berhijrah ke Negeri Asy Syam. Dari Asy Syam dia menuju Mesir. Penindasan Firaun di sana mendorongnya untuk melakukan perjalanan lagi, kali ini menuju Baitul Maqdis. Lalu dia menuju Hijaz dimana dia membangun kembali Ka’bah bersama anaknya, Ismail عليه السلام. Dengan anaknya yang seorang lagi, Ishaq ‘alayhissalam, Ibrahim membangun kembali Masjidil Aqsha.
    • Allah mengirim Musa عليه السلام kepada Bani Israil dan membebaskan mereka dari penindasan Firaun. Sesudah selamat meninggalkan Firaun yang tenggelam di laut, Musa memerintahkan kepada Bani Israil: “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitul Maqdis) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” [AlMa’idah (5): 21] Tapi kita tahu apa yang terjadi, Bani Israil balas mengatakan kepada Musa : “Pergilah kamu dan Rabb-mu (ke Baitul Maqdis yang saat itu dikuasai kaum Jabbaabirah yang bertubuh raksasa) dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami duduk menanti di sini saja.” [Al-Ma’idah (5): 24] Kaki mereka belum lagi kering dari air laut yang menenggelamkan Firaun, mereka sudah mulai membangkang kepada Nabi Musa ‘alayhissalam dan menyembah Ijla (patung sapi). Maka Allah menghukum dan mengusir mereka dari Baitul Maqdis selama 40 tahun. Mereka terpaksa berputar-putar dalam kebingungan di Padang Tih – sampai Allah turunkan generasi baru, generasi yang taat kepada Allah.
    • Generasi baru Bani Israil inilah yang kemudian memasuki Baitul Maqdis untuk berjihad di bawah pimpinan Nabi Yusha bin Nun عليه السلام – satu-satunya manusia yang untuknya Allah hentikan matahari tenggelam agar bisa terus berjihad dan merebut Baitul Maqdis sebelum masuknya waktu Sabath.
    • Nabi Dawud عليه السلام bermarkas di Baitul Maqdis.
    • Lalu putranya, Sulaiman عليه السلام menyelesaikan pembangunan Baitul Maqdis dan meminta kepada Allah tiga hal, termasuk ini : Bahwa siapa pun yang berangkat dari rumahnya dengan keinginan untuk shalat di Masjid al-Aqsha maka dia akan keluar dari Masjid dalam keadaan bebas dari dosa sebagaimana saat dia dilahirkan ibunya. Kata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Dua permintaan Nabi Sulaiman dikabulkan Allah, dan aku berharap semoga yang ke tiga itu juga demikian.” [ Sunan Ibnu Majah, sahih].  Sesudah Sulaiman maka Bani Israil kembali melakukan dosa besar, menyembah berhala, sampai Allah menghukum mereka dengan menjadikan atas mereka seorang penguasa yang kejam, yang lalu menghancurkan Masjidil Aqsha di tahun 587 SM dan menangkapi anak-anak Bani Israil.
    • Allah mengirimkan kepada Bani Israil Nabi Daniyal. Akhirnya Allah mengampuni Bani Israil dan mengizinkan mereka kembali ke Baitul Maqdis serta mengirimkan kepada mereka nabinabi – yang lalu mereka bunuh juga.
    • Ada nabinabi lain yang Allah kirimkan ke Baitul Maqdis, termasuk Yahya dan ‘Isa عليه السلام
    • Sampai tibalah waktunya Nabi Muhammad ﷺ diutus bagi seluruh alam dan terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu.
  • Namanya diberikan langsung oleh Allah ﷻ, sama seperti Masjidil Haram.  Lihat surat Al Israa’ [17] ayat 1.
  • Tempat singgah Rasulullah ﷺ dalam Isra dan Mi’raj, yakni masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Seperti dalam surat Al Israa’ [17] ayat 1 :
    . سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    • Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke  Masjidil Aqsha  yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat
  • Disinilah Rasulullah meng-imam-i shalat dengan makmumnya yaitu para nabi, rasul dan malaikat.  “….. Dan sungguh telah diperlihatkan kepadaku jama’ah para nabi. Adapun Musa, dia sedang berdiri shalat. Dia lelaki tinggi kekar seakan-akan dia termasuk suku Sanu’ah. Dan ada pula ‘Isa bin Maryam ‘Alaihi Salam sedang berdiri shalat. Manusia yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi. Ada pula Ibrahim ‘Alaihi Salam sedang berdiri shalat. Orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian ini, yakni beliau sendiri. Kemudian diserukanlah shalat. Lantas aku mengimami mereka. Seusai shalat, ada yang berkata (Jibril) : “Wahai Muhammad, ini adalah Malik, penjaga neraka. Berilah salam kepadanya!” Aku pun menoleh kepadanya, namun dia mendahuluiku memberi salam” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
