بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kitab Sunan An Nasa’i  adalah 1 dari 6  buah kitab induk Hadis dalam Islam [ Kutubus Sittah ] yang menjadi rujukan utama dalam hadits Rasulullah ﷺ.

Keenam kitab tersebut adalah :

  1. Kitab Shahih Bukhari, Kitab matan hadis paling utama, dan disusun oleh Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al Bukhari.
  2. Kitab Shahih Muslim. Kitab ini disusun oleh Abi al Husein Muslim bin al Hajjaj bin Muslim, merupakan kitab matan hadits kedua setelah Shahih Bukhari yang menjadi rujukan dalam hadits Rasulullah
  3. Kitab Sunan an Nasa’i atau disebut juga As Sunan As Sughra dihimpun oleh Imam Nasa’i
  4. Kitab Sunan Abu Dawud dihimpun oleh Imam Abu Dawud
  5. Kitab Sunan al Tirmidzi disusun oleh Abu Isa Muhammad bin Isa al Tirmidzi
  6. Kitab Sunan Ibnu Majah dihimpun oleh oleh Imam Majah atau Abu Abdillah bin Yazid al Qazwaini

Kitab Sunan An Nasa’i ini populer dengan nama Kitab As Sunan as Sughra ( السنن الصغرى ‎), juga dikenali sebagai Sunan al Nasa’i (سنن النسائي) atau Al Mujtaba (المجتبى).

Imam an-Nasai, nama aslinya Ahmad bin Syuaib an-Nasai. Nasa’ adalah nama kota kelahiran beliau, satu daerah di wilayah Khurasan. Beliau wafat tahun 303 H di Ramlah Palestina di usia 88 tahun.

Imam an-Nasai menulis kitab as Sunan al Kubro, mencakup hadishadis yang shahih, dan hadis bermasalah. Kemudian beliau ringkas dalam kitab as Sunan as Sughro, yang beliau beri nama ‘al Mujtaba’ [ المجتبى ]. Untuk kitab kedua ini, beliau hanya mengumpulkan hadishadis yang beliau anggap shahih. Kitab inilah yang kemudian sering dikenal dengan sunan an Nasai.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

و”المجتبى” أقل السنن حديثاً ضعيفاً، ورجلاً مجروحاً ودرجته بعد “الصحيحين”، فهو – من حيث الرجال – مقدم على “سنن أبي داود والترمذي”؛ لشدة تحري مؤلفه في الرجال، قال الحافظ ابن حجر رحمه الله: كم من رجل أخرج له أبو داود والترمذي تجنب النسائي إخراج حديثه، بل تجنب إخراج حديث جماعة في “الصحيحين”. اهـ.

Kitab al-Mujtaba adalah kitab sunan yang paling sedikit jumlah hadis dhaifnya dan paling sedikit perawi yang majruh (dinilai lemah). Derajatnya di bawah shahih Bukhari dan Muslim. Sehingga sunan ini, dilihat dari perawi-perawinya, lebih unggul dibandingkan sunan Abu Daud, dan Turmudzi. Karena penulis sangat ketat dalam memilih perawi hadis. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

‘Ada banyak perawi yang dicantumkan dalam kitab Abu Dawud dan Tirmudzi, namun dihindari oleh an Nasa’i dalam menyebutkan hadis. Bahkan beliau menghindari beberapa perawi yang ada di kitab shahih Bukhari dan Muslim.’ (Mustholah Hadis, hlm. 51).

Kitab ini berisi kumpulan hadis  [sekitar 5270 hadis] yang disebutkan oleh al Nasa’i,  tidak satupun hadis yang berasal dari orang yang ditolak periwayatannya oleh para ulama hadis dan tidak mempercayai periwayataanya. Hadis yang disebutkan juga merupakan ringkasan dan seleksi dari kitab al Sunan al Kubra, sehingga tidak terdapat hadis yang dhaif dan kalaupun ada itu jumlah sangat kecil dan jarang sekali.

Kitab Sunan al Nasa’i sederajat dengan Sunan Abu Dawud atau sekurang-kurangnya mendekati satu tingkatan kualitas yang sama dengan Sunan Abu Dawud, dikarenakan al Nasa’i sangat teliti dalam meriwayatkan dan menilai suatu hadis.

Hanya saja karena Abu Dawud lebih banyak perhatiannya kepada matanmatan hadis yang ada tambahannya, dan lebih terfokus pada hadishadis yang banyakdiperlukan oleh para fuqaha, maka Sunan Abu Dawud lebih diutamakan sedikit dari Sunan al-Nasa’i. Oleh karena itu, Sunan al-Nasa’i ditempatkan pada tingkatan kedua setelah Sunan Abu Dawud dalam deretan kitab-kitab hadis al-Sunan.

Metode Penyusunan dan Sistematika Kitab Sunan al Nasa’i

Dilihat dari namanya, maka kita akan segera tahu bahwa kitab hadis al-Nasa’i ini disusun berdasarkan metode sunan. Metode sunan adalah metode penyusunan kitab berdasarkan klasifikasi hukum Islam (abwab al-fiqhiyyah) dan hanya mencantumkan hadishadis yang bersumber dari Nabi saja (hadis marfu’). Bila terdapat hadishadis yang bersumber dari sahabat (mauquf) atau tabi’in (maqtu) maka relatif jumlahnya hanya sedikit. Metode yang digunakan menjadi sangat unik karena memadukan antara fiqih dengan kajian sanad. Hadis-hadisnya disusun berdasarkan bab fiqih dan untuk setiap babnya diberi judul yang kadang-kadang mencapai tingkat keunikan yang tinggi. Ia mengumpulkan sanadsanad hadis pada satu tempat.

Sistematika penyusunannya dengan lengkap sebagai berikut:

No. Nama Kitab Juz Hlm
– Al-Muqaddimah I 3
1 Al-Taharah I 12
2 Al-Miyah I 141
3 Al-Haid I 147
4 al-Ghusl wa al-Tayamum I 162
5 Al-Shalah I 178
6 Al-Mawaqit I 198
7 Al-Azan II 3
8 Al-Masajid II 26
9 Al-Qiblah II 47
10 Al-Imamah II 58
11 Al-Jum’ah III 71
12 Taqsir al-Shalah fi al-Safar III 95
13 Al-Kusuf III 101
14 Al-Istisqa’ III 125
15 Shalat al-Khusuf III 136
16 Salat al-‘Idain III 146
17 Qiyam al-Lail wa Tatawwu’ al-Nahr III 161
18 Al-Janaiz IV 3
19 Al-Siyam IV 97
20 Al-Zakah V 3
21 Manasik al-Hajj V 83
No. Nama Kitab Juz Hlm
22 Al-Jihad VI 3
23 Al-Nikah VI 44
24 Al-talaq VI 112
25 Al-Khail VI 178
26 Al-Ahbas VI 190
27 Al-Wasaya VI 198
28 Al-Nahl VI 216
29 Al-Hibah VI 220
30 Al-Ruqba VI 226
31 Al-Umra VI 228
32 Al-Aiman wa al-Nuzur wa al-Muzara’ah VII 3
33 ‘Asyrah al-Nisa VII 58
34 Tahrim al-Dam VII 70
35 Qism al-Fai VII 117
36 Al-Bai’ah VII 124
37 Al-Aqiqah VII 145
38 Al-Far wa al ‘Atirah VII 147
39 Al-Said wa al-Zaba Ibn Hajar al-‘Asqalani VII 158
40 Al-Dahaya VII 186
41 Al-Buyu’ VII 212
42 Al-Qasamah VIII 3
43 Qat’u al-Sariq VIII 57
44 Al-‘Aiman wa al-Syara’ VIII 86

Dari sistematika yang dipaparkan di atas, ada beberapa catatan dan komentar yang dapat diberikan mengenai susunan sistematika kitab al Sunan al Nasa’i di atas yaitu:

Dari kitab (bab) pertama sampai dengan ke 21, membahas tentang masalah thaharah dan salat. Jumlah kitab (bab) yang terbanyak adalah mengenai shalat.
Kitab (bab) puasa didahulukan daripada zakat.
Kitab (bab) qism al-fai’ (pembagian rampasan perang) diletakkan jauh dari kitab jihad.
Kitab al-khali juga diletakkan berjauhan dari kitab jihad.
Melakukan pemisahan-pemisahan di antara kitab-kitab (bab-bab) al-ahbass (wakaf), wasiat-wasiat, alnahl (pemberian kepada anak), al-hibah (pemberian), al-ruqbaa. Sedangkan kitab atau pembahasan mengenai fara’id tidak ada.
Melakukan pemisahan-pemisahan antara kitab al-asyribah (minuman), al-said (perburuan), al-zaba’ih (sembelihan hewan qurban), al-dahaya (kurban Idul Adha).
Kitab Iman diletakkan di bagian akhir.
Yang tidak termasuk hukum hanyalah kitab Iman dan kitab al-‘isti’azah.[7]

Syarah Sunan An-Nasa’i

Kitab Sunan an-Nasa’i tidak luput dari perhatian dan komentar dari para ulama hadis. Hal ini terbukti dengan banyaknya syarah dan penjelasan yang diberikan ulama hadis yang datang sesudah beliau. Hal ini membuktikan bahwa kitab Sunan An-Nasa’i ini mendapat respon positif dan begitu baik di kalangan ulama hadis, dan tidak pernah ada kitab hadis diberi syarah begitu banyakoleh ulama hadis seperti yang terjadi pada kitab Sunan An-Nasa’i. Di antara ulama yang memberikan syarah pada Sunan tersebut adalah:

Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuti
Penjelasan syarah ini sangat singkat, bahkan seperti catatan biasa. Syarah tersebut bernama Zuhar ar-Rubba’ ‘Ala al-Mujtaba’. Terbit di Janpur pada tahun 1847, di New Delhi pada tahun 1850 dan di Kairo diterbitkan dalam bentuk dua jilid pada tahun 1312 H. Kitab syarah ini memberikan penekanan pada aspek nama-nama rawi, penjelasan lafaz, kata-kata yang agak asing dan aneh, serta menyebutkan sebagian hukum-hukum dan etika yang tercakup oleh berbagai hadis nabi. Dikatakan bahwa syarah yang diberikan oleh As-Suyuti ini lebih dekat kepada apa yang dimaksud oleh al-Suyuti. Meskipun uraian kitab syarah ini sangat singkat namun sangat berguna.

Syaikh al-Allama Abul Hasan Muhammad bin Abdul Hadi al-Hanafi As-Sindi (w. 1138 H)
Ulama ini lahir di Madinah dan meninggal pada tahun 1138, terkenal dengan nama panggilan As-Sindi. Kitab syarahnya diberi judul “Hasyiyah Zahr al-Ruba’ ‘ala al-Mujtaba’. Syarah ini lebih sempurna daripada syarah Suyuti, karena di dalamnya terdapat pendapat hukum dari al-Sindi. Isinya hanya uraian singkat mengenai hal-hal yang sangat diperlukan oleh para pembaca seperti bahasa, i’rab, hadis garib dan lainnya.[8] Kitab syarah ini juga diterbitkan di India dan Cairo.

Syaikh al-Allamah Sirajudin Umar bin Ali bin al-Mulqin as-Syafi’i (w. 804 H)
Syarah yang ditulis oleh ulama ini hanya merupakan tambahan atas shahih Bukhari dan Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi. Syarah ini hanya satu jilid dan terletak bersama dengan syarah terhadap kitab al-Sahihain, Abu Dawud dan Turmudzi.

Sayyid Ali bin Sulaiman al-Bajma’wi
Syarahnya bernama ‘Urf Zahr al-Ruba’ ‘ala al-Mujtaba’.

[1] Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Surabaya: Pustaka Progressif, 1993), hlm. 92-93

[2] Software Lidwa Hadits 9 Imam

[3] Software Lidwa Hadits 9 Imam

[4] Software Lidwa Hadits 9 Imam

[5] Software Lidwa Hadits 9 Imam

[6] Afdawaiza, dkk, Studi Kitab Hadis (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2009), hlm.141-142
[7]Afdawaiza, dkk, Studi Kitab Hadis (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2009), hlm.144-145
[8] Abu Syuhbah, Kutubus Sittah (Surabaya: Pustaka Progressif, 1993), hlm. 96

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