بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tiga nama ini amat familiar di telinga kaum muslim dimanapun di dunia ini.  Apalagi muslim di Indonesia, yang bahkan tiap tahun selalu merayakan hari Isra’ Mi’raj di mesjid mesjid dekat rumah.  Dan nama Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis kerap disebut sebut sepanjang acara.

Familiar ditelinga, tidak menjamin tingginya tingkat pemahaman seseorang. Karena kenyataannya, banyak sekali kaum muslim di seluruh dunia yang tidak tahu yang mana yang disebut Masjidil Aqsha, mana yang disebut Baitul Maqdis, dan yang lebih parah mereka tidak tahu dikota mana Masjidil Aqsha itu berada.

Hasil Survey Yang Mengejutkan

Penulis pernah melakukan survey kecil dan sederhana untuk kepentingan pembuatan sebuah buku sejarah.   Survey kecil itu hanya untuk mengetahui sejauh mana umat Islam mengenal dimanakah letak masjidil Aqsha sesungguhnya.
Dan hasilnya, seperti yang sudah kami duga sebelumnya!
Survey ini melibatkan 350 responden, laki laki dan wanita.  Berstatus pelajar atau guru. Kewarganegaraan : tidak dibatasi/ bebas [ peserta survey yang terjaring berasal dari Indonesia, Afrika selatan, inggris, Amerika, Somalia, Tajikistan, Rusia ]
Survey kami lakukan di 2 negara : Indonesia dan Mesir
Pertanyaan kami ajukan dengan cara menyodorkan sebuah peta Masjidil Aqsha kepada responden.
Dan kepada responden kami ajukan 3 pertanyaan. Pertanyaan tsb sebagai berikut :
1. Yang manakah masjidil Aqsha ?
Hanya 35 responden yang mampu menjawab, Selebihnya sebagian besar menunjuk Dome of The Rock atau Kubah Emas sebagai Masjdiil Aqsha, sebagian kecil menunjuk mesjid Al Qibly
2. Yang manakah Baitul Maqdis ?
Hanya 35 responden yang menjawab dgn tepat. Selebihnya asal saja menunjuk nomor2 yang berada di peta
3. Di kota manakah letak Masjidil Aqsha?
Hanya 35 responden yang mampu menjawab dgn tepat. Selebihnya menjawab salah atau tidak tahu.

Jika responden berhasil menjawab dengan benar dan tepat pertanyaan nomor 1, maka dia bisa juga menjawab pertanyaan nomor 2 dan 3. Begitu juga sebaliknya, bila responden gagal menjawab pertanyaan nomor 1, maka nomor 2 dan 3 juga gagal dia jawab.

Dari survey sederhana yang kami lakukan tsb, cukuplah mendapat gambaran bahwa sejatinya umat Islam mengenal Masjidil Aqsha. Tetapi pengenalannya tidaklah detil. Hanya 35 dari 350 responden yang paham, apa sebenarnya yang disebut Masjidil Aqsha itu. Yang mana yang disebut Baitul Maqdis dan dikota mana sesungguhnya Masjidil Aqsha .

Kita sedang membicarakan tiga nama, yang kita tidak tahu persis dimana letak ketiganya.  Sebagian besar dari kita malah menyangka bahwa ke tiga nama itu adalah sama.  Betulkah, Yerusalem, Masjidil Aqsho dan Baitul Maqdis, adalah nama untuk satu wilayah yang sama?

Di dalam sejarah, tempat suci ini ada beberapa nama, di antaranya: Yerusalem, Baitul Maqdis , al-Ardh al-Muqaddasah, Ailea (Faishal, 2015: 11) dan juga Al Qud Al Syarif yang populer selama Khilafah Utsmaniyah (ʻAbd al-Fattâh, 2000), Yabus (Husain, 2001: 49), dan juga Pelestina (Thariq Suwaidan, 2004: 11).

Di samping itu, wilayah ini juga sarat dengan aspek keagamaan. Dalam al Qur`an dan al Hadits, ada banyak sekali keutamaan tempat mulia ini.

