بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masjid Nabawi [ المسجد النبوي‎ ]  , adalah masjid kedua yang dibangun langsung oleh Rasulullah ﷺ bersama para sahabat, yang pertama adalah Mesjid Quba.  Dan jarak antar kedua mesjid itu sekitar 3 km.

Mesjid Nabawi ini terletak di Madinah dan dibangun pada Tahun 1 Hijriah atau 623 Masehi.  Masjid Nabawi adalah masjid suci keempat setelah Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Thursina.

Disebut Masjid Nabawi karena Rasulullah ﷺ selalu menyebutnya dengan kalimat,  “Masjidku”.   Lokasi masjid Nabawi dulunya adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin Amr. Rasulullah ﷺ kemudian membeli tanah ini untuk dibangun masjid dan kediaman Beliau.

Di sisi lain ada bagian yang digunakan untuk tempat tinggal fakir miskin yang tidak memiliki rumah. Orang orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid. Masjid Nabawi kini 100 kali lebih besar dibandingkan saat pertama kali dibangun.

Di areal masjid inilah terdapat makam Rasulullah, yang semula adalah kamar Aisyah namun setelah masjid diperluas, akhirnya makam Rasulullah ﷺ menjadi areal masjid namun tetap terpisah dari masjid Nabawi itu sendiri. Baca Makam Rasulullah.

Masjid Nabawi 
Letak Haram, Madinah, Hejaz, Arab Saudi[1]
Dibangun Oleh Rasulullah dan para sahabat
Keutamaan* Masjid kedua yang dibangun langsung oleh Rasulullah dan para sahabat. Mesjid pertama yakni Mesjid Quba
* 1 dari 4 masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal
* Shalat di Masjid Nabawi terbebas dari neraka, siksa dan kemunafikan
* Shalat di Masjid Nabawi setara 1000 kali shalat di mesjid lain
* Berziarah ke Masjid Nabawi ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah
* Terdapat Makam Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dan Umar
* Terdapat raudhah ' taman surga
* Rumah Nabi ﷺ dan para Istri berdampingan dengan masjid ini
Didirikan 622 M
Koordinat geografi 24,468333°LU 39,610833°BT
Kepemimpinan Imam
Abdur Rahman Al Huthaify
Salaah Al Budair
Sheikh Dr. Abdulbari Awadh Al-Thubaity
Sheikh Dr. Abdul Muhsin Al-Qasim
Sheikh Dr. Hussain Abdul Aziz Aal Sheikh
Sheikh Dr. Ahmad ibn Taalib Hameed (diangkat pada bulan Ramadhan 1434)
Sheikh Dr. Abdullah Bu'ayjaan (diangkat pada bulan Ramadhan 1434)
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Gaya arsitektur Arsitektur Islam klasik dan kontemporer, Utsmaniyah; Mamluk
Spesifikasi
Kapasitas 600.000 (meningkat hingga 1.000.000 saat musim Haji)
Menara 10
Tinggi menara 105 meter (344 ft)
Masjid masjid di Madinah
Masjid Nabawi • Masjid Quba • Masjid Qiblatain • Masjid Tujuh • Masjid Al-Ijabah • Masjid Jum'at • Masjid Ar-Rayah • Masjid As-Sabaq • Masjid As-Sajadah • Masjid As-Suqya • Masjid Al-'Ashabah • Masjid Al-'Anbariyah • Masjid Al-Fash • Masjid Al-Fadhikh • Masjid Al-Fuqair • Masjid Al-Manaratain • Masjid Bani Bayadhah • Masjid Bani Haram • Masjid Bani Khudarah • Masjid Bani Khathmah • Masjid Bani Zuraiq • Masjid Bani Ghaffar • Masjid Dzulhulaifah • Masjid Itban bin Malik • Masjid Mishbah • Masjid Masyrabah Ummi Ibrahim • Masjid 'Ainain
Masjid Masjid Penting Dalam Islam 
Masjid Suci & Diberkahi1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
Masjid Suci dan Bersejarah1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
4. Masjid Nabawi
Masjid Awal Mula Dimuka Bumi1. Masjidil Haram atau Kabah
2. Masjidil Aqsha
Masjid Yang Menjadi Kiblat Shalat1. Masjidil Haram/ Kabah
2. Masjidil Aqsha
3. Kembali lagi ke Masjidil Haram atau Kabah
2 Masjid Pertama Yang Diibangun Rasulullah1. Masjid Quba
2. Masjid Nabawi
Masjid Yang Menjadi Saksi Perpindahan KiblatMasjid Qiblatain di Madinah
Masjid tempat lokasi shalat Jumat pertama RasulullahMasjid Jumat di dekat Quba, Madinah
Masjid Yang Tidak Bisa dimasuki Dajjal1. Masjidil Haram
2. Masjid Nabawi
3. Masjidil Aqsha
4. Masjid Thursina
Masjid Yang Tidak Bisa Dimasuki Ya'juj & Ma'jujMasjid Thursina
Masjid Yang Dibangun Atas Dasar Ketakwaan1. Masjid Quba
2. Masjid Nabawi
Masjid yang disebut Allah dalam Al Quran1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
4. Masjid Nabawi
5. Masjid Quba
6. Masjid Dhirar
Masjid Yang Dilarang Allah untuk Shalat didalamnyaMasjid Dhirar di dekat lokasi mesjid Quba

