Halimah adalah  ibu susu kedua Nabi Muhammad yang karena kemuliaan hatinya kerap disebut ‘ibu’ oleh Rasulullah.  Ibu susu  Nabi yang pertama adalah  Thuwaibah.

 

Nasab Halimah

Halimah nama lengkapnya adalah Halimah binti Abu Dua’ib as Sa’diyah.  Halimah berasal dari Bani Sa’ad bin Bakr.

Suaminya bernama Harits bin Abd al Qira  [ dalam beberapa literatur ditulis sebagai Al Harits bin ‘Abdul ‘Uzza atau Abdul Izzi ], atau Abu Kabsyah.

 

Anak Anak Halimah :

  1. Kabsyah bin Harits bin Abd al Qira. anak Halimah
  2. Abdullah bin Harits bin Abd al Qira , anak Halimah
  3. Anisah binti Harits bin Abd al Qira, anak Halimah
  4. Hudzafah atau Judzamah binti Harits bin Abd al Qira  atau yang lebih dikenal gelarnya sebagai Syaima.  Beliau merupakan salah satu ibu yang mengasuh Rasulullah SAW dan pernah menjadi tawanan perang Hunain dan kemudian dibebaskan.

Awalnya, Halimah mengasuh Nabi Muhammad hanya sampai beliau berusia 2 tahun. Namun  karena kasih sayang Halimah yang begitu besar kepada Nabi ditambah dengan kekhawatiran Halimah akan keselamatan Nabi, Halimah meminta kepada Aminah untuk tetap mengasuh Muhammad beberapa tahun lagi.

Ia membujuk Aminah bahwa Muhammad akan lebih baik hidup di pedalaman ketimbang di kota Mekah yang pada saat itu, memang tengah dilanda wabah penyakit.
“Biarkanlah Muhammad bersamaku lagi hingga dia agak besar dan tubuhnya sudah kuat melawan bibit penyakit yang menghinggapinya,” kata Halimah dengan memelas.
Aminah yang tentu saja menyayangi anak semata wayangnya, tidak ingin Muhammad ikut terkena penyakit. Akhirnya, dengan berat hati Aminah melepas kembali Muhammad. Namun ia percaya akan ketulusan cinta Halimah, sehingga Muhammad bisa tumbuh lebih baik ketimbang di kota Mekah yang silih berganti dilanda wabah.
Betapa senangnya Halimah ketika Aminah mengizinkan untuk membawa pulang kembali Muhammad.

.


Kisah Halimah

 

Berpisah Dengan Bunda

Inilah pelita paling terang yang pernah ditemui Aminah. Sinarnya melebihi cahaya matahari namun disertai keharuman daun daun di pagi hari. Sungguh, kelahiran Muhammad telah mengembalikan senyum dan tawa di wajah Aminah. Moment kebahagiaan itu telah hadir sempurna dalam kisah hidupnya. Ibunda yang tengah dilanda senyum menikmati wajah menakjudkan anaknya.
Mudah dipahami bila Aminah begitu berbahagia menerima kelahiran buah hatinya ini. Kematian suami yang begitu tergesa-gesa, membuat batin Aminah porak poranda. Bayi inilah yang menjadi semacam perekat kesemrawutan batinnya.

.
Kelahiran seorang bayi memang membawa pengaruh luarbiasa bagi orangtuanya. Ada semacam perasaan melayang yang tak akan pernah mampu dijabarkan dengan tepat. Semacam keadaan ektasi yang membuat ketagihan. Adakah yang lebih sempurna dari seorang anak yang membawa kebahagiaan pada ayah ibunya?
Bisa dibilang, Muhammad kecil menjadi seperti ‘candu’ bagi sang bunda. Dimana kasih sayang dan ciuman hanya tercurah padanya. Semua cinta adalah untuk Muhammad.

.
Aminah melewati hari-harinya bersama Muhammad dengan kebahagiaan melangit . Seakan tak ingin sebentar pun ia meninggalkan bayinya. Muhammad adalah belahan jiwanya. Sumber kekuatan hidup dan harapan. Aminah sungguh ingin mengasuh Muhammad dengan dua tangannya sendiri. Kendati keinginan itu bukanlahlah suatu kelaziman bagi bangsa Arab padamasa itu. Adat istiadat mereka mengharuskan para ibu dari kaum bangsawan berpisah dengan bayi-bayinya untuk disusui perempuan dari pedalaman. Sebuah kebiasaan yang sulit untuk dipahami oleh bangsa, suku bahkan manusia lain.

.
Namun, jalan hidup sudah dipersiapkan Allah kepada Sang Kekasih. Sebuah misteri kehidupan yang bisa jadi tak akan pernah mampu dipahami umat manusia tengah menunggu dengan harap-harap cemas. Garis nasib akan membawa Muhammad jauh dari pelukan dan cinta sang Bunda. Kemana Muhammad akan berlabuh bila hidup bersama sang Bunda bukanlah takdir yang harus dijalaninya? Dan mengapa?
Sukar dipahami memang. Ketika itu Aminah tak mampu mengeluarkan air susu seperti lazimnya perempuan yang habis melahirkan. Kedua payudaranya seperti layu dan pupus.

Mengapa air susu Aminah tidak menetes sedikitpun? Bila tidak ada air susu, bagaimana bayinya bisa hidup? Bukankah hidup bayi yang baru lahir bergantung pada air susu ibunya? Kenapa Aminah tak mampu memberinya air susu?
Kenyataan ini sungguh menyusahkan hatinya. Kecemasan dan kesedihan seakan saling menyusul menyelimuti perasaan Aminah.

.
Apa yang terjadi pada diriku, sehingga aku tak mampu menyusui bayiku sendiri? Aminah merasa seperti terpasung tiba-tiba. Buat seorang ibu, tidak mampu menyusui anaknya adalah seperti menderita kekalahan pada inning pertama. Telak dan menyakitkan. Rasanya seperti memiliki cacat bila air susu tak menetes sedikit pun.
Kendati segala cara telah ditempuh, semua jenis obat-obatan telah diracik dan diteguk. Namun payudara itu tetap kering. Dan betapa pilu hati Aminah. Muhammad kecil telah berusia beberapa hari, namun setetes susupun belum melewati tenggorokkannya. Kendati demikian, bayi itu tetap tenang dan ah, ia masih bisa tersenyum. Seolah-olah menenangkan hati bundanya. Janganlah bersedih, Ibunda sayang!
Aminah terus berusaha, namun air susu itu tetap kering. Ia yang semula berkeinginan untuk menyusukan dan merawat sendiri bayinya, kini harus menyerah pada takdir yang meliputi Muhammad. Sebuah kekuatan besar seakan tengah bermain-main disini. Tak ada jalan lain. Kesehatan dan keselamatan si bayi adalah segalanya. Aminah harus merelakan mengikuti kemana takdir membawanya.
Bersama tradisi suku Arab, bayi Aminah berpindah ke perempuan pedalaman. Pada abad ke 6 SM, masa ketika Muhammad dilahirkan, di kalangan bangsawan dan hartawan bangsa Arab , telah terjalin tradisi unik dalam hal pengasuhan bayi. Mereka akan menitipkan bayi-bayi mereka kepada para keluarga Badui gurun.

.
Meskipun kebayakan orang-orang Arab itu tidak lagi hidup nomaden dan mereka telah membentuk lingkungan social baru yang temtatif, dasar-dasar pemikiran kaum nomaden tetap mereka jalankan. Bisa jadi ini hanya sebagai symbol bahwa mereka berasal dari gurun. Sehingga mereka tetap mempercayakan kehidupan ini pada alam yang keras sebagai basis pertama kehidupan anak. Karakteristik alam di Negara-negara Arab memang unik dan istimewa. Disanalah sebuah miniatur kehidupan yang sesungguhnya disajikan. Dimana ‘primata’ berakal atau manusia ditempa menjadi mahkluk dengan tingkat survivel yang tinggi. Alam padang pasir akan mengubah tanpa ampun jiwa-jiwa murni menjadi sesosok manusia dengan daya tahan tubuh luarbiasa. Kuat, pemberani, pantang menyerah namun sebaliknya juga amat pemurah.