Di dalam Kitab Suci ini misalnya, disebutkan :

  • wilayah ini sebagai tempat isra` nabi, tempat dibangunnya Masjid Al-Aqsha, sekaligus dijadikan wilayah yang diberkati (QS. Al-Isra [17]: 1).
  • wilayah ini juga disebut “al-Ardh al-Muqaddasah” tempat yang disucikan dan dibersihkan dari kemusyrikan dan dosa (QS. Al-Ma`idah [5]: 21).
  • Ia juga menjadi hunian banyak nabi (QS. Al-Anbiya [21]: 71, 81; Al-A’raf [7]: 137; Saba [34]: 18; Al-Mu`minun [23]: 50);
  • Allah juga bersumpah dengannya serta menjadi tempat diturunkannya wahyu (QS. At-Tin [95]: 1);
  • dan akan dibebaskan kembali menjelang kiamat (QS. Al-Isra [17]: 7).

Masjidil Aqsha

Masjidil Aqsha sejatinya bukanlah sebuah ‘bangunan’ mesjid seperti yang dibayangkan selama ini.  Tetapi ia adalah sebuah area [kompleks] yang terletak di Kota Lama Yerusalem  [Yerusalem Timur] Palestina.  Dan dalam kompleks itu sekarang ini terdapat lebih dari 60 bangunan bersejarah dan 6 buah diantaranya adalah mesjid !

Nama Masjid Al Aqsha adalah nama yang diberikan langsung oleh Allah ﷻ seperti yang tercantum dalam Al Quran surat Al Israa’ [17] ayat 1 :

 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 1

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha  yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Pada peristiwa Isra’ Mi’raj diatas, Rasulullah serta para Nabi sholat disebuah tempat yang telah ditentukan Allah Ta’ala [ melalui Jibril yang telah membawa Nabi ke sana ].  Tempat itu berupa tanah lapang dimana tidak ada bangunan apapun diatasnya, kecuali setumpukan batu.  Ditempat itulah Nabi memimpin sholat dengan makmum para Nabi.

Dan tempat itulah yang disebut Allah  sebagai Masjidil Aqsha !

Jadi Masjidil Aqsha sejatinya bukanlah berupa bangunan mesjid seperti dalam bayangan kita selama ini.  Tapi itu hanya sebuah lapangan seluas sekitar  14,4 hektar yang ketika Rasulullah ﷺ Isra’ Mi’raj disana, tidak ada satupun bangunan utuh yang berdiri. Hanya reruntuhan bekas masjid yang dulu dibangun oleh Nabi Ibrahim, Ishaq, Daud dan Sulaiman.  Lapangan luas itu dikelilingi tembok kokoh.  Dan Rasulullah ﷺ memimpin shalat diantara reruntuhan masjid itu, dengan makmum para nabi, rasul dan malaikat.  Sebelum Rasulullah ﷺ terbang ke Sidratul Muntaha

Dan sekarang di dalam kompleks Masjidil Aqsha itu telah terdapat lebih dari 60 bangunan bersejarah, yang masing masing memiliki sejarahnya sendiri sendiri.  Karena tiap bangunan bersejerah itu dibangun satu demi satu setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada waktu dan zaman yang berbeda beda dan penguasa yang berbeda beda pula !

Dan diantara 60 lebih [ 81 tepatnya ] bangunan bersejarah di komplek Masjidil Haram, 6 diantaranya adalah mesjid mesjid yang kita kenal sekarang ini.

6 Masjid Yang Ada di Masjidil Aqsha 
Lokasi di bawah Masjidil Aqsha * Mushala Al Marwani
* Mushala Al Qadim
* Masjid Al Buraq
Lokasi di permukaan* Jami’ Al Qibly [ Masjid al Qibly atau Masjid Kiblat atau Masjid al Umar ]
* Masjid Al Maghariba
* Jami’ Nisa.

Lalu bagaimana dengan Dome of The Rock atau Kubah Emas?  Mengapa nama itu tidak disebut sebagi mesjid?

Dome of the Rock

Dome of The Rock sejatinya adalah satu dari 25 kubah kubah yang ada di Masjidil Aqsha.  Dome of The Rock atau dikenal sebagai  Kubah As Sakhrah : Arti namanya Kubah Batu.  Karena memang berdiri di atas batu raksasa. Dari titik inilah Rasulullah ﷺ naik ke langit dalam perjalanan Al Mi’rajnya. Dari kemudian diatasnya dibangunlah bangunan yang bentuknya kita kenal seperti sekarang.

Sekarang ini Dome Of The Rock difungsikan juga sebagai tempat shalat.  Karena memang sejatinya seluruh lokasi/ kompleks itu adalah mesjid, orang boleh shalat di manapun mereka sukai.

