Tuduhan syiah bahwasanya para sahabat enggan memenuhi perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menulis wasiat yang beliau perintahkan ketika sakit sebelum wafatnya dan karena kengganan mereka itu, Nabi mencela mereka.
Al kisah, menurut syiah, ketika para sahabat berkumpul di rumah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tiga hari sebelum beliau wafat. Dan Nabi memerintahkan mereka untuk menghadirkan pena dan tinta agar beliau menuliskan untuk mereka pesan agar terhindar dari kesesatan. Tetapi para sahabat berselisih. Di antara mereka ada yang tidak mematuhi perintah beliau. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam marah dan mengusir mereka dari rumah beliau tanpa menuliskan sesuatu pun untuk mereka.”
Kemudian dia menyebutkan perkataan yang panjang, diantaranya:

  • Perselisihan para sahabat menghalangi Rasulullah untuk menulis wasiat, karena itu, umat ini tidak selamat dari munculnya berbagai kesesatan. Berdasarkan perkataan Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma- :”sesungguhnya musibah di antara musibah adalah apa yang terjadi antara Rasulullah ketika ingin menuliskan wasiat kepada mereka (akan tetapi tidak jadi).”
  • Bahwasanya Syiah meyakini Rasulullah ingin menuliskan wasiat atas kekhilafahan Ali, kemudian dia (penulis) mengatakan bahwa pendapat inilah yang benar, dan tidak ada penafsiran yang masuk akal lainnya selain pendapat tersebut.
  • Bahwasanya orang yang menolak Rasulullah adalah Umar bin Khattab, dia berkata: “Sesungguhnya dia (Nabi) mengigau”, lalu berkata, “Kalian memiliki al-Qur’an, cukuplah bagi kita Kitabullah.” Tijani katakan bahwa tidak ada alasan yang tepat atas ucapan Umar yang mencegah Rasulullah berbicara karena beliau tak mampu mengangkat suaranya. Ia juga sebutkan bahwa ucapan Umar yang menurut Ahlus Sunnah sebagai bentuk rasa welas asih atas kondisi Rasulullah shallallahu alaihi waasallam tersebut tidak diterima oleh orang awam apalagi ulama.
  • Bahwasanya mayoritas para sahabat mengikuti perkataan Umar tersebut, dan karena itulah Rasulullah tidak jadi menulis wasiat. Karena beliau mengetahui bahwa mereka tidak akan mengikuti beliau setelah kematiannya kelak.
  • Bahwasanya para sahabat pada peristiwa ini meninggikan suara lalu mengatakan Rasulullah mengingau dan tidak sadarkan diri.

 

Sandaran Syiah adalah apa yang disebutkan dalam shahihain dan selainnya dari hadis Ibnu  Abbas radhiyallahu anhuma, dia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tiba dan di rumah beliau banyak orang berkumpul, Nabi bersabda, “Kemarilah aku tuliskan wasiat untuk kalian yang dengan itu kalian tidak akan tersesat setelahnya.” Berkata sebagian mereka, “Sesungguhnya Rasulullah sakit parah, dan kalian memiliki al-Qur’an, cukuplah bagi kita al-Qur’an (sebagai pedoman), kemudian berselisihlah orang-orang yang berada di dalam rumah, di antara mereka ada yang berkata, “Mendekatlah, beliau akan menuliskan wasiat untuk kalian, dengan wasiat itu kalian tidak akan tersesat setelahnya.” Dan di antara mereka ada yang mengatakan selainnya. Ketika kebanyakan mereka telah berselisih, Rasulullah bersabda, “Keluarlah kalian.”
Abdullah berkata: Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya musibah di antara musibah apa yang menghalangi Rasulullah untuk menuliskan wasiat kepada mereka karena perselisihan dan kegaduhan mereka.”[1]
Dalam riwayat yang lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Hari Kamis, apakah hari Kamis itu? Sakit Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam semakin keras. Beliau bersabda, ‘Hadirkan (para penulis) kepadaku, saya akan menulis wasiat untuk kalian. Kalian tidak akan tersesat selamanya setelah itu.’ Maka mereka pun berselisih paham, padahal tidak selayaknya berdebat di sisi nabi. Mereka berkata, ‘Bagaimana kondisi beliau, apakah beliau mengigau? Tanyakanlah kepada beliau.’ Maka mereka pun mendatangi untuk menanggapi beliau. Maka beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Tinggalkanlah saya, karena situasi saya lebih baik daripada apa yang kalian serukan kepadaku.’ Lalu beliau mewasiatkan tiga pesan. Beliau bersabda, ‘Keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab. Berikanlah hadiah kepada para delegasi yang datang seperti yang saya lakukan. ‘Lalu perawi tidak menyebutkan yang ketiga, atau dia berkata, ‘Aku lupa (yang ketiga).”[2]
Dalam hadits dan riwayat shahih di atas tidaklah bermakna celaan terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Adapun yang disebutkan oleh si Rafidhi ini (at-Tijani) berupa celaan maka hal itu adalah bathil dan rusak. Para ulama dahulu telah menjawab sebagian dari tuduhan itu. dan kepada pembaca sekalian, inilah bantahannya:
Perkataannya: bahwasanya para sahabat berselisih paham. Di antara mereka ada yang mengingkari perintah Rasulullah lalu beliau marah dan mengusir mereka dari rumah.
