بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masjid Thursina adalah satu dari empat masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal.  Dan satu satunya tempat yang tidak dapat dimasuki Ya’juj dan Ma’juj.  Juga satu satunya tempat dimuka bumi, meskipun Kabah dan Masjidil Aqsha sendiri sudah hancur berantakan, yang akan tetap kokoh berdiri hingga detik detik sangkakala ditiup Malaikat Izrofil.

Di Thursina itulah Rasulullah ﷺ dan Jibril sempat singgah dalam perjalanan menuju Masjidil Aqsha dalam peristiwa Isra’ Mi’raj untuk melakukan shalat 2 rakaat.

Dan letak masjid atau wilayah Thursina, konon sama dengan bukit tempat Nabi Musa عليه السلام berkata kata dengan Allah ﷻ.

Dengan sederet peristiwa penting yang sudah dan akan terjadi di Masjid Thursina, sudah sepatutnyalah umat Islam juga mengenal, merawat dan mempelajari Masjid Thursina ini.

Tetapi tidak seperti 3 masjid lainnya seperti Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi yang sudah kita ketahui lokasinya, masjid Thursina hingga kini masih misterius letaknya.  Dan bukan soal mudah untuk melacak masjid fenomenal ini. Karena para ulama besar dunia, terpecah pecah pendapatnya tentang hal ini.

Masjid Thursina 
Letak Ada 3 versi :
1. Gunung Munajah, di sisi Gunung Musa, Semenanjung Sinai MEsir
2. Sebuah bukit di Baitul Maqdis, Palestina
3. Sebelah selatan Nablus (Palestina) atau yang dinamakan Jurzayem
Keutamaan* Menjadi tempat persinggahan Nabi Muhammad ﷺ dan Jibril عليه السلام Isra' Mi'raj untuk melakukan shalat 2 rakaat.
* Tempat Nabi Musa عليه السلام berbicara kepada Allah ﷻ dan menerima 10 Perintah Allah ﷻ
* 1 dari 4 masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal
* Satu satunya tempat yang tidak dapat dimasuki Ya'juj dan Ma'juj
* Satu satunya tempat yang tidak akan hancur hingga jelang hari kiamat
* Disinilah kelak Nabi 'Isa عليه السلام bersama kaum muslimin diperintahkan Allah ﷻ untuk berlindung dari Ya'juj dan Ma'juj

Allah Bersumpah Demi Thursina

Allah bersumpah demi Tin, Zaitun, Thursina dan Mekah dalam Al Quran surat At Tiin [95] ayat 1 – 3 :

 وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ 1

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,

 وَطُورِ سِينِينَ 2

dan demi bukit Siniin,

 وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ 3

dan demi kota (Mekah) ini yang aman

 

Tiga ayat di atas merupakan sumpah Allah ﷻ . Kalimat atau kata kata sumpah Allah juga terdapat pada beberapa surah dan ayat lain dalam Alquran.

Memahami ayat tersebut, ternyata tidaklah mudah. Berbagai pertanyaan muncul mengenai sumpah Allah ﷻ tersebut. Apa keistimewaan buah tin dan buah zaitun, di mana sesungguhnya keberadaan Thursina, dan di mana negeri yang aman itu.

Sejumlah ahli tafsir pun berbeda pendapat dalam menafsirkan ketiga ayat di atas, misalnya Thursina. Hampir semua ahli tafsir menyepakati bahwa Bukit Thursina adalah bukit saat Musa menerima wahyu dari Allah ﷻ .

Namun, mereka berbeda pendapat dalam memutuskan letak Bukit Thursina tersebut. Setidaknya, ada tiga versi tentang Bukit Thursina.

