بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hijrah pertama kaum muslim terjadi pada bulan Rajab tahun ke 5 Bi’tsah atau Tahun 614 Masehi.  Atau tepat sembilan tahun sebelum hijrah kedua yang terjadi secara besar besaran [ 9 Before Hijrah ]

Pada hijrah pertama ini kaum muslim pindah ke Kerajaan Aksum di Abyssinia atau Habasyah

Migrasi ke Abyssinia ( Arab : الهجرة إلى الحبشة al-hijra’ilā al-hābsḥa),  adalah sebuah episode penting di dalam sejarah awal Islam ketika kelompok, sebanyak 83 orang laki-laki dan perempuan, dari pengikut pertama ( sahabat ) melarikan diri dari penganiayaan luar biasa yang dilakukan oleh kafir  Quraisy .

Mereka mencari perlindungan di Kerajaan Aksum , kini Ethiopia dan Eritrea (sebelumnya disebut sebagai Abyssinia , nama yang diambil dari bahasa Arab Al Habash ), selama hampir 15 tahun, dari 9 BH atau 614 M sampai  tahun 7 H  atau tahun 628 / 629 M.

Raja Aksum wakt itu dikenal dalam bahasa Arab sebagai Ashama bin Abjar , yang umumnya sejarawan mengaitkan dengan sejarah dan kontemporer raja Raja Armah ,  seorang Kristen yang dianggap “terkenal karena menjadi orang yang benar dan takut akan Allah” .

Para sahabat kembali ke


Sebab sebab Hijrah

 

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam berkata bahwa Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata dari Muhammad bin Ishaq Al-Huththalibi yang berkata,

“Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat penderitaan yang dialami sahabat-sahabatnya, sedang beliau dalam keadaan segar bugar karena kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi pamannya, Abu Thalib; sementara beliau tidak mampu melindungi mereka terhadap penderitaan yang dialami, maka beliau bersabda kepada mereka. ‘Bagaimana kalau kalian berangkat ke negeri Habasyah, karena rajanya tidak mengizinkan seorang pun didzalimi di dalamnya, dan negeri tersebut adalah negeri yang benar, hingga Allah memberi jalan keluar bagi penderitaan yang kalian alami?’

Kemudiaan kaum Muslim dari sahabatsahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat ke Habasyah, karena takut mendapatkan penderitaan yang lebih berat, dan lari kepada Allah dengan membawa agama mereka. Itulah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam.”

 


Kaum Muhajirin Pertama

Ibnu Ishaq berkata, “Kaum Muslimin yang pertama kali berangkat dari Banu Umaiyyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr ialah Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umaiyyah beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Muhajirin dari Banu Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams beserta istrinya yang bernama Sahlah binti Suhail bin Amr, salah seorang dari Bani Amir bin Luai. Di Habasyah, Sahlah melahirkan anak yang bernama Muhammad bin Hudzaifah.

Muhajirin dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai ialah Az-Zubair bin Al-Awwam bin Khuwailid bin Asad.

Muhajirin dari Bani Abduddaar bin Qushai ialah Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddaar.

Muhajirin dari Bani Zuhrah bin Kilab ialah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abd bin Al-Harits bin Zubrah.

Muhajirin dari Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah ialah Abu Salamah bin Abdul Usd bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum beserta istrinya yang bernama Ummu Salamah binti Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.

Muhajirin dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka’ab ialah Utsman bin Madz’un bin Habib bin Wahab bin Hudzafah bin Jumah.

Catatan: Halaman 283-288 berisi nama-nama kaum Muhajirin yang hjirah, dan untuk mempersingkatnya, kami langsung ke halaman 289)
Jumlah Keseluruhan Kaum Muhajirin (Halaman 289)

Ibnu Ishaq berkata, “Jadi total kaum Muslimin yang menyusul ke Habasyah dan berhijrah kepadanya—selain anak-anak yang mereka bawa hijrah atau lahir di Habasyah—ialah delapan puluh tiga orang laki-laki, jika Ammar bin Yasir ditambahkan ke dalam jumlah tersebut, namun ia diragukan ikut hijrah ke sana.”

Sementara itu dari Kerajaan Yaman, sekelompok sahabat juga melakukan hijrah ke Habasyah.  Mereka adalah Abu Musa dan kaumnya.

Mengenai kisah hijrahnya, Abu Musa menceritakan, “Kami keluar dari Yaman bersama 53 orang lebih dari kaumku. Suadaraku Abu Ruhm dan Abu Burdah juga ikut. Kami berlayar dengan perahu ke Najashy, Ethopia.

Ternyata di sana sudah ada Ja’far dan sahabat-sahabat lain. Kemudian kami bertemu setelah selesai perang Khaibar.

Mengenai hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Kamu berhijrah dua kali. Pertama ke Najashy dan kedua hijrah kepadaku’.”( HR. Bukhari Muslim ).

 


Syair-syair tentang Hijrah

Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Abdullah bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa’ad bin Sahm melihat bahwa kaum Muslimin mendapatkan keamanan di Habasyah, memuji perlindungan An-Najasyi, mereka dapat beribadah kepada Allah tanpa takut kepada siapa pun, dan An-Najasy melindungi mereka dengan serius ketika mereka tiba di Habasyah, ia berkata,

Wahai pengembara, sampaikan suratku kepadanya
Kepada orang yang bisa diharapkan menerima ajakan Allah dan agama-Nya
Semua orang di antara hamba-hamba Allah disiksa di Makkah
Mereka ditindas dan disakiti
Sesungguhnya kami mendapati bumi Allah itu luas
Bumi menyelamatkan diri dari kehinaan dan kerendahan
Janganlah kalian berdiri di atas kehinaan kehidupan
Dan kehinaan kematian serta aib yang tidak mengenakkan
Jika kami mengikuti Rasulullah, sedang mereka membuang sabda Rasulullah
Dan curang dalam timbangan
Maka arahkan siksamu kepada kaum yang melampaui batas
Aku meminta perlindunganmu agar mereka jangan sampai menang kemudian menyiksaku
Abdullah bin Al-Harits juga menyusun syair yang mengingatkan pengusiran terhadap kaum Muhajirin dari negeri mereka. Dalam syairnya, Ia mengecam sebagian kaumnya,

Hatiku hampir tidak mempercayai peperangan mereka terhadapku
Begitu juga jari-jemariku
Bagaimana aku harus memerangi orang-orang yang telah mendidik kalian
Di atas kebenaran agar kalian tidak mencampur kebenaran dengan kebatilan?
Mereka diusir oleh hamba-hamba jin dari negeri mereka yang merdeka
Kemudian mereka dalam penderitaan
Jika di kalangan Adi terdapat kejujuran
Adi bin Sa’ad bertakwa dan menyambung hubungan sanak saudara
Sungguh aku berharap, bahwa itu semua terjadi pada kalian
Dengan memuji orang yang tidak mengharapkan balasan
Aku diberi ganti singa dengan singa, namun semuanya jelek
Di Dzi Fajar tempat tinggal orang-orang lemah dan para janda
Abdullah bin Al-Harits juga berkata,
Itulah Quraisy yang menantang hal Allah
Sebagaimana Ad, Madyan, dan Al-Hijr menentang hak Allah
Jika aku tidak berangkat, maka jangan larang aku untuk tinggal
Di negeri yang daratannya luas begitu juga lautnya
Di negeri di mana di dalamnya terdapat hamba Allah, Muhammad
Akan aku jelaskan apa saja yang tersimpan dalam hati jika pencarian telah selesai

Abullah bin Al-Harits Rahimahullah menamakan syairnya Al-Mubriq.”
Kecaman Utsman bin Madz’um terhadap Umaiyyah bin Khalaf

Ibnu Ishaq berkata, “Utsman bin Madz’un mengecam Umaiyyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Utsman bin Mad’un adalah saudara misan dengan Umaiyyah bin Khalaf, namun begitu, Umaiyyah bin Khalaf tetap menyiksanya karena keislamannya. Ketika itu, Umaiyyah bin Khalaf menjadi tokoh yang dihormati di kaumnya. Utsman bin Madz’um berkata dalam syairnya,

Layakkah engkau mengusirku dari Makkah untuk mencari keamanan
Dan engkau menempatkanku di istana putih yang kubenci
Engkau menghina orang-orang terhormat yang rumputnya saja tidak sebanding denganmu
Engkau melecehkan orang-orang terhormat yang siap memberikan rumput-rumputnya kepadamu
Engkau memerangi orang-orang mulia dan terhormat
Engkau membinasakan orang-orang yang menjadi tempatmu berlindung
Engkau akan tahu, jika suatu hari engkau mendapat musibah
Engkau akan dikalahkan orang-orang gembel atas apa yang engkau perbuat.” (Sirah Ibnu Hisyam 1: Hal: 282-291)

 


Mereka Yang Ikut Hijrah Pertama

Hijrah pertama ini terjadi dalam dua gelombang.

Gelombang pertama berisi 11 orang laki laki dan  4 orang perempuan. Yakni :

  1. Ruqayah dan Utsman.
  2. Abu hudzaifah dan istri
  3. Zubayr bin ‘awwam
  4. Mush’ab bin umayr
  5. Abdur rahman bin ‘awf
  6. Abu salamah dan istri ummu salamah
  7. Abu sabrah bin abu ruhm
  8. Amir bin rabi’ah dan istri
  9. Abu hatib bin ‘amr
  10. Suhayl bin baida
  11. mereka dipimpin oleh utsman bin mazh’un

Gelombang kedua terjadi 3 bulan kemudian dengan jumlah yang lebih besar yakni 72 orang

Jumlah keseluruhan dua rombongan tsb 83 orang laki2 dan 4 perempuan

Klan hasyim:

  1. Ja’far usianya 27 tahun,
  2. istrinya Asma dan anak2 mereka Abd Allah, Muhammad dan Awn (lahir di Abysinnia).
    Klan abdu syams
    Utsman dan istrinya ruqayah

Fuad 172

  1. Mush’ab dari abd’ dar
  2. Syammas dari bani mkhzum
  3. Utbah
  4. Sepupu nabi selain ja’far
  5. Thulayb anaknya arwa
  6. abu salamah
  7. ummu salamah = Dua putra barrah yg ikut hijrah ke habasyah:
  8. dan abu sabrah
  9. Abd Allah ibn Jahsy – anaknya Aminah atau Umaymah ?
  10. Ubaydillah dan
  11. istrinya ummu habibah

ummu salamah, ramlah atau umm habibah (saat itu usia Habibah 22 tahun.
Gangguan yg dilakukan Quraisy semakin keras sehingga Muhammad mengizinkan para sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah
dlm rangka menyelamatkan agama mereka untuk menghindari fitnah.
Mereka meninggalkan tempat tinggal yg berharga, orang orang yg dincintai, harta benda yg banyak.
Ruqayah: Allah akan selalu bersama kita dan bersama ornag ornag yang kita tinggalkan meskipun kita terpaksa meninggalkan
kedekatan kita dgn Baitul Atiq.

Umm Habibah: menikah di Abbysinnia, lalu menjadi janda dan dinikahkan nabi saat masih di sana. Ketika pulang
kembali nabi sudah hijrah ke yastrib, dan mereka menikah ‘kembali’)

  • ) ,(calon) istri2 nabi yg ikut hijrah ke abbysinia.
  • Ramlah binti abu sofyan dan suaminya Abdullah bin Jahasy (Abdullah di abbysinnia memeluk agama Kristen,
    sehingga mereka bercerai. Setelah habis masa iddahnya, Ramlah dinkahi oleh Rasulullah. Utsman dan Ruqayah
    menyelenggarakan walimahan Ramlah. )
  • Buku merah hal 338
  • 4 bulan kemudian Utsman dan Ruqayah pulang ke makkah krn khabar bahwa quraisy mulai bersikap baik
  • Tapi kenyataan sebaliknya
  • Ruqayah dan Utsman kembali lagi ke Habasyah, ruqayah melahirkan Abdullah

 


Kisah Terjadinya Hijrah Pertama

Sikap dan kata-kata kemenakannya itu oleh Abu Talib
disampaikan kepada Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib.
Pembicaranya tentang Muhammad itu terpengaruh oleh suasana
yang dilihat dan dirasakannya ketika itu. Dimintanya supaya
Muhammad dilindungi dari tindakan Quraisy. Mereka semua
menerima usul ini, kecuali Abu Lahab. Terang-terangan ia
menyatakan permusuhannya. Ia menggabungkan diri pada pihak
lawan mereka. Permintaan mereka supaya ia dilindungi itu sudah
tentu karena terpengaruh oleh fanatisma golongan dan
permusuhan lama antara Banu Hasyim dan Banu Umayya. Tetapi
bukan fanatisma itu saya yang mendorong Quraisy bersikap
demikian. Ajarannya itu sungguh berbahaya bagi kepercayaan
yang biasa dilakukan oleh leluhur mereka. Kedudukan Muhammad
di tengah-tengah mereka, pendiriannya yang teguh serta
ajarannya pada kebaikan supaya orang hanya menyembah Zat Yang
Tunggal, yang pada waktu itu memang sudah meluas juga di
kalangan kabilah-kabilah Arab, bahwa agama Allah itu bukanlah
seperti yang ada pada mereka sekarang, membuat mereka dapat
membenarkan juga sikap kemenakan mereka itu, Muhammad, dalam
menyatakan pendiriannya, seperti yang pernah dilakukan oleh
Umayya b. Abi’sh-Shalt dan Waraqa b. Naufal dan yang lain.
Kalau Muhammad memang benar – dan ini yang tidak dapat mereka
pastikan – maka kebenaran itu akan tampak juga dan merekapun
akan merasakan pula kemegahannya. Sebaliknya, kalau tidak atas
dasar kebenaran, maka orangpun akan meninggalkannya seperti
yang sudah terjadi sebelum itu. Akhirnya ajaran demikian ini
tidak akan meninggalkan bekas dalam mengeluarkan mereka dari
tradisi yang ada dan dia sendiripun akan diserahkan kepada
musuh supaya dibunuh.

Terhadap gangguan Quraisy ia dapat berlindung kepada
goIongannya, seperti kepada Khadijah bila ia mengalami
kesedihan. Baginya – dengan imannya yang sungguh-sungguh dan
cinta-kasihnya yang besar – Khadijah adalah lambang kejujuran
yang dapat menghilangkan segala kesedihan hatinya, yang dapat
menguatkan kembali setiap ciri kelemahan yang mungkin timbul
karena siksaan musuh-musuhnya yang begitu keras menentangnya
serta melakukan penyiksaan terus-menerus terhadap
pengikut-pengikutnya.

Sebelum itu sebenarnya Quraisy memang tidak pernah mengenal
hidup tenteram. Bahkan setiap kabilah itu langsung menyerbu
kaum Muslimin yang ada di kalangan mereka: disiksa dan dipaksa
melepaskan agamanya; sehingga di antara mereka ada yang
mencampakkan budaknya, Bilal, ke atas pasir di bawah terik
matahari yang membakar, dadanya ditindih dengan batu dan akan
dibiarkan mati. Soalnya karena ia teguh bertahan dalam Islam!
Dalam kekerasan semacam itu Bilal hanya berkata: “Ahad, Ahad,
Hanya Yang Tunggal!” Ia memikul semua siksaan itu demi
agamanya.

Ketika pada suatu hari oleh Abu Bakr dilihatnya Bilal
mengalami siksaan begitu rupa, ia dibelinya lalu dibebaskan.
Tidak sedikit budak-budak yang mengalami kekerasan serupa itu
oleh Abu Bakr dibeli – diantaranya budak perempuan Umar
bin’l-Khattab, dibelinya dari Umar [sebelum masuk Islam]. Ada
pula seorang wanita yang disiksa sampai mati karena ia tidak
mau meninggalkan Islam kembali kepada kepercayaan leluhurnya.

Kaum Muslimin di luar budak-budak itu, dipukuli dan dihina
dengan berbagai cara. Muhammad juga tidak terkecuali mengalami
gangguan-gangguan – meskipun sudah dilindungi oleh Banu Hasyim
dan Banu al-Muttalib. Umm Jamil, isteri Abu Jahl, melemparkan
najis ke depan rumahnya. Tetapi cukup Muhammad hanya
membuangnya saja. Dan pada waktu sembayang, Abu Jahl
melemparinya dengan isi perut kambing yang sudah disembelih
untuk sesajen kepada berhala-berhala. Ditanggungnya gangguan
demikian itu dan ia pergi kepada Fatimah, puterinya, supaya
mencucikan dan membersihkannya kembali. Ditambah lagi, di
samping semua itu, kaum Muslimin harus menerima kata-kata
biadab dan keji kemana saja mereka pergi.

Cukup lama hal serupa itu berjalan. Tetapi kaum Muslimin
tambah teguh terhadap agama mereka. Dengan dada terbuka mereka
menerima siksaan dan kekerasan itu – demi akidah dan iman
mereka.

Perioda yang telah dilalui dalam hidup Muhammad a.s. ini
adalah perioda yang paling dahsyat yang pernah dialami oleh
sejarah umat manusia. Baik Muhammad atau mereka yang menjadi
pengikutnya, bukanlah orang-orang yang menuntut harta
kekayaan, kedudukan atau kekuasaan, melainkan orang-orang yang
menuntut kebenaran serta keyakinannya akan kebenaran itu.
Muhammad adalah orang yang mengharapkan bimbingan bagi mereka
yang mengalami penderitaan, dan membebaskan mereka dari
belenggu paganisma yang rendah, yang menyusup kedalam jiwa
manusia sampai ke lembah kehinaan yang sangat memalukan.

Demi tujuan rohani yang luhur itulah – tidak untuk tujuan yang
lain – ia mengalami siksaan. Penyair-penyair memakinya,
orang-orang Quraisy berkomplot hendak membunuhnya di Ka’bah.
Rumahnya dilempari batu, keluarga dan pengikut-pengikutnya
diancam. Tetapi dengan semua itu malah ia makin tabah, makin
gigih meneruskan dakwah. Jiwa kaum mukmin yang mengikutinya
itu sudah padat oleh ucapannya: “Demi Allah, kalaupun mereka
meletakkan matahari di tangan kananku dan meletakkan bulan di
tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas
ini, sungguh tidak akan kutinggalkan, biar nanti Allah yang
akan membuktikan kemenangan itu; di tanganku atau aku binasa
karenanya.”

Segala pengorbanan yang besar-besar itu tak ada artinya bagi
mereka, mautpun sudah tak berarti lagi demi kebenaran, dan
membimbing Quraisy ke arah itu. Kadang orang heran, iman sudah
begitu mempersonakan jiwa penduduk Mekah pada waktu agama ini
belum lengkap, pada waktu ayatayat Qur’an yang turun masih
sedikit. Kadang juga orang mengira, bahwa pribadi Muhammad,
sifatnya yang lemah-lembut, keindahan akhlaknya serta
kejujurannya yang sudah cukup dikenal, di samping kemauan yang
keras dan pendiriannya yang teguh, adalah sebab dari semua
itu. Sudah tentu ini juga ada pengaruhnya. Akan tetapi ada
sebab-sebab lain yang juga patut diperhatikan yang tidak
sedikit pula ikut memegang peranan.

