بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Maria Qibtiyah adalah istri Nabi yang terakhir yang merupakan budak hadiah dari seorang pembesar Mesir, Muqawqis.   Meski Maria seorang budak, secara hukum agama Maria sah disebut istri. Sehingga ia pantas disebut sebagai Ummul Mukminin [ ibunda kaum beriman ].Menurut sebagian ulama yang lain ia adalah surriyyah atau milkul yamin Nabi. Terlepas dari itu, ia adalah Ummu Ibrahim karena ibunda dari putra terakhir Nabi yang bernama Ibrahim.  Namun Ibrahim wafat ketika masih bayi.  Dan ialah satu satunya istri Nabi [setelah Khadijah ] yang memberi Rasulullah keturunan.

Ia menjadi sebab turunnya Surat At Tahriim di mana Allah membela kesucian namanya

.


Nasab Maria Qibtiyah

 

Ayahnya bernama Syam‘un.

Ibunya ?

Nama asli Maria adalah Maria binti Syam‘un namun ia lebih dikenal sebagai Maria Qibtiyah karena ia  ia asalnya seorang pemeluk agama Kristen aliran Koptik yang dalam bahasa Arab disebut Qibti. Walaupun sudah menjadi muslimah setelah menikah dengan Nabi, namun dia tetap dikenal dengan julukan Al Qibtiyah.

Kunyahnya adalah Ummu Ibrahim.  Ibrahim adalah anak pertama dan satu satunya dari Maria dan Rasulullah.

.


Tahun Kelahiran Maria Qibtiyah

?

.


Tahun Wafatnya Maria Qibtiyah

Maria Qibtiyah wafat pada tahun 637 M atau  16 H atau 5 tahun setelah wafatnya Nabi.

 


Tahun Pernikahan Dengan Rasulullah

Menikah dengan Rasulullah pada tahun 7 H

.


Riwayat Pernikahan

?

NoNama, Lahir Wafat, Nikah, Status, Suami Sebelumnya, Anak Dari Nabi
1Khadijah binti Khuwailid, 555 M/ 55 BB - 619 M/ 4 BH, 595 M, Janda, Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik, Qasim - Zaynab - Abdullah - Ruqayyah - Ummu Kultsum - Fatimah
2Saudah binti Zam'ah, ? - 54 H, 620/621 M atau 3/2 BH, Janda, Sakran bin Amr bin Abdu Syams, Tidak Ada
3Aisyah binti Abu Bakar, 614 M/ 9 BH - 58 H, 620/621 M atau 3/2 BH Gadis,-Tidak Ada
4Hafshah binti Umar,607 M/ 3 BB - 45 H,3 H, Janda, Khunais bin Hudhafah al Sahmiy,Tidak Ada
5Zainab binti Khuzaimah, 597 M/ 13 BB - 4 H, 3 H, Janda, Ubaidah bin Al Haris bin Al Muthalib,Tidak Ada
6Ummu Salamah, 597 M/ 13 BB - 680 M, 4 H, Janda, Abdullah bin Abdul Asad Al Makhzumi,Tidak Ada
7Juwairiyah Binti Al Harits, 609 M/ 14 BH - 50 H, 5 H, Janda, Musafi’ bin Shafwan,Tidak Ada
8Zainab binti Jahsy,590 M/ 33 BH - 20 H, 5 H, Janda, Zaid bin HaritshahTidak Ada
9Ummu Habibah,592 M/ 31 BH - 44 H, 6 H,Janda,Ubaydullah bin Jahsy,Tidak Ada
10Maymunah binti Harits, 604 M/ 6 BB - 63 H, 6 H, Janda,Ibnu Mas’ud bin Amru bin Ats-Tsaqafi dan Abu Ruham bin Abdul Uzza, Tidak Ada
11Shafiyah binti Huyay,612 M/ 2 B - masa kekhalifahan Mu’awiyah,629 M atau 7 H,Janda,Salam bin Abi Al-Haqiq dan Kinanah bin Rabi' bin Abil Hafiq, Tiidak Ada
12Maria Qibtiyah, ?7 HBudak- Ibrahim

 

 

*Istilah yang digunakan :

M = Tahun Masehi

H = Tahun Hijirah,

BH = sebelum tahun Hijrah

B = Tahun Kenabian, yakni tahun saat Muhammad diangkat menjadi Rasul yakni tahun 610 M, dengan asumsi Rasul lahir tahun 570 M

BB = sebelum Tahun Kenabian,

.


Kisah Maria Qibtiyah

 

Rasulullah disebutkan telah mengutus Hatib bin Abi Balta’ah dan mengirimkan surat kepada Gubernur Bizantium, Muqawqis, pada tahun ke 6 H.  Dimana surat tersebut membahaskan tentang ajakan untuk bergabung memeluk Agama Islam.  Namun sang Gubernur menolak halus ajakan tersebut dengan mengirimkan banyak hadiah dan diantaranya adalah dua budak perempuan bersaudara.

Ahli sejarah Islam Muhammad bin Jarir at Thabari menuturkan dalam Tarikh Al Rusul wal Muluk, bahwa pada tahun ke 6 H, Rasulullah disebutkan telah mengutus Hatib bin Abi Balta’ah dan mengirimkan surat kepada Gubernur Bizantium, Muqawqis. Dimana surat tersebut membahaskan tentang ajakan untuk bergabung memeluk Agama Islam.  Namun sang Gubernur menolak halus ajakan tersebut dengan mengirimkan banyak hadiah dan diantaranya adalah dua budak perempuan bersaudara.  Yakni Maria dan saudaranya Sirin.

