بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mesjid Dhirar adalah mesjid yang dibakar atas perintah Rasulullah ﷺ  karena Allah ﷻ  telah melarang untuk shalat didalamnya.

Masjid al Dhirar (Arab: مسجد الضرار‎), juga disebut sebagai Masjid Munafik atau Masjid Pembangkang dan disebutkan dalam Al Quran surat At Taubah [9] ayat 107 – 108. Masjid al Dhirar adalah sebuah masjid yang dibangun oleh penduduk Madinah yang didirikan tak jauh dari letak Masjid Quba.

Masjid tersebut pada mulanya diakui oleh Rasulullah ﷺ saat dalam perjalanan menuju Perang Tabuk tetapi ketika pulang, Rasulullah ﷺ memerintahkan masjid tersebut untuk dihancurkan.  Peristiwa itu terjadi pada Oktober 630 M atau 9 H.

Mesjid Dhirar 
LetakTidak jauh dari lokasi mesjid Quba [ sebuah daerah sekitar 5 km sebelah tenggara kota Madinah ]
Dibangun olehKaum munafikun Madinah dengan pimpinan Abu 'Amir ar Rahib dari suku Khazraj
Nama LainMasjid Munafik atau Masjid Pembangkang
Disebut dalam Al QuranSurat At Taubah [9] ayat 107 - 110
Tujuan dibangunnya 1. Menyaingi dan membahayakan masjid Quba, oleh kerana itu dinamakan Masjid dhirar ( artinya: membahayakan, dan masjid ini dibina dilokasi yang berdekatan dengan masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah, yakni masjid Quba.

2. Kafir kepada Allah, kerana ditetapkan padanya kekafiran / pengingkaran kerana yang membinanya adalah orang munafik

3. Memecah belah kaum muslimin

4. Untuk mengintip [kaum muslimin] bagi mereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Ada seorang laki-laki fasik pergi ke Syam yang bernama Abu 'Amir [ia selalu memerangi kaum muslimin dan kalah, kemudian ke syam untuk meminta bantuan kepada Raja Rom, pent]. Kemudian ia bersurat kedapa kaum munafik (di Madinah) agar mereka membina Masjid, maka kaum munafik membina masjid (Dhirar) atas petunjuk darinya. Mereka berkumpul untuk mewujudkan keinginan mereka untuk membuat makar dan tipu daya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabat beliau (mereka beralasan membina masjid untuk orang yang sakit dan orang tua, pent). Majmu' Fatawa wa Rasail 6/226-227.
Tindakan RasulullahRasulullah dan kaum mukmin membakarnya pada tahun 630 M atau 9 H
Masjid Masjid Penting Dalam Islam 
Masjid Suci & Diberkahi1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
Masjid Suci dan Bersejarah1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
4. Masjid Nabawi
Masjid Awal Mula Dimuka Bumi1. Masjidil Haram atau Kabah
2. Masjidil Aqsha
Masjid Yang Menjadi Kiblat Shalat1. Masjidil Haram/ Kabah
2. Masjidil Aqsha
3. Kembali lagi ke Masjidil Haram atau Kabah
2 Masjid Pertama Yang Diibangun Rasulullah1. Masjid Quba
2. Masjid Nabawi
Masjid Yang Menjadi Saksi Perpindahan KiblatMasjid Qiblatain di Madinah
Masjid tempat lokasi shalat Jumat pertama RasulullahMasjid Jumat di dekat Quba, Madinah
Masjid Yang Tidak Bisa dimasuki Dajjal1. Masjidil Haram
2. Masjid Nabawi
3. Masjidil Aqsha
4. Masjid Thursina
Masjid Yang Tidak Bisa Dimasuki Ya'juj & Ma'jujMasjid Thursina
Masjid Yang Dibangun Atas Dasar Ketakwaan1. Masjid Quba
2. Masjid Nabawi
Masjid yang disebut Allah dalam Al Quran1. Masjidil Haram
2. Masjidil Aqsha
3. Masjid Thursina
4. Masjid Nabawi
5. Masjid Quba
6. Masjid Dhirar
Masjid Yang Dilarang Allah untuk Shalat didalamnyaMasjid Dhirar di dekat lokasi mesjid Quba

Sejarah Awal Pembangunan Masjid Ad Dhirar

Pada saat Rasulullahhijrah ke Yastrib,  ada seseorang bernama Abu ‘Amir ar Rahib dari suku Khazraj. Dia menganut agama Kristen dan mengajarkan ilmu ilmu ahlul kitab serta mempunyai kedudukan yang penting dalam kalangan mereka.