Muhammad tinggal dalam suatu daerah yang merdeka mirip-mirip
sebuah republik Dari segi keturunan ia menempati puncak yang
tinggi. Hartapun sudah cukup seperti yang dikehendakinya. Ia
dari Keluarga Hasyim pula, juru kunci Ka’bah dan penguasa
urusan air. Gelar-gelar keagamaan yang tinggi-tinggi ada pada
mereka. Jadi dalam keadaan itu ia tidak lagi membutuhkan harta
kekayaan, pangkat atau sesuatu kedudukan politik atau agama.
Dalam hal ini ia berbeda pula dengan para rasul dan nabinabi
sebelumnya. Musa yang dilahirkan di Mesir bertemu dengan
Firaun yang oleh penduduk sudah dituhankan, dan Firaun juga
yang berkata: “Aku adalah tuhanmu yang tertinggi,” yang
dibantu pula oleh pemuka-pemuka agama melakukan tekanan kepada
orang dengan pelbagai macam kekejaman, pemerasan dan
pemaksaan. Revolusi yang dilakukan Musa atas perintah Tuhan
adalah revolusi dalam struktur politik dan agama sekaligus.
Bukankah keinginannya supaya Firaun dan orang yang menimba air
dengan syaduf dari sungai Nil itu dihadapan Tuhan sama
sederajat? Jadi dimana ketuhanan Firaun itu dan dimana pula
ketentuan yang berlaku! Harus dihancurkan semua itu dan
revolusi itupun terlebih dulu harus bersifat politik.

Oleh karena itu, dari semula ajaran Musa itu sudah mendapat
perlawanan hebat dari Firaun. Dengan demikian, supaya orang
menerima seruannya itu, ia diperkuat oleh mujizat-mujizat. Ia
melemparkan tongkatnya, dan tongkat itu menjadi seekor ular
yang bergerak-gerak, menelan semua hasil pekerjaan tukang
tukang sihir Firaun itu. Itupun tidak memberi hasil apa-apa
buat Musa. Terpaksa ia meninggalkan Mesir tanah airnya. Dalam
hijrahnya itupun diperkuat pula ia dengan sebuah mujizat yaitu
terbelahnya jalan di tengah-tengah air lautan itu.

Juga Isa, yang dilahirkan di Nazareth di bilangan Palestina,
yang pada waktu itu merupakan wilayah Rumawi yang berada di
bawah kekuasaan kaisar-kaisar dengan segala kekejamannya
sebagai pihak penjajah dan kekuasaan dewa-dewa Rumawi,
mengajak orang supaya sabar menghadapi kekejaman itu dan
bertobat bagi yang menyesal dan macam-macam perasaan
belaskasih lagi, yang oleh pihak penguasa justru dianggap
pemberontakan terhadap kekuasaan mereka. Maka Isa juga
diperkuat dengan mujizat-mujizat: menghidupkan orang mati dan
menyembuhkan orang sakit; dan yang lain diperkuat oleh Ruh
Kudus. Memang benar, bahwa inti ajaran-ajaran mereka itu pada
dasarnya bertemu dengan inti ajaran-ajaran Muhammad juga,
lepas dari detail yang bukan tempatnya untuk dijelaskan di
sini. Akan tetapi motif yang berbagai macam ini, dan yang
terutama motif politik, adalah yang menjadi tujuannya juga.

Sebaliknya Muhammad, keadaannya seperti yang kita sebutkan di
atas, sifat ajarannya adalah intelektual dan spiritual.
Dasarnya adalah mengajak kepada kebenaran, kebaikan dan
keindahan. Suatu ajakan yang berdiri sendiri dari mula sampai
akhir. Karena jauhnya dari segala pertentangan politik,
struktur republik yang sudah ada di Mekah itu tidak pernah
mengalami sesuatu kekacauan.

Mungkin pembaca akan terkejut bila saya katakan, bahwa antara
dakwah Muhammad dengan metoda ilmiah modern mempunyai
persamaan yang besar sekali. Metoda ilmiah ini ialah
mengharuskan kita – apabila kita hendak mengadakan suatu
penyelidikan – terlebih dulu membebaskan diri dari segala
prasangka, pandangan hidup dan kepercayaan yang sudah ada pada
diri kita yang berhubungan dengan penyelidikan itu. Di situlah
kita memulai dengan mengadakan observasi dan eksperimen,
mengadakan perbandingan yang sistematis, kemudian baru dengan
silogisma yang sudah didasarkan kepada premisa-premisa tadi.
Apabila semua itu sudah dapat disimpulkan, maka kesimpulan
demikian itu dengan sendirinya masih perlu dibahas dan
diselidiki lagi. Tetapi bagaimanapun juga ini sudah merupakan
suatu data ilmiah selama penyelidikan tersebut belum
memperlihatkan kekeliruan. Metoda ilmiah demikian ini ialah
yang terbaik yang pernah dicapai umat manusia demi kemerdekaan
berpikir. Metoda dan dasar-dasar dakwah demikian inilah pula
yang menjadi pegangan Muhammad.

Bagaimana pula mereka yang menjadi pengikutnya itu puas dan
beriman sungguh-sungguh akan ajarannya? Segala kepercayaan
lama terkikis habis dari jiwa mereka, dan sekarang mereka
mulai memikirkan masa depan mereka.

Waktu itu setiap kabilah Arab mempunyai berhala
sendiri-sendiri. Mana pula gerangan berhala yang benar dan
mana yang sesat? Di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri
sekitarnya ketika itu memang sudah ada penganut-penganut
Sabian dan Majusi penyembah api, juga ada yang menyembah
matahari. Mana diantara mereka itu yang benar dan mana pula
yang sesat?

Baiklah kita kesampingkan dulu semua ini, kita hapuskan
jejaknya dari jiwa kita. Kita bebaskan dulu diri kita dari
segala konsepsi dan kepercayaan lama. Baiklah kita renungkan.
Merenungkan dan meninjau pada dasarnya sama. Yang pasti ialah
bahwa seluruh alam ini satu sama lain saling berhubungan.
Manusia, puak-puak dan bangsa-bangsa saling berhubungan.
Manusia berhubungan juga dengan hewan dan dengan benda, bumi
kita berhubungan dengan matahari, dengan bulan dan tata-surya
lainnya. Dan semua itupun berhubungan pula dengan
undang-undang yang sudah tali-temali, tak dapat ditukar-tukar
atau diubah-ubah lagi. Matahari tidak seharusnya akan mengejar
bulan, malampun takkan dapat mendahului siang. Andaikata di
antara isi alam ini ada yang berubah atau berganti, niscaya
akan berganti pulalah segala yang ada dalam alam ini.
Andaikata matahari tidak lagi menyinari dan memanasi bumi,
menurut undang-undang yang sudah berjalan sejak jutaan tahun
yang lalu, niscaya bumi dan langit ini sudah akan berubah
pula. Dan oleh karena yang demikian ini tidak terjadi, maka
atas semua itu sudah tentu ada zat yang menguasainya. Dari
situ ia tumbuh, dengan itu ia berkembang dan ke situ pula ia
kembali. Hanya kepada Zat ini sajalah semata manusia menyerah.
Demikian juga, segala yang ada dalam alam ini menyerah semata
kepada Zat ini, persis seperti manusia. Baik manusia, alam,
ruang dan waktu adalah suatu kesatuan. Maka Zat itulah inti
dan sumbernya. Jadi, hanya kepada Zat itu sajalah semata
ibadat dilakukan. Hanya kepada Zat itu sajalah jantung dan
jiwa manusia dihadapkan. Ke dalam alam itu juga kita harus
melihat dan merenungkan undang-undang alam yang kekal abadi
itu. Jadi segala yang disembah manusia selain Allah berupa
berhala-berhala, raja-raja, firaun-firaun, api dan matahari,
hanyalah suatu ilusi batil saja, tidak sesuai dengan martabat
dan kehormatan manusia, tidak sesuai dengan akal pikiran
manusia serta dengan kemampuan yang ada dalam dirinya; yang
dapat membuat kesimpulan atas undang-undang Tuhan terhadap
ciptaanNya itu, dengan jalan merenungkannya.

Inilah rasanya esensi ajaran Muhammad seperti yang diketahui
kaum Muslimin yang mula-mula itu. Ajaran yang disampaikan
wahyu kepada mereka melalui Muhammad itu adalah puncak dari
bahasa sastra yang telah menjadi mujizat dan akan terus
berlaku demikian. Terpadunya kebenaran dan cara melukiskannya
dengan keindahan yang luarbiasa itu kini tampak di hadapan
mereka. Di sini jiwa dan kalbu mereka meningkat lebih tinggi,
berhubungan dengan Zat Yang Maha Mulia. Lalu datang Muhammad
menuntun mereka bahwa kebaikan itulah jalan yang akan sampai
ke tujuan. Mereka akan mendapat balasan atas kebaikan itu
bilamana mereka sudah menunaikan kewajiban dalam hidup dengan
tekun. Setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan
perbuatannya.

“Barangsiapa berbuat kebaikan seberat atompun akan dilihatnya;
dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat atompun akan
dilihatnya pula.” (Qur’an 99: 7-8)

Dalam menjunjung pikiran manusia ke tempat yang lebih tinggi
kiranya tak ada yang lebih tinggi dari ini! Juga menghancurkan
belenggu yang senantiasa mengikatnya itu! Terserah kepada
manusia. Ia mau memahami ini, mau beriman dan mengerjakannya
untuk mencapai puncak ketinggian martabat manusia itu! Demi
mencapai tujuan, segala pengorbanan terasa ringan bagi orang
yang sudah beriman itu.

Karena posisi Muhammad dan pengikut-pengikutnya yang begitu
agung, Banu Hasyim dan Banu al-Muttalib tambah ketat
menjaganya dari setiap gangguan. Pada suatu hari Abu Jahl
bertemu dengan Muhammad, ia mengganggunya, memaki-makinya dan
mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dialamatkan kepada
agama ini. Tetapi Muhammad tidak melayaninya. Ditinggalkannya
ia tanpa diajak bicara. Hamzah, pamannya dan saudaranya
sesusu, yang masih berpegang pada kepercayaan Quraisy, adalah
seorang laki-laki yang kuat dan ditakuti. Ia mempunyai
kegemaran berburu. Bila ia kembali dan berburu, terlebih dulu
mengelilingi Ka’bah sebelum langsung pulang ke rumahnya.

Hari itulah, bilamana ia datang dan mengetahui bahwa
kemenakannya itu mendapat gangguan Abu Jahl, ia meluap marah.
Ia pergi ke Ka’bah, tidak lagi ia memberi salam kepada yang
hadir di tempat itu seperti biasanya, melainkan terus masuk
kedalam mesjid menemui Abu Jahl. Setelah dijumpainya,
diangkatnya busurnya lalu dipukulkannya keras-keras di
kepalanya. Beberapa orang dan Banu Makhzum mencoba mau membela
Abu Jahl. Tapi tidak jadi. Kuatir mereka akan timbul bencana
dan membahayakan sekali, dengan mengakui bahwa ia memang
mencaci maki Muhammad dengan tidak semena-mena.

Sesudah itulah kemudian Hamzah menyatakan masuk Islam. Ia
berjanji kepada Muhammad akan membelanya dan akan berkurban di
jalan Allah sampai akhir hayatnya.

Pihak Quraisy merasa sesak dada melihat Muhammad dan
kawan-kawannya makin hari makin kuat. Di samping itu, gangguan
dan siksaan yang dialamatkan kepada mereka, tidak dapat
mengurangi iman mereka dan menyatakannya terus-terang, tidak
dapat menghalangi mereka melakukan kewajiban agama. Terpikir
oleh Quraisy akan membebaskan diri dari Muhammad, dengan cara
seperti yang mereka bayangkan, memberikan segala keinginannya.
Mereka rupanya lupa bahwa keagungan dakwah Islam, kemurnian
esensi ajaran rohaninya yang begitu tinggi, berada di atas
segala pertentangan ambisi politik. ‘Utba b. Rabi’a, seorang
bangsawan Arab terkemuka, mencoba membujuk Quraisy ketika
mereka dalam tempat pertemuan dengan mengatakan bahwa ia akan
bicara dengan Muhammad dan akan menawarkan kepadanya hal-hal
yang barangkali mau menerimanya. Mereka mau memberikan apa
saja kehendaknya, asal ia dapat dibungkam.

Ketika itulah ‘Utba bicara dengan Muhammad.

“Anakku,” katanya, “seperti kau ketahui, dari segi keturunan,
engkau mempunyai tempat di kalangan kami. Engkau telah membawa
soal besar ketengah-tengah masyarakatmu, sehingga mereka
cerai-berai karenanya. Sekarang, dengarkanlah, kami akan
menawarkan beberapa masalah, kalau-kalau sebagian dapat
kauterima Kalau dalam hal ini yang kauinginkan adalah harta,
kamipun siap mengumpulkan harta kami, sehingga hartamu akan
menjadi yang terbanyak di antara kami. Kalau kau menghendaki
pangkat, kami angkat engkau diatas kami semua; kami takkan
memutuskan suatu perkara tanpa ada persetujuanmu. Kalau
kedudukan raja yang kauinginkan, kami nobatkan kau sebagai
raja kami. Jika engkau dihinggapi penyakit saraf4 yang tak
dapat kautolak sendiri, akan kami usahakan pengobatannya
dengan harta-benda kami sampai kau sembuh.”

Selesai ia bicara, Muhammad membacakan Surah as-Sajda (41 = Ha
Mim). ‘Utba diam mendengarkan kata-kata yang begitu indah itu.
Dilihatnya sekarang yang berdiri di hadapannya itu bukanlah
seorang laki-laki yang didorong oleh ambisi harta, ingin
kedudukan atau kerajaan, juga bukan orang yang sakit,
melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang
kepada kebaikan. Ia mempertahankan sesuatu dengan cara yang
baik, dengan kata-kata penuh mujizat.

Selesai Muhammad membacakan itu ‘Utba pergi kembali kepada
Quraisy. Apa yang dilihat dan didengarnya itu sangat
mempesonakan dirinya. Ia terpesona karena kebesaran orang itu.
Penjelasannya sangat menarik sekali.

Persoalannya ‘Utba ini tidak menyenangkan pihak Quraisy, juga
pendapatnya supaya Muhammad dibiarkan saja, tidak
menggembirakan mereka, sebaliknya kalau mengikutinya, maka
kebanggaannya buat mereka.

Maka kembali lagilah mereka memusuhi Muhammad dan
sahabat-sahabatnya dengan menimpakan bermacam-macam bencana,
yang selama ini dalam kedudukannya itu ia berada dalam
perlindungan golongannya dan dalam penjagaan Abu Talib, Banu
Hasyim dan Banu al-Muttalib.

Gangguan terhadap kaum Muslimin makin menjadi-jadi,
sampai-sampai ada yang dibunuh, disiksa dan semacamnya. Waktu
itu Muhammad menyarankan supaya mereka terpencar-pencar.
Ketika mereka bertanya kepadanya kemana mereka akan pergi,
mereka diberi nasehat supaya pergi ke Abisinia yang rakyatnya
menganut agama Kristen. “Tempat itu diperintah seorang raja
dan tak ada orang yang dianiaya disitu. Itu bumi jujur; sampai
nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.”

Sebagian kaum Muslimin ketika itu lalu berangkat ke Abisinia
guna menghindari fitnah dan tetap berlindung kepada Tuhan
dengan mempertahankan agama. Mereka berangkat dengan melakukan
dua kali hijrah. Yang pertama terdiri dari sebelas orang pria
dan empat wanita. Dengan sembunyi-sembunyi mereka keluar dari
Mekah mencari perlindungan. Kemudian mereka mendapat tempat
yang baik di bawah Najasyi.5

Bilamana kemudian tersiar berita bahwa kaum Muslimin di Mekah
sudah selamat dari gangguan Quraisy, merekapun lalu kembali
pulang, seperti yang akan diceritakan nanti. Tetapi setelah
ternyata kemudian mereka mengalami kekerasan lagi dari Quraisy
melebihi yang sudah-sudah, kembali lagi mereka ke Abisinia.
Sekali ini terdiri dari delapanpuluh orang pria tanpa kaum
isteri dan anak-anak. Mereka tinggal di Abisinia sampai
sesudah hijrah Nabi ke Yathrib.

Hijrah ke Abisinia ini adalah hijrah pertama dalam Islam

Sudah pada tempatnya bagi setiap penulis sejarah Muhammad akan bertanya: Adakah tujuan hijrah yang dilakukan kaum Muslimin atas saran dan anjurannya itu karena akan melarikan diri dari orang-orang kafir Mekah beserta gangguan yang mereka lakukan, ataukah karena suatu tujuan politik Islam, yang di balik itu dimaksudkan oleh Muhammad dengan tujuan yang lebih luhur?
Sudah pada tempatnya pula apabila penulis sejarah Muhammad itu akan bertanya tentang hal ini, setelah terbukti dari sejarah Nabi berbangsa Arab ini dalam seluruh fase kehidupannya, bahwa dia seorang politikus yang berpandangan jauh, seorang pembawa risalah dan moral jiwa yang begitu luhur, sublim dan agung yang tak ada taranya. Dan yang menjadi alasan dalam hal ini ialah apa yang disebutkan dalam sejarah, bahwa penduduk Mekah tidak suka hati ada kaum Muslimin yang pergi ke Abisinia. Bahkan mereka kemudian mengutus dua orang menemui Najasyi. Mereka membawa hadiah-hadiah berharga guna meyakinkan raja supaya dapat mengembalikan kaum Muslimin itu ke tanah air mereka. Pada waktu itu penduduk Abisinia dan penguasanya adalah orang-orang Nasrani. Dari segi agama orang-orang Quraisy tidak kuatir bahwa mereka akan ikut Muhammad.

Disebabkan oleh rasa kegelisahan terhadap peristiwa itukah maka mereka lalu mengutus orang, meminta supaya kaum Muslimin itu dikembalikan? Mereka menganggap, bahwa perlindungan Najasyi terhadap mereka setelah mendengar keterangan mereka itu akan membawa pengaruh juga kepada penduduk jazirah Arab sehingga mereka akan mau menerima agama Muhammad dan mau menjadi pengikutnya. Ataukah mereka kuatir, kalau kaum
Muslimin menetap di Abisinia, mereka akan bertambah kuat, sehingga bila kelak mereka pulang kembali membantu Muhammad, mereka kembali dengan kekuatan, harta dan tenaga.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