بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Madinah adalah ibukota Pemerintahan Islam pada masa Nabi hingga Khulafaur Rasyidin.  Setelah itu ibukota Pemerintahan Islam dipindah dari Madinah ke Damaskus, pada masa Khilafah Bani Umayyah  [661 M/ 41 H]. Kemudian pada masa Khilafah Bani Abbasiyah, ibukota dipindah dari Damaskus ke Baghdad.

Madinah adalah pusat sekaligus puncak peradaban IslamMadinah juga menjadi pusat dakwah dan ilmu pengetahuan, yang kemudian berkembang ke seluruh dunia.  Ia menjadi satu satunya ibukota di dunia, yang menggabungkan antara kemajuan duniawi sekaligus ketinggian iman.  Karena Madinah menjadi pusat bisnis yang kemudian berhasil menjadikannya satu satunya

Dalam kota ini terdapat Masjid Nabawi [Masjid Nabi], yang di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar.  Kota ini juga merupakan kota paling suci kedua kedalam agama Islam setelah Makkah.  Sekarang kota ini menjadi ibukota dari Povinsi Madinah di Arab Saudi.

Kota ini menjadi permulaan penanggalan Hijriyah.

Madinah adalah satu satunya kota besar terkenal di dunia, yang sesungguhnya tidak memiliki nama. Karena kata Madinah itu sendiri [ المدينة ] dalam bahasa Arab artinya adalah kota. Maka jika kita menyebutnya Kota Madinah, artinya menjadi Kota Kota.

Maka para ulama menyebutnya sebagai Madiinah An-Nabawiyah [kotanya Nabi] / المدينة النبوية  atau al Madiina-tu an-Nabī (المدينة النبي, “kota Nabi“) atau Madinah Ar Rasul.  Atau Madinah al-Munawarah [ المدينة المنورة ] yang artinya kota yang bercahaya.  Dalam pengucapan Hejazi: Al Madiinah [almaˈdiːna]) /  المدينة.

Dari Yatsrib Menjadi Madinah

Dahulu kota ini disebut Yathsrib [ يثرب ]. Para ulama ada yang berpendapat bahwa nama Yatsrib sebenarnya adalah nama orang yang pertama kali membuka kota itu dan menghuninya.  Lelaki itu dari kalangan bangsa Amaliq [atau Amaliqah], ia bernama : Yatsrib ibnu Mahabil ibnu Aus ibnu Amlaq ibnu Lauz ibnu Iram ibnu Sam ibnu Nuh.

Dalam buku Amaakin Masyhuurah fi Hayaati Muhammad ﷺ [ Tempat Tempat Bersejarah Dalam Kehidupan Rasulullah ﷺ, Hanafi Muhalawi] disebutkan bahwa nama Yatsrib dinisbatkan kepada Yatsrib bin Qaniyah bin Mahla’il bin Iram bin Abil bin Aush bin Arm bin Saam bin Nuh. [dikutip dari pendapat Al Mas’udi dalam kitabnya Muruu-judz Dzahab].

Adapun pendapat kedua menyatakan bahwa nama Yatsrib berasal dari kata dalam bahasa Arab, yakni :  ats-tsarb yang berarti kerusakan [al fasaad] atau kecaman [ تَثْرِيبَ  at Tatsrib ] atau juga celaan terhadap seseorang karena melakukan dosa tertentu [al muaakhadzatu bidz dzab].  Dalam konteks ini terdapat sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ melarang penggunaan kata Yatsrib  dengan makna ini.  Beliau sebaliknya menamakannya Thayyibah [ طيبة ].  Sehingga ketika Nabi hijrah ke kota ini, kota ini diubah namanya oleh Rasulullah dari Yatsrib menjadi Madinah.

Sabda Rasulullah ﷺ : ‘Siapa saja yang meyebut Madinah dengan nama Yatsrib, maka beristigfarlah kepada AllahMadinah itu baik, Madinah itu baik’.

Dalam Al Quran ada kata Tatsrib berada di surah Yusuf [12] ayat 92 :

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖيَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Dia (Yusuf) berkata : “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.

Lafaz yang lain menyebutkan Madinah sebagai ganti dari Yasrib.

فَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عُمَرَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ الْبَرَاءِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : “من سَمَّى الْمَدِينَةَ يَثْرِبَ، فَلْيَسْتَغْفِرِ اللَّهَ، هِيَ طَابَةٌ، هِيَ طَابَةٌ

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Saleh ibnu Umar, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Al-Barra r.a. yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda : Barang siapa yang menyebut Madinah dengan sebutan Yasrib, hendaklah ia memohon ampun kepada Allah ﷻ karena sesungguhnya kota ini adalah Thoobah, ia adalah Thoobah.

[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara tunggal, di dalam sanadnya terkandung ke-daif-an, hanya Allah Yang Maha Mengetahui]

Meski demikian nama Yatsrib tetap diabadikan dalam Islam, karena Al Quran juga tertulis demikian, dalam surat Al Ahzab [33] ayat 13.

 وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلا فِرَارًا 13

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata : “Hai penduduk Yatsrib (Madiinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.

Kota Yang Tidak Siap

Sisi menarik dari sejarahnya, kota Yatsrib adalah kota yang “tidak siap”. Tidak seperti Mekkah, atau Thaif, yang di beberapa sisi jauh lebih baik dari pada Yatsrib.

Allah memberikan kota kepada Nabi ﷺ sebuah kota yang tidak siap. Supaya apa? Supaya kita sebagai umatnya tidak mudah menyerah.

Apa hubunganya menyerah dengan Yatsrib? Supaya kita mengambil pelajaran ketika melihat perjuangan Nabi ﷺ memperbaiki kota Yatsrib, sampai berubah menjadi Thoyyibah, sampai menjadi pusat peradaban bumi, itu benar-benar melibatkan perjuangan Rasul ﷺ dan perjuangan para sahabat.

Yatsrib sebelumnya sangat tidak siap untuk menjadi pusat peradaban, tetapi akhirnya Rasulullah ﷺ berhasil mengubahnya menjadi pusat peradaban dunia

Sementara itu, kata Al Madiinah terkait dengan kota Nabi ini, tercantum dalam Al Quran sebanyak 4 kali.

Surat Al Ahzab [33] ayat 60 :

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا 60

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,

Surat At Taubah [9] ayat 101 :

 وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ 101

Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.

Surat At Taubah [9] ayat 120 :

 مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ 120

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,

Surat Al Munaafiquun [63] ayat 8 :

 يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ مِنْهَا الأذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ 8

Mereka berkata : “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

Sebelas Nama

As Suhaili mengatakan, sesungguhnya di dalam kitab Taurat kota Madinah disebutkan mempunyai 11 nama, yaitu Madinah, Thoobah, Thoyyibah, Miskinah, Jabirah, Mahabbah, Mahbubah, Qasimah, Majburah, Azra, dan Marhumah.

Ada yang menyebut Madinah memiliki 24 nama, yakni : Thoyyibah, Thoobah, Al Miskiinah, Al Adzroo, Al Jaabiroh, Al Muhabbibah, Al Mahburoh, Yatsrib, An Naajiyah, Al Muwaffiyah, Akaalatul Buldaan, Al Mahfuufah, Al Musallimah, Al Mujaffifaf, Al Jannah, Al Qudsiyyah, Al ‘Aashimah, Al Marhuumah, Jaabiroh, Al Mukhtaaroh, Al Muharromah, Al Qooshimah dan Thobaabaa. [ Yaqut al Hamwiy, Ma’jumal Buldaan ].

Bahkan sebagian sejarawan muslim menambahkan 6 lagi, yakni : Al Barroh, Daarul Abroor, Daarul Akhbaar, Daarul Iman, Daarus Sunnah dan Daarul Hijrah.

Diriwayatkan dari Ka’bul Ahbar yang mengatakan, “Kami menjumpai di dalam kitab Taurat Allah berfirman kepada kota Madinah, ‘Hai Thoyyibah, hai Thoobah, hai Miskinah, janganlah engkau mengurangi perbendaharaanmu, angkatlah bebatuanmu di atas bebatuan kota lainnya’.”

Sebagai gantinya Rasulullah ﷺ menyebut kota itu sebagai Madinah Ar Rasul.  Kemudian hari, nama kota itu ditetapkan dengan sebutan Madinah.

Jadi perubahan nama Tatsrib itu merupakan perubahan dari kegelapan menuju cahaya. Dari masa jahiliyah menuju peradaban Islam. Itu bukan sekedar perubahan nama.

***

Al Madinah an Nabawiyah.  Di bumi ini, Madinh laksana sebidang tanah surga.

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