Sesungguhny Abu ‘Amir ingin mempertahankan status penduduk Madinah yang membenarkannya untuk mengamalkan agamanya secara bebas.  Dia berusaha dengan berbagai macam cara untuk mempengarui penduduk Madinah yang telah menyatakan ikrarnya terhadap Rasulullah.  Tetapi hal itu tampaknya sia sia. Sebagian besar penduduk Yastrib, telah mengikatkan hati mereka pada Rasulullah dan Islam.  Meski demikian, Abu ‘Amir terus melakukan penggembosan dari dalam.  Ia tidak henti hentinya mempengaruhi penduduk Madinah untuk meninggalkan Rasulullah dan masuk pada agamanya, agama Kristen.

Ketika tiba perang Badar, Abu ‘Amir disebut dalam beberapa sumber, ikut dalam Perang Badar [ Tahun 624 M atau 2 H ] namun ia berdiri dalam pasukan kafir Quraisy.  Bisa kita bayangkan bagaimana kejadiannya saat itu.  Ketika kaum muslimin melakukan persiapan untuk memerangi kafir Quraisy, Abu ‘Amir justru bersiap untuk memerangi kaum muslimin dan Rasulullah !

Tidak hanya pada perang Badar, Abu ‘Amir bahkan juga menyertai pasukan Musyrikin Quraisy menentang Islam ketika Peperangan Uhud [ Tahun 625 M atau 3 H ].

Ia membujuk kaum musyrikin untuk mencederai Rasulullah ﷺ dalam perang Uhud.  Bahkan ia berpidato kepada kaumnya yang terdiri dari orang orang Anshar supaya mereka berpihak kepadanya. Akan tetapi kaumnya ini menolak dengan tandas. Dan setelah peperangan itu selesai, dan kaum muslimin menderita kekalahan saat itu, kesempatan itu digunakan Abu ‘Amir untuk pindah ke Mekah.  Dan iapun hijrah dari Madinah menuju Mekah, untuk begabung dengan kafir Quraisy.

Di Mekah, Abu ‘Amir tidak berhenti melakukan perlawanan kepada Rasulullah.  Ia tetap aktif ikut dalam perang perang melawan Islam, seperti perang Khandaq pada tahun 627 M atau 5 H.

Pada suatu kesempatan, Abu ‘Amir bertemu dengan Heraclius, penguasa Romawi saat itu.  Ia membujuk Heraclius untuk memerangi Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin. Raja tersebut mengabulkan permintaannya, serta menjanjikan kepadanya untuk memberikan bantuan.

Abu Amir lalu berkirim surat kepada sekelompok kaumnya yang terdiri dari orang orang munafik mengabarkan kepada mereka bahwa ia akan datang membawa pasukan untuk memerangi dan mengalahkan Rasulullah ﷺ.  Untuk itu Abu Amir memerintahkan agar mereka membuat sebuah benteng sebagai tempat perlindungan bagi orang-orangnya yang nanti akan datang kepada mereka dengan membawa surat-suratnya. Dan tempat itu kelak akan digunakannya sebagai kubu pertahanan. Abu ‘Amir juga menjanjikan senjata dan dia akan membawa tentara. Karena gagasan ini didukung oleh Heraclius, untuk melawan Rasulullah ﷺ dan sahabat baginda serta menghalau mereka dari Madinah.  Semua itu terjadi pada sekitar tahun  630 M atau 9 H. [ Kathir, Ibn. “Masjid Ad-Dirar and Masjid At-Taqwa”. Tafsir Ibn Kathir. Diakses tanggal 29 June 2011 ].

Maka mulailah para pengikutnya itu membangun sebuah masjid yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Quba. Mereka membuat bangunan itu sedemikian rupa kokohnya dan selesai mereka kerjakan sebelum berangkatnya Rasulullah ﷺ ke peperangan Tabuk pada 630 M atau 9 H.

Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dan meminta agar beliau shalat di masjid tersebut sebagai tanda bahwa beliau merestui pembangunan masjid itu.  Saat itu Rasulullah menyanggupi pemintaan orang orang tersebut.  Namun karena saat itu Rasululullah sedang dalam perjalanan menuju perang Tabuk, maka Rasulullah menjanjikan untuk mampir dan shalat disana setelah perang nanti.

 

Kaum Munafik Membina Dengan Niat yang Buruk

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Masjid Dhirar dibina dengan niat yang buruk. Mereka adalah orang munafik dan tujuan mereka adalah :
مسجد الضرار بني على نية فاسدة ، قال تعالى …والمتخذون هم المنافقون ، وغرضهم من ذلك :

1- مضارة مسجد قباء : ولهذا يسمى مسجد الضرار .

