Kunyah adalah nama yang dimulai dengan Abu atau Ummu. Ada juga ulama yang mengatakan termasuk juga nama yang diawali dengan saudara/ paman.

Kunyah berasal dari tradisi bangsa arab dan dilestarikan para ulama meski bukan berbangsa arab.

Sebab sebab seeorang mendapat kunyah :

  • Kunyah terkadang untuk memuji sebagaimana sahabat Nabi yang dulunya berkunyah Abu Hakam.
  • Terkadang untuk mencela semacam Abu Jahal.
  • Terkadang disebabkan karena membawa sesuatu semisal Abu Hurairah.  dikisahkan karena  beliau penyayang kucing.
  • Terkadang hanya sekedar nama semisal Abu Bakar dan Abul Abbas Ibnu Taimiyyah, padahal Ibnu Taimiyyah tidak mempunyai anak. (Lihat Al-Qoul Al-Mufid ‘Ala Kitab At-Tauhid 2/169, Maktabah Al-’Ilmi).
  • Kadang untuk menunjukkan seseorang sudah mempunyai anak dan biasanya diambil dari anak pertamanya, walau tidak selalu begitu. Contoh: Abu Thalib [ artinya: ayahnya Thalib,  karena anak pertamanya bernama Thalib ] , Ummu thalib  [ artinya: ibunya Thalib , karena  anak pertamanya bernama Thalib ]
  • Namun jika tidak punya anak,  tetap bisa memakai nama kunyah.  Contoh: Aisyah yang  tidak punya anak, namun tetap punya nama kunyah yaitu Ummu Abdullah  [ artinya ibu dari Abdullah, Abdullah adalah keponakan beliau ]
    • Aisyah  pernah berkata kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, seluruh istrimu mempunyai kunyah selain diriku.”  Maka Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Berkunyahlah dengan Ummu Abdillah.” Setelah itu ’Aisyah radhiyallahu ‘anha selalu dipanggil dengan Ummu Abdillah hingga meninggal dunia, padahal dia tidak melahirkan seorang anak pun.    Dalam Syarah Muslim 14/129, Imam Nawawi mengatakan, “Pelajaran yang bisa dipetik dari Hadis tersebut sangat banyak sekali. Diantaranya menunjukkan bahwa kunyah untuk orang yang tidak punya anak itu diperbolehkan, juga menunjukkan bolehnya kunyah untuk anak kecil dan hal tersebut tidak termasuk kebohongan.” [ Dari Ahkam Ath-Thifli hal. 165 ].
    • Bahkan Rasulullah pun pernah memanggil seorang anak kecil memakai nama kunyah yaitu Abu ‘Umair.  “Umar radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan kepada Shuhaib: ‘Kenapa engkau berkunyah dengan Abu Yahya padahal kamu belum mempunyai anak?’ Maka dia menjawab: ‘Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam yang memberiku kunyah Abu Yahya.’”Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
    • Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya mempunyai saudara (masih kecil) yang biasa dipanggil Abu Umair. Apabila Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam datang, beliau mengatakan, ’Wahai Abu Umair apa yang sedang dilakukan oleh Nughoir (Nughoir adalah sejenis burung)?’”
    • Imam Bukhori rahimahulloh membuat bab hadits ini dengan ucapannya “Bab kunyah untuk anak dan orang yang belum mempunyai anak”. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahulloh berkata: “Imam Bukhori mengisyaratkan dalam bab ini untuk membantah anggapan orang yang melarang kunyah bagi yang belum mempunyai anak dengan alasan bahwa hal itu menyelisihi fakta.”
    • Imam Ibnul Qosh asy-Syafi’i rahimahulloh berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah tentang bolehnya memberi kunyah kepada orang yang belum mempunyai anak.”
  • Nabi shollahu’alaihiwasallam bertanya kepada seorang sahabat, beliau berkunyah Abul Hakam -padahal Al-Ahkam adalah nama Allah-, ‘Apakah engkau mempunyai anak ?’, sahabat tersebut menjawab, ‘Syuraih, Muslim, dan Abdullah’, ‘Siapa yang paling tua diantara ketiganya? lanjut Nabi, ‘Syuraih’ kata sahabat tersebut. Nabi bersabda, ‘Jika demikian maka engkau adalah Abu Syuraih.’ [ HR. Abu Dawud dan Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 2615).
    • Dalam Ahkam Ath-Thifli dinyatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa berkunyah dengan nama Allah semisal Abul Ahkam dan Abul ‘Ala adalah tidak dibolehkan.” (Ahkam Ath-Thifli karya Ahmad Al-Isawi hal. 165).
    • Syaikh Utsaimin mengatakan, “Hadits di atas tidak menunjukkan bahwa berkunyah itu dianjurkan karena Nabi ingin mengubah sahabat tersebut dengan kunyah yang diperbolehkan dan Nabi tidak memerintahkan berkunyah pada awal mulanya.” (Al-Qoul Al-Mufid 2/170).
  • Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim mengatakan, “Dalam Hadits di atas Nabi memberi kunyah dengan anak yang paling tua dan itulah yang sesuai dengan sunnah sebagaimana terdapat dalam beberapa Hadits. Jika tidak memiliki anak laki-laki maka dengan nama anak perempuan yang paling tua. Ketentuan ini juga berlaku untuk kunyah seorang perempuan.” (Hasyiah Kitab At-Tauhid hal. 318).

 


Adab yang berkenaan dengan nama kunyah adalah:

  • Tidak boleh berkunyah dengan nama Allah semisal Abul A’la [ Al Maududi ].
  • Kunyah itu dengan nama anak laki-laki yang paling tua. Jika tidak ada anak laki-laki maka dengan nama anak perempuan yang paling tua.
  • Orang yang belum atau tidak punya anak boleh berkunyah.
  • Oleh karena itu anak kecil yang jelas belum menikah diperbolehkan untuk berkunyah.
  • Tidak boleh berkunyah ‘Abul Qosim berdasarkan Hadis Rasulullah : “Hendaklah kalian bernama dengan nama-namaku tetapi jangan berkunyah dengan kunyahku (Abul Qosim).” (HR. Bukhari no. 3537 dll).
  • Ibnul Qayyim mengatakan, “Pendapat yang benar bernama dengan nama Nabi itu diperbolehkan. Sedangkan berkunyah dengan kunyah Nabi itu terlarang. Berkunyah dengan kunyah Nabi saat beliau masih hidup itu terlarang lagi. Terkumpulnya nama dan kunyah Nabi pada diri seseorang juga terlarang.” (Zaadul Ma’ad, 2/317, Muassasah Ar-Risalah).
  • Ibnu Qayyim  juga mengatakan, “Kunyah adalah salah satu bentuk penghormatan terhadap orang yang diberi kunyah… diantara petunjuk Nabi adalah memberi kepada orang yang sudah punya ataupun yang tidak punya anak. Tidak terdapat Hadits yang melarang berkunyah dengan nama tertentu, kecuali berkunyah dengan nama Abul Qasim.” (Zaadul Maad, 2/314). Imam Ibnu Muflih berkata, “Diperbolehkan berkunyah meskipun belum memiliki anak.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih 3/152, Muassasah Ar-Risalah).