بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Madiinah  [المدينة] adalah kota yang dipilih oleh Allah ﷻ sebagai tempat hijroh Rosululloh ﷺ yang terletak di Hijaz.  Sebagai tempat baru umat Islam, untuk mendirikan Khilafah Islamiyah, membangun tamadun Islam, dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Islam.  Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ tidak pernah dan tidak terpikirkan untuk memindahkan ibukota Negri Islam, ke tempat lain dimanapun di muka bumi ini.  Meskipun itu Makkah.  Kita tahu betapa Rosulullah ﷺ amat mencintai Makkah,  karena Makkah adalah kota yang dicintai Allah.  tetapi perintah Allah adalah jelas, yakni menjadikan Madiinah sebagai Pusat Kekholifahan Islam.  Hingga kelak, di akhir jaman, pusat Kekholifahan Islam akan berpindah ke Baitul Maqdis.

Dalam kota ini terdapat Masjid Nabawi (“Masjid Nabi“), tempat dimakamkannya Rosululloh ﷺ [juga Abu Bakar As Siddiq dan Umar Bin Khottob].  Kota ini juga merupakan kota paling suci kedua setelah Makkah.  Dan keberkahanan kota Madiinah, adalah keberkahan dari Rosulullah, sebagaimana Nabi Ibrohiim meminta keberkahan pada kota Makkah.

1. Negri Hijroh Rosululloh ﷺ

Ketika Rosulullah ﷺ diperintahkan untuk hijroh, Rasulullah ﷺ bersabda : ‘Demi Allah, Engkau (Makkah) adalah bumi Allah yang terbaik dan yang paling dicintai Allah daripada yang lain. Kalaulah aku tidak terusir darimu, sungguh aku tidak akan meninggalkanmu.” [Shohih. HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Dan dimanakah bumi yang dipilih Allah, sebagai ganti bumi yang paling dicintaiNya?  Tentulah bumi pengganti itu harus bumi yang harus sama nilainya, yang setara, yang ekuivalen, yang sederajat.  Baik dari segi kemuliaan, maupun dari segi kesucian.  Karena bila tidak sederajat, maka itu hanya akan membuat ketinggian bumi Makkah serasa tidak sempurna.  Dan dari sekian banyak wilayah di bumi, Allah memilih Madiinah sebagai tempat yang sederajat dengan Makkah.

“أُرِيتُ [فِي الْمَنَامِ] دارَ هجرتكُم، أَرْضٌ بَيْنَ حَرّتين فَذَهَبَ وَهْلي أَنَّهَا هَجَر، فإذا هي يثرب” ،ش وَفِي لَفْظٍ: “الْمَدِينَةُ”.

Telah diperlihatkan kepadaku dalam tidurku tempat hijrah kalian, yaitu suatu tanah yang terletak di antara dua harroh (tanah yang berbatu), maka pada mulanya aku berpikir itu adalah tanah Hajar, tetapi ternyata tanah itu adalah tanah Yatsrib (kota Madiinah).

Dan disitulah Rosulullah dan para sahabat membangun peradaban Islam [manusia] hingga mencapai puncak peradaban sepanjang sejarah manusia.

2. Pusat Kekholifahan Islam

Di Madiinah pula Rosulullah, sesuai perintah Allah, menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Negri Islam.  Sehingga ketika Makkah dibebaskan pada 6 Hijriyah, Rosulullah tidak memindahkan pusat pemerintahan negri Muslim, dari Madiinah ke Makkah.  Tidak.  Meskipun kecintaan Rosulullah akan Makkah begitu besar, dan besarnya kecintaan itu adalah karena memang Allah mencintai kota Makkah.  Pusat pemerintahan tetap ada di Madiinah.   Karena memang itulah yang dikehendaki Allah.  Menjadikan Madiinah sebagai pusat kekholifahan Islam.  Hal itu tetap berlaku hingga era Khulafaur Rosyidin.  Setelah itu, ibukota Pemerintahan Islam dipindah dari Madiinah ke Damaskus, pada masa Khilafah Bani Umayyah  [661 M/ 41 H]. Kemudian pada masa Khilafah Bani Abbasiyah, ibukota dipindah dari Damaskus ke Baghdad.

3. Tempat Puncak Peradaban Islam

Madinah adalah pusat sekaligus puncak peradaban Islam.  Karena hanya di era Rosulullah-lah, umat Islam mencapai puncak peradaban dan ketaqwaan.  Madinah juga menjadi pusat dakwah dan ilmu pengetahuan, yang kemudian berkembang ke seluruh dunia.  Ia menjadi satu satunya ibukota di dunia, yang menggabungkan antara kemajuan duniawi sekaligus ketinggian iman.

4.  Menjadi permulaan penanggalan Hijriyah

Tahun hijrohnya Rosulullah ke Madiinah, disepakati para sahabat, sebagai awal dimulainya penanggalan Islam, yang kemudian dikenal sebagai Penanggalan Hijriyah.

 

5.  Kota Dengan Banyak Nama, Tetapi Dipanggil ‘Tanpa Nama’

Madiinah adalah satu satunya kota besar terkenal di dunia, yang sesungguhnya tidak memiliki nama. Karena kata Madinah itu sendiri [ المدينة ] dalam bahasa Arab artinya adalah kota. Maka jika kita menyebutnya Kota Madinah, artinya menjadi Kota Kota.

Maka para ulama menyebutnya sebagai Madiinah An-Nabawiyah [kotanya Nabi] / المدينة النبوية  atau al Madiina-tu an-Nabī (المدينة النبي, “kota Nabi“) atau Madinah Ar Rasul.  Atau Madinah al-Munawarah [ المدينة المنورة ] yang artinya kota yang bercahaya.  Dalam pengucapan Hejazi: Al Madiinah [almaˈdiːna]) /  المدينة.

As Suhaili mengatakan, sesungguhnya di dalam kitab Taurat kota Madinah disebutkan mempunyai 11 nama, yaitu Madinah, Thoobah, Thoyyibah, Miskinah, Jabirah, Mahabbah, Mahbubah, Qasimah, Majburah, Azra, dan Marhumah.

Ada yang menyebut Madinah memiliki 24 nama, yakni : Thoyyibah, Thoobah, Al Miskiinah, Al Adzroo, Al Jaabiroh, Al Muhabbibah, Al Mahburoh, Yatsrib, An Naajiyah, Al Muwaffiyah, Akaalatul Buldaan, Al Mahfuufah, Al Musallimah, Al Mujaffifaf, Al Jannah, Al Qudsiyyah, Al ‘Aashimah, Al Marhuumah, Jaabiroh, Al Mukhtaaroh, Al Muharromah, Al Qooshimah dan Thobaabaa. [ Yaqut al Hamwiy, Ma’jumal Buldaan ].

Bahkan sebagian sejarawan muslim menambahkan 6 lagi, yakni : Al Barroh, Daarul Abroor, Daarul Akhbaar, Daarul Iman, Daarus Sunnah dan Daarul Hijrah.

Diriwayatkan dari Ka’bul Ahbar yang mengatakan, “Kami menjumpai di dalam kitab Taurat Allah berfirman kepada kota Madinah, ‘Hai Thoyyibah, hai Thoobah, hai Miskinah, janganlah engkau mengurangi perbendaharaanmu, angkatlah bebatuanmu di atas bebatuan kota lainnya’.”

Sebagai gantinya Rasulullah ﷺ menyebut kota itu sebagai Madinah Ar Rasul.  Kemudian hari, nama kota itu ditetapkan dengan sebutan Madiinah.

Dari Yatsrib Menjadi Madiinah

Dahulu kota ini disebut Yathsrib [ يثرب ].  Al Quran menjelaskan hal itu dalam surat Al Ahzab [33] ayat 13 :

 وَإِذْ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ يَا أَهْلَ يَثْرِبَ لا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَأْذِنُ فَرِيقٌ مِنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ إِنْ يُرِيدُونَ إِلا فِرَارًا 13

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata : “Hai penduduk Yatsrib (Madiinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”. Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata : “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”. Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.