2- الكفر بالله : لأنه يقرر فيه الكفر – والعياذ بالله – ؛ لأن الذين اتخذوه هم المنافقون.

3- التفريق بين المؤمنين

4- الإرصاد لمن حارب الله ورسوله يقال: إن رجلا ذهب إلى الشام ، وهو أبو عامر الفاسق ، وكان بينه وبين المنافقين الذين اتخذوا المسجد مراسلات ، فاتخذوا هذا المسجد بتوجيهات منه ، فيجتمعون فيه لتقرير ما يريدونه من المكر والخديعة للرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه ، قال الله تعالى : ( وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى ) ، فهذه سنة المنافقين: الأيمان الكاذب

1. Menyaingi dan membahayakan masjid Quba, oleh kerana itu dinamakan Masjid dhirar ( artinya: membahayakan, dan masjid ini dibina dilokasi yang berdekatan dengan masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah, yakni masjid Quba.

2. Kafir kepada Allah, kerana ditetapkan padanya kekafiran / pengingkaran kerana yang membinanya adalah orang munafik

3. Memecah belah kaum muslimin

4. Untuk mengintip [kaum muslimin] bagi mereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Ada seorang laki-laki fasik pergi ke Syam yang bernama Abu ‘Amir [ia selalu memerangi kaum muslimin dan kalah, kemudian ke syam untuk meminta bantuan kepada Raja Rom, pent]. Kemudian ia bersurat kedapa kaum munafik (di Madinah) agar mereka membina Masjid, maka kaum munafik membina masjid (Dhirar) atas petunjuk darinya. Mereka berkumpul untuk mewujudkan keinginan mereka untuk membuat makar dan tipu daya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat beliau (mereka beralasan membina masjid untuk orang yang sakit dan orang tua, pent). Majmu’ Fatawa wa Rasail 6/226-227.

 

Terbakarnya Masjid al Dhirar

Ketika Rasulullah ﷺ pulang dari Tabuk, tentera Muslim telah berhenti di Dhu Awan. Seperti yang Rasulullah ﷺ maklumkan, Rasulullah ﷺ ingin mengunjungi dan shalat di masjid.  Kemudian, turunlah wahyu yang menegaskan baginda tentang larangan untuk bersembahyang di dalam masjid tersebut.  Al Quran surat At Taubah [9] ayat 107 – 108 :

 وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ 107

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah : “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

 لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ 108

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Setengah dari orang orang yang membangun mesjid itu, berkilah bahwa masjid itu dibina untuk orang yang lemah, sakit dan yang memerlukannya. Namun wahyu tegas menyebutkan bahwa mesjid itu dibangun oleh kaum munafikun, dan Allah telah melarang Nabi untuk shalat didalamnya.  ‘Adalah jauh lebih patut bagi Rasulullah dan kaum muslim, untuk mengunjungi dan shalat di mesjid Quba, yang letaknya tidak jauh dari mesjid kaum munafik itu’

Itulah sebabnya kemudian Rasulullah dengan tanpa ragu, memerintahkan para sahabatnya untuk membakar mesjid itu,  Karena Rasulullah khawatir, bila ke depan, ada saja kaum muslim yang shalat didalamnya.  Padahal Allah telah jelas melarangnya.

Kemudian para tentera Islam tersebut memasuki masjid itu dan membakarnya setelah sebelumnya mereka memastikan tidak ada ada orang “lemah dan sakit” di dalamnya.  Setelah mesjid tersebut dibakar, mak oang orang munafik itu melarikan diri.

Ibnu Kathir berkata, memberitahu yang Rasulullah ﷺ mengutus Malik bin Dukhsyum, Ma’an bin Adi,’ Amir bin As-Sakan dan Wahsyi. Kemudian berkata,

“Pergilah kalian ke masjid yang didirikan oleh orang-orang zalim (Masjid Dhirar), kemudian hancurkan dan bakarlah”.
Maka mereka pun berangkat dengan segera. Malik bin Dukhsyum mengambil api dari pelepah kurma dari rumahnya. Mereka bertolak lalu membakar dan menghancurkan masjid tersebut. Mereka melaksanakan perintah Rasulullah S.A.W itu, sehingga bangunan tersebut dijadikan tempat pembuangan sampah.

