بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kiblat  adalah segala sesuatu yang ditempatkan di muka, atau sesuatu yang kita menghadap kepadanya.  Kata kiblat berasal dari bahasa Arab, yaitu al Qiblah.  Diambil dari kata muqabalah yang berarti muwajahah, artinya menghadap atau keadaan seorang yang menghadap.

Sehingga kata qiblah sendiri artinya hadapan, yaitu suatu keadaan (tempat) dimana orang orang pada menghadap kepadanya. Secara harfiah, qiblat berarti al Jihah yakni arah atau disebut syathrah.

Arti kata kiblat secara harfiah : arah [ al jihah ], dan merupakan bentuk fi’lah dari kata al mutbalah.   Sehingga berarti ‘keadaan menghadap.’

Kemudian, kata ini digunakan untuk istilah arah yang dituju seorang muslim ketika ia shalat. Ke arah mana muslim menghadap ketika shalatnya? Jawabnya : ke arah Kabah.  Jadi Kabah tidak lain hanyalah kiblat, yang kaum muslimin menghadap kepadanya dalam shalat mereka atas perintah Allah Ta’ala.

Kabah disebut sebagai kiblat karena ia menjadi arah yang kepadanya orang harus menghadap dalam mengerjakan shalat. Penentuan arah kiblat pada hakikatnya adalah menentukan posisi Kabah dari suatu tempat di permukaan bumi, atau sebaliknya.

Dalam ungkapan Arab dikatakan artinya ‘ucapannya tidak punya kiblat, maksud kata tidak punya artinya ‘ke mana arahmu?’; artinya arah’; ‘dia tidak memiliki arah mengenai permasalahannya’.

Adapun Kabah, maknanya secara bahasa adalah setiap rumah yang berbentuk kubus.  Namun secara etimologi, kata kabah lebih dikenal untuk menamai bangunan kubus yang dibangun pertama kali oleh Nabi Adam عليه السلام
, kemudina pondasinya oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il عليه السلام.  Yang saat ini bangunan tersebut berada di tengah Masjidil Haram di tanah suci Mekah.

Al Quran menyebut Kabah dengan beberapa nama, antara lain : Kabah, Bakkah, al Bait, Baitullah, Baitul Haram, al Bait al Atiq, dan Qiblah.

Dalam sebuah atsar disebutkan, Kabah disebut juga al Bait al Atiq karena ia terbebaskan dari kesewenang wenangan.

Para ahli bahasa menemukan lebih dari 40 makna lain dari Kabah. Dalam Nazham, al-Qadhi Abu al-Baqa’ Bin Adh Dhiya’ al Hanafi merangkum 30 nama bagi Makkah. Nazham tersebut dinukil oleh Ibnu Zhahirah dalam al-Jami’ al-Lathif.

Sehingga pada hakikatnya, kiblat [qiblat] yang bermakna arah dan tempat, makna tersebut ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sehingga jika menyebut kata kiblat pasti kedua makna tersebut sudah terkandung di dalamnya, atau dalam bahasa nahwunya “al-Lafdzu al-Mufrad wa Muraduhu al-Jam’u“.

Beberapa definisi kiblat       
  1. The direction that should be faced when a Muslim prays during salat. ( arah dimana umat muslim menghadap ketika shalat ).
  2. The direction of the sacred shrine of the Kabah in Mecca, Saudi Arabia, toward which Muslims turn five times each day when performing the salat (daily ritual prayer). Soon after Muhammad‘s emigration (hijrah, or Hegira) to Medina in 622, he indicated Jerusalem as the qiblah, probably influenced by Jewish tradition. When Jewish-Muslim relations no longer seemed promising, Muhammad changed the qiblah to Mecca. ( Arah tempat suci Kabah di Makkah, Saudi Arabia, dimana kaum muslim menghadap ketika shalat lima waktu lima. Dimulai sejak Rasulullah ﷺ emigrasi (hijrah atau hegira) ke Madinah pada tahun 622 M, sebelumnya Rasulullah ﷺ menjadikan Masjid al Aqsha di Jerusalem sebagai kiblat namun dikarenakan ke-tidak harmonis-an hubungan muslim dan Yahudi kala itu Rasulullah ﷺ dipeintahkan untuk mengubah arah kiblat ke Makkah ).
  3. Arah yang merujuk ke suatu tempat dimana bangunan Kabah di Masjidil Haram, Arab Saudi berada.
  4. Arah menuju Kabah (Makkah) lewat jalur terdekat yang mana setiap muslim dalam mengejakan shalat harus menghadap ke arah tersebut.

