بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kalender Hijriah [Tahun hijriah] adalah kalender yang tahun pertama-nya adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah, yakni tahun 622 Masehi.

Tahun Hijriah didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Sehingga disebut tahun Qomariah. Ini berbeda dengan kalender Masehi yang didasarkan pada peredaran Matahari atau disebut tahun Syamsiah. Dalam thaun Qomarian, satu kali revolusi bulan memerlukan 29 1/2 hari. Tahun Hijriah terdiri atas 12 bulan. Jadi, dalam satu tahun Hijriah sama dengan 29 1/2 × 12 = 354 hari. Untuk mempermudah dalam perhitungan hari, orang mengubah jumlah hari dalam satu bulan menjadi 29 atau 30 hari. Jumlah hari dalam satu bulan dilakukan secara bergantian.

Kalender hijriah dipakai oleh umat Islam sebagai acuan dalam menjalankan hukum hukum Islam. Seperti haji, puasa, haul zakat, ‘idah thalaq dll.

Dengan menjadikan hilal sebagai acuan awal bulan. Sebagaimana disinggung dalam firman Allah ta’ala dalam surat Al Baqarah ayat 189 :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ َ

“Orang-orang bertanya kepadamu tentang hilal. Wahai Muhammad katakanlah: “Hilal itu adalah tanda waktu untuk kepentingan manusia dan bagi ibadah haji.”

Mengapa peristiwa hijrah-nya Rasul yang dijadikan patokan awal ? Mengapa bukan tahun kelahiran atau wafatnya Rasul ?

Karena bila memakai tahun kelahiran, itu seperti orang orang Nasrani yang memakai tahun kelahiran Yesus sebagai awal kalender Masehi. Dan jika memakai tahun kematian, itu seperti orang Majusi [ Persia ] yang memakai tahun matinya Raja mereka sebagai acuan kalender mereka


Sistem Kalender Hijriah

Perbedaan utama kalender Masehi dan kalender Hijriah adalah saat kapan pergantian hari dimulai.

  • Pada kalender masehi, pergantian hari dimulai saat tengah malam, lepas pukul 24.00.  Sedang pada kalender hijriah pergantian hari dimulai saat terbenamnya matahari di tempat tersebut.
  • Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (aphelion). Dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari).

Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

 


Sejarah Kalender Hijriah

Pada jaman dahulu, masyarakat Arab belum mengenal  kalender sebagai penanda waktu. Umumnya mereka menandai sebuah ‘tanggal’ dengan mengaitkannya pada peristiwa besar yang terjadi. Contohnya pada saat Rasulullah dilahirkan, saat itu Kabah sedang diserang oleh pasukan gajah. Sehingga disebutlah Rasulullah lahir pada Tahun Fiil [Gajah].

Atau Tahun Renovasi Kabah misalnya, karena pada tahun tersebut, Kabah direnovasi ulang akibat banjir. Tahun Fijar, karena saat itu terjadi perang fijar.  Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian seorang tokoh sebagai patokan, misal : 7 tahun sepeninggal Ka’ab bin Luai.

Untuk acuan bulan, mereka menggunakan sistem bulan qomariyah [ penetapan awal bulan berdasarkan fase-fase bulan ]
Sistem penanggalan seperti ini berlanjut sampai ke masa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan khalifah Abu Bakr Ash-Sidiq radhiyallahu’anhu. Barulah di masa khalifah Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu, ditetapkan kalender hijriyah yang menjadi pedoman penanggalan bagi kaum muslimin.

 


Penetapan Kalender Hijriah

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.

Dr. Said Ramadhan Al Buthy, penulis Fiqhus Sirah, menjelaskan bahwa Rasulullah dan Abu Bakar meninggalkan Mekkah dan masuk bersembunyi ke Gua Tsaur pada tanggal 2 bulan Rabiul Awal., bertepatan dengan 20 September 622 Masehi.

Dan Rasulullah serta Abu Bakar tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awwal, sebagaimana disebutkan oleh Al Mas’udi.

Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29-30 hari.

Allah berfirman dalam Al Quran surat At Taubah ayat 36 :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“ Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. ”

 

Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah pada tahun gajah.

Ada beberapa penyebab pembuatan kalender hijriyah. Di antaranya yang paling masyhur adalah datangnya surat dari shahabat Nabi SAW yang berada di Yaman. Abu Musa al Asyari, salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar r.a. menulis kepada Umar bahwa surat surat dari Amirul Mukminin datang kepada mereka tanpa tanggal yang lengkap.  Tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan.

Dan memang Umar sendiri merasakan masalah dari ketiadaan tanggal pada suratsurat yang masuk. Suatu saat ada surat penting kepada Umar dan hanya tertulis pada surat tersebut Bulan Sya’ban. Umar bingung dan bertanya: Apakah ini Sya’ban yang akan datang atau Sya’ban yang sekarang?

Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhah bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad saw menjadi Rasul.

Kemudian  Ali bin Abi Thalib  r.a. mengusulkan berdasarkan momentum hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Yatstrib [ Madinah ].

Hati Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu ternyata condong kepada usulan ke dua ini, Umar berkata :

الهجرة فرقت بين الحق والباطل فأرخوا بها

”Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan”.

Akhirnya para sahabatpun sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun. Landasan mereka adalah firman Allah ta’ala dalam Al Quran surat At Taubah ayat 108 :

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.

Para sahabat memahami makna “sejak hari pertama” dalam ayat, adalah hari pertama kedatangan hijrahnya Nabi. Sehingga moment tersebut pantas dijadikan acuan awal tahun kalender hijriyah.
Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahillah dalam Fathul Bari menyatakan :

وأفاد السهيلي أن الصحابة أخذوا التاريخ بالهجرة من قوله تعالى : لمسجد أسس على التقوى من أول يوم لأنه من المعلوم أنه ليس أول الأيام مطلقا ، فتعين أنه أضيف إلى شيء مضمر وهو أول الزمن الذي عز فيه الإسلام ، وعبد فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – ربه آمنا ، وابتدأ بناء المسجد ، فوافق رأي الصحابة ابتداء التاريخ من ذلك اليوم ، وفهمنا من فعلهم أن قوله تعالى من أول يوم أنه أول أيام التاريخ الإسلامي ، كذا قال ، والمتبادر أن معنى قوله : من أول يوم أي دخل فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – وأصحابه المدينة والله أعلم .

 

Sudah suatu hal yang maklum; maksud hari pertama (dalam ayat ini) bukan berarti tak menunjuk pada hari tertentu. Nampak jelas ia dinisbatkan pada sesuatu yang tidak tersebut dalam ayat.

Yaitu hari pertama kemuliaan Islam. Hari pertama Nabi shallallahu’alaihiwasallam bisa menyembah Rabnya dengan rasa aman. Hari pertama dibangunnya masjid (red. masjid pertama dalam peradaban Islam, yaitu masjid Quba). Karena alasan inilah, para sahabat sepakat untuk menjadikan hari tersebut sebagai patokan penanggalan.

Dari keputusan para sahabat tersebut, kita bisa memahami, maksud “sejak hari pertama” (dalam ayat) adalah, hari pertama dimulainya penanggalan umat Islam. Demikian kata beliau. Dan telah diketahui bahwa makna firman Allah ta’ala: min awwali yaumin (sejak hari pertama) adalah, hari pertama masuknya Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabatnya ke kota Madinah. [ Fathul Bari, 7/335 ]
Sebenarnya ada opsi lain mengenai acuan tahun, yaitu tahun kelahiran atau wafatnya Nabi. Namun mengapa dua opsi ini tidak dipilih?

  • Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan alasannya :

    لأن المولد والمبعث لا يخلو واحد منهما من النزاع في تعيين السنة ، وأما وقت الوفاة فأعرضوا عنه لما توقع بذكره من الأسف عليه ، فانحصر في الهجرة ، .

    “Karena tahun kelahiran dan tahun diutusnya beliau menjadi Nabi, belum diketahui secara pasti. Adapun tahun wafat beliau, para sahabat tidak memilihnya karena akan menyebabkan kesedihan manakala teringat tahun itu. Oleh karena itu ditetapkan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun.” (Fathul Bari, 7/335)

  • Alasan lain mengapa tidak menjadikan tahun kelahiran Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai acuan; karena dalam hal tersebut terdapat unsur menyerupai kalender Nashrani. Yang mana mereka menjadikan tahun kelahiran Nabi Isa sebagai acuan.
  • Dan tidak menjadikan tahun wafatnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai acuan, karena dalam hal tersebut terdapat unsur tasyabuh dengan orang Persia (majusi). Mereka menjadikan tahun kematian raja mereka sebagai acuan penanggalan.

Nama-nama bulan

Kebiasaan orang arab dahulu saat menamai bulan disesuaikan dengan keadaan ‘zaman’nya, keadaan cuaca atau musim [ lihat al Mughni dan an-Nihaayah ].  Mereka menamai ramadhan karena bulan ini bertepatan dengan masa terik panas.  Sama seperti mereka menamai dua bulan robii’ (robiiul awal dan robii’us tsani) karena bertepatan dengan musim semi.  Begitu juga bulan bulan lain meskipun kenyataannya pada musim musim tertentu tidak sesuai dengan apa yang mereka namai.

[table “” not found /]

Keterangan :

[ Hawaasyi as-syarwaany III/371 ].
Tanda kurung merupakan tahun kabisat dalam kalender Hijriyah dengan metode sisa yaitu 2-3-3 yang berjumlah 11 buah yaitu 2,5,8,10,13,16,18,21,24,26 dan 29.

 


Bulan Haram

Ada empat bulan dalam satu tahun kalender Hijriah yang Allah berikan kemuliaan yang keistimewaan, yang tidak ada pada 8 bulan lainnya. Empat bulan itu disebut bulan haram, yakni bulan Dzukaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Disebut bulan haram karena memang kata haram sendiri, dalam bahasa Arab berarti sesuatu yang dimuliakan atau yang mendapat kemulian.  Sebagaimana ulama menyebut Makkah sebagai al Haram al Makkiy, karena banyak kemuliaan yang diberikan Allah untuk daerah tersebut dibanding yang lain.

Empat bulan tersebut adalah tertuang dalam firman Allah Ta’ala  dalam Al Quran surat At Taubah ayat 36 :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak  Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan bulan haram

 


Nama-nama hari 

Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya Matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada saat tengah malam. Berikut adalah nama-nama hari:

[table “” not found /]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.