بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dasar ajaran agama Yahudi adalah Islam, yang kemudian diselewengkan, dibelokkan, ditambah tambahi atau dikurang kurangi sesuai hawa nafsu mereka.  Maka tidak heran, banyak syariat Yahudi yang mirip mirip dengan Islam.  Salah satunya adalah ibadah kurban.

Yahudi sendiri mengakui, bahwa dulu mereka suka berkurban [mengerjakan syariat Nabi Ibrahim]  tetapi setelah Masjidil Aqsha diluluhlantakkan oleh kaum Babilonia [Iraq] pada tahun 586 SM, orang orang Yahudi itu enggan mengerjakan lagi kurban.  Akhirnya ibadah ini mereka tinggalkan dan lupakan.

Tetapi, sejak satu dekade terakhir, kita melihat fenomena bahwa semakin banyak orang Yahudi yang melakukan ibadah kurban di Tembok Ratapan.

Bagi yang belum paham, tentu menganggap hal itu adalah biasa malah bersyukur karena ritual kurban dalam Yahudi ternyata mirip dengan ibadah kurban dalam Islam.

Mirip Kurban Dalam Islam

Dalam Yudaisme, kurban dikenal dengan istilah Korban dari akar kata bahasa Ibrani karov yang berarti “[datang] mendekat [kepada Allah]”.

Dan disebut juga persembahan korban binatang [zevah זֶבַח], atau persembahan pendamaian, atau persembahan korban bakaran. Dalam bahasa ibrani kata benda korban (atau qorban) digunakan untuk menyebut berbagai persembahan yang diperintahkan dalam Alkitab Ibrani/ Torah.

Sentralitas kurban dalam Yudaisme jelas, seperti yang banyak diuraikan dalam Alkitab, khususnya dalam pasal-pasal pembukaan Kitab Imamat, dengan penjelasan terinci tentang cara-cara pemberiannya.

Kurban dapat diberikan dalam bentuk sesuatu yang [1] berdarah [binatang] ataupun yang [2] tidak berdarah [biji-bijian dan anggur].

Kurban darah dibagi ke dalam holocaust [kurban bakaran, dengan seluruh binatangnya dibakar habis], kurban penebusan dosa [dalam hal ini hanya bagian-bagian tertentu dari binatang kurban dibakar dan sisanya ditinggalkan untuk imam] dan kurban pendamaian [sama seperti di atas, hanya bagian-bagian tertentu dari binatang kurban dibakar habis].

Namun, para nabi menunjukkan bahwa kurban hanyalah suatu bagian dari pengabdian kepada Allah, dan harus disertai oleh moralitas dan kebaikan dalam diri manusia itu sendiri.

 

Dulu persembahan semacam ini biasa dilakukan Bani Israil di Masjidil Aqsha.  Tetapi sejak Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman wafat, lalu setelah itu datanglah orang orang Babilonia yang menghancurkan Masjidil Aqsha, sejak itulah ibadah kurban menjadi berubah 180 derajat.

Bukan cuma ibadah kurban, tapi seluuh ajaran Islam diselewengkan, ditambah atau dikurangi sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Praktik kurban terus berlanjut sampai saat ‘Masjidil Aqsha‘ yang mereka sebut Bait Sulaiman berdiri lagi, dan kemudian berakhir ketika bait itupun dihancurkan pada tahun 70 M. Secara tidak resmi dilakukan kembali pada saat Perang Yahudi-Romawi pada abad ke-2 M, dan selanjutnya di komunitas komunitas tertentu masih dilakukan.

Tetapi sejak dua dekade terakhir, ritual kuban gencar dilakukan oleh Yahudi dan bahkan ritual itu dilakukan di Tembok Ratapan yang diyakini bagian dari Kuil Sulaiman.  Mengapa ?

Para imam Yahudi percaya, bahwa Bait Sulaiman hanya bisa didirikan lagi bila ritual kuban dilakukan.  Karena dengan kurban itulah maka Al Masih akan hadir, dan bila Al Masih sudah hadir, maka Al Masih sendiri yang akan mendirikan Bait Sulaiman.  Dan siapakah Al Masih Yahudi ini?  Dia tak lain adalah Al Masih Dajjal!

Jadi jelas, ritual kurban di Tembok Ratapan itu, adalah rituan untuk memanggil Dajjal !

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