بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sepeninggal Rasulullah, Abu Bakar berkata kepada Umar. ‘Mari kita pergi menemui Ummu Aiman [ ibu dan pengasuh Rasulullah sejak kecil ].  Kita akan mengunjunginya sebagaimana dulu Rasulullah biasa mengunjunginya’.

Tatkala kami sudah bertemu dengannya, Ummu Aiman menangis.  Abu Bakar dan Umar bertanya kepadanya, “Apa sebab kamu menangis?  Bukankah apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik bagi Rasulullah?’

Ummu Aiman menjawab, ‘Aku mengangis bukan karena tidak tahu bahwasanya apa yang ada disisi Allah jauh lebih baik bagi beliau.  Hanya saja aku menangis karena wahyu dari langit telah terputus’.

Jawaban Ummu Aiman membuat Abu Bakar dan Umar terguncang demikian hebat.   Dan akhirnya mereka bertigapun menangis.

Hadis diatas dinukil dari Shahih Muslim dan Sunan Ibnu Majah.

Tangisan ketiga orang terdekat Rasulullah itu menunjukkan betapa para sahabat amat merasa ada semacam ‘ikatan batin’ antara turunnya wahyu dengan kehidupan mereka sehari hari.

Bisa kita bayangkan, Al Quran yang turun selama 23 tahun penuh, sepanjang kenabian hingga wafatnya Rasulullah.  Sepanjang 23 tahun itu Rasulullah menggembleng para sahabat, mentarbiahkan para sahabat dengan petunjuk wahyu yang turun dari langit.

Sekedar penggambaran, Al Quran terdiri dari 6.236 ayat yang kini tercantum dalam Mushhaf Utsmani, semua itu turun dalam jangka waktu 23 tahun.  Sepanjang kenabian hingga  wafatnya beliau.  Jika dihitung secara mutlak dan penuh, 23 tahun itu setara dengan 8.280 hari.

Dengan mempertimbangkan bahwa banyak terdapat ayat yang kemudian di -nasakh dan dimansukh oleh Allah, plus termasuk wahyu wahyu yang tidak termasuk dalam Al Quran seperti hadis Qudsi, ilham dan sunah sunah Nabi.  Sehingga bisa dikatakan wahyu turun tiap hari sepanjang 23 tahun !

Maka tidak berlebihan-lah apa yang ditulis Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Zhilalil Quran, tatkala mengomentari turunnya surat Al ‘Alaq.

‘Sejak saat itu, hiduplah penghuni bumi yang hakikat ini telah mantap didalam jiwanya.  Mereka berada di dalam perlindungan dan pemeliharaan Allah secara langsung dan jelas.  Mereka hidup dengan dapat melihat [mengingat] Allah dalam semua urusannya secara langsung.  Baik dalam urusan besar maupun kecil.  Mereka merasa dan bergerak dibawah pengawasan Allah.  Mereka mengharapkan uluran tanganNya untuk membimbing langkah mereka di jalan selangkah demi selangkah, mengembalikan dari kesalahan dan membimbing mereka pada kebenaran.

Wahyu yang berbicara kepada mereka, tentang diri mereka sendiri,  memecahkan problematikan mereka, dan berkata kepada mereka : Ambillah ini dan tinggalkanlah itu ..  Sungguh ini merupakan masa yang menakjudkan.  Hanya selama 23 tahun, berlangsung hubungna secara langsung antara manusiaang dan Allah Ta’ala.

Masa yang tidak dapat dibayangkan hakekatnya, kecuali oleh orang orang yang hidup pada jaman itu.  Yakni mereka yang merasakannya, menyaksikan permulaan dan kesudahannya, dna merasakan manisnya hubungna ini.  Juga merasakan adanya tangan Allah yang membimbing mereka di jalan kehidupan, dan melihat dari mana mereka memulai dan kemana tujuannya’

Berhentinya wahyu yang telah selama 23 tahun terus turun dan ‘menyertai’ mereka, meninggalkan kesedihan yang mendalam pada diri  para sahabat.  Sehingga ketika Ummu Aiman ‘mengungkit’ perihal berhentinya wahyu itu, menyebabkan diri Abu Bakar dan Umar begitu terguncang dada mereka.

Sehingga menangislah mereka bertiga dengan tangisan yang mendalam !

Wallahu a’alam bishowab