Kemudian para ulama ada yang berpendapat bahwa nama Yatsrib sebenarnya adalah nama orang yang pertama kali membuka kota itu dan menghuninya.  Lelaki itu dari kalangan bangsa Amaliq [atau Amaliqah], ia bernama : Yatsrib ibnu Mahabil ibnu Aus ibnu Amlaq ibnu Lauz ibnu Iram ibnu Sam ibnu Nuh.

Dalam buku Amaakin Masyhuurah fi Hayaati Muhammad ﷺ [ Tempat Tempat Bersejarah Dalam Kehidupan Rosulullah ﷺ, Hanafi Muhalawi] disebutkan bahwa nama Yatsrib dinisbatkan kepada Yatsrib bin Qaniyah bin Mahla’il bin Iram bin Abil bin Aush bin Arm bin Saam bin Nuh. [dikutip dari pendapat Al Mas’udi dalam kitabnya Muruu-judz Dzahab].

Adapun pendapat kedua menyatakan bahwa nama Yatsrib berasal dari kata dalam bahasa Arab, yakni :  ats-tsarb yang berarti kerusakan [al fasaad] atau kecaman [ تَثْرِيبَ  at Tatsrib ] atau juga celaan terhadap seseorang karena melakukan dosa tertentu [al muaakhadzatu bidz dzab].  Dalam konteks ini terdapat sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rosulullah ﷺ melarang penggunaan kata Yatsrib  dengan makna ini.  Rosulullah ﷺ sebaliknya menamakannya Thoyyibah [ طيبة ].  Sehingga ketika Rosulullahhijrah ke kota ini, kota ini diubah namanya oleh Rosulullah ﷺ dari Yatsrib menjadi Madiinah.

Sabda Rosulullah ﷺ : ‘Siapa saja yang meyebut Madiinah dengan nama Yatsrib, maka beristigfarlah kepada AllahMadiinah itu baik, Madiinah itu baik’.

Dalam Al Quran ada kata Tatsrib berada di surah Yusuf [12] ayat 92 :

قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖيَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Dia (Yusuf) berkata : “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.

Lafaz yang lain menyebutkan Madinah sebagai ganti dari Yatsrib.

فَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِيٍّ، حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عُمَرَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ الْبَرَاءِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : “من سَمَّى الْمَدِينَةَ يَثْرِبَ، فَلْيَسْتَغْفِرِ اللَّهَ، هِيَ طَابَةٌ، هِيَ طَابَةٌ

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Saleh ibnu Umar, dari Yazid ibnu Abu Ziad, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Al-Barra r.a. yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda : Barang siapa yang menyebut Madiinah dengan sebutan Yatsrib, hendaklah ia memohon ampun kepada Allah ﷻ karena sesungguhnya kota ini adalah Thoobah, ia adalah Thoobah.

[Diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara tunggal, di dalam sanadnya terkandung ke-daif-an, hanya Allah Yang Maha Mengetahui]

6. Kota Yang Tidak Siap

Sisi menarik dari sejarahnya, Madiinah sebenarnya adalah kota yang “tidak siap”. Tidak seperti Makkah, atau Tho’if, yang di beberapa sisi jauh lebih baik dari pada Madiinah bila dilihat dari sisi kesiapan manusianya untuk berperang lahir maupun batin.  Tetapi Allah tetap memberikan kota kepada Nabi ﷺ sebuah kota yang tidak siap. Supaya apa? Supaya kita sebagai umatnya tidak mudah menyerah.

Apa hubunganya menyerah dengan Madiinah ? Supaya kita mengambil pelajaran ketika melihat perjuangan Rosulullah ﷺ memperbaiki kota Yastrib, sampai berubah menjadi Thoyyibah, sampai menjadi pusat peradaban bumi, itu benar-benar melibatkan perjuangan Rosul ﷺ dan para sahabat.

Yatsrib sebelumnya sangat tidak siap untuk menjadi pusat peradaban, tetapi akhirnya Rasulullah ﷺ berhasil mengubahnya menjadi pusat peradaban dunia

Sementara itu, kata Al Madiinah terkait dengan kota Nabi ini, tercantum dalam Al Quran sebanyak 4 kali.

Surat Al Ahzab [33] ayat 60 :

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لا يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلا قَلِيلا 60

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madiinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,

Surat At Taubah [9] ayat 101 :

 وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ 101

Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madiinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.

Surat At Taubah [9] ayat 120 :

 مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ 120

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madiinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,

Surat Al Munaafiquun [63] ayat 8 :

 يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ مِنْهَا الأذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ 8

Mereka berkata : “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

7. Rosulullah ﷺ mendo’akan Madiinah agar diberkahi dan suci

Pada saat Isro’ Mi’roj dan turun surat Al Isro’ ayat 1, saat itu Rosulullah ﷺ memahami bahwa hanya ada dua masjid yang suci dan diberkahi Allah.  Yakni Masjidil Harom [Ka’bah] dan Masjidil Aqshoo.  Tetapi Rosulullah juga paham, dipilihnya Madiinah sebagai ganti kota Makkah, itu menjadikan Madiinah adalah ‘kembaran’ Makkah.  Sebagaimana Makkah adalah ‘kembaran’nya Masjidil Aqshoo.  Jadi bila Masjidil Harom dan Masjidil Aqsho mendapat berkah Allah, maka Rosulullah pun sudah sewajarnya memohon keberkahan untuk Madiinah.

Dalam salah satu hadis, Rosulullah disebut berdoa : “Ya Allah berkahilah buah-buahan kami. Berkahilah kota kami. Berkahilah kami dalam timbangan kami, dan berkahilah kami dalam takaran kami.” (HR. Muslim).

8. Madiinah adalah Tanah Harom

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Ibrohim telah mengharamkan Makkah, dan aku telah mengharamkan Madiinah.” (HR. Muslim).  Maksud pengharaman yang disandarkan kepada Muhammad dan Ibrohim -shollallohu ‘alaihima wa sallam-, adalah benar-benar haram. Walaupun pada hakikatnya pengharaman berasal dari Allah. Dialah yang mengharamkan ini dan itu.

Disebut Haram karena di tanah itu diharamkan melakukan perbuatan-perbuatan yang jika dilakukan di tanah lain hukumnya boleh-boleh saja. Contohnya: berburu. Tidak boleh berburu binatang buruan di tanah Haram, namun di tempat lain boleh-boleh saja. Allah mengkhususkan hanya dua kota ini saja sebagai tanah haram. Tidak ada dalil yang shohih yang menunjukkan selain dua kota ini sebagai tanah haram.

Haramnya tanah Makkah dan Madiinah adalah meliputi seluruh tanah Makkah dan Madinah sampai batas-batasnya.

Adapun penetapan keharaman Makkah dan Madiinah terbatas pada masjidnya saja, ini juga merupakan salah kaprah. Rosulullah ﷺ bersabda, “Madiinah adalah tanah haram dari (gunung) ‘Air sampai (gunung) Tsaur.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Rosulullah ﷺ juga bersabda, “Aku telah mengharamkan Madiinah dari tumpukan batu hitam yang satu ke tumpukan batu hitam lainnya, agar tidak boleh ditebang pepohonannya dan tidak boleh dibunuh binatang buruannya.” (HR. Muslim).

Sebagaimana telah diketahui bahwa luas Madiinah sekarang tidak sama dengan luas Madiinah pada era Rosulullah,  sehingga sebagian daerahnya berada di luar batas tanah haram. Oleh karena itu, tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa seluruh daerah di Madiinah sekarang ini adalah tanah haram.  karena batas batas kota Madiinah sekarang tidak sama dengan batas batas Madinah dulu.  Tetapi jelas, yang termasuk batas haram, itulah tanah haram.  Sedangkan di luar itu bukan tanah haram.  Sehingga meskipun itu bukan tanah haram, tetapi karena Jadi daerah yang berada di luar batas status haram adalah bagian dari Madinah, namun tidak disebut tanah haram.

Jika ada daerah yang diragukan (tidak jelas) status haramnya, mungkin ini termasuk batas haram, mungkin juga tidak, maka ini merupakan perkara mutasyabihat (tidak jelas status hukumnya). Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan cara menghadapi perkara-perkara mutasyabih seperti ini, yaitu berhati-hati. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits An Nu’man bin Basyir -semoga Allah meridhainya-, “Barangsiapa yang berhati-hati terhadap syubuhat maka sungguh dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjatuh dalam syubuhat maka dia telah terjatuh ke dalam perkara yang haram.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

9. Madinah adalah benteng keimanan

Rosulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya keimanan mencari perlindungan ke Madinah sebagaimana ular berlindung di dalam lubangnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Maksudnya adalah iman menuju ke Madinah dan menetap di dalamnya. Kaum muslimin hijrah ke sana dan menetap di sana. Keimanan dan rasa cinta kepada tempat yang penuh barokah inilah yang mendorong mereka ke Madinah.

10. Rosulullah ﷺ mensifati Madinah sebagai negeri yang mengalahkan negeri yang lain

Rosulullah ﷺ bersabda, “Aku diperintahkan untuk berhijrah ke negeri yang memakan (mengalahkan) negeri yang lain, yang mereka (orang-orang munafik -pent) sebut dengan ‘Yatsrib’. Itulah Madiinah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Sabda Rosulullah ﷺ “memakan negeri yang lain” maksudnya adalah bahwa Madiinah mengalahkan negeri yang lain. Juga ditafsirkan bahwa kota ini mendatangkan ghanimah (rampasan perang) yang didapat dari jihad fi sabilillah. Semua penafsiran ini sudah terjadi dan menjadi kenyataan. Madiinah menguasai kota kota yang lain karena para pemberi petunjuk yang sholeh dan tentara penakluk berangkat dari sana. Mereka mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Tuhan mereka. Akhirnya masuklah manusia ke dalam agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Setiap kebaikan yang diperoleh penduduk negeri ini muncul dari kota ini, Kota Rasul shollallohu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang terjadi pada masa-masa generasi awal Islam dulu, yaitu para sahabat Nabi khususnya para khalifah yang diberi petunjuk -semoga Allah meridhai mereka semua-. Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang perolehan perbendaharaan dua imperium besar pada waktu itu -Persia dan Romawi-, inipun telah menjadi kenyataan di tangan ‘Umar Al Faruq -semoga Allah meridhainya-.

11. Rosulullah ﷺ menganjurkan sabar dalam menghadapi kesulitan dan kesukaran negeri Madinah

Rosulullah ﷺ bersabda, “Madinah itu lebih baik bagi mereka jika mereka mengetahui.” Rosulullah ﷺ mengatakan demikian untuk orang-orang yang pindah dari Madinah ke tempat-tempat lain yang lebih lapang dan luas rezekinya, banyak hartanya.

Padahal Rosulullah ﷺ bersabda, “Madinah lebih baik bagi mereka jika mereka mengetahui. Tidaklah seorang pun yang meninggalkan Madinah karena tidak menyukainya, melainkan Allah menggantikan posisinya dengan orang yang lebih baik darinya. Dan siapa saja yang bisa bersabar dengan cobaan dan kesusahan negeri Madinah, maka aku akan memberinya syafa’at atau aku akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”(HR. Muslim). Ini menunjukkan keutamaan kota Madiinah dan keutamaan sabar dalam menghadapi kesulitan, kesempitan serta cobaan di dalamnya tatkala menimpa pada seseorang. Janganlah seseorang menolak cobaan tersebut dengan berpindah ke kota yang lain untuk mencari kelapangan dan keluasan rezeki. Namun dia harus bersabar atas kesulitan yang menimpa dirinya. Sungguh dia dijanjikan dengan pahala yang besar dan kebaikan yang berlimpah dari Allah ﷻ.

12. Rosulullah ﷺ menjelaskan keagungan kota Madinah dan bahaya berbuat bid’ah di dalamnya

Rosulullah ﷺ bersabda, “Madiinah adalah tanah haram antara (gunung) ‘Air sampai (gunung) Tsaur. Barangsiapa yang membuat kebid’ahan di sana atau melindungi pelaku bid’ah, maka Allah dan malaikat serta seluruh manusia semuanya melaknatnya. Allah tidak menerima amalannya yang wajib maupun sunnah.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