≈ Versi Pertama
Sejumlah ahli tafsir meyakini bahwa Bukit Thursina sebagaimana disebutkan dalam surah At Tiin [95] berada di wilayah Mesir yang lokasinya berada di Gunung Munajah, di sisi Gunung Musa. Lokasi ini dikaitkan dengan keberadaan Semenanjung Sinai. Pendapat ini didukung oleh Sayyid Quthub dalam tafsirnya Fi Zhilal al Quran. Menurut Quthub, Thursina atau Sinai itu adalah gunung tempat Musa dipanggil berdialog dengan Allah ﷻ .

Dalam versi ini pula, banyak pihak yang meyakini bahwa daerah Mesir adalah tempat yang disebutkan sebagai Thursina. Sebab, di daerah ini, terdapat sebuah patung anak lembu. Peristiwa ini dikaitkan dengan perbuatan Samiri, salah seorang pengikut Nabi Musa yang berkhianat.

Dalam AL Quran surah Al A’raaf [7] ayat 148, disebutkan bahwa :

 وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ 148

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang lalim.

 

Ketika kaum Bani Israil keluar dari tanah Mesir, mereka banyak membawa perhiasan masyarakat Mesir (berupa emas dan perak). Para wanita Bani Israil telah meminjamnya dari mereka untuk dipakai sebagai hiasan. Perhiasan tersebut dibawa ketika Allah ﷻ memerintahkan mereka keluar dari Mesir. Mereka kemudian melepaskan perhiasan tersebut karena diharamkan. Setelah Musa pergi ke tempat perjumpaan dengan Rabb-nya, Samiri mengambil perhiasan itu dan menjadikannya sebagai patung anak lembu yang bisa mengeluarkan suara melenguh jika angin masuk ke dalamnya. Mungkin, segenggam tanah yang dia ambil dari jejak utusan (Jibril) membuat patung anak lembu tersebut dapat melenguh.

Sementara itu, dalam Kitab Perjanjian Lama, disebutkan bahwa ”Ketika bangsa itu melihat Musa sangat lambat saat turun dari gunung, mereka lalu berkumpul mengelilingi Harun dan berkata, ‘Buatkanlah tuhan yang dapat berjalan di hadapan kami. Sebab, Musa ini orang yang telah memimpin kami keluar dari Mesir. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengannya.’ Harun kemudian berkata kepada mereka, ‘Lepaskan dan serahkanlah kepadaku anting-anting emas yang ada pada istri, putra, dan putri kalian.’ Seluruh bangsa itu pun menanggalkan anting-anting emas dan menyerahkannya kepada Harun. Harun menerima perhiasan-perhiasan itu. Dia lalu melelehkan dan menuangkannya ke patung yang bergambar anak lembu.

Mereka kemudian berkata, ‘Hai Israil, inilah tuhan-tuhanmu yang telah mengeluarkan kalian dari negeri Mesir.” (Kitab Keluaran ayat 2-5). Dalam kisah yang disebutkan pada Kitab Perjanjian Lama, tampak Harun telah berbuat salah. Sebaliknya, Al Quran justru membebaskan Harun dari perbuatan yang dituduhkan tersebut.

Karena itu, menurut sebagian ahli tafsir, Thursina terletak di Sinai. Inilah versi pertama. Menurut Sami bin Abdullah al Maghluts, dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, pendapat pertama yang mengatakan Thursina berada di wilayah Mesir sangat lemah. Sebab, perkataan itu hanya mengandung kekeliruan pemahaman yang diidentikkan dengan kata ‘Sinai’.

”Siapa yang bisa memastikan bahwa yang dimaksud Allah ﷻ dengan Thursina itu adalah Sinai, Mesir? Sekiranya memang benar demikian, tentunya Allah ﷻ tidak mengatakan Siniin jika maksudnya Sinai.

≈ Versi Kedua
Mengutip pendapat Muhammad bin Abdul Mun’im al-Himyari, dalam bukunya Al Raudh al Mi’thar fi Khabari al Aqthar, Syauqi Abu Khalil dalam Atlas Hadis, menyatakan bahwa Thursina adalah bukit yang terletak di barat daya negeri Syam. Di sini, Allah ﷻ  berbicara secara langsung dengan Nabi Musa عليه السلام.

