بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Meski perang Uhud menyisakan kepedihan mendalam pada umat muslim, tapi dari perang itu menyimpan banyak kisah berani dari para pahlawan pejuang Islam.

Tercatat dalam sejarah, beberapa kisah heroik dalam peristiwa perang Uhud, diantara kisah-kisah itu ada yang sudah dibawakan dalam edisi sebelumnya dan berikut ini adalah kisah-kisah lainnya :

1. Kisah Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu

Ketika Rasulullah ﷺ semakin terdesak, para shahabat yang menyadari bahaya yang sedang mengancam Rasulullah ﷺ berjuang habis-habisan demi menyelamatkan Rasulullah ﷺ . Tercatat dalam sejarah dengan tinta emas, perjuangan yang dilakukan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu anhu . Beliau Radhiyallahu anhu bertempur mempertaruhkan nyawa sampai telapak tangan yang beliau Radhiyallahu anhu pergunakan untuk membela Rasulullah ﷺ tidak bisa difungsikan lagi [HR Bukhâri, no. 3724] .

Thalhah inilah yang menyangga Rasulullah ﷺ supaya bisa naik ke bebatuan ketika Rasulullah ﷺ di kepung oleh pasukan Quraisy. Lalu Rasulullah ﷺ bersabda : Thalhah pasti masuk surga [HR Ibnu Ishaq dengan sanad yang hasan – Ibnu Hisyâm 3/126] .

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيْدٍ يَمْشِي عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ الله

Barangsiapa yang ingin melihat syahîd (orang yang mati syahîd) yang masih berjalan di muka bumi maka hendaklah dia melihat Thalhah bin Ubaidillah.”[

[Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahâdîtsish Shahihah, “Hadits ini diriwayatkan oleh al-Ashbahani dengan sanad shahîh karena memiliki beberapa riwayat pendukung.]

2. Kisah Sa’d bin Abi Waqqâsh Radhiyallahu anhu

Shahabat lain yang tidak tertinggal membela Rasulullah ﷺ adalah Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu . Rasulullah ﷺ sendiri yang mensuplay anak panah untuknya sambil bersabda, “Wahai Sa’d, ibu dan bapakku sebagai tebusan buatmu, panahilah (orang-orang kafir itu-red) !”

Sabda Rasulullah ﷺ yang dikhususkan kepadanya ini mengobarkan semangat tempur beliau sehingga terus bertempur tanpa mengenal lelah. Kemampuan Rasulullah ﷺ sebagai seorang yang ahli memanah dipergunakan untuk membela dan melindungi Rasulullah ﷺ .

3. Kisah Abu Thalhah al Anshari Radhiyallahu anhu

Abu Thalhah al-Anshari Radhiyallahu anhu termasuk diantara shahabat yang posisinya dekat dengan Rasulullah ﷺ disaat genting itu. Shahabat mulia yang nama aslinya adalah Zaid bin Sahl ini Radhiyallahu anhu juga seorang pemanah yang handal. Oleh karena itu, ketika ada seseorang yang lewat dengan membawa anah panah dengan wadahnya, Rasulullah ﷺ menyuruh orang itu untuk menyerahkannya ke Abu Thalhah.

Beliau Radhiyallahu anhu terus berjuang demi menyelamatkan Rasulullah ﷺ dari bahaya. ketika Rasulullah ﷺ hendak menantang bahaya karena ingin tahu keadaan musuh, Abu Thalhah Radhiyallahu anhu meminta kepada Rasulullah ﷺ untuk mengurungkan niat beliau ﷺ tersebut. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan : “Demi bapak dan ibuku, janganlah engkau keluar untuk melihat musuh ! (jika engkau lakukan itu-red) engkau akan terkena panah musuh. Leherku (Jiwaku) sebagai tebusan jiwamu.”[HR Bukhâri, al Fathh, 15/235-236, no. 4057]

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda tentang Abu Thalhah Radhiyallahu anhu , “Sesungguhnya suara Abu Thalhah di tengah pasukan itu lebih berat dari seratus pasukan bagi orang musyrik.”

[HR Ahmad, al Fathur Rabbâni, 22/589 dengan sanad (jalur periwayatan) orang-orang yang terpercaya. Lihat juga al-Wâqidi, 1/243 yang maknanya, “Suara Abu Thalhah di tengah pasukan itu lebih baik daripada emapat puluh personil pasukan.”]

Meskipun Rasulullah ﷺ dibela dan dilindungi mati-matian oleh beberapa shahabat, namun tetap saja beliau ﷺ tak luput dari serangan musuh. Beliau ﷺ menderita luka di wajah, bahkan menyebabkan gigi seri beliau ﷺ patah. Darah segar mengalir dari luka itu. Sambil mengusap darahnya, beliau ﷺ bersabda, “Bagaimana mungkin suatu kaum yang melukai wajah nabi mereka akan beruntung, sementara nabi mereka menyeru mereka kepada Islam.” Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan firmanNya dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 128 :

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka atau mengazdab mereka Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

4. Kisah Abdullah bin Jahsy

Sebelum peperangan berkecamuk, Abdullah bin Jahsy mengatakan, “Sesungguhnya aku bersumpah untuk bertemu dengan musuh. Jika aku bertemu mereka, aku berharap mereka agar membunuhku kemudian melubangi perutku serta memutilasiku. Jika aku bertemu denganMu (ya Allah) dan Engkau bertanya kepadaku, “Dalam rangka apa ini ?’ Maka aku akan menjawab, ‘Dalam (ragka membela agama)Mu.’ Ketika dia bertemu dengan para musuh Allah Azza wa Jalla di medan tempur, dia terus bertempur melawan musuh-musuh Allâh itu, sampai akhirnya di akhir peperangan para shahabat mendapatinya dalam kondisi yang diharapkannya.

[HR al Hakim 3/199 dari mursal Sa’îd bin al Musayyib. al Hâkim mengatakan, “Kalau bukan karena irsal ini, maka hadits ini shahih sesuai dengan syarat Bukhâri dan Muslim.” Dzahabi mengatakan, “Hadits ini termasuk mursal yang shahih.”]

5. Amr bin al Jamuh Radhiyallahu anhu

Amr bin al Jamuh Radhiyallahu anhu termasuk diantara para shahabat yang memiliki alasan yang dibenarkan syari’at untuk tidak ikut perang, karena beliau Radhiyallahu anhu pincang. Namun kondisi ini tidak mengurangi semangatnya untuk tetap iut berperang. Usaha anak-anaknya untuk menghalanginya pun tidak dipedulikannya. Akhirnya Rasulullah ﷺ meminta kerelaan anak-anak Amr bin al-Jamuh untuk membiarkannya ikut berjihad, kalau memang menginginkan mati syahid.

Amr Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ , “Bagaimana pendapatmu, jika aku meninggal hari ini, bisakah aku menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini ?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Ya.” Kemudian Amr Radhiyallahu anhu mengatakan, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan al-haq, insya Allah, saya benar-benar akan menginjakkan kakiku ini di surga hari ini.” Kemudian beliau Radhiyallahu anhu terjun ke medan tempur sampai akhirnya keinginan beliau Radhiyallahu anhu tercapai.

[Diriwayatkan oleh Ibnul Mubârak, Kitab al Jihâd, hlm. 69 dari mursal ‘Ikrimah dan diriwayatkanIbnu Ishâq dengan sanad yang terputus, Ibnu Hisyâm, 3/132. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan ringkas dalam Musnad beliau rahimahullah , 5/299 dari jalur periwayatan Ibnu Ishâq dan orang-orang yang membawakan riwayat ini adalah rijâlus shâhih (orang yang membawakan riwayat-riwayat shahih) kecuali Yahya bin Nash al-Anshâri. beliau in termasuk tsiqah (terpercaya) sebagaimana dalam al Majma’, 9/315. Jadi hadits ini shahih menurut jalur periwayatan Imam Ahmad]

6. Tsabit bin Waqsy dan al Yaman

Kedua shahabat ini termasuk yang sudah berusia udzur, sehingga mereka diidzinkan untuk tidak ikut perang dan tinggal bersama kaum wanita dan anak-anak di Madînah. Namun kerinduan mereka terhadap mati syahid membuat mereka enggan tinggal di Madînah. Keduanya menyusul kaum Muslimin dan terjun di medan tempur. Akhirnya, Tsabit bin Waqsy gugur sebagai syahid di tangan musuh-musuh Allah Azza wa Jalla , sementara al Yaman ayahanda Hudzaifah Radhiyallahu anhu mati syahîd, dibunuh pasukan kaum Muslimin karena mereka mengira beliau Radhiyallahu anhu adalah musuh.

Ketika perang telah usai, Rasulullah ﷺ hendak membayarkan diyat sebagai tebusan atas terbunuhnya al Yaman, namun putra beliau Radhiyallahu anhu Hudzaifah Radhiyallahu anhu enggan menerimanya dan menyedekahkannya untuk kepentiangan kaum Muslimin.[HR Ibnu Ishâq dengan sanad hasan, Ibnu Hisyâm, 3/128; al–Hâkim dalam al Mustadrak, 3/202 dan beliau rahimahullah menilai riwayat ini shahih dan ini disepakati oleh adz- Dzahabi, lihat, al Wâqidi, 1/232]

7. Hanzhalah bin ‘Aamir

Beliau adalah pengantin baru. Malam ketika panggilan perang di komandangkan, beliau Radhiyallahu anhu sedang bersama istri. Beliau Radhiyallahu anhu bergegas memenuhi panggilan tersebut tanpa sempat mandi junub terlebih dahulu. Ketika perang berkecamuk, beliau Radhiyallahu anhu maju berperang sampai akhirnya meninggal. Ketika Rasulullah ﷺ melihat jenazah beliau Radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, teman kalian ini sedang dimandikan oleh para malaikat.” Oleh karena itu, beliau digelari gasilul malaaikah (orang yang dimandikan oleh para malaikat) atau al gasil (orang yang dimandikan)

[HR Ibnu Ishaq ssecara mu’allaq- Ibnu Hisyam, 3/107-108 dan al-Hakim membawakan riwayat ini dengan sanad (jalur periwayatan) yang bersambung tanpa putus. Beliau rahimahullah menilai riwayat ini shahih dan ini disepakati oleh adz- Dzahabi. Syaikh al-Albani menilai riwayat ini hasan sebagaimana dalam Silsilatul Ahaditsis Shahihah, no. 326].

8. Amr bin Uqaisy Radhiyallahu anhu

Awalnya, beliau Radhiyallahu anhu termasuk orang yang sangat membenci Islam, sehingga meskipun semua kaumnya dari Bani Ashal sudah memeluk Islam, beliau Radhiyallahu anhu tetap dalam pendiriannya, tidak mau memeluk Islam. Ketika perang Uhud berkobar, dia mencari beberapa teman yang dikenalnya di tempat tinggal mereka, namun tidak dia tidak berhasil. karena para shahabat yang dicari semuanya ikut perang Uhud. Beliau Radhiyallahu anhu bergegas kembali ke rumah, mengenakan baju besinya lalu memacu kudanya ke arah bukit Uhud. Saat kaum Muslimin melihat kedatangannya, mereka serta merta menghalaunya, “Wahai Amr, menjauhlah dari kami!” Amr menjawab, “Aku telah beriman.” Beliau Radhiyallahu anhu terus maju ke medan tempur. Dalam pertempuran tersebut mengalami luka-luka. Ketika peperangan usai, para shahabat Rasulullah ﷺ mengantarkannya ke rumah keluarganya dalam keadaan tubuh penuh luka. Sa’d bin Mu’adz mendatanginya dan mengatakan kepada saudarinya :

سَلِيهِ حَمِيَّةً لِقَوْمِكَ أَوْ غَضَبًا لَهُمْ أَمْ غَضَبًا لِلَّهِ فَقَالَ بَلْ غَضَبًا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ

Tolong tanyakan kepadanya, (apakah dia melakukan ini) demi membela kaumnya, marah karena mereka ataukah marah karena Allah Azza wa Jalla ? Amr menjawab, “Marah karena Allah dan RasulNya.”

Akhirnya karena luka yang teramat parah, beliau Radhiyallahu anhu meninggal dan masuk surga, padahal beliau Radhiyallahu anhu belum pernah menunaikan shalat meskipun sekali.

[HR Ibnu Ishaaq dengan sanad hasan, Ibnu Hisyaam (3/131). Lihat al Ishaabah, 2/519 dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 2537; Juga diriwayatkan oleh al Hakim dan beliau rahimahullah menyatakan hadits ini shahih dan penilaian beliau ini dibenarkan oleh adz-Dzahabi. Syaikh al-Albani juga menilai hadits ini hasan, dalam shahih sunan Abi Daud]

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah diatas dan semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita untuk beramal sehingga menjadi penghuni surga. Aamiin

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