 

Masjid Kedua Umat Muhammad

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat saat pertama Rasulullah ﷺ tiba di Madinah.

Lokasi tempat dibangunnya Masjid Nabawi ditentukan oleh unta tunggangan Nabi ﷺ.  Unta ini disuruh berjalan sendiri, dan dimanapun dia berhenti, maka disitulah bakal lokasi masjid.. Dan akhirnya sang unta memilih  tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah ﷺ untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau.

Masjid Nabawi 
Letak Haram, Madinah, Hejaz, Arab Saudi[1]
Dibangun Oleh Rasulullah dan para sahabat
Keutamaan* Masjid kedua yang dibangun langsung oleh Rasulullah dan para sahabat. Mesjid pertama yakni Mesjid Quba
* 1 dari 4 masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal
* Shalat di Masjid Nabawi terbebas dari neraka, siksa dan kemunafikan
* Shalat di Masjid Nabawi setara 1000 kali shalat di mesjid lain
* Berziarah ke Masjid Nabawi ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah
* Terdapat Makam Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dan Umar
* Terdapat raudhah ' taman surga
* Rumah Nabi ﷺ dan para Istri berdampingan dengan masjid ini
Didirikan 622 M
Koordinat geografi 24,468333°LU 39,610833°BT
Kepemimpinan Imam
Abdur Rahman Al Huthaify
Salaah Al Budair
Sheikh Dr. Abdulbari Awadh Al-Thubaity
Sheikh Dr. Abdul Muhsin Al-Qasim
Sheikh Dr. Hussain Abdul Aziz Aal Sheikh
Sheikh Dr. Ahmad ibn Taalib Hameed (diangkat pada bulan Ramadhan 1434)
Sheikh Dr. Abdullah Bu'ayjaan (diangkat pada bulan Ramadhan 1434)
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Gaya arsitektur Arsitektur Islam klasik dan kontemporer, Utsmaniyah; Mamluk
Spesifikasi
Kapasitas 600.000 (meningkat hingga 1.000.000 saat musim Haji)
Menara 10
Tinggi menara 105 meter (344 ft)
Keutamaan Masjid Nabawi
  1. Masjid Nabawi adalah kedua yang dibangun langsung oleh Rasulullah dan para Sahabat, yang pertama adalah Mesjid Quba
  2. Merupakan 1 dari 4 masjid yang tidak dapat dimasuki Dajjal pada hari akhir nanti.  Ke 4 masjid tsb adalah : Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi dan Masjid Thursina
    • “Sesungguhnya dia akan berdiam di muka bumi selama empat puluh hari dalam waktu tersebut dia akan mencapai setiap sumber air dan tidak akan mencapai empat masjid : Masjidil Haraam, Masjid Nabawi, Masjid ath Thuur, dan Masjidil Aqsha.” [   Al-Fathur Rabbani (XXIV/76, Tartiibus Saa’aati).
      Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/343). Ibnu Hajar berkata, “Para Perawinya adalah tsiqah.” Fat-hul Baari (XIII/105).
      [10]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ bab Qaulullahi Ta’aala Wadzkur fil Kitaabi Maryam (VI/477, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih ibni Maryam wal Masiihid Dajjal (II/233-235, Syarh an-Nawawi)  ]
  3. Shalat di Masjid Nabawi terbebas dari neraka, siksa dan kemunafikan
    Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi ﷺ bersabda (yang artinya) :
    “Barangsiapa melakukan shalat di mesjidku sebanyak 40 kali tanpa luput satu kali shalat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan.” (Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah)
  4. Berziarah ke Masjid Nabawi ini adalah masyru’ (diperintahkan) dan termasuk ibadah. Penyataan ini sesuai dengan sabda Rasulullah : “Janganlah kau mementingkan bepergian kecuali kepada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha”. [ HR Abu Hurairah ]
  5. Shalat di Masjid Nabawi setara 1000 kali shalat di mesjid lain.  Dari Abu Darda Rasulullah ﷺ bersabda : Keutamaan shalat di Masjidil Haram 100.000 kali lipat dibanding shalat di mesjid biasa, di Masjidku  dilipatgandakan 1000 kali lipat dan di Masjidil Aqsha 500 kali lipat [ HR Ath Tharbani dan Al Bazzar ]
  6. Terdapat makam Rasulullah ﷺ, Abu Bakar رضي الله عنه  dan Umar رضي الله عنه
  7. Disamping Masjidi Nabawi adalah rumah kediaman Rasulullah ﷺ dan para istri
  8. Terdapat Taman Surga atau raudhah.  Raudhah adalah adalah area di sekitar mimbar di dalam masjid Nabawi, yang biasa digunakan oleh Rasulullah ﷺ untuk berkhutbah. Raudhah adalah tempat yang paling mulia di Masjid Nabawi, karenanya disyariatkan untuk memperbanyak ibadah sunnah seperti shalat, dzikir