Tetapi sekali lagi, bangunan ini bukanlah mesjid [ tempat untuk sholat ].  Ini hanya  bangunan biasa yang dibangun oleh Sultan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 685-705. Bentuk bangunan segi delapan, dengan tinggi 35 meter.
Kubah Dome of the Rock ini dilapisi potongan emas, sementara bangunannya dihiasi dengan porselin khusus, khat yang sangat indah dan lantainya keramik. Di masa Perang Salib bangunan ini dijadikan gereja dengan ditambahi sebuah altar sementara bulan sabit besar di kubah diganti dengan salib. Pada tahun 1187, Salahuddin AlAyyubi mengembalikan Kubah As-Sakhrah ke fungsi semula. Pada tahun 2009, Turki memperbarui hiasan bulan sabit pada Kubah As-Sakhrah dengan biaya 250 ribu Euro.

Al Haram Asy Syarif

Masjidil Aqsha juga disebut Al Haram Asy Syarif [ Bahasa Arab : الحرم الشريف,  bahasa Inggris : Temple Mount atau al Haram ash Sharīf, artinya : “tanah suci yang mulia” ]   Maksudnya “Haram” artinya suci, seperti pada istilah Tanah Haram (tanah suci), Alharamain (dua tanah suci), Masjidil Haram (Masjid Suci) yang maksudnya tempat yang diharamkan melakukan perbuatan yang melanggar kesuciannya.  Akan tetapi kesucian masjidil Aqsha berbeda dengan kesucian Masjidil Haram yang memang disebutkan dalam Al Quran.

Kesucian Masjidil Aqsha lebih karena peran pentingnya dalam kehidupan umat dan terlebih lebih sekarang ini Al Aqsha masih dalam penjajahan dan hanya dijadikan objek wisata yang keuntungannya lebih banyak mengalir ke Israel !

Al Haram Asy Syarif atau “tanah suci yang mulia” ini oleh umat Yahudi dan Kristen disebut sebagai Temple Mount  atau Bait Suci [ bahasa Ibrani: הַר הַבַּיִת, Har haBáyit ].  Dan merupakan suatu tempat paling suci dalam agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri.  Di salah satu tembok Bait Suci itulah terdapat tembok ratapan yang terkenal.

Baitul Maqdis

Lalu bagaimana dengan penyebutan nama Baitul Maqdis ? Apakah sama dengan yang dimaksud dengan Masjidil Aqsha ?

Masjidil Aqsha adalah nama yang diberikan oleh Allah ﷻ seperti dalam surat Al Israa’ [17] ayat 1.  Namun Rasulullah ﷺ juga menggunakan nama Baitul Maqdis untuk menyebut Masjidil Aqsha.

Selain itu, istilah atau nama Baitul Maqdis juga bisa berarti lebih luas daripada Masjidil Aqsha yang ‘hanya’ seluas 14.4 Hektar.  Perhatikan surat Al Israa’ [17] ayat 1 :

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

Maha suci Allah Azza wa Jalla yang telah memperjalankan hamba-Nya q pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami barakahi sekelilingnya.

…. yang Kami barakahi sekelilingnya.  Nah, area sekeliling Masjidil Aqsha yang ikut diberkahi Allah Ta’ala itulah yang disebut Baitul Maqdis.  Yang artinya adalah Rumah Yang Disucikan.

Baitul Maqdis juga disebut oleh bangsa Palestina dan Arab sebagai Al Quds.

Dalam Kata Pengantar Buku “Geographical Dimensions of Islamicjerusalemm” (2008) yang diedit oleh Khalid El-Awaisi ada catatan menarik terkait hal ini : “Bagi banyak ilmuwan kontemporer, akademisi dan bahkan orang awam, Baitul Maqdis hanyalah sebuah kota dengan batas-batas yang tidak jauh dari tembok kuno. Namun, dalam sejarah, keberadaan sebuah wilayah untuk Baitul Maqdis (Islamicjerusalem) telah menjadi konsep lama. Wilayahnya, di samping kota kuno, banyak kota, kota dan desa lainnya seperti Hebron, Ramlah, Zarnuqah, Jaffa, Nablus, Shuwaykah, Jama’in, Jericho, Karak, Zoar dan Kuseifa.”

Dengan demikian, menurutnya, wilayah Baitul Maqdis melampaui batas politik saat ini.

