Ada tiga istilah dalam sebuah hadis yakni sanad, rawi dan matan. Dari ketiga itu sanad menempati posisi penting dalam studi hadis, karena dengan sanad ini akan dinilai keshahihan dan kedhaifan atau palsunya sebuah hadis.

Demikian pentingnya sanad, sehingga bila sanad tidak terjaga, maka kemurnian ajaran Islam niscaya akan mengalami hal yang sama dengan agama agama lainnya. Karena umat akan mengalami kebingunan dalam menentukan mana hadis yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudlu‘.

Padahal hadis dengan kriteria shahihlah yang didalamnya terkandung pokok pokok  ajaran Islam.  Mulai dari pokok pokok soal iman hingga bagaimana cara berwudhu. Dari soal murtad hingga bagaimana cara berhaji.

Semua isi Al Quran, penjabarannya ada pada hadis Nabi. Jadi tidak terbayangkan bila tidak ada sanad, maka hadis tidak akan terjaga.

Karena sanad menempati kedudukan sedemikian penting dalam bangunan agama Islam maka banyak orientalis atau kalangan muslim yang meragukan dan hendak membuktikan keotentikan sanad ini.

Bagi yang tidak suka dengan islam bisa terdorong motivasi untuk meruntuhkan bangunan Islam dari studinya terhadap sanad ini, dengan harapan bila mampu membuktikan kebohongan system sanad ia berharap mampu merobohkan bangunan Islam. Sarjana barat atau yang lebih dikenal sebagai orentalis, telah mengkaji masalah hadis ini selama dua abad, mereka juga menerbitkan hasil studi mereka, juga mengkritisi haditshadits ini.

Di kalangan orang yang sudah mempelajari hadits tentu mengenal Al Mu’jam Al Mufahras li Alfadzil Hadis Nabawi. Penyusun kitab Dr. Arnold John Wensick (l.1882 dan w. 1939) dan teamnya, di Universitas Leiden, Belanda. Kitab ini diedit ulang oleh Fu’ad Abdul Baqi. Penulisan kitab ini dimaksudkan untuk memudahkan mencari hadis berdasarkan petunjuk lafazh matan hadis, sehingga bisa ditelusi ke kitab hadits induk mengenai sanad dan matan lengkapnya. Kitab mu’jam ini terdiri dari sekitar tujuh jilid dan dapat digunakan untuk mencari hadishadis yang terdapat dalam Sembilan kitab hadis, yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Sunan Darimi, Muwatta Malik, dan Musnad Ahmad,

Bahkan ada juga yang mengetengahkan teori bahwa hadis tidak lebih dari sebuah produk perkembangan dimensi keagamaan, sejarah, dan social agama Islam pada dua abad pertamanya seperti yang diketengahkan oleh Ignaz Goldziher (l.1850 – w.1921). Maka hadis dengan sanadnya ini dianggap tidak lebih dari sekedar rekayasa perkembangan Islam untuk melembagakan bentuk ritual atau tatanan social Islam yang tidak bersumber langsung dari Rasulullah.

.


Perlunya Sanad

Imam Muslim dalam muqaddimah Shahih Muslim bab Bayan annal isnad minaddin, meriwayatkan sebagai berikut:

قال محمد إبن سيرين: “إن هذا العلم دين فانظروا عن من تأخذون دينكم”.

Pentingnya sanad sebagaimana dikemukakan Muhammad bin Sirin yang merupakan salah satu ulama besar,” sesungguhnya ilmu mengenai sanad ini merupakan bagian dari agama, maka hendaklah kalian lihat dari siapa kalian mengambil agama kalian”

Selanjutnya Imam Muslim menyebutkan, orang-orang dahulu tidak mempertanyaan sanad ini tetapi ketika terjadi masa menyebarnya fitnah, maka ketika ada orang yang membawakan suatu hadis, mereka mengatakan sebutkan siapa rawi/rijalnya, maka kemudian akan diteliti bila yang meriwayatkan itu merupakan ahlu sunnah maka hadisnya diterima dan akan dilihat pula bila yang membawa itu ternasuk alhul bid’ah yang suka mengada-adakan sendiri dalam agama maka haditsnya tidak diterima.

Zaman fitnah ini terjadi pada akhir hayat Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, pada tahun 608 H, di mana orang bernama al Muhktar bin Abi Ubaid ats Tsaqafi sebagai penguasa Kufah yang terkena pengaruh pemikiran Abdullah bin Saba’ yang mulai menyebarkan dan menebarkan kebohongan yang tiada tara dengan membuat hadits palsu, ditengah masyarakat karena ambisi kekuasaannya.

Maka pada sebelum al Mukhtar ini, orang – orang tidak mempertanyakan sanad, tetapi pada masa inilah munculnya orang – orang yang mempertanyakaan sanad. Bahkan al Mukhtar juga membayar mahal orang – orang untuk memalsukan hadits sekehendak hatinya. Demikian seperti yang tertera dalam kitab Nasy atul Isnad wa Syumuluhu.

Sungguh Allah menjagakan agama ini dari kekacauan dengan sanad ini.

قال عبد الله إبن المبارك: “لولا الإسناد لقال من شاء مع شاء”.

و قال أيضاً رضي الله عنه: “السند كالسلم ترتقي به إلى البيت”.

Abdullah bin Mubarak mengatakan,” seandainya tidak karena sanad maka siapa saja akan gampang mengatakan apa saja yang dikehendakinya”. Juga dikatakan,” sanad ibarat tangga yang dengan itu bisa menaiki atas rumah”.

Sanad dipandang penting karena ia bagian dari agama.  Sebagaimana ungkapan yang masyhur dikalangan ulama adalah bahwa sanad merupakan bagian dari agama.  Karena dengan sanad bisa diketahui mana hadis yang shahih dan mana hadits yang dha’if bahkan hadits yang palsu.

Bahkan masalah sanad ini sangat penting karena dimaksudkan untuk menjaga agama islam dan menjelaskan pemalsuan atau perusakan ajaran islam yang dilakukan oleh orang-orang yang yang ingin merusak islam dan orang-orang yang ingin membuat kebohongan atas nama nabi Muhammad. Dalam hal ini para ulama menggunakan sanad yang diakui oleh para ulama, yakni sanad yang bersambung hingga para sahabat dengan menggunakan ilmu rijal al hadis untuk meneliti dan menyeleksi akurasi hadits.

Ada sebuah kisah mengenai sanad ini, dikisahkan bahwa Amirul mukminin Harun al Rasyid menahan seorang pendusta besar, penyusup dan pemalsu hadits mengatasnamakan Rasululah. Ia mengada-adakan hadits yang tidak pernah disabdakan oleh rasulullah dan ia menyebarluaskannya ditengah masyarakat, karena sesungguhnya ia adalah orang kafir yang sengaja ingin merusak ajaran Islam. Harun al Rasyid menghukumnya agar di hokum mati. Ketika hendak dilaksanakan eksekusi hukuman mati, dihadapan orang banyak ia tertawa mengejek sambil mengatakan, “ hokum matilah aku, itu tidak masalah bagiku karena aku telah membuat hadits palsu apa yang aku mau”. Karena ia memang telah menyebarluaskan hadits palsu yang telah ia buat.

Kemudian, Harun al Rasyid ganti mentertawakannya sambil menjawab,” ya kamu tetap akan dihukum mati dan Sufyan At Tsauri nanti yang akan menyeleksi dan menyaringnya dengan ilmunya”.

Karena itu, maka sanad ini dpandang sebagai ciri khas dari umat Islam yang membedakan dengan umat lain baik sebelum atau sekarang ini.

Muhammad bin Hatim al Mudhofir mengatakan sesungguhya Allah telah memuliakan umat Islam ini, memberikan keutamaan dengan adanya sanad ini, karena sanad ini tidak ada pada umat manapun dulu dan sekarang selain umat Islam.

Bahkan Imam Nawawi mengatakan bahwa sanad ini merupakan hal yangn dituntut, merupakan hal yang berharga yang semestinya dipahami oleh ahli fiqih atau orang yang ingin mendalami Islam, dianggap tercela bila tidak mengetahuinya. Karena para guru dalam ilmu itu ibarat merupakan para bapak dalam agama yang menyampaikan antara dirinya dengan Allah.

Imama Syafi’i mengatakan, perumpamaan orang yang belajar hadis tetapi tanpa sanad ibarat orang yang mengigau. Artinya pembicaraannya tidak dianggap berarti.

Abu bakar Muhammad bin Ahmad al Baghdadi mengatakan: ada sebuah kabar yang sampai kepada dirinya bahwa Allah memberi keistimewaan umat Islam ini dengan tiga hal yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya, tiga hal ini yakni:

  1. Sanad,
  2. Nasab/silsilah keturunan,
  3. I’rab*

*I’rab al-Qur’an adalah ilmu Al Qur’an yang membahas kedudukan setiap kata dalam susunan kalimat (ta’bir), untuk mengetahui arti dan makna suatu ayat

Dalam kaitannya dengan beragama kita, maka perlu sekali kita diera serba informasi bebas ini untuk menyaring keaslian ajaran Islam dari susupan atau perubahan dari mereka yang tidak bertanggung jawab sehingga Islam kita bisa terjaga dari paham kita dari penyelewengan akal dan nafsu.

Maka merujuk kepada penjelasan – penjelasan ulama masa lampau yang sudah memberikan syarh hadits atau tafsir al qur’an ataupun dalam bentuk kitab – kitab fiqih sesungguhnya masih sangat relevan. Termasuk dalam hal ini adalah kehati – hatian untuk mengambil pendapat mengenai Islam baik dari kalangan muslim sendiri maupun yang bukan muslim tatkala mereka berbicara tentang Islam, kita tidak serta merta gegabah mengambilnya tanpa merujukkan kembali dengan pandangan yang sudah para ulama terdahulu.

Demikian pandangan para ulama mengenai sanad, sebagai sesuatu yang sangat dominan dalam menentukan otentikasi ajaran Islam.