Hijrah kedua kaum muslim terjadi pada  Tahun ke 13  Bi’tsah atau Tahun 622 M.  Atau  sembilan tahun setelah hijrah pertama. Hijrah yang kedua  ini terjadi secara besar besaran.

Bila  hijrah pertama  kaum muslim pindah ke Abyssinia atau Habasyah, maka hijrah kedua ini kaum muslim pindah ke Yastrib 320 kilometres (200 mi) utara Mekkah.

Yastrib kemudian berubah nama menjadi Madinat un-Nabi, yang berarti “kota Nabi“, tapi kata un-Nabi menghilang, dan hanya disebut Madinah, yang berarti “kota”.

Kota tempat tinggal Nabi Muhammad disebut Madinah dan wilayah sekitarnya disebut Yastrib.

Peristiwa hijrah ini juga menjadi titik awal penanggalan atau kalender Hijriah yang   dicetuskan oleh Umar bin Khattab pada tahun 638 M atau 17 tahun setelah peristiwa hijrah.

 

 


Sebab Sebab Hijrah

 

Usai Bai’atul-‘Aqabah kedua, kaum Anshar pun kembali ke Madinah. Mereka sangat antusias menunggu dan mengharap kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Sementara itu, kaum muslimin yang mendengar kesepakatan antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Anshâr juga sudah siap berhijrah ke Madinah.
Hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin ini bukan tanpa alasan. Ada berbagai faktor yang menjadi pemicu untuk melakukan hijrah.

  • Pertama : Karena adanya siksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Begitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan dakwah secara terbuka, berbagai ancaman mulai diarahkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang beriman yang mengikutinya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berpikir untuk mencari perlindungan di luar Makkah. Sehingga terjadilah hijrah kaum muslimin ke Habsyah, Thaif, dan kemudian ke Madinah.

Penyebab hijrah ini, di antaranya karena penyiksaan dan penindasan kaum kafir Quraisy atas kaum muslimin. Riwayat yang menguatkan faktor ini, tersirat dalam perkataan Bilal Radhiyallahu anhu ketika ia hendak berhijrah:

اللَّهُمَّ الْعَنْ شَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَعُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ كَمَا أَخْرَجُونَا مِنْ أَرْضِنَا إِلَى أَرْضِ الْوَبَاءِ

Wahai Allah ! Laknatlah Syaibah bin Rabî’ah, ‘Utbah bin Rabî’ah, dan Umayyah bin Khalaf, sebagaimana mereka telah menyebabkan kami keluar dari negeri kami ke negeri derita.

HR al Bukhari / al-Fath, 18/232, no. 1889.

Juga haditsAisyah Radhiyallahu anhuma tentang hijrahnya orang tuanya. Beliau Radhiyallahu anhuma berkata:

اسْتَأْذَنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْخُرُوجِ حِينَ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْأَذَى

Abu Bakr Radhiyallahu anhu meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berhijrah, ketika penderitaannya terasa berat.

HR al Bukhari/  al-Fath, 15/271, no. 4093.

  • Kedua :Adanya kekuatan yang akan membantu dan melindungi dakwah, sehingga memungkinkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan leluasa. Hal ini sebagaimana tertuang dalam nash Bai’atul-‘Aqabah kedua. Yaitu kaum Anshâr berjanji akan melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana melindungi anak dan istri mereka.
  • Ketiga : Para pembesar kaum Quraisy dan sebagian besar masyarakat Makkah menganggap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pendusta, sehingga mereka tidak mempercayainya. Dengan kondisi seperti ini, maka beliau n ingin mendakwahkan kepada masyarakat lainnya yang mau menerimanya. Banyak dalil yang menunjukkan faktor ini, di antaranya ialah sebagaimana perkataan Sa’ad bin Mu’âdz Radhiyallahu anhu :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أُجَاهِدَهُمْ فِيكَ مِنْ قَوْمٍ كَذَّبُوا رَسُولَكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَخْرَجُوهُ

Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang lebih aku sukai untuk aku jihadi mereka karena-Mu daripada suatu kaum yang telah mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya.

HR al Bukhari/  al-Fath, 15/82-83, no. 3901.

  • Keempat : Kaum muslimin khawatir agama mereka terfitnah. Ketika ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma ditanya tentang hijrah, beliau Radhiyallahu anhuma berkata:

كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَفِرُّ أَحَدُهُمْ بِدِينِهِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَإِلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَخَافَةَ أَنْ يُفْتَنَ عَلَيْهِ

Kaum mukminun pada masa dahulu, mereka pergi membawa agama mereka menuju Allah dan Rasul-Nya karena khawatir terfitnah.

HR al Bukhari/  al-Fath, 15/81-82, no. 3900.

Itulah beberapa faktor yang mendorong kaum muslimin berhijrah, meninggalkan negeri Makkah menuju negeri yang baru, yaitu Madinah. Semua ini dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah Azza wa Jalla .

Khabbab Radhiyallahu anhu berkata:

هَاجَرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ نَلْتَمِسُ وَجْهَ اللَّهِ فَوَقَعَ أَجْرُنَا عَلَى اللَّهِ

Kami hijrah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari wajah Allah, sehingga ganjaran kami benar-benar di sisi Allah Azza wa Jalla.

HR al Bukhari/  al-Fath,  6/172, no. 1276

 


Mengapa Memilih Hijrah Ke Yastrib ?

Nash-nash yang shahîh menunjukkan, pilihan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan Madinah sebagai negeri hijrah kaum muslimin, merupakan pilihan yang berdasarkan wahyu ilahi.

Sebagaimana hal ini tertera dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ يَثْرِبُ

Aku pernah mimpi berhijrah (pindah) dari Makkah menuju suatu tempat yang ada pohon kurmanya. Lalu aku mengira daerah itu ialah Yamamah atau Hajr (Ahsâ`), (namun) ternyata daerah itu adalah Yatsrib.

HR al Bukhari/ al-Fath (7/226) dan Imam Muslim (4/1779). Lihat as-Siratun-Nabawiyatush-Shahihah, hlm. 201.

Juga hadis :

إِنِّي أُرِيتُ دَارَ هِجْرَتِكُمْ رَأَيْتُ ذَاتَ نَخْلٍ بَيْنَ لَابَتَيْنِ

Aku diperlihatkan negeri hijrah kalian, yaitu satu negeri yang memiliki pohon kurma di antara dua harrah.

HR al Bukhari/ al-Fath (7/226) 7/231. Az Zuhri menjelaskan, yang dimaksud dengan kalimat labatain dalam hadis di atas ialah dua hurrah.

Mendengar penuturan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, maka kaum muslimin pun kemudian bergegas melakukan hijrah ke Madinah. Begitu juga sebagian kaum muslimin yang sedang berada di Habsyah, mereka segera pulang dan langsung  menuju Madinah.

 


Yang Pertama Kali Berangkat Hijrah Ke Yastrib 

Imam Bukhaari [ HR al Bukhari/ al-Fath, 15/118, no. 3924, 3925  ] menyebutkan, yang pertama kali berangkat hijrah ke Madinah ialah Mush’ab bin Umair dan  Abdullah bin Ummi Maktum.

Sedangkan Ibnu Ishaq [ Ibnu Hisyam, 2/122. Beliau membawakan riwayat ini tanpa sanad, namun beliau t membawakan kisah cara hijrah Abu Salamah  dengan sanad yang hasan.  ] dan Ibnu Sa’ad [ Ath Thabaqat (1/226) dengan sanad yang bersambung melalui riwayat al-Waqidi.   ] menyebutkan, yang pertama kali berhijrah ialah Abu Salamah bin al Asad.   Musa bin ‘Uqbah memilih yang kedua.

Ibnu Hajar [ Al Fath, 15/119, no. 3925.  ] menyebutkan, di antara hadis hadis yang dibawakan penulis kitab al Maghazi, Syiyar, dan haditshadits yang dibawakan oleh Imam al Bukhari masih bisa dipertemukan, dengan membawa pengertian “yang pertama kali” pada sisi tertentu.

Yaitu Abu Salamah meninggalkan Makkah tidak dengan niatan menetap di Madinah, namun hanya menghindari penindasan kaum kafir Quraisy. Berbeda dengan Mush’ab yang memang sejak awal berniat menetap di Madinah untuk memberi pengajaran kepada penduduk Madinah atas perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Jadi, masing-masing di antara dua orang ini dilihat dari satu sisi. Abu Salamah ialah orang yang pertama kali hijrah ke Madinah untuk menghindari penindasan kaum kafir Quraisy. Sedangkan Mush’ab ialah orang yang pertama kali hijrah ke Madinah dengan niat menetap di Madinah.

Kemudian setelah itu, kaum muslimin berdatangan ke Madinah. Bilal bin Rabbah datang bersama Sa’ad bin Abi Waqâsh dan ‘Ammâr bin Yâsir, kemudian menyusul ‘Umar bin al-Khaththab.

 


Respon Kaum Kafir Quraisy Terhadap Hijrah Kaum Muslimin

Melihat kaum muslimin melakukan hijrah ke Madinah, bagaimanakah sikap kaum kafir Quraisy?

Pemandangan ini sangat menyakitkan hati kaum kafir Quraisy. Sehingga mendorong mereka melakukan berbagai upaya untuk menghalangi kaum muslimin hijrah. Misalnya dengan menahan harta kaum muslimin dan melarang membawanya. Terkadang dengan menahan dan mengurung sebagian anggota keluarga kaum muslimin. Disamping itu, mereka juga melakukan berbagai upaya agar  kaum muslimin yang sudah berada di Madinah kembali ke Makkah.

Namun upaya kaum kafir Quraisy ini tidak membuat kaum muslimin bergeming dari niat semula. Mereka benar-benar sudah siap berpisah dengan harta benda miliknya, keluarganya, dan kenikmatan dunia dan penghidupan lainnya yang telah mereka peroleh di Makkah, demi menyambut panggilan aqidah. Dan sungguh, hijrah ini menjadi pijakan pertama berkibarnya panji tauhid.

Wallahul-Musta’an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

 


Kisah Hijrah Nabi dan Abu Bakar

Nabi Muhammad melakukan dakwah bersifat fardiyah (pice to pice), yaitu ajakan untuk memeluk Islam secara sembunyi-sembunyi dan bertahap namun pasti mulai dari satu orang ke yang lainnya atau dari satu rumah ke rumah yang lain sekitar tiga tahun. Selama periode Makkah keberhasilan dakwah beliau tidak signifikan, bahkan tantangan dan ancaman pada periode ini sangat berat, baik terhadap beliau maupun para shahabatnya. Orang-orang Quraisy sudah mulai melakukan aksinya mengancam akan membunuh Rasul serta menyiksa sebagian para shahabat beliau dengan sangat kejamnya. Seperti yang dialami oleh Amar bin Yasar dan Bilal bin Rabah. Pada saat itulah situasi dan kondisi Mekkah sudah tidak lagi memungkinkan dan tidak lagi kondusip untuk dijadikan sebagai tempat berdakwah. Maka Allah memerintahkan Rasul untuk melaksanakan hijrah ke Madinah, pada saat itu bernama Yasrib. Maka Rasulullah SAW. mendatangi Abu Bakar As-Sidiq RA untuk membicarakan dan merencanakan hijrah.

Pada malam harinya, Rasullullah SAW bersama Abu Bakar, mulai membuat rencana dan merumuskan strategi untuk melaksanakan hijrah. Pada saat itu, langkah-langkah dan strategi yang dilakukan beliau adalah sebagai berikut; pertama beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib RA. untuk tidur ditempat tidurnya, hal ini dilakukan untuk mengkelabui orang-orang Quraisy, kedua, berangkat hijrah pada siang hari pada asaat itu orang kafir Quraisy sedang tidur, ketiga, memulai keluar berhijrah dari belakang rumah untuk menghindari pengamatan orang-orang, keempat, arah tujuan hijrah menuju ke gua Hira selama tiga hari, kelima, beliau menugaskan Asma binti Abu Bakar bertugas untuk mengirimkan konsumsi (makanan) (selama di gua Hira) setiap sore hari, keenam, Amir bin Fuhairah ditugaskan untuk menyamar sebagai pengembala kambing serta memberikan minuman susu kambing kepada Rasul dan Abu Bakar, dan ketujuh, Abdullah bin Utayqith (orang musyrik) yang “dikontrak” ditugaskan sebagai petunjuk jalan menuju Medinah, kedelapan, rute perjalanan adalah kearah selatan menuju Yaman kemudian kearah Barat (pantai laut merah), selanjutnya kearah Utara pesisir laut, sampai akhirnya Rasul dan Abu Bakar singgah di tempat tujuan, yaitu Madinah.