بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mekah saat itu diliputi kebodohan yang mendalam.  Penyembahan berhala, berjudi dan berfoya foya yang dilakukan tidak saja oleh pembesar Quraisy, tapi juga meliputi hampir penduduk Mekah.  Situasi demikian terus terjadi hingga Muhammad menyatakan kenabiannya.

Namun beberapa tahun sebelum Muhammad menyatakan kenabiannya, telah ada beberapa penduduk Mekah yang menolak agama paganisme penduduk Mekah.  Mereka menolak menyembah berhala, dan penolakan itu meski diketahui oleh pembesar pembesar Quraisy, tapi tidak sampai menimbulkan gejolak.  Karena penolakan mereka hanya sebatas pribadi dan tentu dianggap sebagai masalah pribadi.

Hingga pada suatu hari masyarakat Quraisy sedang berkumpul di Nakhla merayakan berhala Uzza.   4 orang di antara mereka diam diam meninggalkan upacara itu. Mereka itu ialah : Zaid bin Amr, Usman bin Al Huwairith, Ubaydullah bin Jahsy dan Waraqa bin Naufal.

Mereka satu sama lain berkata : “Ketahuilah bahwa masyarakatmu ini tidak punya tujuan; mereka dalam kesesatan. Apa artinya kita mengelilingi batu itu: memdengar tidak, melihat tidak, merugikan tidak, menguntungkanpun juga tidak. Hanya darah korban yang mengalir di atas batu itu. Saudara-saudara, marilah kita mencari agama lain, bukan ini.”

Dari antara mereka itu kemudian Waraqa bin Naufal, yang juga masih kerabat Khadijah,  menganut agama Nasrani. Konon katanya dia yang menyalin Kitab Injil ke dalam bahasa Arab.  Namun ketika Muhammad menerima wahyu, Waraqah tidak serta merta mengikuti ajaran Islam.  Meski ia membenarkan kenabian Muhammad dan mengatakan kepada Khadijah, bahwa apa yang dibawa Muhammad, adalah sama seperti yang dibawa Musa.

Ubaydullah bin Jahsy masih tetap kabur pendiriannya. Ia menikah dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan.  Ketika Muhammad menyatakan kenabiannya, ia serta merta memeluk Islam.  Kemudian ia ikut hijrah ke Abyssinia. Namun hijrahnya Ubaidillah ke Abyssinia, tidak menjadikannya muslim yang semakin kokoh keislamannya.  Namun justru sebaliknya.  Ia murtad dan pindah menganut agama Nasrani sampai matinya.

Tetapi isterinya – Ummu Habibah bint Abi Sufyan – tetap dalam Islam.  Kabar murtadnya Ubaydillah, sampai juga ke telinga Rasulullah ﷺ.  Lalu Rasulullah ﷺ menikahkan dirinya dengan Ummu Habibah.  Inilah pernikahan ‘jarak jauh’ yang pertama dalam Islam. Atas permintaan Rasulullah, Raja Ashimah An Najasyi yang memberikan mahar kepada Ummu Habibah.  Raja juga mengadakan pesta pernikahan yang meriah untuk pernikahan ‘jarak jauh’ yang pertama dalam sejarah Islam.

Zaid bin Amr dalam pengembaraannya mencari Tuhan, akhirnya benar benar pergi meninggalkan isteri dan al Khattab pamannya. Ia menjelajahi Syam dan Irak, kemudian kembali lagi. Tetapi dia tidak mau menganut salah satu agama, baik Yahudi atau Nasrani. Juga dia meninggalkan agama masyarakatnya dan menjauhi berhala. Dialah yang berkata, sambil bersandar ke dinding Ka bah : “Ya Allah, kalau aku mengetahui, dengan cara bagaimana yang lebih Kausukai aku menyembahMu, tentu akan kulakukan. Tetapi aku tidak mengetahuinya.”

Akhir kisah Zaid tidak diketahui.

Usman bin Al Huwairith, yang juga masih berkerabat dengan Khadijah, pergi ke Rumawi Timur dan memeluk agama Nasrani. Ia mendapat kedudukan yang baik pada Kaisar Rumawi itu. Disebutkan juga, bahwa ia mengharapkan Mekah akan berada di bawah kekuasaan Rumawi dan dia berambisi ingin menjadi Gubernurnya. Tetapi penduduk Mekah mengusirnya. Ia pergi minta perlindungan Banu Ghassan di Syam. Dari Syam, Usman bermaksud memotong perdagangan ke Mekah. Tetapi utusan penduduk Mekah sampai juga kepada Banu Ghassan.  Dengan membawa hadiah hadiah, para utusan meminta agar perlindungan kepada Zaid dicabut.  Akhirnya ia mati di tempat itu karena diracun.

Wallahu a’lam bil showab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..