بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Di dalam kompleks Masjidil Aqsha yang seluas 14.4 Hektar ternyata ada begitu banyak bangunan bangunan bersejarah yang indah menawan.  Tercatat 81 bangunan bersejarah memenuhi area Masjidil Aqsha.  Dan menariknya, kesemua bangunan tersebut dibuat pada era atau zaman yang berbeda beda dan dengan penguasa yang berbeda beda.

Dari 81 bangunan tersebut, tercatat 6 mesjid menyemarakkan kompleks Masjidil Aqsha.  3 Mesjid berlokasi di bawah tanah, yakni Mushala Al Qadim, Mushala Al Marwani dan Mesjid Al Buraq. Satu mesjid yang alih fungsi dari tempat shalat menjadi museum, yakni Mesjid Al Maghariba.

 Dan mesjid yang terbesar dari 6 mesjid yang ada di mesjid Al Aqsha adalah Mushala Al Marwani.

Mari kita lihat dan kenali satu persatu mesjid mesjid tersebut.  Salah satunya adalah Mesjid dengan kubah biru yang sering disalahtafsiri sebagai masjid Al Aqsha.

Jami’ Al-Qibly 

Masjid al Qibly atau Masjid Kiblat atau disebut juga Masjid al Umar. Masjid ini dibangun oleh Sayyidina Umar bin Khattab dengan batang-batang pohon – sama seperti Masjid An Nabawi yang dibangun Rasulullah ﷺ di tahun 636. Masjid Al Qibly ini berkapasitas 3.000 jamaah.

Mesjid ini memiliki kubah berwarna biru, dan inilah mesjid yang kerap disalah pahami oleh umat muslim di seluruh dunia, karena sering disangka sebagai mesjid Al Aqsha.

Karena bangunanya sudah tua, maka mesjid Qibly dibangun kembali pada masa Sultan Abdul Malik bin Marwan.  Dan selesai pada masa anaknya Al-Walid bin Abdul Malik.

Masjid ini sudah beratus-ratus kali diserang musuh; penyerangan terbesar pada tahun 1969, ditandai dengan hancurnya Mimbar Salahuddin yang dibuat oleh Nuruddin Zinki.

Mushala Al Qadim

Inilah masjid tertua yang lokasinya di bawah Masjid Al Aqsha. Di dalam masjid terdapat tangga yang terbuat dari bebatuan. Pintu masuknya di bawah pintu masuk Masjid Al Qibly.

Dibangun pada masa Kesultanan Umayyah. Beratusratus tahun ditutup, dan baru dibuka lagi pada tahun 1999.

Mushala Al Marwani 

Mushala Al Marwani adalah mesjid terbesar yang ada di Masjidil Aqsha.  Lokasinya di bawah pekarangan sebelah selatan Masjid Al Aqsha.

Luas masjid ini adalah 3600 m2. Pertama kali dibangun pada masa Kesultanan Umayyah. Saat Perang Salib, kuda-kuda ditambatkan di sini. Setelah pembebasan Baitul Maqdis oleh Salahuddin Al Ayyubi, bangunan diubah dan diberi nama baru menjadi “Gudang Sulaiman.”

Pada tahun 1997, Yayasan Waqaf Al-Aqsha mengembalikan fungsinya lagi menjadi masjid.

Masjid Al Buraq

Dulunya adalah tempat menambat Buraq, tunggangan Rasulullah ﷺ saat Isra’. Pintu masuknya menuruni tangga di bawah pekarangan Masjid Al-Aqsha, dan juga ada pintu masuk lain yang lebih tinggi. Hanya dibuka pada saat shalat Jum’at dan shalat-shalat ‘Id.

Masjid Al Maghariba

Dibangun langsung oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1193. Sekarang dijadikan museum.

Jami’ Nisa

Setara datarannya dengan Jami’ Al Qibly. Masjid Nisa merupakan bangunan yang besar, membentang sejauh dinding barat. Pada masa Kesultanan Ayyubiyah dikhususkan untuk mushala perempuan. Sekarang sebagiannya difungsikan sebagai museum dan perpustakaan.

Dome of The Rock

Selain mesjid mesjid diatas, ada satu bangunan lagi yang difungsikan sebagai mesjid yakni Kubah Ash Sakhrah atau Dome of The Rock.

Disebut Ash Sakhrah yang berarti  Batu, karena memang kubah ini berdiri di atas batu raksasa.  Dari kemudian diatasnya dibangunlah bangunan yang bentuknya kita kenal seperti sekarang.

Batu raksasa itu konon adalah titik berangkat Rasulullah ﷺ naik ke langit dalam perjalanan Al Mi’rajnya.  Menurut riwayat, batu yang menjadi pijakan Nabi untuk terbang ke langit, ingin ikut juga terbang.  Namun ia tertahan dan akhirnya hanya bisa melayang. HIngga kini batu raksasa itu melayang di dalam bangunan Dome of The Rock.

Kubah As Sakhrah juga disebut Dome of The Rock.  Tetapi sekali lagi, bangunan ini bukanlah mesjid [ tempat untuk sholat ].  Ini hanya  bangunan biasa yang dibangun oleh Sultan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 685-705. Bentuk bangunan segi delapan, dengan tinggi 35 meter.
Kubah Batu inilah yang kerap oleh zionis Israel disebut sebagai mesjid Al Aqsha untuk mengelabui umat.  Dan memang kubah ini juga difungsikan sebagai mesjid, dipakai untuk tempat sholat bagi kaum muslim, kecuali sholat subuh.

Jamaah Dome of The Rock ini adalah wanita dan laki laki tua.  Sehingga untuk sholat Jumat, hanya bisa dipakai oleh wanita.
Kubah Dome of the Rock ini dilapisi potongan emas, sementara bangunannya dihiasi dengan porselin khusus, khat yang sangat indah dan lantainya keramik. Di masa Perang Salib bangunan ini dijadikan gereja dengan ditambahi sebuah altar sementara bulan sabit besar di kubah diganti dengan salib. Pada tahun 1187, Salahuddin AlAyyubi mengembalikan Kubah As-Sakhrah ke fungsi semula. Pada tahun 2009, Turki memperbarui hiasan bulan sabit pada Kubah As-Sakhrah dengan biaya 250 ribu Euro.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .