بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tiba tiba saja saya teringat akan masa masa ketika Rasulullah ﷺ mengalami pemboikotan sosial ekonomi dari kaum kafir Quraisy.

Sungguh, apa yang terjadi saat ini di tanah air, ketika rejim pemerintah secara kasat mata melakukan penzoliman terhadap ulama, penekanan terhadap umat dan banyak penzoliman lainnya.  Maka tiba tiba saja saya ingat akan peristiwa pemboikotan terhadap Rasulullah yang terjadi pada akhir tahun ke  7 Bi’tsah.

Inilah masa masa yang amat berat yang dirasakan umat Islam.  Ketika berbagai penyiksaan, teror dan berbagi ancaman fisik ternyata tidak mampu menahan gaung kebenaran Islam, kaum kafir Quraisy akhirnya berembuk dan sepakat melakukan pemboikotan untuk mengakhiri perjuangan menyingkirkan Muhammad ﷺ.

Karena berbagai upaya memadamkan cahaya Allah ﷻ  gagal, maka berembuklah para petinggi kaum kafir Quraisy itu.

Suatu pertemuan digelar di kediaman Bani Kinanah, di lembah al Mahshib. Hampir seluruh pembesar Quraisy hadir. Agenda pertemuan adalah rencana pemboikotan terhadap Nabi ﷻ dan para pengikutnya. Mereka sepakat untuk mengembargo umat Islam secara ekonomi dan sosial.

Dalam urusan ekonomi, kaum Quraisy tidak akan berjual-beli dengan kaum Muslim. Secara sosial, Quraisy tidak akan menikahi Bani Hasyim dan Bani al-Muthallib, tidak berkumpul dan tidak berbaur, serta tidak berbicara dengan kaum Muslim.

Pemboikotan itu berisi :

  1. Barang siapa yang setuju dengan agama Muhammad, berbelas kasihan kepada salah seorang pengikutnya yang masuk Islam, atau memberi tempat singgah pada salah seorang dari mereka, maka ia dianggap sebagai kelompoknya dan diputuskan hubungan dengannya.
  2. Tidak boleh menikah dengannya atau menikahkan dari mereka.
  3. Tidak boleh berjual beli dengan mereka.

Pernyataan embargo itu mereka dokumentasikan di atas sebuah shahifah (lembaran) yang berisi perjanjian dan sumpah yang digantungkan di dinding Kabah.

Berikut isinya :
“Bahwa mereka selamanya tidak akan menerima perdamaian dari Bani Hasyim dan tidak akan berbelas kasihan terhadap mereka, kecuali bila mereka menyerahkan Muhammad untuk dibunuh.”

Diriwayatkan, yang menulis penyataan itu ialah Manshur bin ‘Ikrimah yang didoakan Rasulullah ﷺ agar celaka sehingga sebagian jemarinya lumpuh. Ada juga yang mengatakan bahwa penulisnya ialah Nadhr bin Harits, ada yang mengatakan Thalhah bin Abu Thalhah, dan ada pula yang mengatakan Bagiid bin ‘Amir bin Hasyim bin Abdud-Daar. Pendapat terakhir inilah yang menjadi pendapat Ibnul Qayyim dalam Zadul-Ma’ad (3/30).

Lalu, apa yang terjadi kemudian?  Efektifkan pemboikotan itu terhadap kaum yang masih seumur jagung itu?  Kenyataannya, sungguh, pemboikotan itu benar benar telah melumpuhkan Rasulullah dan para sahabatnya. Selama 3 tahun mereka harus melipir ke lembah Abu Thalib.  Tidak ada jalan lain, dengan berkumpul di lembah Abu Thalib, mereka semua dapat bahu membahu, saling menjaga dan mengawasi.  Sehingga memperteguh kekuatan dan persatuan.

Masa masa Penuh Penderitaan

Kondisi kaum Muslim mengenaskan. Mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Mulut mereka berbusa dan anak-anak mereka merintih kelaparan.

Sa’ad bin Abi Waqqash menuturkan penderitaan yang mereka alami. “Pada suatu malam, aku pergi kencing. Tiba-tiba aku mendengar suara gemercik air kencingku sepertinya banyak, sehingga aku gembira. Setelah selesai, aku baru sadar bahwa yang gemercik itu adalah suara kulit yang aku biarkan terpanggang di atas api supaya kering dan dapat aku makan. Ternyata kulit itu menjadi sangat kering, sehingga terpaksa aku memakannya dengan merendamnya dalam air terlebih dahulu.”

Makanan memang tidak ada yang sampai ke tangan kaum Muslim, kecuali secara sembunyi-sembunyi. Keluar rumah untuk membeli makanan pun mereka takut, kecuali pada al-Asyhur al-Hurum (bulan-bulan yang diharamkan berperang). Mereka membelinya dari rombongan yang datang dari luar Makkah. Akan tetapi, penduduk Makkah menaikkan harga barang-barang beberapa kali lipat agar mereka tidak mampu membelinya.

Namun dalam menghadapi berbagai tekanan kaum kafir Quraisy, umat Islam tetap teguh mempertahankan iman dan akidah mereka.  Meski kelaparan, sakit dan terkucil, Mereka tetap bersatu dan saling membantu.  Mereka tetap tegar. Tidak satu pun yang tergoda dengan bujuk rayu kaum Quraisy.

Sebaliknya, keteguhan kaum Muslim membuat kaum Quraisy hilang kesabaran. Perpecahan mulai terjadi di antara mereka.  Dan pertolongan Allah, sunggu datang dengan cara yang tidak terduga.

Lembar pengumuman yang menjadi acuan legal teror mereka, yang digantung di dinding Kabah, akhirnya ternyata dimakan rayap ! Kecuali tulisan ‘Allah‘ …

Subhanallah …. Allah turunkan tentaraNya berupa rayap rayap untuk menghancurkan teror itu.

Apa yang dialami umat Islam saat ini akibat kezoliman rejim pemerintah, sungguh mirip dengan teror pemboikotan kaum kafir Quraisy itu.  Rejim ini sudah tidak tahu lagi, bagaimana ‘menghabisi’ umat Islam, bagaiman melemahkan kekuatan umat, bagaimana memadamkan cahaya Allah….
Berbagai upaya telah mereka lakukan, mulai dari pemihakan terhadap penista Al Quran, penekanan terhadap pelaksanaan dakwah di mesjid mesjid, sebaliknya, rejim malah menyuburkan komunisme, melindungi kaum sodom dan syiah.

Namun  ghirah umat ternyata semakin menyala.  Rasa cinta terhadap agama dus cinta terhadap negri ini, membuat umat Islam yang berada di pihak yang lemah, ternyata mampu tampil sebagai kekuatan yang solid, meraksasa [ meski sering dibully dengan sebutan : buih ] dan kuat.

Semakin ditekan, ternyata umat semakin tegar !

Dan persis seprti kaum kafir Quraisy, rejim pemerintah akhirnya menempuh sebuah jalan [terakhir] yakni : pengkriminalisasi ulama !

Satu persatu ulama ditangkap dengan berbagai tuduhan yang tidak masuk akal.  Dan alat kekuasaan negara yang seharusnya melindungi rakyat, seprti polisi dan media, digunakan secara brutal untuk menghancurkan umat.

Tapi percayalah, bagaimanapun kekuatan dajjal itu mencoba menghancurkan cahaya Islam, selama api iman tetap menyala dan umat tetap solid, maka kezoliman rejim ini akhirnya akan menemui kegagalan.

Persis seperti akhir kisah kehancuran kaum kafir Quraisy.  Karena Rasulullah dan para sahabat tetap istiqomah dna bersabar, maka pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak terduga.

Penangkapan ulama ulama, memang amat menyakitkan hati umat. Tapi bila umat tetap sabar dan tentu saja istiqomah, dan tetap bersatu, insyaAllah, pertolongan itu segera datang.  Yang jelas, umat jangan sampai terpancing melakukan tindakan melawan hukum.  Karena justru itulah yang dinanti nati rejim ini, sekali umat melakukan anrkisme, maka peluru akan segera menyalak menghabisi umat !  Tetap satu komando, yakni komando ulama yang berkumpul dalam GNPF MUI.

Semoga Allah segera turunkan tentara ‘rayap rayap’Nya, untuk menghancurkan rezim ini.  Dibulan Ramadhan penuh berkah ini, inilah saat yang tepat untuk memohon doa, mengetuk lagi pintu langit.  Agar pertolongan segera datang dan kebatilan segera lenyap.  Hanya kepadaNyalah, kita harapkan pertolongan.  Aamiin

Wallahu a’lam bil showab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..