بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Baitul Maqdis menjadi pelabuhan terakhir dalam perjalanan malam 3 mahkluk istimewa, Rasulullah ﷺ Jibril dan Bouroq.  Dan setelah Rasulullah ﷺ menjejakkan kaki di bumi, di Baitul Maqdis telah berkumpul para Nabi, Rasul dan Malaikat Malaikat. Lalu kemudian semuanya bersama sama menuju Masjidil Aqsha untuk melakuan shalat. Rasulullahmemasuki Masjidil Aqsha dari arah barat daya, menambatkan tunggangan beliau yakni Buroq lalu menuju ke suatu titik di [sekitar] barat laut untuk memimpin shalat.

Mereka pun datang berbaris rapi bershaf shaf. Kemudian berkumandanglah adzan dan iqamat.  Lalu Jibril mempersilahkan Rasulullah ﷺ  menjadi imam. Setelah shalat dengan berjama’ah para nabi, rasul dan malaikat memuji kepada Allah ﷻ atas karunia dari-Nya. Begitu juga Rasulullah ﷺ mengucap tasbih atas karunia yang istimewa yang tidak diperoleh nabi dan rasul lainnya.

Usai memuji muji Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ lalu menaiki kembali Bouroq dengan menginjak sebuah batu raksasa.  Setelah itu, 3 mahkluk istimiewa itupun melanjutkan perjalanan kembali ke Sidratul Muntaha.

♥♥♥

Titik titik kisah perjalanan Rasulullah ﷺ pada malam isra’, kini telah diabadikan dengan jelas dalam bentuk bangunan bangunan di kompleks Masjidil Aqsha.

Mulai dari dimana titik masuknya Rasulullah ﷺ ke dalam area masjidil Aqsha, dimana beliau tambatkan Bouroqnya
kemudian  dimana titik beliau shalat bersama para nabi dan malaikat, hingga  dimana titik keberangkatan Rasulullah terbang ke langit.

Semua itu sesungguhnya telah ditandai dengan dibangunnya bangunan bangunan bersejarah diatasnya.

[Baca : Apa Saja Bangunan Yang Ada Dalam Masjidil Aqsha ?]

Semua itu telah ditandai dengan dibangunnya bangunan bangunan bersejarah diatasnya.  Dan inilah  titik titik bergeraknya Rasulullah di Baitul Maqdis :

Misalnya dititik lokasi ketika Rasulullah ﷺ memasuki Masjidil Aqsha, titik itu ditandai dengan  sebuah pintu indah dan kokoh yang diberi nama Pintu Al Maghariba.

Pintu ini juga dikenal  sebagai Pintu Buraq dan Pintu Nabi. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ pada malam Isra’ dan Mi’raj masuk ke Masjid al Aqsha melalui pintu ini. Pintu ini terletak di barat daya.  Tahun 1313, pintu ini direstorasi pada masa Sultan Muhammad bin Kalawun dari Kesultanan Mamalik.

Kemudian Rasulullah menambatkan Buroq pada suatu tempat yang kemudian dititik beliau menambatkan Buroq didirikanlah mesjid yang diberi nama Mesjid Buroq.  Mesjid Buroq merupakan satu dari 3 mesjid yang berada di bawah tanah Masjidil Aqsha.
Pintu masuknya menuruni tangga di bawah pekarangan Masjid Al Aqsha, dan juga ada pintu masuk lain yang lebih tinggi. Mesjid Buroq hanya dibuka pada saat shalat Jum’at dan shalat-shalat ‘Id.

Usai menambatkan Buroq, Rasulullah bersama para Nabi, Rasul dan Malaikat Malaikat melangkah menuju tempat shalat dengan berbaris rapi bershaf shaf.

Setibanya disuatu titik, Rasulullahpun memimpin shalat berjamaah.  Dan diatas titik dimana Rasulullah memimpin shalat, dibangunlah sebuah kubah kecil yang diberi nama Kubah Nabi.

Kubah ini sebenarnya dibangun pada masa Kesultanan Umayyah, tapi bentuknya yang sekarang ini dibangun pada masa Sultan Sulaiman yang Agung di tahun 1538. Direstorasi pada 1845 di masa Sultan Abdul Majid ke-2.

Dari lokasi tempat shalat berjamaah itu,  tidak jauh situ, adalah batu raksasa yang merupakan titik pijak Rasulullah terbang ke langit. Dan tepat diatas batu raksasa yang melayang itu dibangunlah Kubah Batu atau Dome of The Rock yang terkenal.

Kubah Batu atau As Sakhrah inilah yang sering dirujuk oleh zionis Israel bila umat Islam ingin berkunjung ke Masjidil Aqsha.  Padahal yang dimaksud masjidil Aqsha adalah sebuah area [kompleks] seluas 14.4 Hektar yang diatas area itu dibangun banyak bangunan bersejarah.  Salah satu diantaranya adalah Dome Of The Rock.

Bangunan Dome of The Rock yang bentuknya kita kenal seperti sekarang ini, dibangun oleh Sultan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 685-705.

Bentuk bangunan segi delapan, dengan tinggi 35 meter. Kubah yang disebut orang juga sebagai Dome of the Rock ini dilapisi potongan emas, sementara bangunannya dihiasi dengan porselin khusus, khat yang sangat indah dan lantainya keramik. Di masa Perang Salib bangunan ini dijadikan gereja dengan ditambahi sebuah altar sementara bulan sabit besar di kubah diganti dengan salib. Pada tahun 1187, Salahuddin AlAyyubi mengembalikan Kubah As-Sakhrah ke fungsi semula. Pada tahun 2009, Turki memperbarui hiasan bulan sabit pada Kubah As-Sakhrah dengan biaya 250 ribu Euro.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