  • Satu Satunya tempat yang menghubungkan bumi dengan langit.  Karena pada peristiwa Isra’ Mi’raj, dari sinilah Rasulullah ﷺ terbang menuju Sidratul Muntaha
  • Berziarah ke Masjidil Aqsha ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah. Penyataan ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ : “Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha”. [ HR Abu Hurairah ].Dari Abu Hurairah رضي الله عنه beliau berkata :“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan Muslim]
  • Pahala shalat 500 kali.  Shalat di Masjid Nabawi setara 1000 kali shalat di mesjid lain.  Dari Abu Darda Rasulullah ﷺ bersabda : Keutamaan shalat di Masjidil Haram 100.000 kali lipat dibanding shalat di mesjid biasa, di Masjidku  dilipatgandakan 1000 kali lipat dan di Masjidil Aqsha 500 kali lipat [ HR Ath Tharbani dan Al Bazzar ]
  • Tempat I’tikaf yang Sempurna. Dari Abu Wa’il Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.“Hudzaifah bin Al-Yaman berkata kepada Abdullah bin Mas’ud ; “I’tikaf antara rumahmu dan rumah Abu Musa tidak masalah [3], padahal aku mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda,
    ‘Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid’Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Mungkin engkau lupa sementara mereka hafal. Engkau salah dan mereka benar” [HR Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Al-Kubra dan Ath-Thahawi dalam kitab Al-Musykil, serta Al-Ismail dalam kitab Al-Mu’jam. Hadits ini terdapat di dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah no. 2786 dan beliau berkata, ‘Shahih atas syarat Syaikhan (Al-Bukhari dan Muslim)].Syaikh kami (Al-Albani) berkata : Pernyataan Ibnu Mas’ud bukanlah untuk menyalahkan Hudzaifah dalam periwayatan lafadz hadits ini. Namun tampaknya beliau menyalahkan Hudzaifah dalam pengambilan hukum (istidlal) i’tikaf yang diingkari Hudzaifah, karena ada kemungkinan pengertian hadits menurut Ibnu Mas’ud adalah tidak ada i’tikaf yang sempurna, seperti sabda Rasulullah ﷺ.“Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama yang sempurna bagi orang yang tidak menepati janjinya”
  • Dianjurkan ber-ihrom dari Masjidil Aqsha.  Dalam hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah, beliau berkata : Rasulullah ﷺ bersabda : “Siapa yang ber-ihrom dari Masjidil Aqsha untuk melakukan umroh atau haji, maka dosa dosanya yang lalu akan diampuni”. (HR. Ahmad dari Ummu Salamah isteri Rasulullah ﷺ  ).
  • Masjidil Aqsha adalah Tanah Waqaf Milik Islam.  Khalifah Umar bin Khattab telah melakukan perjalanan ziarah ke Palestina, ketika penduduk negeri itu mensyaratkan bahwa yang berhak menerima penyerahan Palestina harus Umar sendiri selalu pemimpin umat Islam (Khalifah). Pada waktu itu warga Palestina termasuk kaum Nasrani memberikan mandat kepada Khalifah Umar bahwa diri mereka, harta mereka, dan semua kepecayaan di sana, untuk dijaga dan dipelihara oleh Islam. Khalifah Umar bin Khattab membebaskan kembali Masjid Al-Aqsha tersebut pada tahun 638 M. Khalifah Umar bin Khattab kemudian membangunnya kembali dengan kayu di atas pondasi aslinya. Khalifah Umar bin Khattab mewaqafkannya untuk umat Islam, agar jangan sampai diperjualbelikan dan jatuh ke tangan orang di luar Islam.
  • Merupakan 1 dari 4 masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal pada hari akhir nanti.  Ke 4 masjid tsb adalah : Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjid Thursina
    • “Sesungguhnya dia akan berdiam di muka bumi selama empat puluh hari dalam waktu tersebut dia akan mencapai setiap sumber air dan tidak akan mencapai empat masjid : Masjidil Haraam, Masjid Nabawi, Masjid ath Thuur, dan Masjidil Aqsha.” [   Al-Fathur Rabbani (XXIV/76, Tartiibus Saa’aati).
      Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/343). Ibnu Hajar berkata, “Para Perawinya adalah tsiqah.” Fat-hul Baari (XIII/105).
      [10]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ bab Qaulullahi Ta’aala Wadzkur fil Kitaabi Maryam (VI/477, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih ibni Maryam wal Masiihid Dajjal (II/233-235, Syarh an-Nawawi)  ]
  • Masjidil Aqsha adalah tempat yang akan dibebaskan oleh hamba hamba-Nya
    فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍشَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا

    Artinya : “Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”. (Q.S. Al Israa’  [17] ayat 5).

    ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَوَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا

    Artinya : “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar”. (Q.S. Al Israa’  [17] ayat 6).

    إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُالْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَمَرَّةٍ
    وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

    Artinya : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”. (QS Al Israa’ [17] ayat 7).

    Di dalam hadits disebutkan :

    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْقَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَحَتَّى يَأْتِيَهُمْ
    أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ قَالَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

    Artinya : “Tidak henti-hentinya thaifah dari umatku yang menampakkan kebenaran terhadap musuh mereka. Mereka mengalahkannya, dan tidak ada yang membahayakan mereka orang-orang yang menentangnya, hingga datang kepada mereka keputusan Allah ‘Azza wa Jalla, dan tetaplah dalam keadaan demikian”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, di manakah mereka?”. Rasulullah ﷺ bersabda, “Di Bait Al Maqdis dan di sisi sisi Bait Al Maqdis”. (HR Ahmad dari Abi Umamah).

    عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ

    Artinya : Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : “ Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum Muslimin berperang dengan Yahudi, maka kaum Muslimin berhasil membunuh mereka sehingga Yahudi bersembunyi di balik pohon dan batu. Lalu batu atau pohon itu berkata : Wahai Muslim.. Wahai Abdullah… ini Yahudi sembunyi di belakangku, maka segera bunuh dia, kecuali gharqad karena ia adalah dari pohon Yahudi. (H.R. Muslim).

  • Disinilah nanti Nabi ‘Isa Al Masih akan membunuh Dajjal Al Masih di Pintu Lod [ Baitul Maqdis ]
  • Disinilah akan terjadi Malhamah Kubra pada akhir jaman
Baitul Maqdis adalah juga Kiblat Untuk Yahudi dan Kristen

Baitul Muqaddas bukanlah kiblat untuk orang Islam saja, tetapi juga bagi Yahudi dan Nasrani.

Ketika Rasulullah hijrah ke Yastrib dan  kali pertama berinteraksi secara langsung dengan Yahudi, saat itu kiblat umat Islam, masih menghadap

Akan tetapi kala itu orang-orang Yahudi yang marah karena adanya perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Kabah. Penghadapan kiblat kearah Baitul Maqdis kala itu dijadikan oleh orang-orang Yahudi sebagai alasan untuk menolak masuk Islam, dimana mereka di Madinah mengatakan dengan lisan mereka bahwa pengarahan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang yang bersamanya ke kiblat (Baitul Maqdis) adalah sebuah dalil bahwa agama mereka (Yahudi) adalah agama yang sebenarnya, dan kiblat mereka adalah kiblat yang sebenarnya. Maka merekalah yang asli dan agama yang benar. Mereka (Yahudi itu) mengatakan, bahwa yang lebih utama bagi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama mereka adalah kembali ke agama mereka (Yahudi), tidak mengajak mereka untuk masuk Islam.

