بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Para sejarawan sepakat, bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام  dan Putranya Nabi Ismail عليه السلام mulai membangun Ka’bah setelah mendapat perintah dari Allah ﷻ untuk pergi meninggalkan Palestina, menuju Hijaz.

Tetapi diantara sejarawan masa lalu, ada yang mengatakan yang membangun Ka’bah adalah malaikat, tepatnya sebelum bumi di ciptakan.  Ada juga yang mengatakan bahwa yang pertama membangun Ka’bah adalah Nabi Adam عليه السلام sampai masa anaknya Syits.  Pendapat ini mereka dasarkan atas firman Allah ﷻ dalam Al Quran surat Al Baqarah [2] ayat 30 :

 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ 30

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Tafsir :
(Dan) ingatlah, hai Muhammad! (Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”) yang akan mewakili Aku dalam melaksanakan hukum-hukum atau peraturan-peraturan-Ku padanya, yaitu Adam.

(Kata mereka, “Kenapa hendak Engkau jadikan di bumi itu orang yang akan berbuat kerusakan padanya) yakni dengan berbuat maksiat (dan menumpahkan darah) artinya mengalirkan darah dengan jalan pembunuhan sebagaimana dilakukan oleh bangsa jin yang juga mendiami bumi?

Tatkala mereka telah berbuat kerusakan, Allah mengirim malaikat kepada mereka, maka dibuanglah mereka ke pulau-pulau dan ke gunung-gunung (padahal kami selalu bertasbih) maksudnya selalu mengucapkan tasbih (dengan memuji-Mu) yakni dengan membaca ‘subhaanallaah wabihamdih’, artinya ‘Maha suci Allah dan aku memuji-Nya’. (dan menyucikan-Mu) membersihkan-Mu dari hal-hal yang tidak layak bagi-Mu. Huruf lam pada ‘laka’ itu hanya sebagai tambahan saja, sedangkan kalimat semenjak ‘padahal’ berfungsi sebagai ‘hal’ atau menunjukkan keadaan dan maksudnya adalah, ‘padahal kami lebih layak untuk diangkat sebagai khalifah itu!'”

(Allah berfirman,) (“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”) tentang maslahat atau kepentingan mengenai pengangkatan Adam dan bahwa di antara anak cucunya ada yang taat dan ada pula yang durhaka hingga terbukti dan tampaklah keadilan di antara mereka.

Jawab mereka, “Tuhan tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih mulia dan lebih tahu dari kami, karena kami lebih dulu dan melihat apa yang tidak dilihatnya.” Maka Allah Taala pun menciptakan Adam dari tanah atau lapisan bumi dengan mengambil dari setiap corak atau warnanya barang segenggam, lalu diaduk-Nya dengan bermacam-macam jenis air lalu dibentuk dan ditiupkan-Nya roh hingga menjadi makhluk yang dapat merasa, setelah sebelumnya hanya barang beku dan tidak bernyawa.

♥♥♥♥

Mendengar firman Allah ﷻ tersebut, Malaikat langsung bersujud. Mereka mengira Allah ﷻ murka. Mereka bersujud sambil menangis, memohon ampun dari murka Allah ﷻ . Kemudian mereka thawaf, mengelilingi Arasy cukup lama.

Allah ﷻ , Yang Maha Pemurah, melihatnya, lalu menurunkan rahmat. Diciptakan-Nya sebuah tempat yang disebut Baitul Makmur, tepat berada di bawah Arsy. “Wahai para malaikat-Ku, thawaflah kalian di rumah ini dan tinggalkan Arasy.”

Malaikat-malaikat tadi pun berthawaf mengelilingi Baitul Makmur. Dalam satu hari satu malam, kira-kira ada tujuh puluh ribu malaikat yang berthawaf.

Kemudian Allah ﷻ mengutus malaikat-malaikat ke bumi seraya berfirman kepada mereka, “Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah di bumi seperti ini (Baitul Makmur).”

Selanjutnya menurut sejarawan, Allah ﷻ memerintahkan malaikat yang ada di bumi dan juga makhluk yang lainnya untuk thawaf di rumah tersebut sebagaimana penghuni langit thawaf di Baitul Makmur.

Demikianlah, Allah ﷻ menciptakan Baitul Makmur tempat bertobat para penghuni langit, dan Ka’bah di bumi sebagai tempat bertobat para penghuni bumi.

Setelah sekian lama tinggal di bumi dengan senantiasa berharap turunnya rahmat dan ampunan Allah ﷻ , pada suatu hari Nabi Adam عليه السلام mendapat perintah dari Allah ﷻ untuk menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci, Makkah.

Nabi Adam  عليه السلام berangkat dari tempat tinggalnya berjalan ke arah barat melalui Syam, hingga sampailah di Bakkah dan melaksanakan thawaf bersama para malaikat yang sudah terlebih dahulu berada di sana. Para malaikat ini sudah sejak lama melaksanakan perintah thawaf mengelilingi Ka’bah sebelum kedatangan Nabi Adam  عليه السلام sebagai manusia pertama yang menunaikan manasik ibadah haji.

Ketika Adam  عليه السلام berthawaf di Baitullah dan sampai ke Multazam, Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Wahai Nabi Allah, akuilah di tempat ini segala dosamu kepada Tuhanmu!”

Berhentilah Adam  عليه السلام , lalu berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya setiap makhluk yang beramal shalih mendapat ganjaran. Sungguh aku telah beramal, apakah ganjaranku?”

Allah ﷻ mewahyukan kepadanya, “Aku ampuni engkau atas dosa-dosamu.”

Nabi Adam  عليه السلام berkata, “Wahai Tuhanku, juga untuk anak-cucu keturunaku?”

Allah ﷻ mewahyukan kepadanya, “Wahai Adam, siapa saja di antara keturunanmu yang datang ke tempat ini mengakui dosa-dosanya, bertobat sebagaimana engkau bertobat, dan memohon ampun, niscaya Aku ampuni.”

Ketika Nabi Adam عليه السلام  bertolak dari Mina, para malaikat menemuinya dan berkata, “Wahai Adam عليه السلام, hajimu telah mabrur. Sesungguhnya kami telah menunaikan haji di Baitullah sebelum engkau selama dua ratus tahun.”

Setelah melaksanakan thawaf, beliau mengikuti perintah untuk pergi ke suatu tempat di padang pasir. Di sana Nabi Adam عليه السلام bertemu dengan Siti Hawa, yang berjalan dari suatu tempat bernama Jeddah, tempat beliau menetap setelah diturunkan dari surga. Tempat pertemuan mereka di Padang Arafah ini kemudian dinamakan Jabbal Rahmah, yang berarti “Bukit Rahmat”, sedangkan kata Arafah mempunyai arti “tahu atau kenal”, sehingga seluruhnya berarti “Pertemuan atau perkenalan kembali (di sebuah bukit di padang pasir) setelah sekian lama berpisah” sebagai rahmat Allah ﷻ terhadap Adam dan Hawa.

Selesai mengerjakan ibadah haji, Nabi Adam عليه السلام bertobat meminta ampun kepada Allah ﷻ, dan tobatnya diterima, sehingga dia telah bersih dari dosa dan kesalahan atas perbuatan yang pernah dilakukannya karena terbujuk oleh bisikan iblis pada masa yang lalu.

Firman Allah ﷻ  dalam Al Quran surat Al Baqarah [2] ayat 37 :

 فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ 37

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah ﷻ menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

Konon, Nabi Adam عليه السلام mengunjungi Baitullah sebanyak seribu kali dengan berjalan kaki, tujuh ratus haji dan tiga ratus umrah. Beliau menunaikan haji dengan penuh semangat. Nabi Adamعليه السلام  selalu berdiam di Al-Hathim, yaitu tempat di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad. Beliau telah berthawaf selama seratus tahun sebelum berjumpa dengan istrinya, Hawa. Jibril berkata kepadanya, “Mudah-mudahkan Allah memberikan umur panjang kepadamu dan mengangkat derajatmu.”

Dalam konteks haji, ada istilah haji mabrur. Haji mabrur tidak bercampur dengan satu perbuatan maksiat pun. Mabrur adalah peningkatan, perluasan dalam kebaikan. Ada pula yang berpendapat, haji mabrur adalah haji yang diterima.

♥♥♥♥

Allah ﷻ memerintahkan Nabi Ibrahim عليه السلام untuk menunaikan haji bersama putranya. Nabi Ismail عليه السلام. Berangkatlah mereka berdua dengan menunggang unta. Tidak ada yang menyertai kecuali Jibril عليه السلام.

Ketika mereka sampai di Tanah Haram, Jibril berkata kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, turunlah dan mandilah sebelum kalian memasuki Tanah Haram.”

Mereka pun turun dan mandi. Kemudian, Jibril memperlihatkan kepada mereka bagaimana cara mempersiapkan ihram. Mereka melakukan apa yang dicontohkan. Jibril lalu memerintahkan mereka untuk bertalbiyah dengan mengucapkan kalimat talbiyah sebagaimana yang diucapkan oleh para rasul sebelumnya.

Kemudian Jibril membawa mereka ke Bukit Shafa. Mereka turun, sementara Jibril berdiri di antara mereka berdua, seraya menghadap Baitullah. Jibril bertakbir, mereka pun bertakbir. Jibirl bertahlil, mereka pun bertahlil, Jibril bertahmid, lalu memuji Allah ﷻ, dan mereka berdua pun melakukan apa yang dilakukan Jibril.

Setelah selesai, Allah ﷻ memerintahkan Nabi Ibrahim عليه السلام untuk kembali ke negeri Syam, dan menempatkan Nabi Ismail di Tanah Haram sendirian. Tiada ada orang lain kecuali ibunya, Siti Hajar.

Setelah Ibrahim kembali, Allah ﷻ  memerintahkannya untuk menyeru manusia agar berhaji dan memerintahkannya membangun Ka’bah. Bangsa Arab pun berangkat menunaikan haji, dan waktu itu bangunan Ka’bah masih berupa bongkahan-bongkahan batu di atas fondasi.

Ketika manusia mulai berdatangan, Nabi Ismail عليه السلام mengumpulkan batu dan menaruhnya di tengah-tengah Ka’bah. Ketika Allah ﷻ  mengizinkannya membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim datang dan berkata, “Wahai anakku, Allah memerintahkan kita untuk membangun Ka’bah.”

Mereka lalu membongkar batu-batu itu. Ternyata ada satu batu yang berwarna merah. Allah ﷻ  mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk meletakkan bangunan Ka’bah di atas batu itu. Allah ﷻ  mewahyukan kepada Nabi Ibrahim, “Letakkan bangunan Ka’bah di atas batu itu!”

Allah ﷻ  kemudian menurunkan empat malaikat untuk membantu Nabi Ibrahim mengumpulkan batu-batu itu, sementara Nabi Ibrahim dan putranya menata batu-batu tersebut hingga selesai.

Para nabi yang lain juga melaksanakan haji. Nabi Nuh عليه السلام , misalnya, melakukan ibadah haji saat berada di perahunya. Beliau diperintahkan untuk thawaf di Baitullah ketika bumi ditenggelamkan, kemudian mendatangi Mina dalam hari-hari perjalanannya, lalu kembali dan berthawaf di Baitullah.

Begitu pula Nabi Musa عليه السلام  , beliau berniat ihram dari padang pasir Mesir dan menemui 70 nabi di atas bukit bebatuan Rauha. Suatu tempat di antara dua Tanah Haram, berjarak 30 atau 40 mil dari kota Madinah. Mereka mengenakan mantel yang terbuat dari katun. Nabi Musa bertalbiyah, “Aku sambut panggilan-Mu. Aku hamba-Mu, dan anak dua orang hamba-Mu, menyambut panggilan-Mu.”

Sementara Nabi Sulaiman عليه السلام melaksanakan haji bersama jin, manusia, burung-burung, serta angin, dan beliau menutupi Baitullah dengan bahan pakaian dari Mesir.

Nabi Yunus عليه السلام melewati bukit bebatuan Rauha seraya berucap, “Aku sambut panggilan-Mu, wahai Dzat Pelepas kegundahan yang besar. Aku sambut panggilan-Mu.”

Nabi Isa bin Maryam pun melewati bukit bebatuan Rauha seraya mengucapkan hal yang sama, “Aku sambut panggilan-Mu, aku hamba-Mu, menyambut panggilan-Mu.”

Nabi Muhammad ﷺ juga melewati bukit bebatuan Rauha seraya berkata, “Aku sambut panggilan-Mu, wahai Dzat Penguasa tempat-tempat tinggi, aku sambut panggilan-Mu.”

Dalam beberapa riwayat disebutkan, semua nabi melaksanakan ibadah haji di Baitullah, kecuali Nabi Hud عليه السلام
dan Nabi Shalih عليه السلام , karena mereka disibukkan dengan urusan kaumnya dan tidak sempat melaksanakan haji.

Sejak hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ hanya menunaikan haji satu kali. Tetapi selama di Mekkah, beliau sering menunaikan haji bersama kaumnya. Bahkan ada sebuah riwayat yang mengatakan, Nabi Muhammad melaksanakan haji sebanyak dua puluh kali dan tiga kali umrah.

Rasulullah ﷺ berangkat haji pada empat hari terakhir bulan Dzulqaidah hingga ketika sampai di sebuah pohon beliau shalat. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan sampai di Baida’. Dari sana Rasulullah berniat ihram dan mengucapkan talbiyah serta membawa seratus ekor unta Para sahabat pun berniat ihram. Saat itu mereka belum mengetahui bahwa itu adalah haji tamattu’.

Ketika sampai di Makkah, beliau melakukan thawaf di Baitullah dan orang-orang pun ikut berthawaf bersamanya. Kemudian, Rasulullah ﷺ shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim serta mengusap dan mencium Hajar Aswad.

Rasulullah ﷺ lalu berjalan menuju Shafa, dan memulai sa’i dari sana Rasulullah ﷺ bolak-balik antara Shafa dan Marwah tujuh kali.

Ketika selesai sa’i di Marwah, beliau memerintahkan jamaah untuk bertahallul. Maka seluruh jamaah pun mencukur rambut.

“Seandainya sudah tahu sebelumnya, tentu telah aku lakukan sebagaimana yang aku perintahkan kepada kalian. Seseorang yang mempunyai hewan qurban belum dapat bertahallul, karena Allah ﷻ berfirman, ‘Janganlah kalian mencukur rambut kalian sebelum qurban sampai ke tempat penyembelihannya’.”

Seorang sahabat, Saraqah bin Malik, bertanya, “Wahai Rasulullah, kami merasa seakan-akan kami baru diciptakan hari ini. Apakah yang engkau perintahkan kepada kami ini berlaku untuk tahun ini saja atau untuk setiap tahun?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Untuk selamanya…”

Sumber : Sejarah Ka’bah, Penulis : Prof Dr Ali Husni al Kharbuthli

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