Ibnu Sa’d adalah seorang perawi atau imam penghapal hadis dan seorang ahli fiqh sejarah yang terpercaya [ Tsiqah ], ia dilahirkan di Bashrah pada tahun 168 H.

Nama sebenarnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin sa’ad bin Mani’ al-Quraisy al Bashri al Baghdadi,

Ibn Sa’ad merupakan tipologi ulama ahli hadis yang memiliki kepedulian dan perhatian yang besar terhadap sejarah Nabi dan umat Islam. Studi dan kajiannya mencerminkan usahanya dalam mencari, mengumpulkan dan merekonstruksi semua berita dari pendahulunya. Banyak ulama yang mengakui kredibilitas dan kapabilitas keilmuan dan keutamaan Ibn Sa’ad.

Ibn Sa’ad memiliki gelar kehormatan yang banyak. Ia adalah seorang :

  1. al-Hafiz,
  2. al-‘Allamah,
  3. al-Hujjah,
  4. al-Tsiqah dan lain sebagainya.

Ini membuktikan keilmuan Ibn Sa’ad yang luas, baik itu ilmu Sejarah maupun Hadits; meliputi pelacakan dan periwayatannya, keghariban dan pemahamannya. Ia mengetahui berita-berita Nabi Muhammad dan orang-orang sesudah mereka. Disamping itu Ibnu Sa’ad adalah seorang yang saleh, ia selama 60 tahun berpuasa seperti Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari lagi tidak.

Ia meriwayatkan hadits dari Muhammad bin Umar al Waqidy, Ibnu Ulaiyah, Sufyan bin Uyainah, Yazid bin Harun al Washiti, Ubaidullah bin Musa al Abbasy dan Abu Nu’aim al Fadhal, Ibnu Dikkin al Kufiyah dan dari ulama ulama di Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Makkah, Madinah, Syam, Yaman, Mesir, dan lain lainnya.

Diantara orang yang meriwayatkan hadits daripadanya adalah Musa’ab az Zubairiy, al Harits Muhammad bin Abi Usamah pengarang musnad, Ahmad Ibnu Ubaid al Hasyimy, Ahmad bin Yahya bin Jarir al Balazdariy

Pengarang kitab Futuhul Buldan, Abu Bakar Abdullah bin Muhammad terkenal dengan nama Ibnu Abud Dunya dan al Husain bin Muhammad yang meriwayatkan al-Thabaqat al-Kubra daripadanya.

Diantara kitabnya yang terkenal adalah al-Thabaqat al-Kubra, yang didalamnya dijelaskan kisah kisah nabi nabi terdahulu istimewa Nabi kita Muhammad saw sebagai pendahuluan bagi sejarah sejarah rasul dan peperangan peperangan yang beliau lakukan diterangkan dalam Sirah Nabawiyah, setelah itu barulah diterangkan Thabaqat para Sahabat, Tabi’in dan orang orang sesudah mereka sampai kepada masa Ibnu Sa’ad sendiri.

Hanya saja tidak semua riwayat yang terdapat didalamnya kuat, ada yang diantaranya Maqtu’ atau Mursal, namun demikian kitab itu menjadi sumber pegangan bagi para ulama ulama yang datang kemudian.

Ibnu Sa’ad wafat pada tahun 230 H di Baghdad.