بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al Quran disebut ilmu laduni.  Artinya ilmu yang langsung dari hadirat Allah Ta’ala tanpa melalui usaha manusiawi.  Ia bukan hasil pembelajaran, bukan hasil kajian dan bukan pula hasil penelitian.

Dari 6666 ayat hanya kurang lebih 10% nya saja yang mempunyai asbab an nuzul [ konteks tertentu yang menjadi latar belakang sebuah ayat ].  Itupun tidak berarti secara keseluruhan ayat ayat sebagai ilmu iktisabi.

Karena apapun konteks yang terkait dengan turunnya Al Quran, namun hukum hukum, hikmah maupun penjelasan dari ayat ayat itu semua bukanlah hasil usaha manusiawi dari Nabi Muhammad SAW.

Allah Azza Wa Jalla berfirman dalam Al Quran surat An Najm [53] ayat 3 & 4 :

 وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى 3

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

 إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى 4

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),

 

Al Quran disebut ilmu laduni ijmali.  Karena hampir semua ayat ayatnya menjelaskan secara global, secara ijmal.  Jarang didapatkan ayat ayat yang rinci [tafshili] dalam berbagai bidang.  Dari beberapa penulisan, hanya didapatkan beberapa ayat yang rinci yang tidak memerlukan penjelasan lagi.

Antara lain tentang perempuan yang haram dinikahi [ QS An Nisaa’ [4] ayat 23.  Dan surat Al Munaafiquun [63] yang menjelaskan tentang perilaku orang orang munafik.

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