Kami katakan padanya: adapun perbedaaa para sahabat adalah memang demikian adanya, sebab ikhtilaf mereka adalah dalam memahami perkataan Rasulullah, dan hal itu bukanlah berarti mereka mengingkari (bermaksiat) seperti yang dituduhkan.
Berkata al Qurthubiy tentang sebab perselisihan mereka: “Sebabnya adalah mereka berijtihad, maksudnya adalah baik, dan setiap mujtahid adalah benar, atau salah satunya benar dan mujtahid yang salah tidaklah berdosa bahkan mendapatkan pahala seperti yang telah ditetapkan dalam ushul.”[3]
Kemudian disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidaklah menegur dan mencela mereka bahkan beliau berkata kepada mereka, “Tinggalkanlah saya, karena situasi saya lebih baik” hal ini mirip dengan apa yang terjadi pada perang ahzab ketika beliau bersabda kepada mereka, “Janganlah seorangpun di antara kalian melaksanakan shalat ashar kecuali setelah tiba di Bani Quraizhah”[4] kemudian orang-orang merasa takut karena waktu ashar akan lewat, maka shalatlah mereka sebelum tiba di Bani Quraizhah. Berkata sebagian yang lain, ‘Kami tidak akan shalat kecuali Rasulullah memerintahkan kami (shalat di Bani Quraizhah).’

Dan Rasulullah tidaklah mencela kedua belah pihak (karena perselisihan itu).[5]
Al-Mazariy telah menjelaskan tentang perselisihan ini, dia berkata: “Sesungguhnya boleh bagi para sahabat berselisih pada peristiwa ini (penulisan wasiat), dengan perintah Rasulullah yang jelas kepada mereka, karena perintah terkadang dibandingkan dari hal yang wajib, seakan-akan nampak bagi mereka indikasi, menunjukkan bahwa al-amr (perintah) tidaklah mutlak wajib, akan tetapi dengan ikhtiyar (memilih), karena itu para sahabat berikhtilaf dalam berijtihad. Dan umar memilih untuk tidak melaksanakan (perintah Nabi), ketika jelas olehnya indikasi bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata demikian dan tidak bermaksud mewajibkan. Kadang Rasulullah memerintahkan sesuatu yang harus ditunaikan melalui wahyu dan kadang dengan ijtihad. Dan Umar meninggalkan sesuatu karena larangan melalui wahyu atau jika tidak, dengan ijtihad (Rasulullah). Dan padanya pun terdapat alasan bagi yang memilih ijtihad dalam beberapa perkara syar’i.”[6]
Nampak jelas bahwa ikhtilaf para sahabat muncul dari ijtihad mereka dalam memahami perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Jika saja ulama ummat ini setelah mereka telah berselisih (ikhtilaf) dalam memahami nash dengan perselisihan yang besar dan dalam permasalahan yang banyak dalam perkataan yang berbeda-beda dan mereka tidaklah dicela karena hal tersebut karena ditolong oleh nash-nash yang membersihkan tuduhan (jarh) terhadap mereka, bahkan mereka mendapat pahala atas ijtihad mereka. Apapun yang terjadi, bagaimana mungkin para sahabat dicela karena perselisihan mereka dalam masalah juz’iyyah setelah Rasulullah memaafkan mereka dan tidak mencela seorang pun diantara mereka. Bahkan beliau memilih perkataan kelompok yang enggan dituliskan wasiat tersebut.
Adapun apa yang dituduhkan oleh si Rafidhi tentang ikhtilaf para sahabat, dan akibat tidak adanya penulisan wasiat dari Nabi kepada mereka, mengharamkan ummat ini dari kesucian dan seterusnya, hingga akhir perkataannya.
Bantahan atasnya telah dikemukakan sebelumnya secara rinci termasuk hal-hal yang bermanfaat dari pengulangannya disini.[7]
Adapun ketika mereka berdalil dengan perkataan Ibnu Abbas: “Sesungguhnya musibah di antara musibah adalah apa yang menghalangi Rasulullah untuk menuliskan wasiat kepada mereka.” Hal ini tidak bisa dijadikan argumen.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata yang artinya: “Hal yang menghalangi Rasulullullah menuliskan wasiat itulah musibah, yaitu musibah bagi orang yang ragu tentang kekhilafahan As-Siddiq (Abu Bakar), dan ragu tentang itu. Karena seandainya ada wasiat yang tertulis hilanglah keraguan itu, adapun orang yang mengetahui bahwa kekhilafahan Abu Bakar itu haq, maka tidak ada musibah baginya. Walillahil hamd.[8]
Dan diperjelas bahwa Ibnu Abbas mengatakan perkataan tersebut setelah munculnya ahlul ahwa dan bid’ah dari kalangan Khawarij dan Rafidhah. Perkataan ini dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[9]dan al-Hafizh Ibnu Hajar.[10]
Juga perkataan Ibnu Abbas ini dikatakannya sebagai bentuk ijtihad dari dirinya, dan ia bertentangan dengan perkataan dan ijtihad Umar. Sedangkan umar lebih faqih daripada Ibnu Abbas. Demikian yang dikatakan Ibnu Hajar.[11]
Aku katakan: bahkan ia bertentangan dengan perkataan Umar dan kelompok dari para sahabat. Seperti yang terdapat pada hadits. “kemudian orang-orang di dalam rumah berselisih dan saling berbantah-bantahan, di antara mereka ada yang mengatakan ‘mendekatlah, Nabi akan menuliskan kepada kalian pesan yang dengannya kalian tidak akan tersesat setelahnya’, diantara mereka mengatakan selain itu.”[12]

Perkataan ini didukung oleh persetujuan Nabi setelah itu untuk tidak menulis wasiat tersebut. Sesungguhnya, jika Nabi ingin menulis pesan, tidak seorang pun yang dapat melarang beliau. Dan diketahui bahwa beliau masih hidup beberapa hari setelah peristiwa itu sebagaimana hal ini disepakati oleh Ahlussunnah dan Syiah, akan tetapi beliau tidak menulis sesuatu apapun dalam rentang waktu tersebut.[13]
Adapun tuduhannya bahwa Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- ingin menulis wasiat mengenai kekhilafahan Ali –radhiyallahu anhu- sebagaimana yang dituduhkan oleh Rafidhah, mereka menganggap tidak ada penafsiran lain yang masuk akal selain penafsiran tersebut.
Jawaban atas tuduhan tersebut adalah bahwa perkataan rafidhah ini secara mutlak adalah dusta yang nyata.
Orang-orang Rafidhah (syiah) menganggap bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ingin mewasiatkan tentang kepemimpinan Ali, dan menjadikannya washiy (sang pemegang wasiat kepemimpinan) setelah beliau sesuai perintah Allah sebelum peristiwa penulisan wasiat tersebut. Padahal hal itu adalah perkataan yang berlebihan. Hingga mereka menganggap bahwasanya Nabi diangkat ke langit dunia sebanyak 120 kali, setiap kali diangkat ke langit beliau diwasiatkan tentang wilayah Ali (kepemimpinan Ali).
Tercantum dalam kitab Bashair ad-Darajaat karya ash-shaffar diriwayatkan dari Abu Abdillah bahwasanya ia berkata: “Nabi diangkat (dimi’rajkan) ke langit sebanyak 120 kali, tidaklah setiap kali ia ke langit, kecuali ia diwasiatkan mengenai wilayah/kepemimpinan Ali dan imamimam setelahnya lebih banyak dari pada wasiat tentang fara’idh.”[14]
Aqidah ini juga dinukil secara ijma oleh Syaikh mereka Syaikh al-Mufid dalam Maqalah-nya ketika berkata: “telah bersepakat al-Imamiyyah bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi mengangkat Amirul Mukminin (Ali) alaihis salam sebagai pemimpin semasa beliau hidup, dan mewasiatkannya dengan keimamahan setelah kematian beliau. Dan siapa yang menolak hal tersebut maka ia telah menolak kewajiban dalam agama ini.”[15]
Dengan ini, nampaklah kedustaan dan talbis orang ini (at-Tijani) dengan apa yang dituduhkannya: bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ingin menulis wasiat tentang kekhilafahan Ali. Perkataan ini kita kembalikan kepada Rafidhah. Dalam arti apa perkataan ini kepada mereka jika orang-orang Rafidhah meyakini bahwa nash tentang wilayah Ali dan kekhilafahannya telah datang dari Allah kepada Nabi-Nya lebih dari 120 kali, dan setiap kali beliau diangkat ke langit dikabarkan kepadanya mengenai wasiat tersebut. Kemudian Nabi menyampaikan kepada ummatnya tentang wasiat tersebut sebagaimana yang dituduhkan rafidhah dalam nash yang mutawatir sebelum peristiwa penulisan wasiat.
Mengenai hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah berkata -: “adalah kekeliruan (orang yang mengatakan) penulisan tersebut tentang kekhilafahan Ali, (orang mengatakan demikian) maka dia adalah sesat sesuai kesepakatan seluruh manusia, dari ulama Sunni maupun Syiah. Adapun ahlussunnah mereka bersepakat atas pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah dan mengedapankannya. Adapun syiah mengatakan bahwa Ali adalah lebih berhak terhadap keimamahan, mereka mengatakan: “sesungguhnya ia (Ali) telah ditetapkan tentang keimamahannya sebelum itu dengan wasiat yang jelas dan telah diketahui. Dan saat itu tidaklah dibutuhkan penulisan (mengenai imamah).[16]
Alaa kulli hal, sama saja, apakah perkataan ini benar dari sebagian Rafidhah ataupun hanya satu riwayat, yang jelas tidak ada yang shahih (dari perkataan mereka). Dimana hal ini tidak bisa menjadi dalil. Sesungguhnya ia dibangun di atas zhan (prasangka) dan kedustaan yang tidak berdasarkan dalil aql maupun naql (syariat). Bahkan dalil-dalil tentang hal sebaliknya seperti aqidah yang lain dari Rafidhah, dan atas asumsi keshahihan –yang sungguh tidak mungkin- maka hal itu bukanlah dalil bagi rafidhah. Bahkan ia menjadi dalil yang menyerang mereka dalam membantah tuduhan mereka tentang wasiat untuk Ali, dan ini sangat jelas.
Jika saja nabi menginginkan dari penulisan wasiat tersebut penetapan keimamahan Ali pada waktu akhir-akhir hayatnya, itu menunjukkan tidak adanya ketetapan atas kepemimpinan Ali sebelum itu. Dan juga penulisan wasiat untuk kekhilafahan Ali untuk kedua kalinya tak berguna lagi. Karena itu, jika Ahlus Sunnah dan Syiah sepakat bahwa Nabi tak menulis wasiat tersebut, batallah argumen orang yang mengatakan adanya wasiat khusus untuk Ali.
Diketahui bahwa ulama berselisih tentang maksud Nabi untuk menulis pesan tersebut. Sebagian mereka berpendapat bahwa Nabi ingin menulis pesan yang menetapkan atasnya hukum-hukum untuk menghilangkan perselisihan. Dinukil oleh An-nawawi dan Ibnu Hajar dari sebagian ahli ilmu.[17]
Disebutkan bahwa tujuan Nabi menulis pesan adalah penjelasan hal yang terjadi ketika terjadi fitnah. Disebutkan oleh al-Qurthubi dalam kemungkinan maksud dari penulisan pesan.[18]
Dikatakan bahwa tujuannya adalah penjelasan tentang pengaturan pemerintahan (kerajaan), yaitu mengeluarkan orang-orang musyrik dari jazirah Arab, penetapan utusan (delegasi) sesuai yang telah ditetapkan, dan pengutusan tentara Usamah. Hal ini dikatakan ad-Dahlawi[19] berdasarkan apa yang diwasiatkan Nabi dalam hadits Ibnu Abbas yang telah disebutkan di depan.[20]
Dan banyak pendapat ulama al-Muhaqqiqin: bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam ingin mewasiatkan tentang kepemimpinan Abi Bakar –radhiyallahu anhu- kemudian beliau meninggalkan keinginannya (untuk menulis pesan) bersandarkan atas apa yang beliau ketahui dari kehendak (taqdir) Allah Ta’ala.
Telah diceritakan perkataan ini Sufyan bin Uyainah dari ahlul ilmi sebelum dia[21], demikian juga al-Qurthubi[22], dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[23] dan as-Suwaidiy[24] dan al-Qadhi iyadh: bahwasanya pesan tersebut merupakan perintah tentang kepemimpinan dan penunjukan Abu Bakar.[25]
Telah berdalil orang yang mengatakan perkataan ini dari apa yang tertuang dalam shahihain dari hadits Aisyah –radhiyallahu anha- berkata: berkata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Datangkan padaku Abu Bakar dan saudaramu, aku akan menuliskan sebuah pesan, sesungguhnya aku takut bila setiap orang berangan-angan (menjadi khalifah) dan ada yang mengatakan: Aku lebih berhak, sementara Allah dan orang-orang beriman enggan kecuali Abu Bakar (yang menjadi khalifah).[26]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun kisah pesan yang ingin ditulis oleh Rasulullah, telah datang penjelasannya dalam shahihain dari Aisyah –radhiyallahu anha-[27], kemudian beliau mengutip hadits tadi.
Inilah perkataan-perkataan para ahlul ilmi yang kapabel, tidak adal satupun dari perkataan mereka yang mendukung pendapat Rafidhah, bahkan semuanya menunjukkan batilnya dua tuduhan mereka. bahwasanya yang dikemukaan oleh banyak ulama tentang tujuan pesan tersebut adalah tentang penunjukan kepemimpinan Abu Bakar, seperti yang ditunjukkan oleh hadits Aisyah dalam shahihain di atas dan hadits tersebut kuat. Wallahu a’lam.
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira’ati As- Samawi Adh-Dhaal. Hal 275-286
(Mahardy/lppimakassar.com)
[1] Riwayat Bukhari, Kitab al-Maghaziy, Bab Maradhi an-Nabiy shallallahu alaihi wa sallam, Fathul Bari 133/8, 4432. Dan Muslim Kitab al-Washiyah, Bab Man Taraka al-Washiyah, 1258/3, dan dalam riwayat Muslim bahwasanya yang mengatakan Rasulullah mengalami sakit parah, dan seterusnya adalah Umar radhiyallahu anhu.
[2] Riwayat Bukhari, Kitab al-Maghaziy, Bab Maradhi an-Nabiy shallallahu alaihi wa sallam, Fathul Bari 132/8, 4431. Dan Muslim, Kitab al-Washiyah, Bab Man Taraka al-Washiyah, 1257/3, 1637.
[3] Al-Qurtubi, al-mufhim limaa asykala min talkhish kitabi muslim, 559/4.
[4] Takhrijnya telah dikemukakan halaman 253
[5] Lihat al-Mufhim 559/4
[6] Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 8/134, sebagaiamana dinukil oleh an-Nawawi dalam sayarh lishahih Muslim 11/92, diantara mereka berdua ada sedikit ikhtilaf,
[7] Lihat: hal. 227 dan setelahnya.
[8] Minhaj as-Sunnah, 6/25.
[9] Lihat: Minhaj as-Sunnah, 6/316
[10] Lihat: Fath al-Bari, 1/209.
[11] Lihat: Fath al-Bari, 8/134.
[12] Takhrijnya halaman 277.
[13] Masalah ini telah dijelaskan di halaman 229.
[14] Bashair ad-Darajaat, h. 99.
[15] Awail al-Maqalat, h. 44.
[16] Minhaj as-Sunnah 6/25.
[17] Lihat: an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim 11/90, dan Fath al-Bari 1/209.
[18] Lihat: al-Mufhim 4/558.
[19] Lihat: mukhtashar at-tuhfah al-itsna asyariyah hal. 251.
[20] Lihat: hal. 277 dari kitab ini.
[21] Lihat: An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim 11/90.
[22] Lihat: al-Mufhim 4/558.
[23] Lihat: Minhaj as-Sunnah 6/23-24-316.
[24] Lihat: as-Sharim al-Hadid fi unuqi shahibi salasil al-Hadid (juz II) hal. 48.
[25] Lihat: asy-Syifa bi ta’rifi huquqi al-Musthafa shallallahu alaihi wa sallam 6/890.
[26] Riwayat ini dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya: kitab fadhail ash-Shahabah, Bab min fadhail Abi Bakr ash-Shiddiq, 4/1857, 2387, dan dikeluarkan hadits Bukhari –dengan perbedaan lafaz- dalam shahihnya; Kitab al-Ahkam, Bab al-istikhlaf, Fath al-Bari, 13/205, 7217.
[27] Minhaj as-Sunnah 6/23.