Namun dalam surat Yusuf [10] ayat 87, yang dimaksud kiblat adalah tempat shalat bukan arah kiblat :

 وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ 87

Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya : “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah rumahmu itu tempat salat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang orang yang beriman”.

  • Abdul Aziz Dahlan mendefinisikan kiblat sebagai bangunan Ka’bah atau arah yang dituju kaum
    muslimin dalam melaksanakan sebagian ibadah.
  • Sedangkan Harun Nasution, mengartikan kiblat sebagai arah untuk menghadap pada waktu shalat.
  • Sementara Mochtar Effendy mengartikan kiblat sebagai arah shalat, arah Kabah di kota Makkah.
  • Departemen Agama Republik Indonesia mendefinisikan kiblat sebagai suatu arah tertentu bagi kaum muslimin untuk mengarahkan wajahnya dalam melakukan shalat.
  • Slamet Hambali memberi definisi kiblat yaitu arah menuju Kabah (Makkah) lewat jalur terdekat yang mana setiap muslim dalam mengerjakan shalat harus menghadap ke arah tersebut. Sedangkan yang dimaksud kiblat menurut Muhyiddin Khazin adalah arah atau jarak terdekat sepanjang lingkaran besar yang melewati Kabah (Makkah) dengan tempat kota yang bersangkutan.
  • Sedangkan Nurmal Nur mengartikan kiblat sebagai arah yang menuju ke Ka’bah di Masjid al-Haram Makkah, dalam hal ini seorang muslim wajib menghadapkan mukanya tatkala ia mendirikan shalat atau saat jenazah dibaringkan di liang lahat.

 

Hukum Menghadap Kiblat     ∴

Menghadap kiblat ketika shalat merupakan syarat sah shalat seorang hamba jika ia mampu. Para ulama satu kata dalam hal ini. Imam Ibn Rusyd (w. 595 H) menjelaskan,

“اتَّفَقَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ التَّوَجُّهَ نَحْوَ الْبَيْتِ فى الصلاة شَرْطٌ مِنْ شُرُوطِ صِحَّةِ الصَّلَاةِ”.

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa menghadap ke arah Baitullah ketika shalat merupakan salah satu syarat sah shalat”. [Al-Bayan fî Madzhab al-Imâm asy-Syâfi’i, karya al-‘Imrany, ‘inayah Qasim Muhammad an-Nury, Dar al-Minhaj, tc, tt. ]

Mereka berdalil, antara lain, dengan firman Allah ta’ala surat Al Baqarah [2] ayat 144:

“فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ”.

Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu ..

Juga hadits Rasulullah ﷺ :

“إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّر”.

“Jika engkau hendak menunaikan shalat, maka sempurnakanlah wudhu, lalu menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah”. HR. Bukhari (no. 6251) dan Muslim (no. 884) dari Abu Hurairahradhiyallahu’anhu.

Adakah Orang yang Tidak Diwajibkan Menghadap Kiblat?    ∴

Di atas telah dijelaskan bahwa menghadap kiblat merupakan syarat sah shalat, bagi orang yang mampu. Berdasarkan keterangan ini, bisa disimpulkan bahwa orang yang tidak mampu, maka ia tidak wajib untuk menghadap kiblat. Dan ini merupakan salah satu potret kemudahan syariat Islam.

Siapa sajakah orang-orang yang mendapatkan dispensasi untuk tidak diharuskan menghadap kiblat ketika shalat?

Mereka antara lain :

1. Orang yang tidak mampu untuk menghadap kiblat, karena sakit misalnya. Akibat sakit yang begitu parah, sekedar untuk menggerakkan tubuhnya ke arah kiblat saja ia tidak mampu. Dalam kondisi seperti ini maka shalatnya dianggap sah, kemanapun ia menghadap. Dalilnya firman Allah ﷻ :

“فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ”.

“Bertakwalah kepada Allah menurut kemampuan kalian”. QS. At Taghaabun [64] ayat 16.

2. Orang yang dalam keadaan super takut, misal karena dikejar musuh, dan ia lari bukan ke arah kiblat. Jika ia mengalami kondisi seperti itu dan masuk waktu shalat, maka diperbolehkan baginya untuk shalat tidak menghadap kiblat, bahkan sambil berlari sekalipun. Ia shalat dengan menggunakan isyarat. Dalilnya firman Allah ﷻ  :

“فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا”.

“Jika kalian takut (ada bahaya), maka shalatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan”.QS. Al Baqarah [2] ayat  239.

3. Orang yang sedang bepergian naik kendaraan dan hendak menunaikan shalat sunnah. Ia diperbolehkan untuk menunaikan shalat di atas kendaraan, walaupun kendaraannya tidak menghadap ke arah kiblat. Dalilnya sebuah hadits sahih yang dituturkan oleh Ibn ‘Umarradhiyallahu’anhuma,

“كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَيُوتِرُ عَلَيْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُصَلِّي عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ”.

Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan, dengan menghadap ke arah manapun yang dituju kendaraan. Beliau juga melaksanakan shalat witir di atasnya. Namun beliau tidak pernah menunaikan shalat wajib di atas kendaraan”. HR. Bukhari (no. 1097) dan Muslim (no. 1616).

Sumber :  Al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, karya Dr. Wahbah az-Zuhaily, Dimasyq: Dar al-Fikr, cet II, 1405/1985.

Penentuan Arah Kiblat      ∴

Perhitungan geometris arah kiblat
Dalam 1000 tahun terakhir, sejumlah matematikawan dan astronom Muslim seperti Biruni telah melakukan perhitungan yang tepat untuk menentukan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia. Seluruhnya setuju bahwa setiap tahun ada dua hari di mana matahari berada tepat di atas Ka’bah, dan arah bayangan matahari di manapun di dunia pasti mengarah ke Kiblat. Peristiwa tersebut terjadi setiap tanggal 28 Mei pukul 9.18 GMT (16.18 WIB) dan 16 Juli jam 9.27 GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa. Sedang kalau tahun kabisat, tanggal tersebut dimajukan satu hari, dengan jam yang sama.

Tentu saja pada waktu tersebut hanya separuh dari bumi yang mendapat sinar matahari. Selain itu terdapat 2 hari lain di mana matahari tepat di “balik” Ka’bah (antipoda), di mana bayangan matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka’bah. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 November 21.09 GMT (4.09 WIB) dan 16 Januari jam 21.29 GMT (4.29 WIB)

Kepustakaan    ∴
  • Ahmad Warson Munawir, al-Munawir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997).
  • Louis Ma’luf, al-Munjid fil Lughah wal Alam, (Beirut: Darul Masyriq, 1986).
  • Ahmad Izzuddin, Ilmu Falak Praktis, (Semarang: Komala Grafika, 2006).
  • Hambali, Ilmu Falak I (Tentang Penentuan Awal Waktu Shalat dan Penentuan Arah Kiblat Di Seluruh Dunia), t.th.).
  • Luqman Junaidi, Kabah Rahasia Kiblat Dunia, terj. Muhammad Abdul Hamid Asy Syarqawi, Muhammad Raja’i Ath Thahlawi, ”al-Ka’bah al-Musyarrafah Wa al-Hajar al-Aswad”, (Jakarta: Hikmah, 2009).
  • Dendy Sugono, et.al, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008).
  • Jan van den Brink dan marja Meeder, Kiblat Arah Tepat Menuju Mekah, disadur oleh Andi Hakim Nasoetion dari “Mekka”, (Jakarta: Litera Antar Nusa, 1993).

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