Rasulullah kemudian menjadikannya sebagai istrinya dan dengan demikian dia berhak mendapat gelar ummahat al muslimin (ibu kaum beriman). Sedangkan saudaranya Sirin Qibtiyah oleh Nabi diserahkan pada Sahabat Hasan bin Tsabit.   Kemudian Sirin melahirkan  Abdul Rahman bin Hassan. —Tabari, Tarikh at-Tabari.

Pada tahun ke-8 hijrah, dari Maria lahirlah seorang putra Nabi yang diberi nama Ibrahim. Nabi sangat bersuka cita dengan kelahiran putranya ini. Namun, takdir berkehendak lain, Ibrahim bin Muhammad menghembuskan nafas terakhirnya saat usianya baru menginjak 18 bulan.

Rasulullah sangat berduka atas wafatnya sehingga beliau menangis. Dalam sebuah hadits riwayat Syaiban, Nabi bersabda terkait meninggalnya Ibrahim:

تدمع العين، ويحزن القلب، ولا نقول إلا ما يرضي ربن

“Air mata mengalir, hati bersedih, tapi aku tidak akan mengatakan apapun kecuali perkataan yang diridhai Allah“.

Ibrahim dimakamkan di Baqi’, tempat pemakaman Sahabat yang berada di samping masjid Nabawi, Madinah.

Kembali pada Maria Qibtiyah, ada perbedaan ulama ahli sejarah tentang statusnya apakah dia menjadi istri Nabi ataukah hanya sebagai surriyyah atau hamba sahaya yang dinikah secara tasarri.

Tasarri adalah istilah dalam ilmu fiqih di mana seorang tuan menikahi hamba sahayanya tanpa merubah statusnya sebagai milkul yamin.

Hamba sahaya perempuan disebut jariyah atau amat atau milkul yamin. Tuan atau pemilik hamba sahaya boleh menikahi hamba sahaya miliknya dengan cara tasarri )

Allah berfirman dalam Al Quran surat An Nisaa’ ayat 24 :

 وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا 24

dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Mukminun ayat 5 dan 6 :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ 5

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,

إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ 6

kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela

Ibnu Saad Az-Zuhri dalam Tabaqat Al Kubro menyatakan bahwa ia berstatus sebagai milkul yamin dengan demikian sebagai surriyyah .[ Ibnu Saad Az-Zuhri, At-Tabaqat Al-Kubro, 1/134-135 ]

Ibnu Qayyim dalam Zad Al Ma’ad menjelaskan bahwa Nabi bertasarri (menikahi milkul yamin) dengan empat hamba sahaya antara lain Maria dan Raihanah binti Jahsy  [Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad, 1/114].   Pendapat yang sama terdapat dalam Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah.

Apabila berstatus sebagai surriyyah, maka Maria Al Qibtiyah tidak berhak untuk menyandang predikat Ummahat Al-Mukminin (Ibunda Kaum Beriman) karena menurut jumhur ulama hanya perempuan yang berstatus zawjah [ istri ] yang berhak menyandang gelar tersebut.  Adapun ulama yang menyebut Maria sebagai istri Nabi kebanyakan adalah para ulama Syiah.

Ketika Para Istri Cemburu

Rasulullah tinggal dalam rumah bata lumpur dekat dengan Masjid Madinah, dan setiap isterinya memiliki ruang tersendiri dalam rumah bata itu, yang dibangun dalam bentuk barisan yang dekat dengan ruangannya.

Maria, walaupun begitu, tetap ditempatkan di rumah di tepi Madinah.  Perhatian Rasulullah terhadap Maria diyakini menyebabkan kecemburuan diantara isteri-isteri Rasul yang lain.

Aisyah ra. mengungkapkan rasa cemburunya kepada Maria, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Maria karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, dia sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi dia tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi kami”.

Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”

Walaupun status sosialnya sebagai milkul yamin, namun dalam pandangan Allah, Maria adalah wanita muslimah yang salihah dan sangat mulia.   Maria juga mempunyai gelar yang tidak dimiliki oleh istri istri Nabi yang lain yaitu Ummu Ibrahim. Ia menjadi sebab turunnya surat At Tahrim di mana Allah membela kesucian namanya. Oleh karena itu sebagian ulama tetap menyebut Maria sebagai salah satu dari Ummahat Al-Mukminin sejajar dengan para istri Nabi yang lain.

Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu semakin tampak bersamaan dengan terbongkarnya rahasia pertemuan Rasulullah dengan Maria di rumah Hafsah sedangkan Hafsah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafsah marah. Atas kemarahan Hafsah itu Rasulullah mengharamkan Maria atas diri dia. Kaitannya dengan hal itu, Allah telah menegur lewat firman-Nya:

Allah berfirman dalam Al Quran surat At Tahrim ayat 1 :

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Maria mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul kian cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun 8 H, Maria melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Lalu dia memerdekakan Maria sepenuhnya. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah dengan gembira.

Namun atas takdirAllah juga, Ibrahim wafat saat usianya masih bayi.

Lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, Maria meninggal dunia pada bulan Muharram tahun ke-16 hijriah pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Umar meminta para Sahabat dari kalangan Anshar dan Muhajirin untuk bersaksi di depan jenazahnya, menyolati dan mendoakannya.  Ia dimakamkan di Baqi’ di sisi putra tunggalnya Ibrahim dan bersebelahan dengan para istri Nabi yang lain.

 

.

Wallahu a’lam bishowab Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.