بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masih ingatkan cerita ketika Nabi Nuh membangun sebuah kapal yang amat besar, di tengah pemukiman yang dikelilingi gurun.  Tidak ada sungai disekitar itu dan [tentu saja] jauh dari laut.  Dan ditengah tengah musim kemarau yang menyiksa.

Mari kita kembali pada jaman itu.  Ketika Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun sebuah KAPAL BESAR ditengah tengah daratan.  Dibawah guyuran sinar matahari yang membakar.  Adakah yang lebih gila dari itu?

Dan tentu saja perintah itu mengundang tanya yang berbaris baris bukan.
Dan tentu saja semua orang mentertawakan.
Maka tak heran, perahu Nuh menjadi bahan bully paling sensasional saat itu.

Tapi Nuh, bersama 3 anaknya dan sekitar 80 pengikutnya tidak bergeming.  Buat mereka yang beriman, perintah Allah adalah HARGA MATI.
Pokoknya apapun yang terjadi, perintah adalah perintah.  Mereka bukan hanya bersedia berdemo berminggun minggu, disuruh matipun mereka akan senang hati melakukannya.    Meskipun taruhannya mereka dibully habis habisan.  Mereka dipinggirkan dalam ‘stuktur pertemanan’.  Kalau ada perayaan, tak ada yang mau mengundang mereka.  Mereka juga tersisihkan dalam hierarki pemeintahan.   Pendek kata, gara gara perahu itu, Nabi Nuh dan umatnya menjadi sekumpulan penderita lepra yang wajib dijauhi.

Tapi bagi Nuh dan umatnya,  membuat PERAHU adalah HARGA MATI.  Karena perintah itu datangnya dari Allah.  Tuhan yang menguasai alam semesta. Tak mungkin Nuh menolaknya atau bahkan sekedar bertanya. Mengapa harus sebuah kapal ya, Rabb?  Mengapa?

Tapi satu yang tidak diketahui oleh para pembuli itu,  Bahwa ketika mereka mencemooh, sesungguhnya apa apa yang mereka lakukan, itu pasti berbalik pada mereka sendiri.

Al Quran surat Hud [11] ayat 38 :

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأ مِنْ قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنْكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ 38

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh : “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami).

Dan tentu kita tahu jalannya kisah itu bukan?
Ketika Allah turunkan hujan yang amat dasyat ditengah musim kemarau yang luarbiasa menyiksanya, dan hujan itu begitu dasyatnya hingga menenggelamkan hampi separuh bumi.  Dan hanya mereka yang berada di PERAHU NUH yang selamat.  Adakah yang menduga begitulah jalannya peristiwa ? Tidak ada yang menduga, bahkan Nabi Nuh sendiri juga tidak mampu menduga, bahwa tipu daya Allah sungguh luarbiasa.

Nah, diakhir tulisan ini, saya meminta kepada anda semua, untuk mengganti kata PERAHU, menjadi KHILAFAH.  Bagaimana, bisa kan?

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