Makkiyah adalah sebutan untuk ayat atau surat dalam Al Quran yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. 

Ayat ayat itu  di turunkan di Makkah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung sejak tanggal 17 Ramadhan tahun ke-14 dari kelahiran Nabi ( 6 Agustus 610 M ) sampai tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun ke-54 dari kelahiran Nabi

Namun sebuah surah dapat terdiri atas ayat ayat yang diturunkan di Makkah secara keseluruhannya dan bisa juga sebagian turun di Madinah ( Madaniyah ).  Atau bisa juga sebuah surat turun di Mekah namun masuk dalam golongan surat surat Madaniyah.  Begitu juga sebaliknya.  Disinilah pentingnya ilmu Nuzul al Quran.

Seperti dinukilkan Abu al Qasim al Hasan bin Muhammad bin Habib al Naisabury dalam kitabnya Al Tanbih ‘ala Fadhl ‘Ulum al Quran mengatakan :

“Di antara ilmu ilmu al Quran yang paling mulia adalah ilmu tentang nuzul al Quran dan tempat turunnya, urutan turunnya di Mekkah dan di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi masuk dalam kategori Madaniyah dan diturunkan di Madinah tetapi masuk dalam kategori Makkiyah… ”.

Ciri-ciri untuk surat Makkiyah ada dua macam yaitu

  • ciri-ciri yang bersifat qath’I
    • Didalamnya terdapat ayat sajdah
    • Setiap surat yang didalamnya terdapat lafadz “kalla”
    • Dimulai dengan ungkapan yaa ayyuha an-nass dan tidak ada yaa ayyuha al-ladzina amanu kecuali surat al-Hajj surat al-Hajj ini sekalipun pada ayat 77 terdapat yaa ayyuha al-ladxina aamanu tapi surat ini tetap dipandang makiyah.
    • Ayat ayatnya mengandung tema kisah para nabi dan umat terdahulu
    • Ayat ayatnya berbicara tentang kisah nabi Adam dan iblis kecuali surat al Baqarah.
    • Setiap surat yang dimulai denga huruf Tahajji (huruf abjad) seperti alif dan mim, alif lam ra dan sebagainya, kecuali al-Baqarah dan Ali imran.
  • ciri-ciri yang bersifat aqhlabi.
    • Ayatayat dan surat-suratnya pendek-pendek (ijaz)
    • nada perkataanya keras dan agak bersajak
    • Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah dan hari qiyamat dan menggambarkan keadaan surga dan neraka
    • Mengajak manusia untuk berakhlak yang mulia dan berjalan diatas jalan yang baik/benar
    • Membantah orang-orang musyrik dan menerangkan kesalahan-kesalahan kepercayaannya dan perbuatannya
    • Terdapat banyak lafadz sumpah.

Suratsurat Makkiyah mencapai 2/3 satu mushaf al-Quran


Berdasarkan Tempat diturunkannya Al Quran

Menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas :

 

A. Pengertian Makkiyah dan Madaniyah

Ada beberapa defenisi tentang Makkiyah dan Madaniyah yang dikemukakan oleh ulama yang masing-masing berbeda satu sama lain. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya perbedaan kriteria yang mereka gunakan dalam menetapkan Makkiyah atau Madaniyahnya sebuah ayat atau surat.

Maka dalam hal ini ada tiga pendapat yang dikemukan oleh ulama, yaitu :

Berdasarkan pengertian diatas dipahami bahwa Makkiyah adalah ayatayat al-Qur’an yang turun di Mekkah dan sekitarnya, dan Madaniyah yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya.

Namun sebagian dari ayat al-Qur’an tidak hanya turun di Mekkah dan sekitarnya dan tidak pula di Madinah dan sekitarnya.

Seperti surat at-Taubah ayat 42:

وْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاَّتَّبَعُوكَ…..إلخ

dan surat az-zukhruf ayat 45:

وَاسْأَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رُّسُلِنَا أَجَعَلْنَا مِن دُونِ الرَّحْمَنِ آلِهَةً يُعْبَدُونَ

Kedua ayat diatas tidak diturunkan di Mekkah dan sekitarnya dan tidak pula di Madinah, menurut Ibnu Katsir bahwa surat at-Taubah ayat 42 diturunkan di Tabuk , dan surat az-Zukhruf ayat 45 diturunkan di Baitul Maqdis pada malam Isra’ , sehingga ayat ini tidak dinamakan Makkiyah dan tidak juga Madaniyah.

Maka pendapat yang pertama ini menyebabkan tidak adanya pembagian yang konkrit secara mendua terhadap ayatayat al-Qur’an.

Berdasarkan pengertian ini, para ulama menyimpulkan bahwa setiap ayat atau surat dalam al Quran yang dimulai dengan redaksi يأيّها الناس (wahai sekalian manusia) dikategorikan sebagai Makkiyah,

Karena pada waktu itu penduduk Mekkah pada umumnya masih kufur. Sedangkan ayat atau surat yang dimulai dengan lafaz يأيّها الذين أمنوا (wahai orang-orang yang beriman) dikategorikan Madaniyah, karena pada waktu itu benih-benih keimanan sudah tumbuh atau sudah terbentuk di dada penduduk Madinah.

Jika berpegang pada defenisi yang nomor dua ini, akan ditemukan dua permasalahan ketika membaca sebagian ayatayat al-Qur’an yaitu:

Pertama: Kebanyakan surat al Quran tidak selalu dibuka dengan salah satu seruan diatas, misalnya surat al-Ahzab dibuka dengan lafaz:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

contoh lain misalnya surat al-Munafiqun yang dimulai dengan lafaz:

إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Berdasarkan redaksi dua ayat diatas, maka keduanya tidak termasuk Makkiyah dan tidak pula Madaniyah, karena keduanya turun bukan dengan lafaz يأيّها الناس dan tidak pula يأيّها الذين أمنوا,

Kalau begitu ayat yang turun selain dari redaksi tersebut mau dimasukkan kepada golongan mana???, maka melalui defenisi ini ditemukan tidak adanya kekonsistenan dalam menetapkan ayatayat al Qur’an.

Kedua: Tidak semua ayat atau surat yang terdapat didalamnya redaksi يأيّها الناس  adalah  Makkiyah.

Dan tidak juga semua surat atau ayat yang terdapat dalamnya redaksi يأيّها الذين أمنوا  adalah Madaniyah, misal surat al-Baqarah yang termasuk Madaniyah, namun sebagian dari redaksi ayatnya terdapat lafaz:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Dan surat an-Nisa’ juga termasuk Madaniyah, tetapi permulaan ayatnya dimulai dengan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ .

Kemudian surat al-Haj termasuk kedalam golongan surat Makkiyah, tetapi didalamnya juga terdapat lafaz:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Menurut imam ar-Razy didalam tafsirnya “al-Qur’an adalah seruan Illahi terhadap semua makhluk, ia dapat saja menyeru orang yang beriman dengan sifat, nama atau jenisnya. Begitu pula orang yang tidak beriman dapat diperintahkan untuk beribadah, sebagaimana orang yang beriman diperintahkan konsisten dan menambah ibadahnya .

Jadi, berdasarkan pengertian ini walaupun ayat al-Qur’an turun di Mekkah atau Arafah setelah hijrah termasuk kedalam golongan Madaniyah.

Seperti ayat yang diturunkan pada tahun penaklukkan kota Mekkah, seperti firman Allah:

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا….

Ayat ini diturunkan di Mekkah dalam ka’bah pada tahun penaklukkan kota Mekkah.  Atau ayat yang turun pada waktu haji Wada’ seperti firman Allah:

….الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا….

Ayat ini turun pada hari jum’at di Arafah pada waktu haji Wada’.

Dan beberapa surat lainnya seperti awal surat al-Anfal yang turun di Badar, sedangkan surat ini menurut pendapat yang masyhur adalah Madaniyah.

Dibanding dengan dua pendapat sebelumnya, tampaknya pendapat yang ketiga ini lebih rajih karena ia lebih memberikan kepastian dan konsisten serta memenuhi unsur penyusunan ta’rif atau definisi