Masjid Nabawi memiliki 4 buah pintu utama, yaitu :

  1. Pintu di sebelah kiblat, dinamakan At Taubah.
  2. Pintu di sebelah timur, dinamakan Fatimah.
  3. Pintu di sebelah utara, dinamakan Tahajjud.
  4. Pintu di sebelah barat ke Roudloh sudah ditutup.

Kalau kita sedang berada di Roudloh dan menghadap kiblat, pusara Nabi berada di sebelah kiri kita, yaitu bangunan persegi empat berwarna hijau tua yang anggun berwibawa dan menebarkan bau wangi wangian.

Bolehkan Orang Musyrik Memasuki Madinah ?

Berbeda dengan Mekah yang jumhur ulama sepakat bahwa orang musyrik dilarang memasuki Mekah, untuk Madinah terdapat beberapa pendapat.

Pertama : Tidak dibolehkan memberikan kesempatan kepada orang kafir untuk tinggal di Jazirah Arab. Para ulama berbeda pendapat tentang batas Jazirah. Akant tetapi mereka tidak berbeda pendapat bahwa Madinah termasuk di dalamnya.

Ibnu Qudamah berkata,

“Tidak boleh seorang pun di antara mereka (orang kafir) tinggal di negeri Hijaz. Ini adalah pendapat Malik dan Syafii. Hanya saja Malik berkata, “Saya berpendapat bahwa mereka harus dikeluarkan seluruhnya dari seluruh tanah Arab. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak berkumpul dua agama di Jazirah Arab.” Abu Daud meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bersabda, “Sungguh aku keluarkan Yahudi dan Nashrani dari Jazirah Arab. Tidak aku biarkan di dalamnya kecuali muslim.” Tirmizi berkata, “Hadits ini hasan shahih. Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rasulullah shallallahu berwasiat dengan tiga perkara, dia berkata, “Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah Arab. Bolehkan utusan mereka selama aku membolehkannya. Beliau diam yang ketiga.” (HR. Abu Daud. Al-Mughni, 9/285-286)

Kedua :

Dibolehkan bagi orang-orang kafir memasuki Madinah untuk berdagang, bukan untuk menetap. Mereka boleh diberikan waktu secukupnya, kemudian diperintahkan untuk pergi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Mereka dibolehkan masuk negeri Hijaz untuk berdagang. Karena orang-orang Nashrani pada masa lalu berdagang di Madinah pada zaman Umar radhiallahu anhu. Seorang syekh Nashrani mendatanginya seraya berkata, “Saya adalah Syekh Nashrani, petugas anda telah mengambil sepersepuluh dariku sebanyak dua kali.” Maka Umar berkata, “Saya adalah Syekh Hanif.” Lalu Umar membuat ketetapan untuknya, “Tidak boleh mengambil sepersepuluh darinya kecuali hanya sekali dan tidak diizinkan baginya untuk tinggal lebih dari 3 hari, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu anhu. Kemudian dia pindah.” Al-Qadhi berkata, “Dia tinggal sebanyak empat hari, sebagaimana batas musafir menyempurnakan shalat.”

(Al Mughni, 9/286)

Ketiga :

Apa yang kami sebutkan dari tanah haram Madinah, tidak berlaku bagi tanah haram Mekah. Karena orang kafir dilarang memasukinya, apapun alasannya.

Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, 3/130-131:

“Jumhur ulama berpendapat, termasuk bersama mereka adalah Muhammad bin Hasan dari kalangan mazhab Hanafi bahwa tidak boleh bagi orang kafir memasuki tanah haram Mekah dengan alasan apapun. Sedangkan mazhab Hanafi berpendapat bahwa hal itu dibolehkan jika berdasarkan kesepakatan damai atau mendapatkan izin.”

Adapun tanah haram Madinah, maka non muslim tidak dilarang memasukinya untuk mengantar surat, atau berdagang, atau untuk membawa barang. Adapun tanah Arab selain itu tidak boleh dimasuki orang non muslim, kecuali jika dia mendapatkan izin atau berdasarkan kesepakatan damai. Para ahli fiqih dalam masalah ini telah memiliki perinciannya….”

 

Sejarah Pembangunan Masjid Nabawi

Masjid ini dibangun oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat pada tahun 1 H atau 623 M setelah kedatangannya di kota Madinah.

Mengendarai serkor unta yang dinamai Qaswa, unta itu dia berhenti di tempat yang sekarang dijadikan masjid Nabawi. Lahan tersebut dimiliki oleh Sahal dan Suhayl. Bagian dari lahan ini digunakan untuk lahan tempat pengeringan kurma; sedangkan bagian lainnya dijadikan taman pemakaman.

Rasulullah kemudian membeli lahan tersebut dan memerlukan waktu selama 7 bulan untuk menyelesaikan konstruksi.

Saat itu luasnya 305 meter (1.001 ft) × 3.562 meter (11.686 ft). Atapnya, ditunjang oleh pelepah kurma, terbuat dari tanah liat yang dipukul dan daun-daun kurma. Tingginya mencapai 360 meter (1.180 ft). Tiga pintu masjid yaitu Bab-al-Rahmah ke selatan, Bab-al-Jibril ke barat dan Babal-Nisa ke timur.

Perluasan

Setelah Pertempuran Khaibar, masjid “diperbesar”.  Perluasan masjid untuk 4.732 meter (15.525 ft) pada salah satu sisi dan tiga ruas pilar dibangun disamping tembok bagian barat, yang menjadi tempat salat.

Masjid mengalami perubahan saat pemerintahan Khulafaur Rasyidin Abu Bakar.  Khalifah kedua Umar meratakan semua rumah dekat masjid kecuali rumah istri Nabi Muhammad untuk memperbesar masjid ini.

Dimensi ukuran masjid baru saat itu menjadi 5.749 meter (18.862 ft) × 6.614 meter (21.699 ft). Lumpur digunakan untuk dinding penutup. Selain ditaburi kerikil di lantainya, tinggi atap ditambah hingga 56 meter (184 ft). Umar sedikitnya membangun tiga konstruksi gerbang baru sebagai pintu masuk. Dia juga menambahkan Al-Butayha bagi masyarakat untuk membacakan puisi-puisi.

Khalifah ketiga Utsman merobohkan masjid ini pada Tahun 649 M. Sepuluh bulan dihabiskan untuk membuat bentuk persegi panjang masjid yang menghadap ke Kabah di Mekkah. Masjid baru tersebut berukuran 8.140 meter (26.710 ft) × 6.258 meter (20.531 ft). Jumlah gerbang disamakan pada bangunan sebelumnya.  Dinding pembatas terbuat dari lapisan bata dengan adukan semen. Tiang-tiang batang kurma digantikan oleh pilar batu yang disatukan dengan kempa besi. Kayu jati juga dimanfaatkan dalam rekonstruksi langit-langit.

Zaman pertengahan

Pada Tahun 707 M, Khalifah Umayyah Al Walid ibn Abd al-Malik merenovasi masjid. Renovasi ini memakan waktu tiga tahun untuk menyelesaikannya. Bahan-bahan material berasal dari Bizantium.[18] Wilayah masjid diperbesar dari 5094 meter persegi pada masa Utsman bin Affan menjadi 8672 meter persegi. Sebuah tembok dibangun untuk memisahkan masjid dan rumah istri Nabi Muhammad. Masjid direnovasi dalam sebuah bentuk trapesium dengan panjang 10.176 meter (33.386 ft). Untuk pertama kalinya, beranda dibangun di masjid menghubungkan bagian utara struktur ke struktur terpentingnya. Untuk pertama kalinya pula, minaret dibangun di Madinah, ia membangun empat minaret.

Khalifah Abbasiyah Al Mahdi memperluas masjid ke utara sebanyak 50 meter (160 ft). Namanya juga ditulis pada dinding masjid. Dia juga mengusulkan untuk menghilangkan enam anak tangga menuju mimbar, tetapi usulan ini ditolak, karena hal ini dapat menyebabkan kerusakan yang merugikan.

Menurut tulisan Ibnu Qutaibah, khalifah ketiga Al Ma’mun melakuan pekerjaan yang tidak menentu pada masjid. Al-Mutawakkil memimpin pelapisan makam Nabi dengan marmer.  Al Ashraf Qansuh al Ghawri membangun sebuah kubah di atas makam Nabi pada 1476.

Sultan Abdul Majid I menghabiskan waktu tiga belas tahun untuk membangun kembali masjid, yang di mulai pada 1849.  Batu bata merah digunakan dalam material utama dalam rekonstruksi masjid. Luas lantai diperbesar hingga 1293 meter persegi. Pada dinding-dindingnya, ayatayat Alquran di lukis dalam bentuk kaligrafi Islam. Pada sisi utara masjid, sebuah madrasah di bangun untuk “bimbingan mengajar Alquran “.

≈ Saudi
Ketika Saud bin Abdul Aziz merebut Madinah pada 1805, para pengikutnya, Wahhabi, merobohkan setiap makam berkubah yang ada di Madinah dalam pandangannya pada pencegahan pemuliaan bangunan,  termasuk Kubah Hijau yang dikatakan akan segera dihancurkan.

Mereka tidak menghendaki orang orang memuliakan kuburan dan tempat yang dianggap memiliki keajaiban supranatural yang berlawanan dengan tauhid.  Makam Rasulullah ﷺ dilepaskan dari hiasan emas dan berliannya, tetapi kubah tersebut menjadi salah satu yang masih dipelihara karena sebuah ketidaksuksesan percobaan untuk merobohkan struktur kerasnya, atau karena beberapa tahun sebelumnya Ibnu Abdul Wahhab menulis bahwa tidak berharap untuk melihat kubah dihancurkan pertentangannya pada orang-orang yang berdoa di sekitar makam.[25] Kejadian serupa terjadi pada 1925 ketika Ikhwan Saudi kembali merebut dan mengawasi kota Madinah.

Setelah pendirian Kerajaan Arab Saudi pada 1932, masjid mengalami modifikasi besar. Pada 1951 Raja Ibnu Saud (1932–1953) merencanakan penghancuran bangunan sekitar masjid untuk membuat sayap baru ke timur dan barat dari gedung peribadatan utama, dengan tetap kolom beton dengan sentuhan seni. Kolom tertua diperkokoh beton dan dipasangi cincin tembaga diatasnya. Minaret Suleymaniyya dan Majidiyya dipindahkan menjadi dua minaret bergaya Mamluk. Dua menara tambahan ditegakkan ke barat daya dan timur laut masjid. Sebuah perpustakaan dibangun sepanjang tembok bagian barat yang menjadi tempat koleksi Al-Qur’an bersejarah dan beragam teks keagamaan lainnya.

Pada 1974, Raja Faisal menambahkan 40.440 meter persegi untuk luas masjid.  Perluasan masjid juga dilakukan pada masa kekuasaan Raja Fahd pada 1985. Bulldozer turut gunakan dalam penghancuran bangunan-bangunan sekitar masjid.  Pada 1992, ketika konstruksi ini selesai, wilayah masjid menjadi 1,7 juta kaki. Eskalator dan 27 halaman juga ditambahkan dalam perluasan masjid.

Sebanyak $6 milyar diumumkan untuk perluasan masjid pada September 2012. RT melaporkan bahwa setelah proyek selesai, masjid dapat menampung lebih dari 1,6 juta jamaah.  Pada Maret tahun berikutnya, Saudi Gazette menulis “95 persen penghancuran telah diselesaikan. Sekitar 10 hotel di sisi timur perluasan dihilangkan serta sejumlah rumah dan fasilitas lain untuk membuat jalur menuju perluasan.”

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