Menurut al Qamus al Islam, kata ‘Thursina’ adalah gunung yang tandus atau gersang. Namun menurut mufassir Qatadah dan Al Kalibi, Thuur Siniin (Sinai) adalah bukit yang berpepohonan dan berbuah buahan dan kaya akan aneka ragam vegetasi.

Manakah  diantara dua pendapat tersebut yang disepakati ulama ?

Nama bukit Thursina disebutkan dalam Al Quran sebagaimana surah At Tiin [95] ayat 1 -lihat diatas-  dan surah Al Mu’minuun [23] ayat 20 :

 وَشَجَرَةً تَخْرُجُ مِنْ طُورِ سَيْنَاءَ تَنْبُتُ بِالدُّهْنِ وَصِبْغٍ لِلآكِلِينَ 20

dan pohon kayu ke luar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang makan.

Ar Razi dalam tafsirnya menyebutkan, banyak dalil yang menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud Thuur Siniin adalah bukit di Baitul Maqdis.

Di antara pendapat yang disebutkan Ar Razi adalah mufassir seperti Qatadah dan al Kalibi yang menyatakan kata Thuur Siniin (Sinai) adalah bukit yang berpepohonan dan berbuah buahan.

Apakah ini adalah Sinai, Mesir? ”Kalau memang ya, tentu tak seorang pun yang membantahnya,” kata Sami.

Menurut Sami, justru yang dimaksud dalam ayat itu adalah Thur Sina, bukit di Baitul Maqdis dan Balad al Amin adalah Makkah. Berikut argumentasinya. Allah berfirman, ”Dan, pohon kayu yang keluar dari Thursina (pohon zaitun) yang menghasilkan minyak dan menjadi makanan bagi orang-orang yang makan.” (Al Mu’minuun [23] ayat 20).

Ayat ini, kata Sami, mengikat dan menghimpun dengan kuat antara ‘Thursina‘ dan hasil bumi serta tumbuh-tumbuhan penghasil minyak bagi orang yang makan. Sementara itu, lanjutnya, di Sinai (Mesir) tidak ada pohon zaitun yang mampu menghasilkan buah, apalagi mengeluarkan minyak.

Menurut dia, ayat 20 surah Al Mu’minuun [23] dan ayat 1-3 surah At Tiin [95] itu justru merujuk pada tanah suci di Palestina. Di Palestina, jelas Sami, terdapat banyak pohon zaitun yang terus berproduksi di sepanjang tahun sehingga penduduk di sekitar Baitul Maqdis menamakannya dengan ”Bukit Zaitun” dan Allah ﷻ telah berseru kepada Musa di tempat yang diberkahi di sisi bukit.  Surat Al Qashash [28] ayat 30 :

 

 فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الأيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 30

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam,

Hal yang sama juga diungkapkan Ustaz Shalahuddin Ibrahim Abu ‘Arafah, seorang ulama asal Palestina. Menurutnya, Bukit Thursina adalah tempat yang diberkahi. Dan, tempat yang diberkahi itu adalah Palestina sebagaimana surah Al Israa’ [17] ayat 1 yang menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ.

Keterangan ini makin diperkuat lagi dengan surah An Naazi’aat [79] ayat 16 :

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِي الْمُقَدَّسِ طُوًى 16

Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa

Surah Al Maa-idah [5] ayat 21 :

 يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ 21

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Lembah suci itu, jelas Sami, hanya ada dua, yaitu Mekah dan Palestina. ”Karena itu, kita tidak boleh memalingkan maknanya kepada yang lain tanpa bukti dan keterangan,” jelasnya.

Merujuk pada hadis Rasulullah ﷺ yang menyatakan fitnah Dajjal dan Isa bin Maryam bahwa Allah ﷻ akan memberi wahyu kepada Isa bin Maryam sesudah dia membunuh Dajjal di gerbang Lod di Baitul Maqdis, ”Bawalah hamba-hamba-Ku berlindung ke bukit.”