أخرج ابن مردويه عن طريق ابن أسحق قال ذكر ابن شهاب الزهري عن ابن أكيمة الليثي عن ابن أخي أبي رهم الغفاري أنه سمع أبا رهم وكان ممن بايع تحت الشجرة يقول أتى من بنى مسجد الضرار رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو متجهز إلى تبوك فقالوا يا رسول الله أنا بنينا مسجدا لذي العلة والحاجة والليلة الشاتية والليلة المطيرة وأنا نحب أن تأتينا فتصلي لنا فيه قال إني على جناح سفر ولو قدمنا إن شاء الله أتيناكم فصلينا لكم فيه فلما رجع نزل بذي أوان على ساعة من المدينة فأنزل الله في المسجد والذين اتخذزا مسجدا ضررا وكفرا

Ibnu Mardawaih rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Ishaq rahimahullah yang berkata, “Ibnu Syihab az-Zuhri menyebutkan dari Ibnu Akimah al-Laitsi dari anak saudara Abi Rahmi al-Ghifari Radhiallahu ‘anhu. Dia mendengar Abi Rahmi al-Ghifari Radhiallahu ‘anhu (dia termasuk yang ikut baiat kepada Rasulullah ﷺ pada hari Hudaibiyah) berkata,

“Telah datang orang-orang yang membangun masjid dhirar kepada Rasulullah ﷺ, pada saat beliau bersiap-siap akan berangkat ke Tabuk [ 9H ]. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, kami telah membangun masjid buat orang-orang yang sakit maupun yang mempunyai keperluan pada malam yang sangat dingin dan hujan. Kami senang jika engkau mendatangi kami dan shalat di masjid tersebut.”

Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab,” Aku sekarang mau berangkat bepergian, insya Allah Azza wa Jalla setelah kembali nanti aku akan mengunjungi kalian dan shalat di masjid kalian.”

Kemudian dalam perjalanan pulang dari Tabuk [ Tahun 630 M atau 9 H ], Rasulullah ﷺ beristirahat di Dzu Awan (jaraknya ke Madinah sekitar setengah hari perjalanan). Pada waktu itulah Allah Azza wa Jalla memberi kabar kepada Rasulullah ﷺ tentang masjid tersebut yang mereka niatkan untuk membahayakan kaum muslimin dan sebagai bentuk kekafiran.”

Beberapa Pandangan

Isma’il Qurban Husayn (terjemahan at-Tabari, Jilid 9, Tahun-tahun Terakhir Nabi) berspekulasi dengan menyatakan dalam nota kaki 426, yang orang tersebut “mungkin” dikaitkan dengan mereka yang ingin membunuh Nabi Muhammad S.A.W dalam Perang Tabuk, tetapi Tabari sendiri tidak mendakwa sedemikian. [ Tabari, Al (25 Sep 1990), The last years of the Prophet (translated by Isma’il Qurban Husayn), State University of New York Press, p. 60, ISBN 978-0887066917 ]

William Muir pula menyebut yang Nabi Muhammad S.A.W percaya masjid tersebut dibina untuk memecah belahkan perpaduan orang Islam dengan menarik mereka ke masjid lain di Quba [ Muir, William (10 August 2003). Life of Mahomet. Kessinger Publishing Co. p. 462. ISBN 978-0766177413.  ] Padahal Masjid Quba, yang pertama kali dibina oleh orang Islam atas dasar takwa.
Peristiwa ini turut disebut dalam al-Quran Surah At Taubah [9] ayat 107 :

 وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ 107

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

Ilmuan Islam Ibnu Kathir dalam tafsirnya bagi ayat tersebut :

“ (Jika kita kembali dari perjalanan kita, Insya Allah.) Apabila Rasulullah pulang dari Tabuk dan kira-kira satu atau dua hari lagi dari Al-Madinah, Jibril turun kepada baginda dengan berita mengenai Masjid Ad-Dhirar dan kekufuran dan perpecahan antara orang yang beriman, iaitu orang yang menjadi ahli Masjid Quba (yang dibina atas dasar takwa dari hari pertama), bahawa Masjid Ad-Dhirar bertujuan untuk hal tersebut. Oleh itu, Rasulullah S.A.W menghantar beberapa orang ke Masjid Ad-Dhirar untuk menghancurkannya sebelum baginda sampai ke Al-Madinah. ‘Ali bin Abi Talhah meriwayatkan bahawa Ibn` Abbas berkata mengenai ayat ini (9: 107), “Mereka adalah beberapa orang dari golongan Ansar yang Abu Amir berkata, ‘Bina Masjid dan sediakan apa sahaja yang anda boleh sama ada kuasa dan senjata, kerana saya akan berjumpa Caesar, maharaja Rom, untuk membawa tentera Rom yang dengannya akan saya usir Muhammad dan sahabatnya.’ Apabila mereka membina Masjid mereka, mereka datang kepada Nabi dan berkata kepadanya, “Kami selesai membina Masjid kami dan kami ingin anda berdoa di dalamnya dan berdoa kepada Allah bagi kita untuk rahmat-Nya
[Tafsir ibn Kathir tentang ayat 9:107]. Rahman al Mubarakpuri, Saifur. Tafsir ibn Kathir(abridged). p. 515. lihat pula Tafsir ibn Kathir, 9:107
Peristiwa ini turut disebut oleh ulama al-Tabari seperti berikut :

Rasulullah berjalan sehingga baginda berhenti di Dhu Awan, sebuah pekan yang perjalananya satu jam siang hari dari Madinah. Orang-orang yang telah membina Masjid Percanggahan (masjid al-dhirar) telah datang kepada baginda ketika baginda bersedia untuk Tabuk dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami telah membina masjid untuk yang sakit dan mereka yang memerlukan dan untuk berteduh dari hujan dan sejuk, dan kami ingin anda melawat kami dan mendoakan kami di dalamnya.’ [Nabi] berkata bahawa baginda di ambang perjalanan, dan baginda sibuk, atau perkataan yang bermaksud sedemikian, dan apabila baginda kembali, Insya-Allah, baginda akan datang kepada mereka dan berdoa untuk mereka di dalamnya. Apabila baginda berhenti di Dhu Awan, berita masjid itu datang kepada baginda, dan baginda memanggil Malik b. al-Dukhshum, saudara dari Bani Salim b. ‘Auf, dan Ma’n b. ‘Adi, atau saudaranya ‘Asim b. ‘Adi, saudara-saudara Banu al-‘Ajlan, dan berkata, “Pergilah ke masjid ini yang pemiliknya adalah orang-orang yang zalim dan hancurkan dan bakarlah ia”. Mereka keluar dengan rancak sehingga mereka sampai ke (perkarangan kawasan) Bani Salim b. ‘Auf yang merupakan kabilah Malik b. al-Dukhshum. Malik berkata kepada Ma’n, “Tunggu saya sehingga saya membawa api dari kabilahku.” Dia pergi ke kaum kerabat dan mengambil pelepah kurma dan menyalakannya. Kemudian kedua-dua mereka berlari sehingga mereka masuk ke dalam masjid, bertembung dengan orang-orangnya di dalam, lalu membakar dan memusnahkannya dan mereka bersurai. Dalam hal ini, ia diturunkan dalam al-Quran
[Tabari, Jilid 9, Tahun-tahun Terakhir Nabi, m/s 60-61] [ Tabari, Al (25 Sep 1990), The last years of the Prophet (translated by Isma’il Qurban Husayn), State University of New York Press, p. 60, ISBN 978-0887066917 ]
Hal ini turut disebut oleh Ibnu Mardawaih yang meriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata, “Ibnu Syihab az-Zuhri menyebutkan dari Ibnu Akimah al-Laitsi dari anak saudara Abi Rahmi al-Ghifari r.a. yang dia mendengar Abi Rahmi al-Ghifari r.a. (dia termasuk yang ikut baiat kepada Rasulullah ﷺ pada hari Hudaibiyah) berkata:

“Telah datang orang-orang yang membangun masjid dhirar kepada Rasulullah ﷺ, pada saat baginda bersiap-siap untuk berangkat ke Tabuk. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, kami telah membina masjid buat orang-orang yang sakit mahupun yang mempunyai keperluan pada malam yang sangat sejuk dan hujan. Kami senang jika engkau mendatangi kami dan solat di masjid tersebut.” Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab,” Aku sekarang mahu berangkat berpergian, insya-Allah setelah kembali nanti aku akan mengunjungi kalian dan shalat di masjid kalian.” Kemudian dalam perjalanan pulang dari Tabuk, Rasulullah ﷺ beristirahat di Dzu Awan (jaraknya ke Madinah sekitar setengah hari perjalanan). Pada waktu itulah Allah Azza wa Jalla memberi khabar kepada Rasulullah ﷺ tentang masjid tersebut yang mereka niatkan untuk membahayakan kaum muslimin dan sebagai bentuk kekafiran.”
Lubabun Nuqul fi asbabin nuzul hal. 111, Darul Maktabah Ilmiyyah, Syamilah.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