Rasulullah wafat pada hari senin pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah atau 633 Masehi.  Beliau wafat dalam usia 63 tahun lebih empat hari.

Isyarat Ajal

Isyarat isyarat dekatnya ajal Rasullah dimulai dengan :

  • beliau beri’tikaf selama 20 hari di bulan Ramadhan tahun 10 H.
  • Jibril mengulang Al Quran hingga dua kali dalam tahun itu bersama Rasulullah.
  • Kemudian di padang Arafah pada saat haji Wada’ Rasulullah bersabda : ‘Aku tidak tahu pasti. Barangkali setelah tahunku ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat wukuf ini untuk selamanya’.  Sabda beliau di Jamratul ‘Aqabah, “Ambil dariku manasik kalian [ cara cara menunaikan ibadah haji ], sepertinya setelah tahunku ini, aku tidak berkesempatan lagi untuk menunaikan haji
  • Selain itu pada pertengahan hari hari Tasyrik, turun kepada beliau surah An Nashr.  Dengan turunnya surah tersebut, mengertilah beliau bahwa saat perpisahan telah tiba dan pemberitahuan akan datangnya ajal sudah sampai. Pada bulan  safar 11 Hijriah Rasulullah saw pergi ke Gunung Uhud dan mendoakan para syuhada yang dikubur di sana. Rasulullah saw. kemudian beranjak menuju mimbar seraya bersabda :  ‘Sesungguhnya aku yang mendahului kalian. Dan sesungguhnya aku menjadi saksi terhadap kalian.  Demi Allah, sungguh saat ini aku sedang melihat liang [ kubur ] ku !  Kepadaku telah diserahkan kunci kunci perbendaharaan bumi atau kunci kunci bumi.  Dan demi Allah, aku tidak mengkhawatirkan  kalian akan musyrik setelahku, akan tetapi yang kutakutkan kalian akan berlomba lomba mendapatkan kunci kunci itu!’ [ Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim ]
  • Dilain malam, Rasulullah  keluar menuju Baqi’ lalu meminta ampunan untuk mereka yang dikebumikan di sama, seraya bersabda : ‘Assalammualaikum, wahai para penghuni kubur. Rasakanlah kemudahan keadaan yang sedang kalian alamai dibanding keadan yang sedang terjadi pada orang orang yang masih hidup,  Fitnah fitnah telah datang seumpama potongan potongan malam gelap gulita yang ujung sepotongnya mengikuti awal potongan lainnya.  Hari akhirat lebih berat daripada dunia.  Pada akhir perkataannya, Rasulullah  menyampaikan kabar gembira kepada mereka dengan mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami akan menyusul kalian semua’

 


Rasulullah Jatuh Sakit

 

Ibnu Mas’ud r.a., bahwasanya dia berkata: “Ketika ajal Rasulullah saw sudah dekat,  Rasulullah  mengumpulkan  kami di rumah Aisyah r.a Kemudian Rasulullah memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda: Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu.

Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah.” “Allah berfirman: Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan surga itu bagi orang orang yang bertakwa.”

Kemudian kami bertanya: “Bilakah ajal Rasulullah  ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila.” Kami bertanya lagi: “Siapakah yang akan memandikan Rasulullah ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Salah seorang ahli bait.” Kami bertanya: “Bagaimana nanti kami mengafani Rasulullah ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.” Kami bertanya: “Siapakah yang mensolatkan Rasulullah di antara kami?” Kami menangis dan Rasulullah saw pun turut menangis.

Kemudian Rasulullah bersabda: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku. Kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua.”

 


Kematian Semakin Dekat

 

Semenjak hari itu, Rasulullah saw bertambah sakitnya yang ditanggungnya selama 18 hari. Setiap hari, ramai umat mengunjungi Rasulullah hingga datangnya hari Isnin, disaat Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sehari menjelang Rasulullah wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit Rasulullah semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan azannya, dia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” Kemudian dia berkata lagi: “Assolah yarhamukallah.” Fatimah menjawab: “Rasulullah dalam keadaan sakit.”

Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid. Ketika bumi terang disinari matahari siang, maka Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu dia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh dia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah saw bersabda: “Saya sekarang berada dalam keadaan sakit. Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat.”

Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: “Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?” Kemudian dia memasuki masjid dan memberitahu Abu Bakar agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar r.a. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, dia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu dia menjerit dan akhirnya dia pengsan. Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi bising sehingga terdengar oleh Rasulullah saw.

Rasulullah bertanya: “Wahai Fatimah, suara apakah yang bising itu?” Fatimah menjawab: “Orang-orang menjadi bising dan bingung kerana Rasulullah saw tidak ada bersama mereka.”

Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Talib dan Abbas r.a. Sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka Rasulullah berjalan menuju ke masjid. Rasulullah solat dua rakaat.

Setelah itu Rasulullah melihat kepada orang ramai dan bersabda: “Ya ma aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah. Sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua, setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini.”

 


Usamah Bin Zaid bersama tentaranya Kembali ke Madinah

Sesudah shalat subuh dan umat melihat langsung bahwa Rasulullah berangsur sehat, Panglima Usama bin Zaid mohon diri pada Rasulullah pergi berangkat melaksanakan tugas yang diberikan Rasulullah kepadanya.

Dan setelah Nabi mengijinkan, berangkatlah Usamah ke Juruf, tempat tentara Islam berkemah. Dan sampailah Usamah di Jusuf.

Tengah asyik ia menyiapkan dan mengatur siasat perang, tiba tiba datanglah utusan dari Madinah. Membawa kabar duka wafatnya Nabi.
Mendengar berita itu, merasa bingunglah Usamah. Ia tak yakin akan wafatnya Nabi, karena tadi subuh ia dan para sahabat lainnya menyaksikan sendiri kesehatan Nabi yang semakin membaik. Dan beberapa jam kemudian, seorang utusan menyampaikan bahwa Nabi telah tiada.

Tanpa berlama lama lagi, Usamah dan seluruh pasukan kembali ke Madinah. Menemui untuk yang terakhir kali kekasih tercinta, yang tak akan mereka temui lagi selama lamanya.
Dan pulanglah pasukan itu, dibungkus kesedihan yang mendalam. Dan duka membalut sepanjang perjalanan mereka.

 


Malaikat Maut Datang Bertamu

Pada hari esoknya iaitu pada hari Isnin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya dia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah saw dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka dia dibolehkan masuk. Tetapi jika Rasulullah saw tidak mengizinkannya, dia tidak boleh masuk dan hendaklah dia kembali sahaja. Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Dia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah saw,

Malaikat Maut itupun berkata: “Assalamualaikum wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!” Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu: “Wahai Abdullah (hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit.” Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: “Assalamualaikum, bolehkah saya masuk?” Akhirnya Rasulullah saw mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu Rasulullah bertanya kepada puterinya Fatimah: “Siapakah yang ada di muka pintu itu?” Fatimah menjawab: “Seorang lelaki memanggil Rasulullah. Saya katakan kepadanya bahawa Rasulullah dalam keadaan sakit. Kemudian dia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma.” Rasulullah saw bersabda: “Tahukah kamu siapakah dia?” Fatimah menjawab: “Tidak wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah saw menjelaskan: “Wahai Fatimah, dia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Masuklah, wahai Malaikat Maut.”

Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan: “Assalamualaika ya Rasulullah.” Rasulullah saw pun menjawab: “Waalaikassalam ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?” Malaikat Maut menjawab: “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan. Jika tidak, saya akan pulang.” Rasulullah saw bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril?” Jawab Malaikat Maut: “Saya tinggal dia di langit dunia.” Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril a.s. datang lalu duduk di samping Rasulullah saw. Maka bersabdalah Rasulullah saw: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahawa ajalku telah dekat?” Jibril menjawab: “Ya, wahai kekasih Allah.”

 


Ketika Sakaratul Maut

Seterusnya Rasulullah saw bersabda: “Beritahu kepadaku wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya?” Jibril pun menjawab: “Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu.” Rasulullah saw bersabda: “Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku?” Jibril menjawab lagi: “Bahawasanya pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu.” Rasulullah saw bersabda lagi: “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang disediakan Allah untukku?” Jibril menjawab: “Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti.”

Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Segala puji dan syukur aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku.” Jibril a.s. bertanya: “Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan?”

Rasulullah saw menjawab: “Tentang kegelisahanku. Apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al Quran sesudahku?  Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?” Jibril menjawab: “Saya membawa khabar gembira untuk Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.”

Maka berkatalah Rasulullah saw: “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku.” Lalu Malaikat Maut pun mendekati Rasulullah saw. Ali r.a. bertanya: “Wahai Rasulullah saw, siapakah yang akan memandikan Rasulullah dan siapakah yang akan mengafaninya?” Rasulullah menjawab: “Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Surga.” Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah saw.

Ketika roh Rasulullah sampai di pusat perut, Rasulullah berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.” Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril a.s. memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah saw bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku?” Jibril menjawab: “Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka Rasulullah, sedangkan Rasulullah sedang merasakan sakitnya maut?” Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah saw. Maka wafatlah manusia mulia itu pada usia 63 tahun.