Para ulama menyepakati bahwa konteks hadis itu adalah Baitul Maqdis, bukan Sinai, Mesir. Apalagi, terdapat peristiwa Nabi Musa عليه السلام menerima wahyu saat keluar dari Mesir akibat kejaran Firaun. Karena itu, pendapat ini menegaskan bahwa yang dimaksud Thursina itu sudah berada di luar Mesir.

Seperti diketahui, Semenanjung Sinai merupakan wilayah yang sangat luas, yaitu mencapai 9.400 km persegi dengan panjang sekitar 130 km. Dan, sisi pertamanya adalah Teluk Aqabah dengan panjang 100 km. Di sisi keduanya adalah Teluk Suez dengan panjang 150 km. Sedangkan, gunung tertinggi di semenanjung Sinai adalah Gunung Katrina (2.637 m).

≈ Versi Ketiga
Selain kedua versi di atas, terdapat satu lagi tempat yang diduga sebagai Bukit Thursina. Tempat itu adalah bukit sebelah selatan Nablus (Palestina) atau yang dinamakan Jurzayem.

Pendapat ini merujuk pada Bangsa Kan’an yang membangun Kota Nablus dan menamakannya Syukaim, yaitu nama yang diubah bangsa Ibrani pertama menjadi Syukhaim, tempat tersebarnya kaum Yahudi dari sekte Samiri. Dan, mereka adalah sekte yang meyakini lima kitab dari Perjanjian Lama serta memercayai bahwa tempat suci Yahudi terletak Bukit Thur, yaitu sebelah selatan Nablus.

Dari ketiga versi tersebut, tampaknya ada dua pendapat yang sangat kuat, yaitu Sinai di Mesir dan Baitul Maqdis di Palestina. Manakah Bukit Thursina yang sesungguhnya? Wallahu a’lam bishowab

≈ Keutamaan Masjid Thursina

  • Menjadi tempat persinggahan Nabi Muhammad ﷺ dan Jibril عليه السلام dalam perjalanan menuju Masjidil Aqsha dalam peristiwa Isra’ Mi’raj untuk melakukan shalat 2 rakaat.
  • Tempat Nabi Musa عليه السلام  berbicara kepada Allah ﷻ  dan menerima 10 Perintah Allah
  • Merupakan 1 dari 4 masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal pada hari akhir nanti.  Ke 4 masjid tsb adalah : Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjid Thursina
    • “Sesungguhnya dia akan berdiam di muka bumi selama empat puluh hari dalam waktu tersebut dia akan mencapai setiap sumber air dan tidak akan mencapai empat masjid : Masjidil Haraam, Masjid Nabawi, Masjid ath Thuur, dan Masjidil Aqsha.” [   Al Fathur Rabbani (XXIV/76, Tartiibus Saa’aati).
      Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/343). Ibnu Hajar berkata, “Para Perawinya adalah tsiqah.” Fat-hul Baari (XIII/105).
      [10]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ bab Qaulullahi Ta’aala Wadzkur fil Kitaabi Maryam (VI/477, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih ibni Maryam wal Masiihid Dajjal (II/233-235, Syarh an-Nawawi)  ]
  • Satu satunya tempat yang tidak dapat dimasuki Ya’juj dan Ma’juj
  • Satu satunya tempat yang tidak akan hancur hingga detik detik menjelang hari kiamat.  Sementara Ka’bah, Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi telah dihancurkan Ya’juj dan Ma’juj
  • Disinilah kelak Nabi ‘Isa عليه السلام bersama kaum muslimin diperintahkan Allah ﷻ  untuk berlindung dari Ya’juj dan Ma’juj, dan kemudian Nabi ‘Isa عليه السلام  berdoa kepada Allah ﷻ agar Allah ﷻ menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj.  Dan doa Nabi ‘Isa عليه السلام kelak dikabulkan Allah

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .