X. Mukjizat, Shalawat, Syafaat, Washilah dan Tawassul Nabi Muhammad

 

Masih di pintu jebakan Cinta Nabi, kali ini tema meningkat lagi. Sebenarnya tema tema setelah Cinta nabi ada beberapa, tapi karena hampir sama triksnya, maka akan saya jadikan satu saja untuk ringkasnya.

Tema berikut adalah keajaiban atau mukjizat, shalawat, syafaat, washilah dan tawassul Nabi.  Tema tema ini mungkin terasa asing di telinga masyarakat kelas atas.  Namun di masyarakat bawah atau akar rumput, tema tema itu amatlah populer.  Sangking populernya, mereka bahkan tidak terlalu perduli soal shirah Nabi, yang mereka perhatikan hanyalah soal shalawat, washilah, tawassul dan cerita cerita tentang mukjizat Nabi.

Seperti di tema Keutamaan dan Kekhususan Nabi Muhammad, tema tema ini juga menjadi tema favorit orang orang Syiah.  Akan saya uraikan mengapa Syiah gemar ceramah dengan memakai tema ini.  Alasan paling umum adalah karena di kalangan menengah ke bawah sudah sangat akrab dengan tema tema ini.   Sudah tidak perlu lagi diberitahukan apa yang dimaksud dengan shalawatan, syafaat, washilah, tawassul dan cerita cerita mukjizat NabiSyiah hanya tinggal membutuhkan satu langkah saja, yakni membangkitkan sikap ghuluw.  Maka selanjutnya, orang tsb sudah terjebak pada amalan amalan bid’ah yang disukai Syiah.  Dan bila sudah menyukai bid’ah, tak akan sulit bagi Syiah untuk menggiringnya menjadi Syiah atau hanya sekedar simpatisan.

Di tema keajaiban Nabi, kisah kisah Israiliyyat akan bertebaran dengan bebasnya. Dan seperti biasa, mereka akan bersikap  ghuluw dalam menjelaskan  semua keajaiban yang dimiliki Rasulullah.

Namun di tema shalawat,  syafaat, washilah dan tawassul, kita harus ekstra hati hati. Karena banyak skjali yang terjebak di sini. Penjelasan hadis hadis yang disajikan Syiah terlihat logis dan haq. Namun  fatal akibatnya bila tidak kita sadari, karena dipintu inilah akidah kita mulai digiring menjadi sesat.

Akan kita bahas satu persatu dengan ringkas.

A. Keajaiban Nabi

Orang orang Syiah senang berbicara soal mukjizat atau keajaiban nabi ini. Bila bicara soal keajaiban nabi, mereka akan semangat sekali. Karena pada akhirnya [ujung ujungnya] mereka juga akan bicara soal ‘keajaiban‘ Sayyidina Ali, lalu kemudian Sayyidina Hasan dan Husain, begitu seterusnya hingga imam kedua belas, yakni Imam Mahdi.  Sudah menjadi rahasia umum kalau Syiah amat membanggakan keajaiban yang dimiliki oleh para imam imam mereka.  Karena itu menunjukkan derajat mereka yang setara Nabi.

Namun sekarang saya tidak akan membahas soal ‘keajaiban2 Sayyidina Ali [ dan seterusnya ]. Dilain kesempatan, kita bisa membahas soal itu.

Keajaiban Nabi ikut menjadi pintu jebakan Syiah, karena sekali lagi, Syiah akan mengangkat tema apa saja bila itu berkaitan dengan Nabi dan bila dirasa akan mampu meng’ghuluw‘kan masyarakat.

Dan diantara tema tema terkait Nabi, tema keajaiban inilah yang sesungguhnya paling mudah diangkat. Karena, tema ini bercerita tentang hal hal yang luar biasa, bagaikan dongeng. Dan dongeng, tentu akan mudah masuk dalam konsep berbikir awam. Simple.

Sebagai umat muslim, kita wajib percaya adanya mukjizat ini. Bahwa mukjizat memang sebuah keistimewaan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan RasulNya. Mengingkari adanya mukjizat adalah sebuah perbuatan yang kufur. Karena pengikangkaran itu berarti juga mengingkari sebagian ayat ayat Al Quran dan hadis.

Namun sekali lagi perlu saya ingatkan, bahwa di tema ini memang ada mukjizat yang diklaim Syiah yang sesuai dengan yang diberitakan dalam hadis ahlul sunnah. Tapi semua itu diceritakan dengan bumbu bumbu yang jauh dari kenyataan. Mereka mencampur baurkan antara fakta dan cerita israiliyyat. Dengan maksud untuk mengghuluwkan tentunya. Dan tanpa kita sadari, bisa menyerret kita pada kebatilan.

Misalnya peristiwa ketika kelahiran nabi. Cerita tentang keajaiban di seputar kelahiran Nabi, sangat banyak tertulis dalam hadis hadis Syiah. Dikatakan dari fajri Aminah keluar sinar ketika melahirkan Nabi, lalu sinar itu melompat ke pangkuannya.  Aminah tidak merasakan sakit ketika proses kelahiran.  Atau saat kelahiran itu angin berhembus sepoi sepoi, malam dihiasi bintang yang amat banyak, bulan bersinar dengan sinarnya amat terang, suasana begitu sepi dan syahdu. Nah !  Penggambaran ini terasa berlebihan, bercampur aduk antara realita dan khayalan.

Sebaliknya, ketika berbicara soal Al Quran sebagai mukjizat terbesar, Syiah hanya akan bercerita sekedarnya. Tanpa bumbu bumbu lainnya.

Sebelum kita berbicara soal hujjah syiah terkait keajaiban Nabi, kita pahami lebih dahulu lebih detil tentang keajaiban itu sendiri.

Makna Mukjizat

Mukjizat menurut lughah adalah melemahkan atau segala sesuatu yang melemahkan.

Dengan kata lain mukjizat adalah sesuatu yang melemahkan kekuatan atau kesanggupan manusia [ lahir maupun batin, jasmnai atau rohani ]. Sehingga seluruh manusia tidak akan mampu melakukan, menandingi atau menentangnya.

Menurut istilah, mukjizat adalah keadaan dan kejadian yang menyalahi kebiasaan atau yang luar biasa yang dilakukan oleh seorang nabi atau rasul Allah ketika mendakwakan dirinya sebagai nabi atau rasul Allah. Dan tak seorangpun mampu melakukan hal itu.

Dalam Al Quran dan hadis, kata mukjizat itu tidak ada. Menurut istilah Al Quran, mukjizat dinamakan dengan ‘ayat‘ atau ‘burhan’ yaitu tanda bukti atau keterangan yang jelas.

Sedang ulama ahli hadis menamakan mukjizat dengan dalaa-ilun nubuwwah : ‘tanda tanda sebagai bukti kenabian’

Al Quran menjelaskan bahwa ada berbagai mukjizat para nabi dan rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad. Mukjizat itu sesuai dengan keadaan umat atau kaum yang sedang mereka dakwahi.

Hujjah Syiah

Berikut  saya sajikan hanya hujjah syiah yang tidak ada bukti dalilnya.
Tercegahnya matahari dari terbenam
Matahari kembali muncul sesudah tenggelam.
Peristiwa ini terjadi berkat doa Nabi untuk Ali bin Abu Thalib agar Ali dapat menunaikan shalat Ashar pada waktunya.
Keluarnya beliau melalui orang orang yang menunggunya di depan pintu rumahnya untuk membunuhnya.

 

B. Shalawat Nabi

Ini adalah juga salah satu tema favorit Syiah. Karena tema ini, sama dengan tema Cinta Rosul, begitu universal, indah dan tepat ke jantung sasaran. Karena siapapun pasti mengenal yang namanya shalawat. Namun salah langkah sedikit saja disini, seseorang berpotensi melakukan  dosa besar yang tidak diampuni Allah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ أَوْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ عِنْدَ اللَّهِ أَكْبَرُ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ قَالَ وَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ}

Dari Abdullâh (bin Mas’ûd) Radhiyallahu anhu, dia berkata: Aku bertanya, atau Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Dosa apakah yang paling besar di sisi Allâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau menjadikan tandingan bagi Allâh, sedangkan Dia telah menciptakanmu (tanpa sekutu).” Aku bertanya, “Lalu apa?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena engkau takut dia makan bersamamu.” Aku bertanya, “Lalu apa?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”

Dan turunlah surat Al Furqan ayat 68, membenarkan perkataan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)

Umat Islam bershalawat minimal 5 kali salam sehari dan semua itu diucapkan dalam shalat shalat mereka.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 56 :

. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya

 

Berdasarkan ayat di ataslah, maka orang orang Syiah mendorong umat untuk ‘bersemangat’ dalam bershalawat.   Banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda cinta seorang Muslim kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama mengatakan: “Barangsiapa  mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya namanya”.  Sikap ghuluw terus dibangkitkan dalam shalawat ini.

Melakukan shalawat adalah sesuatu yang betul, tapi bila dilaksanakan dengan cara yang keliru, maka dampaknya akan sangat besar.  Seseorang bukan melakukan bid’ah bid’ah tetapi berpotensi terjerumus pada dosa besar tanpa mereka sadari. Dan dosa besar itu adalah musyrik.

Meskipun memang orang orang Syiah sendiri terbilang jarang melakukan ritual shalawat, tetapi mereka selalu bersemangat untuk mendorong orang bershalawat.  Sepanjang saya berguru pada Jalaluddin Rakhmat di Bandung, tidak pernah satukalipun pak Jalal mengadakan shalawatan bersama sama para muridnya.  Namun berkali kali Jalaluddin berceramah soal fadhilah bershalawat ini.  Dan jika bicara soal shalawat, semua orang Syiah akan merasa bangga bukan main.  Seakan akan shalawat adalah tulang punggung iman mereka.  Shalawat adalah ibadah terbesar mereka [ meskipun mereka sendiri jarang bershalawat ].

Mengapa ?

Menurut saya, ada dua hal disini yang mendorong orang orang Syiah ‘jualan’ ibadah shalawat.

Pertama, shalawat adalah pintu populer dan mudah untuk ditebar jaringnya.  Karena kebanyakan rakyat awam akan patuh dan tanpa tanya bila diminta untuk membacakan shalawat.  Karena sekali lagi, siapasih [umat Islam] yang tidak mau membaca shalawat ?  Bahkan penjudi, pemabuk bahkan pemerkosa sekalipun, akan sangat mudah melantunkan shalawat, ketimbang disuruh mengaji sekalipun.

Karena memang shalawatan sudah umum dilakukan, sudah populer.  Jadi Syiah tinggal memolesnya dengan sikap ghuluw.  SIkap ghuluw ini penting, karena Syiah tidak rela umat menyadari apa sesungguhnya yang dimaksud dengan shalawat, dan bagaimana cara yang benar melakukan shalawat, yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan Allah SWT.

Syiah tidak ingin kita melakukan hal hal yang baik dan benar.  Karena memang sudah sifat mereka untuk menjerumuskan umat pada kesesatan.  Dan dalam urusan shalawat, Syiah tidak sendirian.  Banyak aliran sesat lainnya yang juga gemar melakukan shalawatan secara ghuluw dan menyisihkan tuntunan Rasulullah.  Salah satu contohnya adalah kaum Sufi.  Diawal saya sudah sampaikan, bahwa antara Syiah dan Sufi bagaikan satu punggung.  Mereka bersebelah belahan dalam melakukan kesesatan.  Mereka saling bantu, saling mengisi dan dekat satu sama lain.

Diantara ceramah ceramahnya, Jalaluddin juga kerap bercerita tentang kehebatan kaum sufi ini, tentang kemuliaan kaum sufi dan tentang bagaimana Sufi adalah kaum ‘penerus’ kenabian.  Ide ide atau gagasan Sufi juga kerap diajarkan dalam ceramah ceramah Jalaluddin.  Misalnya tentang konsep Nur Muhammad yang bila kita gali lebih dalam lagi, maka konsep ini mengandung kemusyrikan yang amat besar.

 

Shalawat Bid’ah

Banyak contoh shalawat yang sesat yang beredar di masyarakat.  Shalawat shalawat itu sering dinyanyikan bersama sama dengan suara keras, dilagukan dan bahkan dijadikan kebiasaan atau rutinitas.  Padahal shalawat adalah seperti zikir, ia ibadah yang

Salah satu contohnya adalah shalawat NariyahShalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan umat diseluruh dunia.  Bahkan  orang meyakini bahwa mereka yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi.

Padahal seorang Muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah).   Karena hal ini sudah musyrik namanya.

Al Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para Rasul ataupun para wali. Allah berfirman dalam Quran Surat Al Israa Ayat 57 :

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.”

 

Shalawatnya orang Sufi.  Orang orang Sufi kerap bershalawat, dan shalawat yang dilakukannya kerap juga dilakukan secara bersama sama, baik yang perempuan maupun laki laki semua ikut bershalawat secara bersama sama.  Posisi laki laki maupun perempuan, kadang juga  duduk bersebrangan [ berhadap hadapan ].  Padahal berikhtilat [ campur baur laki perempuan ] tidak dibenarkan dalam agama.  Semua mazhab melarang melakukan ikhtilat.  Dosa yang ditimbulkannya sudah jelas sekali.

Lebih dari itu,  syair shalawat kaum Sufi kerap  mengandung ke syirikan besar. Dan parahnya, shalawat shalawat kaum Sufi itulah yang kerap dipakai oleh masyarakat.
Contohnya terdapat dalam kata ‘Nurun ala Nur’ yang artinya cahaya diatas cahaya.  Rasulullah dianggap sebagai cahaya, terbuat dari cahaya, dan penciptaannya mendahului [bahkan] alam semesta ini.  Hal ini seperti ‘menandingi’ kebesaran Allah SWT.

 

Shalawat Yang Sesuai Tuntunan Nabi

Lalu para sahabat radhiallahu ‘anhum bertanya bagaimanakah cara berselawat tersebut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

“Ya Allah, berselawatlah ke atas Muhammad dan ke atas ahli keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berselawat ke atas ahli keluarga Ibrahim. Dan berkatilah ke atas Muhammad dan ke atas ahli keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkati ahli keluarga Ibrahim. Di dalam sekalian alam, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Terpuji dan Maha Mulia”

Hadis sahih di atas dikeluarkan oleh Muslim di dalam kitab Shahihnya – no: 405 (Kitab Solat, Bab berselawat ke atas Nabi). Ia juga diriwayatkan oleh imam imam hadis yang lain dengan beberapa lafaz yang sedikit berbeza tetapi dengan maksud yang sama. Selain itu bacaan selawat ini juga menjadi kewajipan bagi kita untuk membacanya dalam solat, dalam bacaan tasyahud.

Jadi, shalawat adalah ibadah yang istimewa, karena hanya shalawatlah satu satunya jenis ibadah yang Allah SWT ikut melakukannya [ juga para malaikat dan semua mahkluk langit ].  Namun sebagaimana ibadah lainnya, bershalawatlah sesuai dengan tuntunan Nabi dan Allah SWT.  Itulah satu satunya jalan yang memberi keselamatan.

Ayat Shalawat Sebagai Hujjah Syiah

Lebih dari sekedar berbicara soal keistimewaan shalawat, orang orang Syiah menjadikan shalawat sebagai bukti dari kedudukan ahlul bait, sebagai bukti dari kekhalifahan Ali yang sah.

Dengarkan hujjah Syiah ini :

 

Syi‘ah menjadikan ayat 56 surah al Ahzab di atas sebagai hujah mereka atas kekhalifahan Ali bin abu Thalib.  Karena dalam menerangkan cara berselawat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyertakan para ahli keluarganya. Rasulullah bersabda, maksudnya: “Ya Allah, berselawatlah ke atas Muhammad dan ke atas ahli keluarga Muhammad……”

Ini tidak lain menunjukkan keistimewaan dan kekhususan ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhum sehingga Allah memerintahkan umat Islam berselawat ke atas mereka di samping berselawat ke atas Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Muhammad Mar‘i al Amin berhujah:[1]

Syi’ah seluruhnya bersepakat bahawa ayat yang mulia ini diturunkan berkenaan hak Nabi dan ahli keluarganya yang suci. Selari dengan manhaj ini (tafsiran ini) ialah majoriti ilmuan Ahl al Sunnah.

Ayat 56 surah al Ahzab ini juga dijadikan hujah kekhalifahan Ali sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini kerana, menurut Syi‘ah, apabila Allah menyuruh umat Islam berselawat dengan menghubung dan menyebut nama Ali sebaik sahaja selepas nama Rasulullah, bererti yang berhak sebaik sahaja sesudah Rasulullah ialah ‘Ali radhiallahu ‘anh. Allah telah mendahulukan dan memberi prioriti kepada Ali sebaik sahaja sesudah Rasulullah, bererti tidak seorang juga yang memiliki prioriti untuk menjadi khalifah sesudah Rasulullah melainkan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh. Ini sebagaimana kata Muhammad Mar‘i al Amin:[2]

Jelaslah berdasarkan ayat yang mulia ini bahwa Ali ‘alaihi salam adalah khalifah yang sabit sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini kerana apabila Allah Ta‘ala menghubungkan Ali bersama Rasul-Nya dalam sebutan selawat ke atasnya sebagaimana yang disebut sebelum ini, maka terhadap Ali – tidak boleh mendahulukan seorang jua ke atas beliau sebagaimana tidak bolehkan mendahulukan seorang jua ke atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikianlah bagaimana Syi‘ah menjadikan ayat 56 surah al Ahzab sebagai hujah kekhalifahan Ali radhiallahu ‘anh.

Benarkah klaim Syiah tersebut ?

Pertama, umat Islam menerima sepenuhnya hadis yang menerangkan cara shalawat untuk memenuhi tuntutan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam ayat 56 surah al Ahzab.

Hadis itu sahih lagi jelas maksudnya, kita menerima dan mengamalkannya sebagaimana zahir hadis.[3]

Kedua, tapi untuk tafsiran bahwa ayat shalawat adalah khusus untuk menjelaskan keistimawaan ahlul bait versi Syiah, itu adalah tafsiran  Syi‘ah yang bersifat berlebih lebihan lagi melampaui batas.

Penolakan ini adalah dengan dua sebab:

  1. Hadis yang menganjurkan selawat kepada ahli keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah umum kepada semua ahli keluarga baginda tanpa terbatas kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain sahaja, radhiallahu ‘anhum. Rasulullah tidak mengajar cara berselawat seumpama: “Ya Allah, berselawatlah ke atas Muhammad dan ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain……”  Justeru tidak boleh membataskan maksud “ahli keluarga Rasulullah” kepada ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain sahaja melainkan dengan dalil yang sahih. Dalam hal ini sememangnya tidak wujud dalil yang sahih untuk membataskannya.
  2. Kewajipan berselawat ke atas ahli keluarga Rasulullah bukanlah hujah kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh. Yang benar ia hanyalah hujah keistimewaan seluruh ahli keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya Allah mengingini ‘Ali menjadi khalifah, pasti Allah akan menetapkannya sebagaimana Allah mengingini keistimewaan ke atas ‘Ali lalu Allah menetapkan kewajipan berselawat ke atasnya.

Demikian dua penolakan Ahl al-Sunnah ke atas penghujahan Syi‘ah. Selain daripada itu, ayat 56 surah al Ahzab dan cara berselawat yang diajar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah hujah untuk berselawat ke atas ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain serta keturunan mereka secara tersendiri. Ini kerana tidak ada dalil yang menganjurkan selawat ke atas mana-mana ahli keluarga Rasulullah secara bersendirian. Oleh itu Ahl al-Sunnah tidak menyebut Hasan bin ‘Ali ‘alaihi salam tetapi Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anh. Demikian juga: Ja’far al-Shadiq rahimahullah dan bukannya Ja’far al-Shadiq ‘alaihi salam.

Kesimpulan mudah kepada para pembaca:

Kewajipan berselawat ke atas ahli keluarga Rasulullah adalah umum meliputi seluruh ahli keluarga baginda tanpa terbatas kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

[1] Limaza Akhtartu Mazhab al-Syi‘ah, ms. 83-84.

[2] Limaza Akhtartu Mazhab al-Syi‘ah, ms. 91.

[3] Lebih lanjut sila rujuk buku penulis yang berjudul: Marilah Kita Berselawat Ke Atas Rasulullah (s.a.w.): Suatu Jemputan Ke Arah Berselawat Dengan Sebenar-benar Selawat dan Huraian Tentang Beberapa Salah Faham Dalam Bab Berselawat (Jahabersa, Johor Bahru 1999 & 2002).

 

C.  Syafa’at, Washilah dan Tawassul

 

Syafa’at secara istilah berarti menjadi penengah bagi orang lain dengan memberikan manfaat kepadanya atau menolak madharat, yakni pemberi syafaat itu memberikan manfaat kepada orang yang diberi syafaat atau menolak madharat untuknya.

Sedang Wasilah dan tawassul adalah istilah yang saling berkaitan satu sama lain.

Wasilah adalah perantara.  Atau secara etimologi berarti:  segala hal yang dapat mencapai atau mendekatkan kepada sesuatu.

Sedang tawassul adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan wasilah [ [perantara ].

Firman Allah dalam Al Quran Surat Al Maidah Ayat 35 :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَقُوا اللهَ وَ ابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada-Nya”.

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata, “Makna wasilah dalam Ayat tersebut adalah peribadahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah (al-Qurbah).”

Demikian pula yang diriwayatkan dari Mujahid, Abu Wa’il, al Hasan,  Abdullah bin Katsir, as-Suddi, Ibnu Zaid dan yang lainnya. Qatadah berkata tentang makna Ayat tersebut, “Mendekatlah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amalan yang diridhai-Nya.”

Inilah makna sebenarnya dari wasilah dan tawassul.  Namun ditangan Syiah, makna washilah dan tawassul menjadi berubah 360 derajat.

 

Hujjah Syiah

Banyak manusia terlalu  yakin dapat ‘berjumpa’ dengan Allah secara langsung tanpa ada perantara sama sekali. Padahal kita tahu, suatu yang suci kalau bercampur dengan yang tidak suci, maka kesucian itu akan ternodai.

[ perhatikan penggiringan kata kata lewat tafsiran kesucian itu ]

Mungkinkah yang Maha Suci [ Allah ] dapat bertemu dg manusia biasa [ yang tidak suci ] ?  Para imam dan ulama [syiah] menganggap hal itu mustahil.

Disinilah hadirnya sosok Rasul, dan para manusia suci yang kemudian menunjukkan perannya. Rasul dan para manusia suci itu, memiliki dua dimensi.

  1. Dimensi suci yang dapat terhubung dengan Allah yang Maha Suci
  2. Dimensi kemanusiaan yang dapat terhubung dengan manusia.

Dari situlah kemudian Rasul dan para manusia suci disebut “jembatan” penghubung antara manusia dengan Tuhannya. Disitulah wasilah, tawassul berperan. Disitulah sholawat dibutuhkan.

Sholawat, wasilah, dan pertolongan manusia suci yg kemudian melahirkan syafaat itu, yang disebut “jembatan” antara manusia denganTuhan.
Itulah mengapa Allah menurunkan para Rasul dan manusia suci. Karena tanpa membangun “jembatan” tak sempurna penciptaan. Yang menganggap para Nabi, Rasul dan Imam (pemimpin setelah Nabi Muhammad) bukan manusia suci, mereka itu terlalu percaya diri.

Lalu, bagaimana kita bisa mendapat syafaat, melewati jembatan penghubung, tanpa kita bersholawat, tanpa kita cinta kepada pemilik pemilik jembatan itu. Apakah kita dapat melewati jembatan itu, tanpa mengetuk pintu dan memohon kepada pemiliknya agar kita dapat melewatinya?

Sholawat, cinta, dan menjalankan nilai-nilai ajaran sucinya, merupakan sebentuk ketukan pintu untuk mendapat syafaat, yg kemudian menjadi kunci pembuka jembatan menuju kepada Tuhan.

Dengan konsep diatas, kita akan digiring, bahwa hanya lewat Nabi dan para manusia sucilah kita bisa mendekat kepada Allah, kita bisa ‘mengetuk pintu’Nya.  Dan yang dimaksud dengan manusia suci ini adalah para imam Syiah yang maksum dan para ulamanya.

Jadi jelaslah, kedudukan imam imam dan ulama Syiah amatlah tinggi, sehingga mereka bisa dan mampu menjadi syafa’at dan wasilah bagi umat.   Anda tidak perlu meminta syafaat dari Nabi, karena syafa’at dari para imam atau ulama Syiah itu sudah cukup.  Lagi pula, anda tidak akan bisa menjangkau Nabi.  Hanya para imam dan ulama saja yang bisa.  Karena merekalah ‘jembatan penghubung’ dunia Nabi.  Lihatlah!  Luar biasa kebatilan yang mereka ajarkan.

 


 

Daftar Isi

Kata Pengantar [ Pintu Jebakan Syiah 1]

Bagian Pertama

I.  Prolog [ Pintu Jebakan Syiah 2 ]

II. Apa dan Siapa Syiah [ Pintu Jebakan Syiah 3 ]

III. Taqiyyah adalah keyakinan dasar Syiah [ Pintu Jebakan Syiah 4 ]

IV. Perbedaan Sunni –Syiah HANYA Masalah Khilafah ? [ Pintu Jebakan Syiah 5 ]

V. Empat Kunci Pembuka Pintu Jebakan Syiah [ Pintu Jebakan Syiah 6 ]

Bagian Kedua

Pintu Jebakan Syiah

VI.     Cinta Rasul [ Pintu Jebakan Syiah 7 ]

VII.   Ghuluw [ Pintu Jebakan Syiah 8 ]

VIII.  Cerita Israiliyat dan Bahayanya [ Pintu Jebakan Syiah 9 ]

IX.   Keutamaan dan Kekhususan Nabi Muhammad [ Pintu Jebakan Syiah 10 ]

X.   Mukjizat, Shalawat, Syafaat, Washilah dan Tawassul. [ Pintu Jebakan Syiah 11 ]

XI.  Strategi Syiah Dalam BerHujjah  [ Pintu Jebakan Syiah 12 ]

XII. Penututp [ Pintu Jebakan Syiah 13 ]