[pullquote align=”left” color=”” class=”” cite=”” link=””]Kafarat[/pullquote]

Kafarat adalah menebus pelanggaran membatalkan puasa dengan sejumlah ketentuan yang ditetapkan syariat.

Kafarat adalah suatu cara pengganti untuk menebus kesalahan [ dosa ] yang dilakukan secara sengaja. Kafarat Berasal dari kata dasar kafara (menutupi sesuatu).

Jadi kalau kita tidak puasa atau batal puasanya DENGAN SENGAJA  [ tanpa alasan syar’i ] maka wajib baginya menjalankan kafarat.
Berdasarkan hadist shahih dari Abu Hurairah ada 3 pilihan jenis kafarat :

  • memerdekakan budak,
  • Berpuasa 2 bulan berturut-turut, dan
  • Memberi makan 60 orang miskin

Berat ya?

Iya, karena yang kita lakukan adalah  PELANGGARAN.  Kita melanggar aturan puasa DENGAN SENGAJA. Jadi hukumannya berat. Beda dengan kalau kita batal puasa atau tidak puasa karena alasan syar’i maka hukumannya cukup fidyah atau kafarat.

Namun, Islam itu mudah. Aturannya dibuat untuk mempermudah umat bukan memberatkan. Simak penuturan Abu Hurairah dibawah ini.
Dari Abu Hurairah ra, Seorang lelaki datang Nabi saw. dan berkata: Celaka saya, wahai Rasulullah.

Beliau bertanya: Apa yang membuat engkau celaka?

Lelaki itu menjawab: Saya telah bersetubuh dengan istri saya di siang hari bulan Ramadan. Beliau bertanya: Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan seorang budak? Ia menjawab: Tidak punya. Beliau bertanya: Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut? Ia menjawab: Tidak mampu. Beliau bertanya lagi: Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Ia menjawab: Tidak punya.

Kemudian ia duduk menunggu sebentar. Lalu Rasulullah saw. memberikan sekeranjang kurma kepadanya sambil bersabda: Sedekahkan lah ini.

Lelaki tadi bertanya: Tentunya aku harus menyedekahkannya kepada orang yang paling miskin di antara kita, sedangkan di daerah ini, tidak ada keluarga yang paling memerlukannya selain dari kami.

Maka Rasulullah saw. pun tertawa sampai kelihatan salah satu bagian giginya. Kemudian beliau bersabda: Pulanglah dan berikan makan keluargamu [ Muttafaq ‘alaih ].
Begitu juga dalam kesempatan yang lain Hurairah juga ia berkata,

“Seseorang datang kepada Rasulullah saw. kemudian berkata, ‘Aku tidak berpuasa sehari di bulan Ramadhan dengan sengaja.’

Rasulullah saw. bersabda, ‘Memerdekakan budak, atau puasalah dua bulan berturut-turut, atau berilah makan enam puluh orang miskin’.” (Muttafaq ‘alaih).
Sehingga disini jelas bahwa orang yang melakukan perbuatan yang dapat membatalkan puasa dengan sengaja tanpa alasan yang syar’i [ misal  Makan dan minum dengan sengaja, jima’  dll ] dapat dikenai kafarat seperti yang diterangkan hadits di atas.

Hal Hal Yang Membatalkan Puasa

  • Masuknya benda (seperti nasi, air, asap rokok dan sebagainya) ke dalam lambung*  lewat lubang yang ada di tubuh [ mulut atau lubang lainnya ] dengan disengaja.
  • Jima’ atau bersetubuh
  • Muntah dengan disengaja,
  • Keluar mani (istimna’ ) dengan disengaja,
  • Haid (datang bulan) dan Nifas (melahirkan anak),[6]
  • Hilang akal (gila atau pingsan),
  • Murtad (keluar dari agama Islam).

*  masuknya sesuatu ke lambung. Jika masih berada di dalam mulut, seperti berkumur misalnya, tidak membatalkan puasa. Dalam ilmu biologi, indra pengecap itu lidah yang berada di dalam mulut. Jadi mencicipi makanan  dan tidak ditelan [ langsung berkumur kumur ] tidak batal.

Dari kesemua pembatal saum ada pengecualiannya, yaitu makan, minum dan bersetubuhnya orang yang sedang bersaum tidak akan batal ketika seseorang itu lupa bahwa ia sedang bersaum.

Beda fidyah dengan kafarat adalah:

– Fidyah menebus puasa yang ditinggalkan karena uzur syar’i, maksudnya memang boleh berbuka.

– Sedangkan kafarat adalah menebus puasa yang batal karena pelanggaran.