Pada waktu yang sama, perkara itu menjadi berat atas kaum muslimin bangsa Arab yang mereka sudah terbiasa di zaman jahiliyah untuk mengagungkan Baitul Haram dan menjadikannya sebagai Ka’bah dan kiblat mereka. Perkara itu semakin menjadi sulit saat mereka mendengar dari orang-orang Yahudi kebanggaan mereka dengan perkara ini dan menjadikannya sebagai alasan untuk membenarkan yahudi. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri membolak-balikkan wajah beliau ke langit, bermunajah kepada Tuhan, tanpa berbicara dengan lisannya, sebagai bentuk adab kepada Allah, serta menunggu arahan yang diridhai-Nya. Kemudian turunlah al-Qur’an mengabulkan apa yang ada di dalam dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu dengan firman-Nya:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya….” (QS. Al-Baqarah: 144)

Ketika kaum muslimin mendengar pengalihan arah kiblat, sebagian dari mereka tengah berada di dalam shalat mereka. Maka mereka pun mengalihkan wajah mereka ke arah Masjidil Haram di tengah shalat mereka dan menyempurnakan shalat mereka ke arah kiblat yang baru.

Saat itulah hilang sudah terompet orang-orang Yahudi yang membanggakan mereka, dengan mengalihkannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau dari kiblat mereka, yang dengannya mereka kehilangan hujjah yang menyandarkan kebanggaan mereka kepadanya.

Sekarang, biarkanlah saya menjelaskan kepada Anda dan juga kepada kaum muslimin, terutama para penuntut ilmu, akan hikmah dialihkanya kiblat dari Ka’bah pada awal tinggal mereka di Madinah. Sungguh ini adalah sebuah kejadian besar di hati mereka dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka. Hikmahnya adalah agar menjadi jelas siapa yang mengikut Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan siapa yang membelot. Adalah orang Arab mengagungkan Baitul Haram dalam masa jahiliyah mereka. Mereka menjadikannya sebagai simbol keagungan mereka. Saat Islam ingin membersihkan hati untuk Allah, serta melepaskannya dari ketergantungan kepada selain-Nya, dan membebaskannya dari segala keterpikatan dan segala kefanatikan kepada selain manhaj Islam yang terikat dengan Allah secara langsung, yang bersih dari segala endapan sejarah dan kesukuan, maka mencabut mereka dengan sekali cabutan dari arah baitul haram yang kemudian memilihkan mereka untuk sementara waktu ke arah masjidil Aqsha, demi membersihkan mereka dari endapan jahiliyah, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan masa jahiliyah agar menjadi tampak siapa yang mengikuti Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ikhlas dan siapa yang membelot karena bangga dengan keterpikatan jahiliyah yang berkaitan dengan jenis, kaum, bumi, dan sejarah.

Dikarenakan pembimbing dan pengajarnya adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka pasrahlah kaum muslimin dan menghadap ke arah kiblat yang telah ditentukan untuk mereka. Saat perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala turun untuk mengarah ke Masjidil Haram, maka hati kaum muslimin pun terikat dengan hakikat yang agung, yaitu bahwa rumah tersebut adalah rumah yang dibangun oleh Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihima Salam agar menjadi murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

≈ Doa Nabi Sulaiman Tentang Masjidil Aqsha 

Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda :

“Sesungguhnya , ketika Sulaiman bin Daud membangun Baitul Maqdis, (ia) meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 3 perkara.

(Yaitu), meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar (diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang menepati hukumNya, lalu dikabulkan ; dan meminta kepada Allah ﷻ dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan ;

Serta memohon kepada Allah ﷻ bila selesai membangun masjid, agar tidak ada seorangpun yang berkeinginan shalat disitu, kecuali agar dikeluarkan dari kesalahannya, seperti hari kelahirannya.” (Dalam riwayat lain berbunyi : Lalu Rasulullah ﷺ berkata : “Adapun yang dua, maka telah diberikan. Dan saya berharap, yang ketigapun dikabulkan).”

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .