بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makam Rasulullah terletak di dalam Masjid Nabawi, di Madinah.  Rasulullah wafat ketika berada di kamar Aisyah, dan waktu itu para sahabat bingung terkait akan dimakamkan dimana Rasulullah.

Para sahabat berselisih tentang tempat pemakaman Rasulullah ﷺ sampai Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : “Tidaklah seorang Nabi wafat kecuali dikubur di tempat ia wafat”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Maka Abu Thalhah mengangkat kasur dalam kamar Aisyah رضي الله عنه a yang dipakai Rasulullah ﷺ pada saat wafat lalu menggali tanah yang ada di bawahnya, dan membentuk liang lahat. Adapun kamar Aisyah terletak di sebelah timur Masjid Nabawi di sudut kiri depan masjid.
Atas dasar itulah para sahabat akhirnya menguburkan Rasulullah ﷺ di kamar Aisyah dengan terlebih dahulu meminta ijin pada Aisyah.

Akhirnya kamar Aisyah رضي الله عنه menjadi kuburan bagi Rasulullah ﷺ.  Dan kemudian ketika masjid Nabawi diperluas,  Kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terletak di dalam Masjid Nabawi, tetapi di rumah Aisyah. Oleh sebagian khalifah Bani Umayah, ketika perluasan Masjid Nabawi dilakukan, rumah Aisyah termasuk dalam area pelebaran, sehingga terlihat berada di depan masjid. Akan tetapi, para ulama menegaskan: itu bukan bagian dari Masjid Nabawi. Karena itu, rumah Aisyah ditemboki sebanyak tiga lapis, untuk menunjukkan bahwa itu bukan bagian masjid.

Sebagai ilustrasi, kita temukan masjid di sekitar kita memiliki WC di dekat mihrab atau bergabung dengan bangunan masjid. Apakah bisa kita sebut bahwa WC itu berada di dalam masjid? Tentu tidak, karena masjid tidak boleh digunakan sebagai WC. Meskipun WC tersebut mengambil bagian area masjid, namun dikatakan bahwa WC itu bukan bagian dari masjid.

 

Renovasi dan Perluasan Masjid Nabawi dan Masuknya Kuburan ke Dalamnya

Berikut adalah sejarah tentang perluasan Masjid Nabawi yang mengakibatkan makam Rasulullah ﷺ ‘seakan akan berada’ di dalam Masjid Nabawi.

Sejalan dengan jumlah kaum muslimin yang semakin bertambah, Masjid Nabawi pun beberapa kali mengalami perluasan. Ketika al Walid bin Abdul Malik memegang tampuk pemerintahan Dinasti Bani Umayyah (86-96 H.), pada tahun 91 H., renovasi dan perluasan Masjid Nabawi akhirnya mencakup kamar Aisyah tempat Rasulullah ﷺ,  Abu Bakar رضي الله عنه dan Umar رضي الله عنه
dimakamkan. Maka sejak saat itu hingga kini, kuburan Rasulullah ﷺ masuk ke dalam masjid.

Kesalahan dalam perencanaan renovasi ini karena bertentangan dengan haditshadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahkan wasiat beliau yang terakhir disampaikan sebelum wafatnya, akhirnya mereka sadari. Karena itu, mereka berusaha untuk mengurangi celah penyimpangan aqidah dengan memagari hujrah tersebut dengan pagar berbentuk segi tiga yang memanjang ke arah utara, belakang kubur agar seseorang yang ingin shalat menghadap ke kuburnya tidak dapat melakukannya. (Tâhzîrus Sâjid, hal. 65-66).

Pada masa pemerintahan Dinasti Utsmaniyah, tahun 1813 M, Sultan Mahmud II membangun sebuah kubah baru berwarna hijau di atas kamar Rasulullah ﷺ yang masih tetap kokoh hingga kini yang kian menambah fenomena baru dalam kuburan Rasulullah ﷺ, yang tidak di ridhai oleh penghuni kubur tersebut.

Jawaban Terhadap Syubhat

Fenomena masuknya kubur Rasulullah ﷺ, Abu Bakar As-Siddiq رضي الله عنه dan Umar bin Khattab رضي الله عنه ke dalam Masjid Nabawi telah menjadi salah satu alasan bagi sebagian orang untuk menguburkan atau mempertahankan kuburan yang ada di dalam, atau di depan masjid, atau membolehkan untuk tetap shalat di masjidmasjid seperti itu, meskipun Rasulullah ﷺ telah melarang bahkan melaknat perbuatan tersebut dalam banyak hadits shahihnya, antara lain;

“Ingatlah! Janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid, sungguh aku melarang kalian dari hal itu.”

”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Semoga Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid.”

“Sesungguhnya orang yang terburuk adalah orang yang masih hidup pada saat terjadi kiamat dan orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid.”

Di antaranya telah kami sebutkan pada bagian awal tulisan ini.

Yang mungkin dipahami dari kalimat “menjadikan kuburan sebagai masjid” adalah tiga pengertian:

  • Shalat di atas makam, dengan pengertian sujud di atasnya.
  • Sujud dengan menghadap ke arahnya dan menjadikannya kiblat shalat dan doa.
  • Mendirikan masjid di atas makam dengan tujuan mengerjakan shalat di dalamnya.

Haditshadits tersebut melarang keras praktik menguburkan mayat atau mempertahankan kuburan yang ada di masjidmasjid. Sementara berhujjah dengan fenomena kuburan Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Abû Bakar As-Shiddîq dan Umar bin Khatthâb Radhiyallahu ‘Anhu yang ada di Masjid Nabawi tidak dapat diterima, karena beberapa hal;

  • Masjid Nabawi tidak dibangun di atas kuburan, bahkan beliaulah bersama para sahabat termasuk Abû Bakar As-Shiddîq dan Umar bin Khattâb, yang membangunnya semasa hidupnya.
  • Mereka tidak dikuburkan di dalam masjid, mereka hanya dikuburkan di kamar Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu yang terletak di sebelah timur masjid.
  • Proses masuknya kuburan-kuburan tersebut bukan dilakukan oleh orang-orang yang perbuatannya menjadi hujjah dan patokan, bukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan bukan pula Khulafâur-Râsyidîn yang praktik dan perbutannya merupakan hujjah. Dan tidak pula terjadi pada zaman mereka, bahkan terjadi setelah mereka dan kebanyakan sahabat yang tinggal di Madinah telah wafat. Karena sahabat yang berdomisili di Madinah yang terakhir wafat adalah Jâbir bin Abdullâh pada tahun 78 H (Tâhdzîrus Sâjid, hal. 59.). Sedangkan renovasi Umar bin Abdul Azîz atas instruksi Al-Walîd bin Abdul Mâlik yang merambah ke kuburan tersebut terjadi setelahnya pada tahun 91 H.

*Kuburan tersebut setelah masuk ke dalam masjid, tetap tidak memungkinkan seseorang untuk menjadikannya sebagai watsan yu’bad (berhala yang disembah) karena dipagar dengan pagar segi tiga yang salah satu seginya memanjang ke belakang, atau ke arah utara, sehingga seseorang yang ingin shalat menghadap kepadanya akan melenceng dari arah kiblat.

  • Pagar tersebut telah menjadi wujud dari doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,
    ”Ya Allah! Janganlah Engkau biarkan kuburanku sebagai berhala yang disembah.”
    Karena Al-Watsan adalah berhala yang disembah oleh orang dari jarak dekat, sementara pagar tersebut telah menghalau niat tersebut (Adhwâul Bayân, 5/498-499, Asy-Syinqithi).

Bolehkah Tetap Shalat di Masjid Nabawi Sekarang?

Larangan shalat di masjid yang terdapat kubur di dalamnya, atau di depannya, atau yang dibangun di atas kubur, sama sekali tidak mencakup larangan shalat di Masjid Nabawi, karena ia memiliki keistimewaan yang tidak terdapat pada masjid lain karena shalat di dalamnya diberi ganjaran seribu kali dibanding dengan shalat di masjid lain, ia merupakan tempat yang dianjurkan untuk dikunjungi walaupun dari jauh, di dalamnya terdapat raudhah (taman) yang merupakan salah satu taman di antara taman-taman surga dan lain-lain.

Syaikh Al Albani menukil perkataan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah bahwa beliau berkata, “Shalat di masjid yang dibangun di atas kuburan secara mutlak dilarang, berbeda dengan masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Sebab shalat di masjid beliau ini sama dengan seribu shalat, karena ia didirikan berdasarkan ketakwaan.”

Beliau melanjutkan, “Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa masjid tersebut sebelum ada makam di dalamnya tidak memiliki keutamaan, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengerjakan shalat di dalamnya bersama orang-orang Muhajirin dan Anshar, tetapi keutamaan itu baru muncul pada masa kekhalifahan al Walîd bin Abdul Mâlik, setelah dimasukkannya kamar di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam meninggal ke dalam masjid beliau,maka dia sudah mendustakan apa yang dibawa dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan dia berhak untuk diperangi.”

Syaikhul Islam juga menjelaskan tentang sebab dibolehkannya shalat yang dikerjakan karena suatu sebab pada waktu-waktu yang dilarang mengerjakan shalat (seperti shalat sunnah setelah shalat Ashar, dibolehkan ketika seseorang masuk ke dalam masjid dan ingin mengerjakan shalat tahiyyatul masjid—red.), karena dengan melarangnya, akan menghilangkan kesempatan shalat tersebut, di mana tidak mungkin untuk mendapatkan keutamaannya karena telah tertinggal waktunya. Demikian juga shalat di masjid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.” Wallâhu A’lâ wa A’lam.

Sumber :
Diringkas dari makalah berjudul “Histori Kuburan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam Tinjauan Aqidah” Karya Abu Yahya Salahuddin Guntung, Lc.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