Palestina

Di sisi lain, juga ada penyempitan dan simplifikasi teroterial terhadap wilayah ini. Dalam buku “Filisthîn Ardh al-Risâlah al-Samâwiyah” (1991: 9), Roger Garaudy menukil definisi Encyclopedia Britannica, “Palestina adalah daerah yang tunduk kepada kekuasaan Inggris sejak tahun 1923 sampai 1948.” Menurut beliau, definisi ini tentu begitu sempit dan sangat menonjolkan kepentingan Inggris, padahal negeri ini memiliki sejarah yang cukup tua.

Kesan penyempitan bahkan pengabaian wilayah hakiki Baitul Maqdis ini tentu akan berimplikasi negatif bagi penduduk muslim Palestina khususnya dan umat Islam pada umumnya. Pada gilirannya, orang akan kehilangan memori sejarah Baitul Maqdis sebenarnya. Di sisi lain malah akan menguntungkan pihak penjajah Zionis yang memang sejak zaman Theodore Herzl dengan gerakan Zionismenya pada akhirnya sukses mendirikan Negara Israel (Adian, 2005: 64-66)

Prof. Dr. Muhammad Imarah (Pemikir Muslim Asal Mesir) dalam bukunya yang berjudul Al-Quds Baina al-Yahuudiyah wa al-Islaam (1999:31-32), ketika mengkritik tuduhan miring orang Yahudi mengenai penyempitan makna Masjidil Aqsha, “Istilah ‘Masjidil Aqsha’ dalam Surah al-Isra maksudnya adalah Madinah al-Quds -seluruh wilayah al-Quds atau Baitul Maqdis – yang dimaksud dengan kata ‘masjid’ bukan bermakna bangunan arsitektur untuk masjid, karena bangunan masjid belum berdiri di al-Quds pada tahun 621 Masehi pada malam Isra`. Demikian halnya ungkapan ‘Masjidil Haram’ dalam ayat ini maksudnya adalah Makkah -seluruh wilayah Makkah– tidak hanya terbatas pada Ka’bah dan Masjidil Haram.”

Guru Besar Ilmu Sejarah dan Hubungan Internasional di Universitas Istanbul Sabbahatin Zaim, Prof Abd Al-Fattah El-Awaisi dalam seminar Islamicjerusalem Past, Present, and Future di Balai Ilmu, Akademi Studi Islam Universitas Malaya, Malaysia, akhir Agustus lalu mengungkapkan terminologi yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, yaitu Baitul Maqdis.

Rasulullah tidak menggunakan kata Palestina, Yerusalem, atau Quds, tapi Baitul Maqdis. Baitul Maqdis adalah terminologi dari sebuah kawasan yang Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam sebut dalam haditsnya sebagai tanah suci, seperti halnya Makkah dan Madinah.

Dengan demikian, ketika ada penyebutan Masjid Al-Aqsha, Baitul Maqdis dan nama lainnya, maka itu adalah semua wilayah Baitul Maqdis , bukan sekadar yang di Al-Quds yang ada saat ini.

Yerusalem

Lalu bagaimana dengan sebutan Yerusalem ?

Ketahuilah, jika kita umat Islam menyebut daerah sekeliling Masjidil Aqsha yang ikut diberkahi Allah dengan sebutan Baitul Maqdis.  Maka orang orang Yahudi menyebut Baitul Maqdis sebagai Yerusalem.  Dan dimanakah Yerusalem atau Baitul Maqdis itu berada ?  Kota suci tersebut terletak di Palestina yang hingga kini masih berada dalam cengkraman Zionis Israel.

Adapun dalam Al-Hadits, keutamaannya juga banyak, di antaranya: tempat Isra dan pemberangkatan Mi’raj (HR. Muslim); kiblat umat Islam yang pertama (HR. Ahmad); masjid kedua yang dibangun di bumi Allah (HR. Bukhari); masjid ketiga yang paling dianjurkan diziarahi (HR. Bukhari); shalat dan “ribath” di dalamnya dinilai sebagai penghapus dosa (HR. Ibnu Majah); tanah suci pilihan di muka bumi (HR. Abu Daud); menjadi Ibukota Khilafah Islam di akhir zaman (HR. Ahmad); tempat perjuangan besar di akhir zaman (HR. Ahmad); tempat hijrah mukmin akhir zaman (HR. Abu Daud); negeri akhir zaman yang tidak bisa dimasuki Dajjal (HR. Ahmad); menjadi tempat binasahnya Ya’juj wa Ma’juj (HR. Muslim) dan lain sebagainya.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .