Sesungguhnya kisah ini dimulai, dari niat serakah Yusuf Dzu Nuwas. Keserakahan yang kemudian merembet dan menjalar ke orang-orang disekitarnya dan terhenti dengan kengerian yang sangat. Tanpa ada seorangpun di bumi Bakkah yang mampu menduganya. Bahkan oleh seluruh manusia bumi di Jazirah.

Dzu Nuwas

Dzu Nuwas adalah seorang Yahudi, pejabat tinggi kerajaan Yaman yang beribukota Najran. Waktu itu sekitar  tahun 570 M. Alkisah, karena sang Raja adalah raja yang lemah, maka hal itu membangkitkan godaan kudeta dalam diri Yusuf Dzu Nuwas. Maklum saja, kerajaan Yaman pada saat itu, pun hingga kini, meliputi daerah subur dan penuh dengan pepohonan lebat.

Kendati daerah kekuasaannya tidak lebih besar dari kerajaan Ulwah, sebuah kerajaan Nasrani yang berdiri di sebelah barat diseberang Laut Qalzum* (Laut Merah kini), bahkan yang terkecil di Jazirah Arabia. Namun, Kerajaan Yaman punya daya tarik yang luarbiasa bagi para raja disekelilingnya ataupun mereka yang memiliki kekuatan tanpa singgasana. Seperti si Yahudi Yusuf Dzu Nuwas ini. Karena wilayahnya meliputi Najran, Shirwan, Shadah hingga sebuah bendungan raksasa yang kendati telah rusak berat diterjang air bah pada awal abad Masehi, bendungan Ma’rib masih menyisakan kekuatannya. Bendungan ini masih mampu menghidupi ribuan hektar setanggi milik petani. Mulai dari Ma’rib hingga Aden. Dan itu berarti berjarak hampir 100km. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kekuatan bendungan raksasa itu pada masa kejayaannya dulu.
Lewat sebuah kudeta yang cukup kejam namun cepat dan tepat, Yusuf Dzu Nuwas beserta pengikutnya ini berhasil memancung kepala sang Raja yang kebetulan pula tak memiliki keturunan. Sehingga semakin mudahlah jalan bagi Dzu Nuwas untuk menjadi Raja.

Sementara kepada para prajurit yang setia kepada sang raja, Dzu Nuwas membakar mereka hidup-hidup. Kebiadaban itu, ternyata tak berhenti sampai disitu.

Didorong oleh gila kekuasaan, kini Dzu Nuwas juga gila kepercayaan. Untuk itulah ia menginginkan seluruh penduduk Yaman, apapun kepercayaannya, agar berpindah memeluk agama Yahudi seperti dirinya. Karena ia menganggap, dengan banyaknya penduduk yang memeluk agama Yahudi, ia bisa mendapatkan dua kekuasaan sekaligus. Pertama sebagai raja, kedua sekaligus sebagai Rabi. Tak terbayangkan kekuasaan yang akan dinikmatinya bila ia berhasil menjadi Rabi Yahudi di Yaman ini. Ia bisa foya-foya di dunia tapi juga hidup bahagia di surga. Namun keinginan itu tidak berjalan dengan mulus.

Banyak rakyat yang membangkang, terutama mereka yang tetap teguh memeluk agama Nasrani. Terhadap mereka, Dzu Nuwas  punya jawaban tersendiri. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membangun ratusan tiang salib. Dan mereka yang tetap menolak, hidupnya akan berakhir disana. Belum puas, Dzu Nuwas  menambah siksaannya dengan membakar mereka hidup-hidup dengan memasukkannya ke dalam lubang besar.
Bau daging manusia terbakar, saat itu memenuhi jagat negeri Yaman. Pembantaian itu berlangsung selama satu minggu penuh. Tanpa menyisakan satu orang Nasranipun. Mereka semua habis terpanggang di tiang salib. Jerit tangis memilukan membuat siapapun yang punya nurani, akan bergetar hebat mendengarnya. Bau udara kota Najran, saat itu sungguh memuakkan.

Kebrutalan Dzu Nuwas, tersebar dengan cepat ke seantero jazirah. Saat itu, untuk menangkis segala kemungkinan buruk, kerajaan kerajaan di sekitar Yaman, mulai mempersiapkan diri. Baik kerajaan besar seperti Naubah, hingga kesultanan kecil seperti Baisyah. Mereka bersiaga penuh menghadapi kemungkinan Dzu Nuwas mengacau di negeri mereka. Karena bisa jadi usai ia ber’pestapora’ di Yaman, Dzu Nuwas akan melanjutkannya di negeri mereka. Untunglah Dzu Nuwas  masih cukup waras untuk tidak ikut mengobrak abrik negeri tetangga. Karena kalau itu juga dilakukan, Arabia akan terlibat perang besar yang mengerikan. Seluruh kerajaan akan ikut terseret perang agama  ini. Dan bau darah juga bisa ikut tercium sampai ke Yerusalem. Dimana perang sesungguhnya antara Nasrani dan Yahudi berlangsung, sejak abad pertama Masehi. Dan kalau itu sampai terjadi, orang-orang Pagan* (penyembah berhala) ini bisa jadi akan bersekutu dengan orang orang Nasrani. Dan itu sangat tidak diinginkan Dzu Nuwas . Jadi, kekejaman itu dibatasinya hanya di negeri Yaman.

Mengadu Ke Habasyah

Saat itu, kebetulan ada seorang Nasrani.penduduk Najran yang berhasil lolos dari pembantaian. Dengan menggunakan seluruh sisia kekuatannya, ia memacu kudanya dari Yaman hingga ke pelabuhan Al Makha. Tujuannya adalah menyebrangi Laut Qalzum untuk kemudian mendatangi Kerajaan Aksum.
Mencari pertolongan kepada sesama nasrani.

Nasrani ini tidak mungkin meminta pada orang-orang Quraisy atau negeri-negeri di Jazirah. Karena sebagian besar negeri-negeri ini kan penyembah berhala yang tidak terlalu suka dengan kaum Nasrani atau pun Yahudi. Karena menurut mereka suka sok tahu dan gemar menindas orang yang berstatus dibawah mereka. Hah, padahal para pemnyembah berhala itupun sama rendahnya. Kalau sudah menyangkut harta, mereka juga tak perduli lagi dengan sesama.

Bagaimana kalau pergi ke Yerusalem, disana ada Kerajaan Rum yang beragama Nasrani dan memiliki tentara yang lebih kuat dan hebat dibanding Najran?
Itu lebih tidakmungkin lagi……Kendati Kerajaan Rum adalah kerajaan Nasrani yagn kuat pada abad ke 6 ini, ia tak mungkin mengerahkan balatentaranya untuk menghadapi Dzu Nuwas si Yahudi itu.

Karena Yerusalem letaknya dijujung Jazirah utara sedagn Yaman di ujung lainnya (selatan). Bisa kau bayangkan berapa bulan perjalanan yang harus mereka tempuh. Bisa-bisa, ketika mereka tiba di Najran, seluruh penduduk pasti telah habis dijebloskan di dalam lobang pembantaian. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.

Jadi, memang lebih mungkin kalau orang Najran itu meminta bantuan kepada Kerajaan Habasyah yang sesama Nasrani. Lagipula, kedua kerajaan itu sesungguhnya juga telah lama menjalin hubungan yang erat. Bahkan sejak tigaratus tahun yang lalu. Ingat bahwa para pendeta Habasyah telah dikirim oleh rajanya ke Yaman untuk kegiatan misionaris. Itulah sebabnya Yaman yang semula penyembah berhala kini mereka menyembah Yesus Sang Mesias. Dan menjadikan Yaman sebagai Kerajaan Nasrani terbesar di benua Jazirah ini.
Kerajaan Yaman adalah sekutu seiman dari Kerajaan Habasyah itu sendiri. Pantaslah mereka lari ke sana untuk meminta pertolongan.

Sesampainya di Kerajaan Aksum

Singkat cerita, sampailah orang itu di Kerajaan Aksum yang terletak di Habasyah* (Dalam begerapa literatur sejarah, kerjaan ini di sebut juga Habsyi atau dalam bahasa kuno disebut Abysinia, karena memang Abysinia berasal dari kata habasyat yang berarti persekutuan. Moyangnya adalah keturunan koloni-koloni yang berasal dari Jazirah Arabia Selatan ( tepatnya dari Kerajaan Saba dengan Ratu mereka yang terkenal yaitu Ratu Bilqis. Kemudian setelah Saba runtuh muncullah Yaman dengan ibukota masih tetap di Najran ) dan telah membentuk kerajaan, sembari tetap mempertahankan persekutuan Habsyi-Himyar dengan Saba. Bahkan mereka dulu juga membayar upeti atau nags kepada Kerajaan Saba.

Dari kata inilah timbul kata negus dalam sejarah Etiopia modern. Dan rajanya sering disebut sang Negus (Nagus) atau sang pembayar pajak atau sering juga disebut sebagai Najasy untuk mengingatkan akan kota Najran tempat asal koloni di Jazirah Selatan. Semula mereka menghuni pesisir Laut Qalzum, mulai dari tanjung Guardafui sampai Sofara. Dan sejak 300 tahun belakangan ini (sekitar abad ke 3M) banyak berdatangan misionaris dari Yunani dan Byzantium ke benua Afrika, karena memang benua ini banyak berdiri Kerajaan Kerajaan besar seperti Ulwah, Maqrah, Naubah, Mesir dan Aksum ini sendiri. Tidak ketinggalan pula mereka datang ke Kerajaan Aksum dan menyebarkan agama Nasrani. Hasilnya, sejak itu raja raja Kerajaan Aksum menganut agama Nasrani yang disebarkan oleh minoritas Yunani dan Byzantium sehingga bahasa Yunani menjadi bahasa kedua setelah bahasa Arab. Pada kisah ini nama Raja Habsyi tidak diketahui dengan pasti. Tetapi sejarah mencatat bahwa pada masa Rasulullah Raja Habsyi itu bernama Ashhamah.)

Lalu berceritalah ia dengan sang raja, Negus (atau Najasy). Mendengar cerita orang itu, Negus menjadi sangat murka. Semangat Nasraninya muncul menggelegak. Negus kemudian memerintahkan panglimanya yang paling kuat dan berani, Abraha Ash-Shabbah Al-Habsy, untuk pergi ke Keraja an Yaman.  Dengan misi utama melancarkan pembalasan.

Abraha juga  sering  dipanggil dengan sebutan Abraha al-Ashram, karena ia berasal dari kota Ashram.

Dengan izin seperti itu, Abraha beserta pasukannya yang berjumlah ribuan itu segera menyebrangi Laut Qalzum* (kini bernama Laut Merah) dan mendarat di Al Makha.
Bagai Nufud yang membawa satu ton pasir dan menyebarnya keseantero jagat, Abraha dan pasukannya menumpas Dzu Nuwas dengan gagah berani. Hanya dengan satu kali sapu. Kemenangan mutlak langsung di raih Abraha Al Asram. Dzu Nuwas tewas mengenaskan diujung pedang Abraha.
Kini, setelah berbalik menjadi penguasa, penganut Nasrani itu pun bahkan melakukan hal yang sama dengan Dzu Nuwas. Alih alih merasakan kemaSarrajn karena kekejian Dzu Nuwas Abraha pun ternyata sama kejinya. Bahkan jauh lebih keji lagi.
Bagi seluruh penduduk Yaman yang beragama Yahudi, ia memaksa mereka untuk berganti agama. Yang menolak, langsung dibakar hidup-hidup. Dalam nyala api yang dijaga agar tak terlalu besar. Sehingga mereka mengalami saat saat kematian yang cukup lama. Sungguh drama maut yang amat brutal. Asap kematian sekali lagi mengepul di langit Yaman. Teriakan kesakitan membahana di seantero negeri. Air mata tumpah ruah disana. Sungguh sebuah pembalasan yang diluar batas. Tak seorangpun sanggup melalui tragedi keji itu.
Detik detik berjalan menjadi amat lambat, seakan tak ada akhirnya. Namun seluruh penduduk akhirnya bernapas lega ketika pembantaian itu berakhir juga. Kendati setelah semua Yahudi di negeri itu telah mati hangus, karena tak ada yang sempat melarikan diri. Para Yahudi itu semua telah mati terpanggang. Barulah kemudian Abraha menghentikan perbuatan gilanya. Kendati ia tetap menginginkan seluruh penduduk memeluk agama Nasrani. Sesuai dengan pesan Raja Nagus yang mengutusnya. Dan memang sesuai benar pilihan Nagus dalam mengutus  Abraha yang memiliki sifat gagah berani bahkan cenderung kasar dan kejam untuk menyelesaikan tugas ini.
Kini, panglima kejam itu menjadi penguasa baru di negeri Yaman. Ia bahkan mengangkat dirinya menjadi raja.
Untuk beberapa hari kemudian, keadaan menjadi tenang kembali. Penduduk sibuk melupakan peristiwa brutal yang berulang dan berulang lagi di negeri mereka. Sambil dalam hati berdoa bagi Para Dewa, mereka berharap musibah itu tak lagi datang.
Bagi Yahudi yang sudi mengganti agamanya agar tak ikut di panggang, hidup sebagai umat Nasrani adalah pilihan rasional sambil menunggu saat-saat pembalasan.


Sang Raja baru, Abraha, kini menikmati kedudukannya sebagai penguasa di negeri makmur itu. Setiap hari ia sibuk memperhatikan geliat rakyat negeri itu. Sembari menghitung besarnya kekayaan kerajaan barunya.
Setelah beberapa saat, sebuah pemandangan menarik, membetot matanya. Dari atas menara istana, sebuah kafilah cukup besar mnarik perhatian Abraha. Kafilah itu tengah bersiap-siap untuk berangkat.
“Apakah itu sebuah kafilah dagang, hai mentriku!” Tanya Abraha kepada salah seorang prajurit yang baru saja diangkatnya menjadi Mentri Upeti.
“Kurang tepat, Tuanku Raja Abraha” jawab mentrinya dengan hati-hati. Ia masih belum mengenal bagaimana sesungguhnya watak Abraha sebagai raja barunya. Apakah ia raja yang mudah tersinggung dan tak sabaran?
“Sesungguhnya mereka akan pergi haji, tapi memang sembari mereka pergi haji, biasanya mereka juga berdagang”
Abraha kendati adalah bekas Panglima Raja Negus, namun ia adalah seorang Nasrani dan kiprahnya sebagai abdi kerajaan, sesungguhnya masih terbilang baru. Usianya masih sangat muda ketika Negus terpikat dengan ketangguhan dan keberaniannya. Jadi, ketika mentrinya berkata mereka akan pergi haji, Abraha luar biasa bingungnya.
“Pergi haji? Apa maksudnya itu? Dan kemana mereka pergi hajinya?”
Haji adalah ritual keagamaan dimana mereka berlari-lari mengelilingi Kabah, rumah Tuhan Tuhan mereka, sambil mengucapkan sejumlah doa doa. Setelah itu mereka akan menyembah berhala mereka masing-masing yang banyak bertebaran di dalam maupun di luar rumah tuhan  atau Baitullah atau yang sering mereka sebut Kabah. Dalam satu tahun, satu kali mereka beribadah di Kabah, pada bukan  Zulhijjah. Itulah yang disebut pergi haji”
“Dimana Baitullah itu, hai mentri?!”
Cukup terkejut juga si mentri mendapat pertanyaan seperti itu. Karena, bisa jadi ada orang yang tidak tahu apa itu pergi haji, tapi hampir semua orang di Jazirah dan sekitarnya tahu tentang Kabah serta dimana letak Kabah itu. Bahkan Kerjaan Persia, Kerajaan Romawi Timur di Bizantium hingga Kerjaan Romawi Barat di Konstantinopel. Semua mengenal Bakkah sebagai kota tempat berdirinya Kabah yang terkenal itu.
Bakkah, tuanku” jawab si mentri pendek. Ia tidak ingin mendapat pertanyaan konyol lebih lanjut. Tapi, Abraha rupanya masih punya segudang pertanyaan yang harus siap untuk dijawab para abdinya.
Abraha termenung sejenak. Ia melihat kafilah itu begitu sibuk mempersiapkan diri. Jelas mereka lelah. Namun kerinduan dus kegaiSarrajn memancar begitu terang dalam wajah-wajah mereka.
Kabah……Kabah………Rumah Tuhan…….!” Abraha mendesis sendiri. Ia berdiri diam kembali. Matanya terus melihat kebawah. Memperhatikan rakyatnya yang akan pergi haji. Nalurinya membisikkan sesuatu bahwa Kabah , yang dianggap sebagai rumah Tuhan-Tuhan mereka, adalah sebuah rumah ibadah yang sangat sangat penting. Sehingga siapapun yang bisa menguasai Kabah, ia akan bisa menguasai Jazirah ini. Ah, itu sebuah impian yang sangat menggiurkan! Menjadi Maharaja di Jazirah Arabia! Bayangkan itu! Dan Abraha semakin tertarik untuk bertanya-tanya lebih jauh.
“Megahkah rumah tuhan mereka itu? Lebih bagus mana dengan Gereja yang dibangun Negus di Habasyah?”
“Ampun, tuanku. Hamba belum pernah melihat Gereja Raja Negus. Tapi perkiraan hamba, gereja itu pasti jauh lebih bagus dan baik dibandingkan Kabah yang Cuma sebuah bangunan persegi yang terbuat dari batu-batu tua”
Abraha terpengarah.
“Batu? Jadi, Kabah itu hanya terbuat dari batu? Tidak ada unsur lainnya?”
”Betul sekali, tuan. Dulu sekali, Kabah itu dibangun Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail untuk tempat mereka bersembahyang” Sang mentri bercerita pada bagian ”putranya Ismail” dengan agak hati-hati. Karena kendati Abraha beragama Nasrani, ia tidak tahu pasti apakah nasrani yang satu ini tidak tersinggung bila disebutkan bahwa Ibrahim yang membangun Kabah bersama putranya Ismail. Tidak seperti orang Yahudi yang selalu membantah dengan sengit keberadaan Kabah ini. Apalagi bila disebut Kabah adalah rumah tuhan yang dibangun oleh Ibrahim dan Ismail. Menurut orang Yahudi, Kabah hanyalah permainan orang-orang Jazirah dan bukan rumah tuhan betulan. Kalaupun Ibrahim membangun Kabah, maka itu pasti dilakukannya bersama putranya Ishak. Dan bukan Ismail.
Abraha mengangguk-anggukan kepalanya. Nalurinya menyala semakin kuat
“Berapa banyak mereka yang akan pergi haji, hai mentri. Dan …………., apa agama mereka?”
Pertanyaan Abraha tentang agama, benar-benar menunjukkan bahwa ia masih sangat hijau dalam hal ini. Bisa dimengerti, karena usianya pada saat itu masih belia ketika ia ditangani oleh para pendeta kerajaan Habasyah, sehingga pengetahuannya akan agama-agama di jazirah Arabia ini, tergolong nol besar.
“Mereka biasanya pergi dalam beberapa kafilah. Bila dihitung-hitung jumlah mereka sekitar 500 orang, tuanku. Dan mereka tentu saja penyembah berhala. Berhala-berhala itu ada yang mereka simpan di Kabah, selain mereka taruh juga di rumah-rumah mereka. Karena setiap orang menaruh tuhan-tuhan mereka di dalam Baitullah maka jumlah berhala yang tersimpan disana konon berjumlah 367 berhala yang berasal dari seluruh kabilah dan suku di jazirah Arabia ini. Dan bila musim haji tiba, ratusan penyembah berhala, dari seluruh pelosok Arabia, bahkan dari negeri yang jauh sekalipun seperti Balka* di Syam, (dari kota itulah pertamakali berhala-berhala di Mekah berdatangan) akan berkumpul di Bakkah untuk melaksanakan haji.
sanalah berhala berkumpul disana untuk bersembahyang”
Hai bodoh, semua tuhan yang disembah di Jazirah ini pasti ada disana. Bahkan tuhanmu Yesus pun tersijmpan di Kabah dalam bentuk patung! Juga Bunda Maria, bahkan patung anak sapi yang jadi legenda orang Yahudi pun, banyak terdapat di Kabah. Kalau kau mau, kau juga bisa ikut sembahyang di sana! Rutuk sang mentri dengan hati kesal. Keawaman Abraha, terlihat sangat menyebalkan. Karena jelas sekali dari raut wajah Abraha betapa ia meremehkan para penyembah berhala itu. Bibirnya membentuk senyum sinis yang menyebalkan.
Kini Abraha melihat rombongan mulai bergerak maju.
Abraha berpaling melihat sang mentrinya.
Baitullah, jelaskan padaku lebih banyak lagi!”
“Seperti yang sudah saya jelaskan, tuanku, Baitullah adalah bangungan peribadatan dari batu yang berbentuk persegi. Mereka menyebutnya Baitullah atau rumah Allah. Namun sering juga mereka menyebutnya Kabah. Konon, bangunan itu didirikan oleh seorang Nabi yang bernama Ibrahim dan anaknya, Ismail. Semula, sepengetahuan saya tuanku, mohon ampun, Ibrahim dan Ismail mendirikan Kabah semata-mata untuk menyembah hanya kepada Allah. Itulah yang disebut agama Ibrahim. Sebuah agama yang lurus dan bertauhid. Mohon ampun, tuanku….” Si mentri itu buru-buru menyembah Abraha. Karena ia kuatir akan kemarahan  Abraha ketika menyebut agama Ibrahim sebagai agama yang lurus dan bertauhid. Tapi, begitulah yang diyakininya.
Abraha tak memperhatikan ketakutan itu. Ia sibuk bertanya-tanya dalam hati akan hal Kabah ini.
“Lanjutkan ceritamu, hai mentri!”
Mentri itu buru buru melanjutkan ceritanya.
“Namun setelah berabad-abad, orang-orang Arab itu membawa bermacam-macam berhala ke dalam Kabah untuk disembahnya. Hal itu berlangsung hingga kini.”
Abraha menyipitkan matanya. Rombongan yang cukup besar itu mulai bergerak meninggalkan gerbang kerajaan. Meninggalkan dadanya yang berdebar-debar. Dan hatinya yang gusar. Entah kenapa.
“Kafilah itu begitu panjang dan besar. Barang bawaan mereka amatlah banyak”
”Ya, karena memang mereka membawa juga barang dagangan, tuanku. Karena selain pergi haji, mereka juga ikut berdagang di pasar Bakkah yang terkenal ramai dan besar”
”Ah, berdagang……….Aku bisa membayangkan bagaimana sibuknya pasar itu. Ia menerima pedagang dan penjiarah dari seluruh pelosok Jazirah. Sebuah kegiatan yang luar biasa hebatnya”
kini Abraha mondar-mandir di sekeliling menaranya.
“Sebenarnya, seberapa banyak penyembah berhala di negeri Yaman ini?”
“Jika tuanku jeli, jumlah mereka sesungguhnya hampir mencapai setengah dari penduduk ini”
Kedua alis Abraha kini menyatu. Ia cukup terkejut dengna kenyataan ini. Kini ia betul-betul menyadari kalau jumlah itu cukup besar. Sapujagat yang ia lancarkan di awal penyerbuan, masih belum cukup untuk mnegkristenkan mereka. Ah, ini memang negeri para berhala! Jika di Yaman saja jumlah mereka cukup besar, bisa dibayangkan bila digabung dengan jumjlah di negeri lainnya. Dan itu berarti, dalam musim haji, negeri-negeri di seantero Arabia ini akan sedikit lengang karena penduduknya banyak yang pergi haji. Dan mereka semua berkumpul di Kabah! Di Bakkah! Semacam perasaan iri menyeruak dengan deras di dadanya. Mengapa orang-orang nasrani menjadi tak lebih tolol dibanding penyembah berhala ini? Mereka sibuk bertengkar tentang siapa itu Tuhan anak dan siapa Tuhan bapak!! Sementara para penyembah berhala ini telah meraup jutaan sesterses dari kebodohan mereka lewat perdagangan di Bakkah! Tapi kendati sama dungunya, orang-orang Nasrani tak mendapat apa-apa. Cuma peti mati Yesus yang hingga kinpun keberadaannya masih tak tentu. Sungguh menyedihkan.
“Panggilkan Pamen* (tukang gambar istana). Suruh dia menghadapku di balairung. Jangan lupa Panglimaku. Cepaaat!”
Abraha bergegas turun ke bawah, memasuki ruangan besar dan luas yang ia sebut balairung. Ditengahnya ada sebuah maja panjang dan besar. Abraha mengambil selembar papyrus dan sebatang pena dari kayu dildo pipih dan kecil. Ia menggambar sesuatu. Lalu masuklah si mentri, Pamen dan Yazid, Panglima Kerajaan Yaman. Mereka masuk dengan patuh tanpa berkata sepatah pun. Kini mereka semua mengelilingi meja panjang itu.
“Seperti inikah Kabah?” tanya Abraha.
Sang Pamen mengamati. Dari pandangan sekilasnya, ia tahu Abraha salah menggambar Kabah. Lalu ia mengambil pena dan lembaran papyrus baru dan sibuk mencoret-coret Sesuatu di situ. Cuma sebentar, lalu diberikannya papyrus itu kepada sang Raja Baru.
Abraha membelalakkan mata.
“Kotak seperti ini mereka sebut rumah tuhan? Mereka datangi tiap tahun meski dari tempat yang jauh-jauh?”
Pamen itu tersenyum. Jelas, raja ini tak tahu apa-apa. Ia raja yang bodoh.
“Jangan lupa, tuanku. Kotak itu terbuat dari batu dan umurnya telah ratusan tahun”
“Aku tahu itu” jawab Abraha sedikit tersinggung.
“Tapi mestinya kotak itu hanya menjadi tempat berkumpulnya babi-babi dan bukan manusia! Pasti tempatnya bau dan kotor! Huh!”
Tak ada yang berani membantah hinaan Abraha. Mereka semua terdiam.
“Aku tidak suka dengan kenyataan ini”
Hening kemudian.
”Sejak kapan para penyembah berhala itu mengadakan ritual haji?”
Pertanyaan sederhana Abraha sungguh mengejutkan. Tak ada seorangpun di balairung itu yagn sempat memikirkan bahwa Abraha akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Sejak kapan? Siapa yang bisa menjawabnya?
”Kalian tak bisa menjawabnya hah!! Padahal kalian sesungguhnya adalah para penyembah berhala sebelum aku paksa kalian untuk menjadi gembala-gembala Yesus!”
Hardik Abraha keras.
Para mentri, panglima dan pamen semua tersentak kaget. Mereka semakin terdiam karena bentakkan itu. Karena tak ada yang bisa menjawabnya.
”Hm…………., kalian tak tahu ya. Lalu, apa yang kalian ketahui tentang ritual haji ini. Raja mana yang menyuruh mereka untuk berhaji di Kabah? Apakah itu Raja di Bakkah sendiri? Atau ini sekedar konsensus antar penguasa penyembah berhala itu?”
”Tidak tuan,” kali ini Yazid, Panglima Kerajaan terburu-buru menjawab . Ia kuatir Abraha bisa-bisa meledak kemaSarrajnnya akibat pertanyaan yagn tak mampu dijawab anak buahnya. Untung kali ini pertanyaan itu cukup mudah.
”Perintah berhaji ini konon datang dari Tuhannya Ibrahim sendiri. Sebuah perintah agama untuk dilaksanakan umatnya satu tahun satu kali. Jadi, ini tidak ada hubungannya dengan kekuasaan” kali ini si Panglima.
”Hm…….., tak ada hubungannya ya. Lalu, kenapa Kabah itu berdiri di Hijaz, dan bukannya di Najran atau Shana’a atau malah bukannya di Aksum atau di Yerusalem?! Kenapa!!!”
Semakin gemetarlah hati para bawahan Abraha itu mendapat pertanyaan yang sedemikian muskil untuk ditemukan jawabannya. Pun oleh ahli agama sekalipun. Sebab, siapa yang tahu alasannya mengapa Kabah berdiri di Hijaz atau tepatnya di Bakkah dan bukannya di Syam? Kenapa?
Ini seperti mempertanyakan kenapa gurun itu ada di Jazirah dan bukannya di Konstantinopel?! Atau mengapa unta tak punya sayap?
”Aku tak percaya sama sekali ini tak ada hubungannya dengan kekuasaan. Sepanjang ada orang Arab disana, maka bisa dipastikan ada uang yang mengalir. Aku tahu itu…..”
Abraha terdiam sejenak. Ia kelihatan sibuk berpikir tentang masalah ini. Ya, bisa diduga bila Abraha berpikir pendek seperti itu. Pada masa abad ke 6M seperti itu, permusuhan anatar orang-orang Jazirah yang sering disebut sebagai orang Arabia dengan orang-orang dari Kerajaan di benua Afrika adalh seperti tidak mungkin bersatunya bunga Dandelion dengan kumpulna kutu pemangsa
Akhirnya Abraha menunjuk pada panglima kerajaannya. Dan berkata sesuatu.
”Siapkan rombongan kafilah kecil yang tidak mencolok. Aku akan ikut dalam kafilah haji mereka”
Orang-orang terbelalak mendengar gagasan yang tak disangka-sangka itu. Nasrani bodoh dan kejam ini ingin ikut berhaji? Mau apa dia di sana?
”Apakah kita juga akan membawa perlengkapan perang, tuanku?!” tanya si panglima.
”Seperlunya saja. Karena aku hanya akan melihat-lihat”
Oh, kalau begitu sesungguhnya dia adalah raja yang licik dan cerdas! Semoga para Dewa melindungi kami semua dari kekejiaannya!

(dan Abil, dia benar-benar pergi ke Kabah hanya untuk melihat-lihat?
Ah, tentu saja tidak begitu. Dengan melihat langsung Kabah itu sendiri, Abraha bisa memperkirakan langkah selanjutnya dengan jitu dan cepat. Berbeda kalau ia hanya mengandalkan dari penjelasan para mentrinya. Ingat, ia adalah seorang Panglima perang yang sangat memahamii teknik menguasai lawan.
Oh ya, teknik apa itu?
Kenali lawanmu………
Oh ya, sebuah keharusan yang terkadang disepelekan begitu saja karena dianggap membuang-buang waktu. Jadi itu ya alasannya mengapa Abraha ingin melihat Kabah dengan mata kepalanya sendiri.
Abraha adalah raja yang kuat dan berhati dingin. Ia juga penuh ambisi bahkan serakah. Jadi, sebelumia memastikan langkah selanjutnya, ia harus tahu dulu apa yang akan ia pertaruhkan ini. Apa yang sedang diperebutkannya ini. Dan apakah semua itu bernilai dan sebanding dengan pengorbanannya itu. Untuk itu ia selalu mengandalkan analisisnya sendiri. Ia tak pernah mempercayai siapapun dalam memutuskan sesuatu. Tapi, ia mendengar bila Shanubi berbicara.
Siapa Shanubi?
Kasim yang ia pelihara sejak bocah. Entah dapat darimana Abraha itu. Tak ada yang tahu. Tapi kemungkinan besar Shanubi adalah kasim yang didapatkan Abraha dari pasar-pasar budak di Mesir. Disana, pasar budaknya terkenal seantero gurun karena lengkap sekali budak-budak yang dijual. Dan Abraha, bukan rahasia lagi, pernah berprofesi sebagai pedagang budak selagi ia dalam pendidikan kependetaan di Habasyah. Jadi, tak ada yang aneh bila ia bisa mendapatkan Shanubi di sana. Lagipula, darimanapun asal budak, bisa kita dapatkan di pasar budak Mesir. Ada yang dari suku-suku pedalaman, dari pelosok Mesir sendiri, Habasyah, Ulwah hinga budak dari Hadramaut bahkan budak Persia sendiri pun ada disana. Semua lengkap tersedia. Dari yang usianya anak-anak,hingga kakek nenek yang puya keahlian mencelup* (membuat kain baju).Kendati tentu saja masih kalah besar dibanding pasar budak di Ghauthah* (sebuah kota dibawah kekuasaan Romawi Timur, dekat Damaskus) Jadi, orang menduga kalau Shanubi dibeli Abraha di pasar budak di Mesir. Bisa dibilang, Shanubi adalah pendamping Abraha yagn paling disayanginya. Kendati orang sering juga melihat Abraha tak segan-segan memukul Shanubi bila laki-laki muda itu berbuat kesalahan.
Hm…….., benar-benar tipe raja yang kejam, ambisius dan kuat. Lalu, apa yang dilihatnya di Mekah itu?
Ha ha ha…….Disana ia melihat Abu Righal!
Ah, maksudmu apa Abu Righal ini juga seorang budak?
Tidak, bukan begitu. Maksudku, yang terpenting dari kunjungannya ke Kabah, sesungguhnya adalah pertemuannya dengan Abu Righal. Kau tahu, Abu Righal inilah sebenarnya tokoh kunci dari peristiwa penyerangan pasukan gajah ini.
Maksudmu, Abu Righal adalah tokoh dibalik peristiwa itu?
Tepat sekali.
Aku ingin tahu, selain Shanubi, dengan siapa saja Abraha pergi ke Kabah?
Bertiga. Abraha, Shanubi dan Azib. Azib adalah seorang pencari jejak dari suku Badui pedalaman yang dikenal Shanubi di pasar Najran yang memang banyak juga didatangi orang-orang Bakkah atau Jazirah Selatan. Entah bagaimana cerita tentagn keduannya. Yang jelas, akhirnya Azib disewa Abraha atas saran Shanubi. Sebuah keputusan yang tepat sekali. Karena badui gurun ini memang seorang Passava alami. Lagipula, Azib mengenal Kabah sama baiknya dengan ia mengenal desa kelahirannya. Jadi, kendati cuma bertiga, Abraha tak takut bakal tersesat dalam perjalanannya ke Bakkah. Soal keamanan, diri Abraha sendiri pun sudah cukup untuk mempu menghalau semua rintanga yagn terjadi selama dalam perjalanan.

Satu bulan setelah kepergian diam-diam Abraha ke Kabah. Ruangan Balairung Istana Kerajaan Yaman itu terasa tegang. Para mentri kerajaan yang semuanya berjumlah 10 orang, ditambah dengan Yazid sang Panglima Kerajaan dan 3 orang Pendeta Penasehat Kerajaan tengah berkumpul di ruangan besar itu dengan duduk membisu. Mereka diliputi suasana penuh dugaan yang menakutkan. Yang sebentar lagi akan disuarakan Abraha, raja mereka.
”Hari ini aku akan memaparkan rencana besarku untuk membuat Yaman menjadi kerajaan hebat, kuat dan ditakuti oleh seluruh orang Arab di Jazirah ini” Abraha berkata dengan suara dalam dan wajah penuh keyakinan. Ia berdiri dengan sikap tegap dan kedua belah tangannya tersampir di pinggang. Wajahnya betul-betul menampakkan keyakinan bahkan kepuasan yang sangat. Senyumnya lebar sekali. Sejenak, pada sepuluh benak mentrinya, terlintas kengerian yang meluluh lantakkan sendi-sendi mereka. Mereka ingat, beginilah sikap Abraha ketika ia membakar habis para penganut Yahudi di Najran dalam sebuah lobang yang panjang. Senyum buas yang memancarkan kepuasaan iblis. Membunuhi penduduk tanpa belas kasih sedikitpun. Hanya karena mereka enggan mengakui bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Tapi merutuk habis Abraha pun tak terlalu benar, karena sebelumnya, Dzu Nuwas juga telah menyalib para penganut Nasrani ketika mereka tak mau berpindha agama menjadi Yahudi. Para mentri itu kuatir, kekejaman itu bakal terulang lagi setelah melihat raut Abraha yang segera emngingatkan mereka akan peristiwa derita itu. Tapi syukurlah, kata-kata Abraha berikutnya melenyapkan ketakutan mereka.
”Setelah kunjunganku ke Bakkah, aku kini menjadi paham mengapa Yaman tak mampu berkembang lebih pesat dari seharusnya. Mengapa kerajaan ini tak bisa menjadi Kerjaan yang hebat, seperti masa Ratu Bilqis dahulu. Padahal kita memiliki perkebunan paling subur dan panen yang selalu melimpah. Kita juga memiliki bendungan besar yang hebat, kendati bendungan itu tinggal sisa-sisa saja. Tapi kehebatan bendungan itu, masih bisa kita rasakan sampai saat ini. Hah! Yaman tak akan pernah bisa mengulangi masa keemasan Saba’, bila yang satu ini tidak segera kita selesaikan masalahnya!”
Sampai detik ini, tak ada satupun yang berani memberi komentar. Tidak juga Pendeta Penasehat. Mereka bertiga pura-pura menyimak dengan serius kata-kata Abraha. Sembari hati mereka mengira-ngira. Masalah apa yang harus diselesaikan agar Yaman bisa menjadi kerajaan yang besar dan hebat. Yasidpun masih menahan diri untuk tidak berkomentar apa-apa.
”Aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri, mengapa Bakkah bisa berkembang lebih hebat dari Yaman. Bahkan melampui Aksum sekalipun, Mengapa kerajaan-kerjaan disekitar Bakkah juga bisa ikut berkembang pesat. Atau bahkan mengapa Rum dan Persia masih bisa berdiri hingga kini. Kalian tahu mengapa?”
Semua bawahan Abraha itu tak ada yang berani menganggukkan kepala. Mereka semua memasang wajah bodoh seakan-akan kanak-kanak yang sedang ditanya, mana tangan kananmu dan mana tangan kirimu. Sampai disini, Yazid mulai menduga-duga apa yang akan menjadi kelanjutannya. Aku telah mendengar desas desus itu. Benarkah Abu Righal telah mendapatkan umpan yang tepat?
”Aku telah menyaksikan bahwa penyebab semua itu adalah karena sebuah bangunan batu yang kumuh dan bau, yang mereka puja-puja sebagai rumah tuhan!”
Kali ini Abraha berkata dengan keras. Seakan melontarkan pula kekesalan hatinya.
Kabah telah menjadikan negeri-negeri itu kaya dan berkuasa! Kini, sudah saatnyalah kita membalikkan keadaan! Kita harus bisa menandingi Kabah! Kita harus melebihi Bakkah!!”
Kini seruan tak percaya terlontar begitu saja tanpa bisa ditahan. Ah, apa maksudnya Abraha kini?
”Ampun, tuanku. Bolehkan hamba bertanya?” tanya Yazid, sang Panglima Kerajaan dengan hati-hati.
Abraha mengangguk dengan tenang.
”Hamba mendengar semua penjelasan tuanku soal Kabah ini. Dna hamba percaya semua penjelasan itu adalah benar adanya. Hanya saja, mungkin hamba kurang begitu memahami bagaimana kita bisa menyamai Bakkah yang memiliki Kabah, sedangkan kita tak punya apa-apa dalam hal ritual agama?”
Atau, apakah kau ingin memindahkan kubur Yesus Sang Mesias ke Yaman sini sehingga para Nasrani akan datang ke Najran untuk berziarah ke kubur Tuhanmu itu? Rutuk Yazid gemas. Apalagi yang ada di pikiran Abraha Ash-Shabbah Al-Habsy ini?
”Bila Yerusalem punya kuburan Yesus dan di sana berdiri Istana Sulaeman, lalu di Bakkah juga ada Kabah, mengapa di Yaman ini tidak kita dirikan bangunan keagamaan yang ketenarannya bisa melampaui ketiganya? Mengapa tidak?”
Ketiga pendeta itu saling pandang dengan wajah bingung. Apakah Abraha akan mendirikan agama baru atau dia ingin……
“Sekarang, dengarkan dengan baik kata-kataku ini. Aku ingin membuat sebuah gereja yang bentuknya hampir mirip dengan Kabah. Tapi tentu saja dalam hasil akhir yang jauh lebih bagus dan indah. Gereja itu akan kutempatkan di kota Shana’a. Dan bukan di Najran sini. Karena kota Shana’an sangat bagus untuk tempat berdirinya gereja Kabah itu nantinya. Selain alamnya yang indah, banyak sungainya, udaranya sejuk, kita juga bisa membuat pasar besar seperti pasar Najran tapi ini akan jauh lebih hebat. Bahkan pasar ini akan lebih hebat dari pasar Okads dan Basthra.
Sehingga semua orang di Yaman dan sekitarnya, tak perlu jauh-jauh pergi ke Mekah untuk melakukan haji. Cukup di gereja kita yang indah itu nanti! Bila itu dilakukan oleh semua pemeluk berhala di Yaman dan sekitarnya, bisa dipastikan negeri ini akan makmur dan kuat! Kita akan memiliki kerajaan yang hebat melebihi kehebatan kekuasaan orang-orang Mekah!”
Abraha berteriak dengan semangat sekali. Ia merasa gagasannya sangat luar biasa. Wajahnya sampai ikut memerah.
Para mentri itu terbengong-bengong mendengar mimpi Abraha. Mereka sama sekali tak menduga bahwa Abraha, raja baru mereka, ternyata bukan hanya bodoh. Tapi ia juga teramat amat dungu.
Yazid hampir saja tak mampu menahan tawa. Ia sungguh tak sanggup membayangkan bagaimana caranya orang-orang itu bisa berhaji di gereja Abraha? Dan bilakah gereja Abraha bisa menggantikan Kabah yang telah berumur ratusan tahun yang dipuja-puja dan telah melekat sedemikan rupa di hati orang-orang Jazirah? Sanggupkah gereja Abraha ’bersaing’ dengan Kabah dan mampu menarik hati orang-orang Jazirah?
Jadi ini oleh-oleh dari pergi haji? Memangnya, apa yang telah kau lihat disana, Abraha? Patung Yesus yang sedang disembah-sembah kah? Atau gemerincing pundi-pundi emas dalam kantung-kantung pedagang di pasar Bakkah? Apa yang ada dalam pikiranmu sebenarnya? Apa rencana besarmu, Abraha? Yazid terus bertanya-tanya dalam hatinya akansemua kemungkinan yang nantinya bisa terjadi. Usianya memang muda, tapi Yazid sesungguhnya adalah anak dari seorang kepala suku dari kabilah Baisyah. Sebuah kabilah yang berdiam di lereng lembah Tihamah yang terkenal akan keindahan alamnya. Dan sebagai kabilah yang menganut kepercayaan pagan* (menyembah patung, berhala, binatang, tumbuhan atau apapun benda yang dianggap memiliki kekuatan magis) seperti Abu Righal dan semua penyembah berhala itu lainnya, Yazid mengenal Kabah seperti mengenal ibunya sendiri.
Para abdi kerajaan itu saling pandang dengan mimic keheranan, tak tahu harus berkata apa. Namun, mentri urusan Pasar Rakyat kini angkat suara untuk menyelamatkan yang lain.
“Terpujilah Tuhan anda, tuanku Abraha. Anda memang seorang raja yang memiliki gagasan tepat dan jitu. Sebaiknya, kita mulai kerja sekarang saja, tuanku!”
Kemudian para pembantu itu buru-buru bangkit hendak keluar ruangan. Seperti takut terkena sampar. Namun suara Abraha menghentikan langkah mereka.
“Tunggu sebentar!” Abraha diam beberapa saat lalu melanjutkan sambil tersenyum puas. Tercekat hati para mentri mendengarnya. Ada apalagi?
“Gereja Kabah itu akan aku namakan Al-Qulles!”

Yazid telah mendengar rumor yang cukup santer yang beredar diluar tembok Istana. Bahwa ketika di Bakkah, Abraha telah bertemu dengan Abu Righal. Dan jika manusia jenis Abraha bertemu dengan manusia jenis Abu Righal, maka kombinasi ini akan menghasilkan suatu keserakahan yang luarbiasa. Sebuah ketamakan maha dasyat. Dan kesadisan akan menjadi jalan untuk mewujudkannya.
Bagaimana mereka bertemu? Siapa yang berperan dibalik semua ini? Shanubi? Azib? Atau ini murni kebetulan saja? Siapakah sebenarnya Abu Righal?
Sebagai Ia adalah seorang kepala kabilah dari pedalaman Turbah. Sejatinya Abu Righal merupakan pedagang yang tamak dan licik. Ia selalu merasa dengki dan iri kepada siapa dan apapun yang bernasib lebih baik dari dirinya. Dan sebagai kepala suku Turbah, ia seharusnya menjadi penguasa sekaligus pengelola pasar ‘Ukkazh*. (“Ukkazh adalah sebuah tempat di sebelah timur Bakkah. Sebuah pasar yang cukup terkenal dikalangan pedagang pada masa itu, Pasar ‘Ukkazh juga dikenal sebagai tempat pertemuan terbesar para penyair dari seantero Jazirah. Disinilah mereka berlomba dalam memikat hati orng-orang akan syair atau gubahan yang mereka perdengarkan. Mereka memulai pasar ini 25 tahun sebelum peristiwa Pasukan Gajah ini terjadi. Pasar ini masih ada hingga tahun 129H sebelum diporak-porandakan oleh ornag-orang Khawarij ). Tetapi persaingan antar kabilah di pedalaman Turbah, membuatnya tak bisa menjadi ketua. Ia kalah kuat dibanding kabilah Mum’im yang memang lebih kuat, pintar, bijaksana dan pemurah. Lewat persaingan sehat (tapi nyaris saja ada kecurangan ketika Abu Righal yagn telah terdesak, berusaha bersikap licik dengan menyabot panah-panah kabilah Mum’im yang ditukarnya dengna panah kualitas kelas dua).
Dengan tersingkirnya Abu Righal, pasar itu jatuh ketangan kabilah Mum’im. Inilah yang menyebabkan dirinya menjadi dengki sekaligus dendam kepada kabilah Mum’im. Segala macam cara telah dipikirkannya untuk menyingkirkan kabilah ini. Tapi hingga kini, ia masih belum berani menjegal karena ternyata Mum’im telah melebarkan sayapnya dengan menjalin hubungan erat dengan suku Quraisy sebagai penguasa Kabah. Mum’im memerlukan hubungan ini karena pasar ‘Ukkazh, walau bagaimanapun besarnya, masih tergantung dengan pasar di Bakkah. Kerjasama yang erat dan kompak antar penguasanya, akan menghasilkan siklus perdagangan yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.
Walhasil, Abu Righal bagai kedapatan durian runtuh ketika ia secara tidak sengaja bertemu Shanubi di Kabah itu. Semula ia mengira Shanubi adalah budak dari seorang kaya raya yang ingin berbelanja usai menjalankan ibadah haji. Abu Righal berkeinginan mendapatkan harta si orangkaya itu. Tapi rupanya ia menyadari ia akan mendapat lebih dari yang ia duga. Dengan keahliannya berbicara dan mengambil hati Shanubi, Abu Righal berhasil memikat budak muda itu. Shanubi secara lugas bercerita tentang maksud kedatangan tuannya, Abraha datang ke Kabah ini. Betapa gembira Abu Righal mendengar cerita Shanubi bahwa Abraha adalah raja baru Kerajaan Yaman. Abraha bermaksud untuk mempelajari seluk beluk Kabah terlebih dahulu sebelum menetapkan dengan pasti apa yang diinginkannya.
Panjang lebar Abu Righal bercerita hal ihwal Kabah dan tanpa disadari Shanubi, Abu Righal menggiringnya untuk suatu tujuan besar yang sesungguhnya adalah ambisi pribadinya. Lewat Shanubilah Abu Righal berkenalan dengan Abraha. Dan, seperti jalannya sejarah, persengkokolan keduanya menghasilkan rencana besar yang dasyat dan mengerikan.
Kini Yazid mulai memahami apa dan bagaimana rencana besar itu akan dijalankan. Semua mulai tergambar di kepalanya. Kendati, sejujurnya, aku tak bisa memahami bagaimana semua itu bisa dijalankan? Abraha melupakan faktor mendasar dalam hal ini. Ia melupakan faktor sejarah yang selama ini menjadi pengikat erat kepercayaan bangsa Jazirah. Bisakah ia menolkan hal itu? Rasanya tidak mungkin. Kalau begitu, apa sesungguhnya yang ia incar?
Sejuta tanya bergayut kuat dalam pikiran Yazid. Tapi yang paling mendebarkan hatinya adalah pertanyaan yang paling mendasar. Bagaimana bila rencana Abraha patah ditengah jalan? Apa yang akan dilakukan Abraha? Apakah ia akan maju terus ? Melakukan sesuatu yagn rasa rasanya tidak mugnkin? Sejak itu Yazid, Sang Panglima Kerajaan Yaman, memutuskan untuk mulai menyusun rencana. Tapi untuk saat ini ia hanya akan menyimpannya dalam hati. Saat ini ia belum bisa menentukan mana kawan mana lawan.
Yazid akan bersikap dulu sebagai punggawa kerajaan yagn loyal. Ia akan lebur dalam rencana besar Abraha.
Dan kerja besar itupun segera dimulai. Para pembantu Abraha semua bekerja sekuatnya memujudkan ide gila Abraha. Kali ini, tak ada yang protes atau bahkan sekedar bertanya. Semua tak ingin terkena marah Abraha. Semua ingin bangunan ini segera selesai dengan harapan agar Abraha segera menyadari kekeliruannya dan kehidupan bisa kembali normal. Tak akan ada lagi rencana-rencana penyerangan atau bahkan pembantaian kerajaan lain.
Bila Abraha ingin membangun sebuah rumah peribadatan yang nantinya akan melebihi Kabah, itu bisa-bisa saja. Toh, tak ada larangan untuk mencotek sebuah bangunan kendati dengan maksud untuk menyaingi. Walaupun menconteknya sama persis.
Tapi Abraha ingin tak hanya sekedar mencontek. Gerejanya ini ingin lebih bagus dalam segala hal dibanding Kabah. Mulai dari bentuk bangunannya, ukiran-ukiran yang nantinya akan memenuhi seluruh empat dinding Al-Qulles, hingga pemakaian batu marmer yang mereka beli dari pedagang Rum di pasar-pasar Hadramaut. Abraha juga berkeinginan menaruh patung Yesus di hampir tiap sudut Al-Qulles.
”Jadi, selain menyembah berhala mereka, mereka juga akan menyembah Tuhan kita” ucapnya merasa bangga luar biasa. Begitulah, bila kesombongan bercampur dengan rasa iri dan dengki, maka logika tak bisa lagi berputar. Ia akan mandeg deg. Tak berkutik sedikit pun. Dan itu yang terjadi dengan Abraha.
Dengan nafsu misionarisnya dan cita-cita menjadikan penduduk Yaman seluruhnya sebagai pemeluk Nasrani, ia mengira ide membangun Al-Qulles akan mampu menggantikan Kabah sebagai pusat peribadatan bangsa Arabia. Ia bahkan mengira urusan kepercayaan akan semudah itu berpindah bila seseorang disodori harta benda yang selagit. Padahal, kepercayaan adalah misteri terbesar manusia yang seringkali sulit untuk di perkirakan. Tapi Abraha maju terus dengan prediksinya itu.
Sang Pamen yang menjadi tumpuan harapan Abraha, bekerja tak henti-hentinya. Siang malam ia mengerjakan gambar demi gambar tiap sudut Al-Qulles. Belum lagi bila mendapat protes Abraha bila ia tak setuju dengan rancangan Pamen.
Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu, bulan demi bulan. Dengan sabar Abraha menanti selesainya pengerjaan gereja Kabah ini. Ia ingin Al-Qulles tampil dengan sempurna dan indah, sehingga bisa merebut simpati dan kekaguman bangsa Arabia!
Akhirnya, selesailah kerja besar itu. Sebuah bangunan megah dan indah menjulang di tengah kota Shana’a. Bentuk dasarnya memang seperti Kabah. Kotak persegi. Tapi bila Kabah terbuat dari batu hitam yang besar-besar, Al-Qulles dibangun dengan tembok dan dilapisi dinding marmer hitam asli dari Persia. Betapa indahnya bangunan itu! Bila Kabah penuh sesak oleh berhala, baik yang kecil maupun besar, Al-Qulles dipenuhi oleh patung-patung Kristus dalam berbagai pose. Ada patung Kristus masih bayi, sedang digendong ibunya, Maria Sang Perawan suci, ada patung Kristus dengan baju kebesaran lengkap dengan mahkota berdurinya. Ada juga patung Kristus tengah bermain dawai. Dan patung-patung itu bentuknya besar-besar. Seakan-akan ingin menandakan bahwa ini adalah bangunan gereja dan pengunjung tidak lupa berdoa pada patung-patung Sang Mesias. Hanya sebagian kecil saja berupa patung dalam ukuran kecil. Itulah patung sesembahan berupa berhala-berhala yang biasa di sembah oleh penduduk Yaman.

Disekitar Al-Qulles, Abraha membangun pelataran yang lantainya juga dari marmer. Dan lagi-lagi pelataran itu pun dipenuhi oleh patung Sang Mesias. Terakhir tapi yang paling penting, Abraha membangun kios-kios disekeliling pelataran Al-Qulles. Kios ini dibangun dengna sangat nyaman dan luas. Seolah-olah Abraha menginginkan seluruh aktifitas berhaji ini seluruhnya diawali dan diakhiri dengna berdagang.
Lewat kunjungan Sarrajsianya ke Kabah, Abraha sadar bahwa aktifitas perdagangan inilah yang sesungguhnya mendongkrak taraf hidup perekonomian masyarakat Bakkah. Beruntung aku bertemu Abu Righal. Ia memperlihatkan sesuatu yang tak mampu kulihat. Ia menunjukkanku harta karun tak ternilai teronggok di depan Kabah. Itulah kekuatan Kabah sesungguhnya! Dan itu yang akan aku pindahkan ke Al-Qulles.
Aktifitas perdaganan ini menjadi hebat karena dikunjungi oleh para penyembah berhala yang berasal dari seluruh antero Jazirah bahkan hingga ke negeri-begeri di sepanjang sungai Nil dan Oksus. Bahkan, para penyembah berhala dari Persia, walaupun Persia dikenal sebagai negeri para Penyembah Api, negeri Zoroaster, tapi tetap saja ada orang-orang yang menyembah berhala di sana (misalnya dari Al Madain dan AL Hairah). Dan mereka juga ikut berhaji di Kabah ini meski jarak yang mereka tempuh sangat jauh. Bahkan ia pun seringkali menyaksikan sendiri , tidak jarang ada prajurit Ruum yang ikut menyelinap berdagang disini. Semua karena barang-barang dagangan yang ada di pasar Kabah ini sangat bermutu dan bernilai jual tinggi. Sepertinya tak ada yang tak tergiur untuk singgah di Bakkah.
Lebih jauh dari itu, Abraha bahkan sempat mengenali para pendeta yang menyamar menjadi orang asing atau pengelana, ikut duduk-duduk di pelataran Kabah. Atau beberapa puluh meter dari pusat keramaian, para pendeta ini (oh, dan juga rabi!) akan berteriak-teriak dari bukit Shafa. Mereka ibarat tukang tenung yang dengan semangat menyala-nyala membacakan syair-syair terbagus mereka.
Ya, mereka Cuma bisa bersyair yang isinya tentang keindahan ataupun cinta. Sebuah omong kosong kehidupan! Dan sedikitpun, mereka tak punya nyali untuk berkhotbah tentang Sang Mesias. Begitu pula para rabi itu! Dasar pengecut menyebalkan. Abraha marah sekali menyaksikan para pendeta itu seperti terbang keberaniannya untuk menyebarkan agama Nasrani di Bakkah.
Memang, selama ini, Bakkah telah menjadi kota suci yang terlarang bagi para penyebaran agama-agama apapun (selain agama pagan atau agama penyembah berhala tentu saja!). Dan para pembesar Quraisy, sebagai penguasa kota itu, begitu ketat menjaga kesucian kota itu. Mereka menolak dengna tegas kedatangan para misionaris dari agama apapun. Seakan-akan mereka tak sudi menjadi ajang pertempuran dua agama besar dunia saat itu, yaitu Nasrani dan Yahudi. Bila mereka melihat sekali saja ada pendeta atau rabi yang sedang melakukan kegiatan misionaris, maka, tanpa ampun orang itu akan digelandang pergi dari Bakkah. Kejadian sepeerti itu bukan sekali dua terjadi, sudah puluhan kali selalu saja ada rabi atau pendeta atau bahkan seseorang yang menamakan dirinya biksu (yang katanya datang dari negeri India! Betapa jauhnya orang itu merantau!) yang nekat menyebarkan ajaran-ajaran agamanya. Dan untuk itu, mata-mata Quraisy yagn jumlahnya puluhan itu, dapat dengan sekejab, dengan mudahnya, menciduk mereka dan segera mengikatnya untuk kemudian ditarik dengan kuda berkeliling Kabah. Menjadi tontonan dan tertawaan para penyembah berhala. Setelah itu mereka akan diseret hingga ke perbatasan tanah haram di sekitar Bakkah. Bahkan, ada yang hingga ke Thaif. Bayangkan sepanjang 35 km dipaksa berlari, jika tidak mau terseret, dengan cara seperti itu. Dari sana mereka baru mereka akan dilepas tanpa perbekalan sedikitpun. Ah, menyedihkan sekaligus memalukan memang!
Semula Abraha takjub dengan keteguhan orang-orang Jazirah itu dalam beragama. Abraha, dan sebagian besar orang saat itu, mengira para pembesar Quraisy tengah mempertahankan kesucian agama mereka. Memegang teguh ajaran nenek moyang mereka. Keyakinan mereka. Betulkah? Sedikit yang menyadari bahwa itu semua ternyata cuma omong kosong. Sedikit pula yang mampu melihat dengan jernih, bahwa slogan agama nenek moyang sesungguhnya adalah pembungkus mutakhir paling jitu dari para penguasa Kabah untuk melanggengkan kekuasaan mereka.
Sejatinya, mereka melindungi harta kekayaan (dan kekuasaan tentunya!) diri mereka sendiri.
Pasar yang tercipta dari ritual keagamaan ini sungguh luarbiasa. Padat dan begitu sibuk. Dengan bisikan dari Abu Righal, Abraha menyadari hal itu. Perputaran uang di pasar-pasar Kabah, terutama di bulan Zulqaidah dimana aktifitas haji itu dilaksanakan, bisa mencapat jutaan sesterses dalam satu hari. Abraha tahu persis nilai itu bukan omong kosong. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para pedagang menggelar bermacam-macam barang dagangan mereka dan para pembeli yang datang tak ada habis-habisnya. Seperti air bah yang menerjang Bendungan Ma’rib di Yaman. Seberapa banyakpun barang dagangan itu, bahkan semahal apapun nilainya, bisa dipastikan semua akan ludes habis diserbu para jamaah haji dari seluruh pelosok negeri. Mereka ibarat orang yang kelaparan setelah lelah melakukan ritual haji.
Luarbiasa hebatnya pasar ini. Aku pun tak akan pernah lupa menyaksikan bagaimana para pembesar Bakkah mengontrol pasar-pasarnya dengan jubah kebesaran mereka. Kalung-kalung emas bertahtakan zamrud dan sapphire yang berharga amat mahal, menghiasi leher-leher para pembesar itu. Tak ketinggalan pula nyonya-nyonyanya. Mereka akan menghampiri tiap kios barang untuk ikut menawar atau sekedar ikut melihat-lihat. Dengan anggun dan penuh kewibawaan para nyonya pembesar itu akan mengambil barang-barang berharga yang menarik hati mereka, sesuka mereka. Ah, itu sebagai tanda pajak. Gratis.
Di Yaman sendiri ada tiga pasar yang keberadaannya satu tingkat dibawah pasar di Kabah. Pasar=pasar itu adalah Pasar Najran, Ash-Syar, Tarim, al-Habasyah dan pasar Shana’a sendiri. Dengan berdirinya Al-Qulles, Abraha berharap pasar Shana-a bisa menjadi pasar yang lebih besar dan hebat. Minimal setara dengan pasar Bakkah. Yang selalu dipenuhi oleh pedagang dan pembeli dari penjuru jazirah. Dimana perputaran uang didalamnya bisa mencapai jutaan sesterses.
Al-Qulles, memang sesuai dengan bayangan Abraha. Karena ia benar-benar bernafsu untuk menciptakan suatu bangunan peribadatan yang bisa menyaingi Kabah. Ia ingin membelokkan langkah kaki para penyembah berhala itu ke Yaman. Ke Kerajaannya yang ia cita-citakan akan menjadi kerajaan yang sekuat, bahkan lebih kuat dari Kerjaan Saba dulu. Yang daerah kekuasaannya membentang dari Najran ke Al Makha, hingga seluruh pesisir laut Hadhramaut.
Kini Al-Qulles telah berdiri dengan megahnya. Besar, kokoh dan berkesan angkuh. Semua benar-benar sesuai dengan kehendak Abraha.
Abraha memandang gereja barunya dengan perasaan takjud. Luar biasa, keindahan Al-Qulles akan segera menawan para penyembah berhala! Mereka akan terpikat untuk datang dan melakukan haji di sini kemudian setelah itu mereka akan berbelanja!! Dan aku, aku akan segera menjadi raja yang kaya raya……!ha ha ha! Luarbiasa senangnya hati Abraha. Apalagi pembangunan ini selesai tepat pada musim haji berikutnya! Abraha mulai merasakan kesempurnaan dari idenya. Ia segera menyuruh prajuritnya untuk menyebarkan pengumuman-pengumuman di pasar-pasar, perumahan rakyat, pokoknya dimana saja, agar seluruh rakyatnya mendengarkan berita hebat ini.
Dan Abraha memilih saat yang tepat untuk memberi pengumuman itu sendiri kepada rakyatnya. Ia menunggu kafilah haji di bulan Zulhijah di tahun berikutnya.
Dengan sabar ditunggunya momentum yang tepat untuk mengenalkan gagsan itu secara terbuka. Ia menunggu rombongan kafilah pertama berkemas-kemasa menuju bakkah.
Sama sabarnya dengan Yazid yang tengah menunggu kapan bom itu akan meledak. Sembari ia terus meningkatkan jaring-jaring kekuatan, menyusun strategi. Yazid bergerak dalam diam. Namun ia juga harus cepat dan gesit. Ia bahkan harus satu langkah didepan Abraha.
Suatu hari, Abraha mendapat laporan bahwa telah ada satu kafilah haji yang cukup besar tengah mempersiapkan diri. Abraha segera mengutus para punggawanya untuk melayangkan undangan resmi Kerajaan kepada mereka.
”Sampaikan kepada mereka, bahwa maha Raja Abraha Ash-Shabbah Al-Habsy, berkenan mengundang mereka seluruhnya untuk mampir dahulu ke Shana’a sebelum mereka berangkat menuju Bakkah. Sebuah jamuan makan akan menanti mereka!” Begitu titah Abraha.
Tapi celakanya, rombongan haji itu adalah kafilah dari pasisir Hadramaut. Mereka memang selalu berangkat lebih awal, tapi yang jadi masalah adalah rute yagn mereka ambil. Karena mereka selalu lewat rute laut. Betul, mereka memilih pergi Bakkah dengan kapal laut ketimbang menunggang unta. Kelihatnnya, kafilah ini tak mungkin menerima undangan Sang Raja. Apa boleh buat. Abraha harus lebih sabar menunggu. Beruntunglah ia, 3 hari kemudian kafilah dari Qamawi dikabarkan tengah melakukan perjalanan haji mereka. Kini, kafilah itu telah mencapai Shirwan.
Seorang badui passava dikirim untuk mencegah kafilah itu agar mau berbelok lagi ke selatan untuk berkunjung sejenak ke Shana’a. Karena sebuah kejutan manis telah dipersiapkan Abraha. Jahsy, sang pemimpin kafilah bersama beberapa pemimpin kabilah tengah mempertimbangkan rumor yang sedang bertiup kencang yang mengiringi perjalanan haji tahun ini. Diantara mereka juga ada Yazid, sang Panglima Kerajaan. Tapi kali ini seperti juga para lelaki Yaman lainnya, Yazid memakai hibarah* (sebutan baju panjang atau gamis yang khas dipakai oleh masyarakat Yaman. Hibarah ini memiliki keunikan yaitu lurus hingga ke mata kaki dengan corak warna alam cenderung ke gelap dengan jenis kain yang dingin menyerap keringat. Negeri Yaman terkenal karena produksi kainnya yang sangat berklualitas dan selama ini menjadi tumpuan ekonomi rakyatnya) kepalanya memakai migfar* (serban penutup kepala yang terdiri dari sehelai kain kasar yang panjang dan berwarna gelap). Selintas, tak ada yang mengenali penampilan Yazid seperti itu. Dan Yazid pun berharap tak perlu ada yang mengenalinya.
”Aku tak mungkin membelokkan kafilah berbalik ke selatan. Mereka pasti akan sangat keberatan” terdengarJahsy berkata dengan cukup hati-hati.
”Aku pikir juga itu tindakan yang bodoh. Kita sudah berjalan selama satu hari penuh, kalau kita tetap kembali, orang-orang akan marah kepada kita. Lagi pula, kita tak tahu pasti apa yang diinginkan Abraha……………” ujar Zubair.
”Tapi kita juga akan mendapat kesulitan bila mengacuhkan begitu saja pesan dari Abraha” pemimpin kabilah Hud kini ambil suara.
”Ya, kita akan mendapatkan kesulitan luar biasa” kata kabilah Saurin.
”Abraha tengah mengutus seorang passava untuk menyampaikan pesan resmi kerajaan. Aku memperkirakan sang passaver ini akan mencegat kita di Lembah Najran. Sebelum kita meninggalkan Najran, sang passaver sudah harus menyanpaikan pesan itu” ujar Yazid. Informasi yagn disampaikan Yazid cukup membuat terkejut Jahsy. Ia tak menyangka Abraha bertindak sejauh itu.
”Kelihatannya Abraha memiliki rencana yang cukup serius. Ia tak mungkin menyewa seorang badui bila rencana itu tak cukup penting……… Terimaksih pemberitahuanmu Yazid, itu berguna sekali bagi kami. Nah, sekrang, apa yang harus kita lakukan?” tanya Jahsy meminta pendapat pada para pemimpin kabilah lainnya.
”Abraha adalah seorang yang kejam. Sekaligus angkuh. Ia pasti marah besar bila titahnya tak diindah. Tapi, menuruti kehendaknya untuk singgah ke Shana’a, sungguh bisa memicu masalah yang jauh lebih rumit dan penuh resiko. Aku mendengar bahwa Abraha telah mendirikan AL Qulles sebagai rumah ibadah kita selanjutnya, sehingga kita tak perlu lagi pergi ke Bakkah!” timpal Zubair.
”Abraha berambisi menjadikan Al Qulles sebagai Rumah Tuhan! Itu sangat berbahaya, aku tak bisa membayangkan bagaimana perkembangan situasi ini selanjutnya. Karena pasti terjadi penolakan disana-sini, tapi, apakah Abraha mau menerima penolakan? ” Yazid bertanya dengan penuh kekhawatiran.
”Kita harus siap menerima penolakan Abraha!”
”Itu artinya kita siap untuk disalib!”
”Ah, mengapa sampai sejauh itu?”
”Mengapa jadi rumit begini?”
”Tidakkan itu akan menyeret Abraha ke dalam perang yang lebih besar dan dasyat?”
” dan kitapun akan masuk dalam perang akbar….”
”Seluruh Jazirah akan berkobar….!!”
Lalu ramialah setiap orang dalam kelompok kecil itu saling berkomentar. Mereka cukup terkejut dan jerih melihat kenyataan yang akan mereka hadapi nantinya.
”Mengapa kita tidak turuti saja keinginan Abraha? Bukankah setelah bersembahyang di Al-Qulles, kita masih bisa pergi ke Bakkah untuk berhaji yang sesungguhnya?” kata seseorang.
”Ah ya, benar! Benar sekali pendapatmu itu! Benar!”
”Ya, aku juga setuju itu! Itu sebuah jalan keluar yang baik. Untuk menghindari pertumpahan darah bukan? Jadi, kita tetap bisa pergi haji tanpa harus menyulut kemarahan Abraha!”
Lalu orang-orang pun bergembira karena merasa telah menemukan jalan keluar dari situasi rumit ini.

Yazid mendengus kencang. Ia menengadahkan wajahnya ke langit dengna raut galau. Orang-orang menoleh padanya.
”Aku sangsi hal itu” katanya pelan.
”Ku pikir rencana itu cukup sempurna, Yazid. Aku melihat bahwa kita ada di posisi lemah sehingga akan sangat riskan bagi kita bila menolak kemauan Abraha!” ujar Jahsy.
“Aku pikir kalian tak sadar dengan rencana sesungguhnya Abraha!” Yazid berkata pelan. Ia bimbang untuk meneruskan kata-katanya. Kelompok ini belum terlalu siap untuk digiring ke situasi yang lebih genting. Ada beberapa orangtua yang kelihatannya leibh suka mengambil jalan pintas ketimbang mempertahankan keyakinannya. Mereka tak mau ambi resiko yang berat.

Jahsy menepuk pundak Yazid dengan perlahan. Sebagai pemimpin kafilah, ia berkewajiban untuk menjaga keamanan raga dan harta dari semua anggota kafilah. Itu tak bisaditawar. Keselamatan adalah nomor satu.
”Sesungguhnya, apa rencana Abraha, wahai saudaraku?” tanya Jahsy.
Yazid memandang Jahsy dengan lesu. Ia menggeleng pelan.
”Aku sendiri tak pasti, Jahsy. Mata-mataku tak bisa emmastikan dengna tepat apa langkah Abraha yang sesungguhnya. Maksudku, benarkah dia hanya sekedar ingin menyuruh kita beribadah haji di Al-Qulles, atau ia memiliki maksud-maksud lain? Aku tak tahu pasti………………!”
”Ah………, kini apa yang akan kita lakukan?” tanya Zubair cemas.
”Sesungguhnya kita tak perlu melakukan apapun…” uajr Yazid. Ia segera menggelar sehelai papyrus. Diatasnya tergambar sebuah peta jazirah secara sederhana. Nama-nama kabilah besar plus daerah kekuasaannya tergambar jelas dengan warnan hitam . Sementara daerah tandus diwarnai abu-abu. Yazid menunjuk suatu titik.

”Kita sekarang ada di sini. Shirwan. Bila kita bergegas, tiga jam lagi kafilah kita akan mencapai lembah Guadarran. Sekarang, perhatikan baik-baik. Lembah ini, kita tahu, terdiri dari empat jalur yang saling memunggungi. Jalur pertama, menghadap ke selatan dengan pajang sekitar 10km. Jalur ini akan bertemu dengan jalur ke dua yang panjangnya 12 km. Kita akan memilih jalur ketiga, karena jalur ini tidak bertemu dengan jalur manapun. Ini jalur tunggal yagn posisinya menghadap utara bintang Sfera. Kita akan terlindungi oleh bekas tembok bendungan magribi yang ketinggiannya mendapai 10 meter”
”Ketika kita memasuki jalur ke tiga, selain kita tak akan bertemu dengan jalur lainnya, kita pun akan aman dari intaian si Badui karena ia tak akan bisa melihat kita dari atas bendungan karena posisinya yang terjal. Kemudian ketika kita telah tiba diujung, kita telah masuk ke wilayah Habasyah……..” lanjut Jahsy dengan gembira.
”Kita akan terlampau jauh untuk disusul………………si badui tak akan bisa memaksa kita berbelok karena kita sudah terlalu jauh melewati Yaman!” cetus Zubair.
”Wah, gagasan yang jitu………….”
”Kalau begitu, segera kita berkemas………….”
”Ya, segera lanjutkan perjalanan kafilah ini, Jahsy!”
”Baik!” kta Jahsy sigap. Segera diputarnya kuda Bysirrasnya dan dipacunya ke belakang.
Sambil meniup batangan kecil dildo sehingga keluar suara yang mirip lengkingan gajah. Inilah kode agar kafilah segera bersiap-siap untuk berjalan kembali. Maka, sedetik kemudian bergeraklah kafilah haji itu menuju lembah Guadarran. Jahsy memimpin dengan kewaspaan berlipat-lipat. Matanya kini lebih awas memperhatikan puncak-puncak perbukitan Shirwan. Kalau-kalau ia melihat sesuatu atau malah melihat badui passava itu sendiri.
Kafilah itu kini bergerak cepat. Kepulan debu semakin tebal dan tinggi. Bergerak sama cepatnya dengan saang pemilik. Seakan berlomba untuk segera meninggalkan Shirwan. Menjemput lembah Guadarran. Hai……….

Lembah Guadarran? Bukankah tadi kita sempat mampir disana?
Ah, kau masih ingat rupanya.
Abil, bagaimana aku bisa lupa?! Itu adalah lembah yang indah sekali…Begitu banyak bunga Dandelion…..mereka seakan-akan tumbuh untuk saling menyapa…..
Di musim penghujan seperti ini, semua lembah di Jazirah akan dipenuhi Dandelion. Dna keberadaan mereka memang amat menawan. Seakan sanggup menghapus kepenatan selama setahun. Betul-betul bunga para musafir…..

Setahuku, dilembah itu tidak ada 4 jalur yang saling memunggungi. Sepertinya, kalau aku tak salah menghitung, Cuma ada 2 jalur yang bahkan saling berhadapan.
Ah, benarkah? Aku tak sempat memperhatikan. Tapi jika penglihatanmu benar, itu berarti lembah itu telah mengalami perubahan yang cukup besar.
Padahal, baru 3 dekade berlalu…… 570 Masehi waktu terjadinya, benar kan Abil?
Ya, bayangkan, hanya dalam 30 tahun alam telah mampu meratakan dua bukit kecil yang berbaris saling memunggungi. Bayangkan bagaimana jadinya 50 tahun mendatang….100 tahun lagi…… Apakah lembah ini masih tetap ada?
Atau jangan-jangan telah habis rata…..berubah menjadi padang rumput?

Tapi malang tak dapat ditolak, sungguh. Menjelang lembah Guadarran, sesosok tubuh langsing menunggang sebuah kuda bysirras tampak menunggu di mulut lembah dengan tenang. Sang passava! Habis sudah harapan Jahsy untuk menghindari undangan Abraha. Menghindari sesuatu yang emngerikan yagnmengiringi undangan itu. Sesuatu yang membuatnya gelisah dengan sangat. Jahsy menoleh ke belakang. Ia berharap Yazid masih berada dalam kafilahnya. Tapi tidak. Ia tadi memang telah meminta izinku untuk kembali ke Shana’a. Karena ia tak ingin memicu kecurigaan Abraha. Ia tak ingin Abraha sadar kalau dirinya tak lagi berada di kerajaan. Untuk beberapa saat Abraha bisa jadi tak sadar karena ia sibuk di Al-Qulles bersama Abu Righal yang datang dengan menyamar.
Tapi memang sebelum pergi Yazid telah membisikkan sesuatu ke telinga Jahsy. Ia berharap Jahsy tidak membuat keributan lebih banyak dengan sang passava. Badui mata-mata Abraha itu memang tka bisa memaksa kafilah haji itu, tapi kecepatannya untuk melapor kembali ke Abraha tidak bisa diremehkan. Dan apabila Abraha tahu undangannya di tampik, ia bisa kembali mengutus satu pasukan penjagal kepada kafilah ini. Dan bila itu yang terjadi, maka habislah mereka semua.
Sehingga tak ada jalan apapun bagi Jahsy, untuk segera menyambut sang passava dan memenuhi undangan Abraha. Kendati seluruh peserta kafilah haji itu harus menggerutu begitu sengit. Wajah mereka memendam kekesalan yagn tinggi. Tapi, mereka sadar, itulah reaksi yang logis pada situasi seperti itu.
Jadilah kafilah itu berbelok 180 derajat. Kewmbali masuk ke Yaman. Jahsy memimpin kafilahnya dengna hati dipenuhi kecemasan. Ia cemas bila di Shana’a nanti tak bisa bertemu Yazid. Seorang sahabat yang bisa diandalkan.

Di Shana’a sendiri, Abraha tengah mempersiapkan Al-Qulles dengan sebaik-baiknya. Ia kini tengah menanti kafilah Qamawi yang diperkirakan akan tiba esok tengah hari. Sementara itu banyak penduduk Najran sendiri tengah sibuk mempersiapkan unta-unta mereka untuk memulai perjalanan haji di tahun ini. Abraha sendiri ikut sibuk menyebarkan undangan ke para jamaah itu. Ia mengirimkan prajurit perangnya lengkap dengan tombak trisula mereka. Abraha tak suka basa-basi. Ia berpikir bila mengirim utusan kerajaan dengan hanya pakaian biasa, para jamaah itu masih bisa membantah. Karena ini adalah undangan yang muskil untuk dipenuhi. (Karena, siapa mau disuruh berhaji di gereja yagn tak mereka kenal sebelumnya? Sementara Kabah yang sudah lama mengisi lorong jiwa mereka, mereka tingglakan begitu saja?)
Abraha berharap para jamaah haji di Najran (Dna beberapa dari Shana’a sendiri) masih belum berangkat ketika kafilah dari Qamawi itu tiba. Ia ingin sekali memeperlihatkan bahawa ia adlaah raja yang berkuasa sehingga mampu membelokkan sebuah kafilah haji dari lembah Guadarran ke Shana’a.
Ini akan menjadi prosesi yang sempurna. Dan aku tak ingin ada kesalahan sedikitpun. Kalau bisa, para pedagang di pasar Najran bisa segera pindah dan mengisi kios-kios Al Qulles. Pokonya semua harus benar-benar mirip dengan Kabah jelek itu!
Sekarang Abraha hanya bisa menanti dengan sabar sampai semuanya telah berdatangan dan siap untuk memasuki Al Qulles.
Dan ketika mereka benar-benar telah tiba, Abraha merasakan sebentar lagi detik-detik kekuasaaannya akan tiba.
Kafilah Qamawi tiba di muka jalan utama Shana’a. Jahsy, sang pemimpin kafilah berdiri paling depan dengan wajah serius. Sinar matahari memaksanya menyipitkan matanya. Disela-sela itu, Jahsy berusaha mencari Yazid. Dimana dia? Dimana ?
Kafilah itu terus berjalan mengikuti jalan utama, beberapa prajurit Abraha mengarahkan seklaigus mengawal mereka hingga mereka benar-benar tiba di pelataran AL Qulles.
Seruan takjub terdengar dari mulut para jamaah haji itu ketika mereka telah benar-benar melihat Al Qulles berdiri megah di depan mata mereka. Sebetulnya lebih karena kekagetan mereka. Karena mereka benar-benar tidka menyangka, Al Qulles bisa demikian sama dengan Kabah tercinta mereka. Tapi dalam bentuk yang lebih megah, indah dan penuh wibawa. Berwarna hitam legam seperti Kabah, Al Qulles pun dihiasi banyak patung-patung. Hiasan dan ukiran indah menghiasi dinding Al Qulles.
Antara Kabah dan Al Qulles persis seperti dua bersaudara yang berwajah mirip tapi dengan nasib yang berbeda. Yang satu bernasib baik dengan harta melimpah, itulah Al Qulles. Sementara satunya lagi miskin dan selalu kesusahan. Itulah Kabah.
Ah, Yazid, kau dimana? Jahsy masih terus berharap bertemu dengan Yazid sebelum ia memberi salam dengan Abraha yang tengah berkacak pinggang dengan senyum puasnya di tengah pelataran AL Qulles

“Selamat datang! Selamat datang wahai saudara-saudaraku penduduk Yaman” ucap Abraha dengan ramah dan senyummengembang.
Jahsy turun dari kudanya dan memberi salam kehormatan.

”Salam sejahtera wahai Abraha, Raja Agung Kerajaan Yaman. Maafkan telah membuat tuanku menuggu lebih lama” ucap Jahsy dengan khidmat dan hati-hati. Ia tidak ingin terdengar lebih ramah dari yang seperlunya sehingga membuat posisinya akan cukup sulit bila nanti ia harus bertindak tegas.
”Ah, Jahsy, aku telah mendengar tentang dirimu dari para pengawalku yang setia. Kuucapkan dengan hangat selamat bergabung dengan para prajuritku, Jahsy. Aku tentu sangat memerlukan para pemuda kuat dan perkasa seperti dirimu!” kata Abraha dengan senyum lebar. Jahsy membalasnya dengan senyum pula. Setelah itu ia mundur kebelakang. Ia membiarkan Abraha angsung bergabung dengan para ketua kabilah yang telah membentuk kerumunan kecil di depan Abraha.
”Wahai saudara-saudaraku, terutama para pemimpin kabilah bani Qamawi, ayolah segera bergabung dengan para jamaah haji lainnya di tempat yang indah dan megah ini…..Mari…segera saja kemasi barang-barang kalian. Dan lihatlah bangunan megah ini. Jangan malu-malu…”
Abraha mendorong beberapa tetua pembesar bani Qamawi. Para sesepuh ini, agak sungkan mendapat tepukan langsung dari sang raja pada pundak-pundak mereka. Beberapa, malah dirangkul dengna ceria oleh Abraha.
Mereka menggerutu dengan kalimat yang tak jelas, buat mereka perlakuan Abraha sungguh tak mengenakkan. Abraha adalah raja Nasrani yang berasal dari negeri Habasyah. Sedang mereka adalah orang-orang Jazirah yang punya sejarah dan tempat yang berbeda dari orang-orang Nasrani itu. Jadi, untuk saling menepuk pundak, orang haruslah setara dan setempat. Bukan dari arah yagn berbeda. Orang Nasrani dan orang paganis* (penyembah berhala) jelaslah tak bisa disetarakan. Mreka ibarat dua misykat* (sumber).

Para Wajah-wajah bingung penuh tanda tanya nyata sekali terg
Mari, silahkan masuk, silahkan datangi rumah peribadatan yang mulia dan megah ini…..”
Mereka, tentu saja terkejut bukan kepalang dengan gamblangnya kata-kata Abraha.
kenyataan ini. Sebelumnya mereka memang mendengar desas desus bahwa raja gila ini akan membangunkan sebuah rumah untuk berhala-berhala mereka. Tapi, kenyataan ini lebih kacau dari bayangan mereka.
Semula mereka berdiri saja di pelataran Al-Qulles, namun tombak prajurit Abraha memaksa mereka masuk lebih kedalam.
“Ayo, saudara-saudaraku. Jangan sungkan, lihatlah lebih dekat. Lihatlah betapa indahnya Al-Qulles dan betapa megahnya ia. Inilah tempat yang paling cocok untukk kalian beribadah. Lihat! Lihat sekeliling kalian. Aku juga telah menempatkan banyak patung disini untuk kalian sembah!”
Abraha mengoceh tak karuan. Ia berkata dengan suara lantang. Enggan menolak, orang-orang itu melihat-lihat kedalam Al-Qulles. Mereka memperhatikan ukiran mahal yang menempel didinding Al-Qulles. Kemudian bisik-bisik mulai terdengar.
“Ha ha ha. Kalian tak perlu takut, tinggalah di sini selama kalian suka. Ha ha……Lihatlah semua apa yang ingin kalian lihat. Lihat, lihat lukisan ukiran kayu itu. Bukankah itu menakjudkan? Dan bukankah yang menakjudkan itu akan luarbiasa bila kalian sembah?”
Abraha dengan bangga dan senang menunjuk pada ukiran kayu yang menempel di dinding utara. Dan itu gambar Isa Al Masih yang mereka sebut sebagai Yesus dari Nazaret sedang memberi makan seorang anak kecil!
“Kalian tak perlu lagi pergi haji jauh-jauh ke Kabah. Hanya menghabiskan uang dan tenaga saja. Cukuplah kalian beribadat haji di sini, di Al-Qulles yang mulia ini!”
Kini wajah-wajah tercengang, bingung, tak percaya sekaligus kecewa kini berbaur dengan aroma putus asa. Abraha telah jelas mengutarakan maksudnya. Orang-orang Yaman itu kini saling merapat satu sama lain. Mereka masih meraba-raba, bagaimana reaksi Abraha bila mereka menolaknya secara terus terang. Untuk sementara mereka diam membisu sambil pura-pura serius melihat patung Yesus yang bertebaran dimana-mana.
Abraha, sesungguhnya panglima yang tak punya pengalaman apa-apa dalam hal budaya hidup dus kebiasaan beragama masyarakat jazirah Arabia. Ia mengira orang-orang itu terdiam karena terkesima akan kedasyatan indahnya Al-Qulles. Maka, dengan langkah anggun ia meninggalkan orang-orang itu, membiarkannya bebas berkata-kata dan untuk mengagumi Al-Qulles. Abraha menaiki kudanya dan kemudian bersama para pengawalnya pergi ke mansion kerajaan yang sengaja dibangun bersebrangan dengan Al-Qulles.
“Agar aku bisa memandangi keramaian di Al-Qulles setiap saat” begitu alasannya dulu. Dengan sangat yakin.
Sepeninggal Abraha, orang-orang Arab itu kini menggerutu dengan suara jelas. Beberapa malah sudah berteriak-teriak marah.
“Apa yang dikatakan Abraha tadi, apa maksudnya?”
“Kita disuruhnya beribadah haji di tempat ini”
“Apa…..jadi sudah gila Abraha itu!”
“Tempat apa ini…….”
“Apa istimewanya Al-Qulles ini dibanding Kabah kita tercinta”
“Tidak….tidak mungkin kita berhaji di tempat seperti ini”
“Mana air zam zamnya…….”
“Dimana kita bisa berdagang…..”
“Aku tak menemukan Isfah disini. Di tempat sialan ini aku Cuma melihat orang dari Nazareth itu”
“Apa-apaan ini…..”
“Abraha ingin menyamakan Al-Qulles dengan Kabah. Itu mustahil. Walaupun Kabah hanya terbuat dari batu, tapi ia dibangun oleh nenek moyang kita yang mulia, Ibrahim dan putranya Ismail. Itu sangat jauh berbeda dengan Al-Qulles yang dibangun oleh seorang raja yang gila dan kejam, yang entah berasal dari nenek moyang mana!”
Kabah adalah milik orang Arab”
“Ia tak bisa digantikan oleh tempat manapun di dunia ini”
“Sudah, kita pergi saja!”
“Ya, mari kita lanjutkan perjalanan kita”
”Menuju baitullah, menuju Mekah
Kini, mereka semua sepakat untuk mengabaikan kata-kata Abraha dan siap untuk menanggung resikonya dalam bentuk apapun. Berbeda dengan kedatangan yang tanpa semangat, kali ini mereka keluar dengan bergegas dan menggebu-gebu.
Mereka memulai lagi perjalanan yang sempat tertunda beberapa saat. Sementara itu di mansion kerajaan. Abraha marah tak karuan ketika dari jendela mansionnya ia melihat orang-orang Yaman itu bergegas keluar dan pergi begitu saja untuk melanjutkan perjalanan menuju Baitullah yang mereka betul-betul cintai.
“Keparat! Mereka orang-orang Yaman tak tahu diuntung!! Mereka berani membangkang kepadaku………………”
Ia menendang meja kayu mahoni dengan kaki kanannya. Meja plus kue-kue lezat yang ditaruh diatasnya, kini bergulir kesana-kemari. Lantai jadi kotor sekarang. Beberapa pelayan karuan beringsut pelan-pelan untuk mengambil sapu. Mereka harus segera membereskan kekacauan ini. Jika tidak, Abraha yang akan membereskan mereka.
“Aku tak percaya……………..aku tak percaya ini”
Sang raja perkasa ini betul-betul tak menduga akan seperti ini jadinya.
“Al-Qullesku………..yang dibangun dengan uang berjuta-juta sterses…………”
Kini, menteri menteri raja terpaksa bediri saling berdekatan. Lalu pelan –pelan beringsut kebelakang. Mendorong maju beberapa pendeta muda yang bertugas menemani raja kemana pun pergi.
“Kita tak mungkin diam saja, mereka harus beribadat di gereja kita. Harus!Kalian, hai pendeta tak berguna. Coba pikirkan apa yang harus kita lakukan!”
Kini jari telunjuk Abraha benar-benar menunjuk pada para pendeta itu. Menteri-mentri menghembuskan nafas lega. Mereka sudah cukup dipusingkan dengan pembangunan Al-Qulles sialan itu. Kini giliran para pendeta yang mengurusi jemaatnya.
“Tuanku, sulit sekali bila semua itu harus berjalan dengan cepat. Masalah agama, adalah masalah hati. Kita tak bisa mengubah hati seseorang dengan begitu drastis”
Abraha jengkel mendengar penjelasan yang bertele-tele seperti itu. Dalam konsepnya, agama adalah soal ya atau tidak. Bila ya, maka matahari masih bisa dilihat, bila tidak darah akan mengucur dari jantung.
“Bodoh kau, pantas saja agama ini tak bisa berkembang dengan pesat. Karena kalian para pendeta Cuma sibuk mengurusi siapa tuhan kita. Apakah sang Bapak ataukah sang Anak! Sudah, kalian dengarkan saja mau ku!”
Abraha kini berjalan hilir mudik. Ia jengkel luar biasa dengan kejadian ini. Beberapa pendeta terdengar berbisik bisik. Mereka kuatir dengan langkah kekerasan yang mungkin saja diambil Abraha. Seperti ketika saat-saat ia merampas kekuasaan dari tangan Yusuf Dzu Nuwas.
“Tuanku, pemaksaan hanya akan menlahirkan orang-orang munafik. Bukan itu yang mesti kita lakukan dalam menyebarkan agama”
“Mengapa tidak!” bentak Abraha jengkel.
“Aku bisa saja memaksa mereka untuk beribadat di gereja kita. Atau bahkan, aku bisa menyeret mereka sekaligus menghancurkan mereka yang berani menentangku!”
“Tapi itu tidak menyelesaikan masalah, tuanku. Kabah masih akan tetap berdiri, dan orang-orang Arab itu masih akan tetap bisa melakukan ibadahnya di sana!”
Abraha terdiam dengan alis menyatu. Langkahnya tiba-tiba kaku. Ia melihat kepada siapa yang telah berani berkata seperti itu.
“Kaukah yang berbicara seperti itu” Abraha menunjuk kepada pendeta paling muda dan pintar diantara pendeta-pendeta itu. Sipendeta yang ditunjukk, kini pucat. Ia merasakan kakinya dingin.
Suasana sunyi sepi. Semua yang hardir menanti Abraha berkata kata. Terutama si pendeta muda yang menyanggah perkataan Abrahah.
Lalu tiba-tiba Abraha tertawa terbahak-bahak. Si pendeta merasa tidak jadi dingin kakinya.
“Kau sungguh pintar, hai pendeta. Tak sia-sia kau kugaji untuk menemaniku di Yaman sini”
Abraha menepuk tangannya tiga kali. Itu pertanda ia memanggil para panglima perangnya. Ketika mereka semua telah berkumpul, ia berkata dengan lantang.
“Kalian dengarkan nasihat pendetaku ini. Bahwa masalah yang sebenarnya kita hadapi, adalah Kabah itu sendiri. Jadi, selama Kabah masih berdiri, selama itu pulalah orang-orang Arab akan tetap mendatanginya untuk beribadah di sana. Selama kabah masih berdiri, selama itu pulalah masalah akan tetap ada! Bukankah benar demikian………………?!”
Semua yang hadir di mansion itu bertepuk tangan sambil mengangguk angguk bak burung Gugak yang meminta makanan. Abraha sangat puas akan kata- dengan tangan di pinggang.
“Ketika esok matahari mulai terbit, kita siapkan pasukan paling besar, paling dasyat dan paling kuat yang pernah ada dalam sejarah umat manusia! Itulah pasukan gajah Abraha Al Asram! Penguasa Kerajaan Yaman Yang Digdaya! Akan kita hancurkan Kabah dari muka bumi! Kita bakar Kabah, kita robohkan dia! Dan siapapun yang menghalangi, akan kita bunuh tanpa ampun!”
Suara Abraha menggelegar dalam balairung. Mereka yang bukan orang-orang Abraha, terkejut bukan kepalang. Kabah akan digempur, akan dirobohkan? Wah, luarbiasa menakutkannya gagasan itu. Dan itu bukan ancaman yang main-main. Itu berarti Abraha talah memukul genderang perang pada seluruh suku dan kabilah di Jazirah Arabia ini. Arabia bisa begolak panas, benua ini bahkan bisa terbelah-belah.
Tapi, sampai seberapa tangguhkah kekuatan pasukan Abraha? Sampai seberapa besar armada tempurnya hingga ia tanpa pikir panjang, berkeinginan merobohkan Kabah, yang itu sama artinya menyulut permusuhan dengan seluruh orang Arab? Sanggupkan Abraha membawa seluruh pasukan tempurnya, melintasi gurun demi gurun yang harus ditempuh bahkan sampai berminggu-minggu, untuk sampai di Mekah? Sanggupkah ia? Sementara di sepanjang perjalanan, ia bisa saja dihadang oleh berbagai suku yang tentunya berpihak pada Kabah. Akan mampukan ia melintasi rintangan itu?
Dalam urusan perang, harus diakui, Abraha adalah seorang jenius. Ia terbaik di jamannya. Sedikit panglima yang mampu menyamai keberaniannya dalam hal berperang. Ia tak pernah gentar oleh pedang musuh. Ia juga selalu ikut terlibat langsung dalam berbagai peperangan yang dihadapinya. Raja Najasy, tak salah pilih ketika matanya menangkap bakat luarbiasa dalam diri Abraha, kendati ia masih teramat muda ketika ditemukan Najasy.
Maka, ketika Abraha berkeinginan untuk menggempur Kabah, kendati Kabah letaknya ribuan kilometer dari Yaman, ia tentu punya gambaran pasti bagaimana ia harus memenangkan pertempuran itu.
Ia pasti (harus) punya sesuatu yang ‘istimewa’ untuk menghadapi orang-orang Arab itu. Dan itu, akan menjadi kejutan bagi siapapun.

Namun, belum lagi Abraha mematangkan rencana penyerbuannya, kabar itu telah menggelinding keluar balairung. Seperti tak sabar lagi Ia menembus dinding-dinding rumah penduduk, menciptakan mimpi-mimpi buruk, dan membentuk gumpalan ketakutan dalam dada tiap orang. Seumur hidup, baru kali ini ada orang yang berani ingin menghancurkan Kabah. Orang ini mesti cukup gila atau amat digdaya sehingga bisa punya ide seperti ini. Karena Kabah, meskipun terletak di Mekah, ia bukan milik kabilah Quraisy semata, atau dikuasai para petinggi Mekah. Tidak. Kabah adalah pusat spiritual bagi bangsa Arabia. Mereka-mereka yang mengaku suku Arabia, mulai dari kabilah-kabilah yang bermukin di sepanjang sungai Nil, hingga kota paling timur, Oksus, semuanya memiliki semacam ikatan batin dengan Kabah.
.
Tapi orang-orang Arab tak perlu mendengar hingga duakali, pesan Abraha sudah cukup jelas dalam benak mereka. Mereka tak pernah main-main dalam urusan ini