.
Gurun pasirnya yang membentang ribuan kilometer, badai yang seringkali datang dengan cepat dan kejam, angin kering dan semua kekuatan alam ditunjukkan diwilayah ini. Dibutuhkan jiwa dan fisik yang keras untuk mampu hidup di alam ini.

Kemungkinan besar, itu yang menyebabkan mengapa klan-klan Arab yang tidak lagi nomadens dan hidup kaya raya, masih mempercayakan bayi-bayi mereka pada suku pedalaman atau Badui. Disamping situasi dan kondisi kota-kota besar seperti Mekah yang rawan akan datangnya wabah penyakit. Sejarah juga mencatat banyak bayi yang mati karena terjangkit wabah. Sanitasi yang buruk, tingkat pengetahuan akan kesehatan yang rendah ikut memperburuk situasi kota-kota di Arab. Wabah penyakit datang silih berganti. Pada saat Muhammad lahir, kota Mekah pun tengah dilanda wabah. Banyak bayi yang mati karena terkena wabah ini, bahkan unta-unta yang dikenal kebal akan kuman penyakit, mati berjatuhan. Betapa mengerikan. Bisa dimaklumi bila Mekah sering dilanda wabah penyakit yang datang silih berganti, persis seperti para undangan sebuah perayaan. Darah dan sisa bangkai binatang persembahan, lalat yang bergerombol berpesta, udara panas yang mampu menaikkan tensi darah, ditambah kekeringan yang setia berkunjung. Bila hujan tiba, air dari bukit seperti tumpah ruah melewati gang-gang, menyapu semua sampah dan menggenangi pelataran Kabah. Semua ini menjadi sarang segala hama dan penyakit.( 5) hashem, hal 84

.
Sehingga ketika bayi-bayi membutuhkan kehangatan pelukan ibunda dan mereguk cinta kasihnya, suku-suku bangsa di Arab yang hidup di kota lebih memilih airsusu para ibu pedalaman ketimbang asi ibu-ibu kandung mereka.
Lingkungan yang masih alami dan asi yang murni dan segar sepertinya menjadi instrument dasar, tanpa syarat, bagi tumbuh kembang seorang anak pada bangsa Arab. Selebihnya, adalah urusan remeh temeh. Itulah sebabnya mencari dan menetapkan ibu susu menjadi sama sulit dan ruwetnya dengan mengandung selama sembilan bulan. Banyak syarat yang mesti di penuhi. Mulai dari kondisi fisik ibu susu, dengan melihat apakah payudaranya masih penuh atau kering, hingga lokasi hidup kaum si ibu susu. Semakin jauh ke pedalaman, maka semakin mahallah harganya. Karena itu berarti kehidupan mereka masih murni dan alami.
Lebih dari soal alam padang pasir atau air susu ibu, tradisi pengasuhan ini pun di picu oleh keinginan agar anak-anak mereka menguasai bahasa Arab tingkat tinggi dengan baik. Eperti bahasa Badui pedalaman. Lebih dari itu, bahasa yang dipergunakan oleh suku pedalaman masih murni dan indah.

.
Pada masa itu orang-orang Arab percaya pada ‘kekuatan’ bahasa. Mereka yang menguasai bahasa secara fasih dan sempurna, dipercayai akan mampu menjadi pemimpin tangguh dan sukses. Sehingga tidak heran, bila profesi penyair menjadi salah satu profesi terhormat pada masa itu. Karena buta huruf masih menguasai semenanjung, para penyair akan menyampaikan syair mereka dengan keras.

.
Mereka yang mampu membuat syair-syair indah, memukau sekaligus menghanyutkan akan mendapat kehormatan layaknya pejabat tinggi Negara. Lebih dari itu, para penyair bisa dianggap sebagai ‘media massa’ versi abad 6SM. Karena lewat para penyair itulah semua berita berkumpul dan disebarluaskan. Siapa yang mampu ‘menguasai’ para penyair, maka ia diibaratkan menguasai ‘media massa’. Ia akan mampu mengontrol apa-apa informasi yang bisa disebarkan kepada suku-suku lsin, sesuai dengan kepentingan pribadi atau klan mereka. Informasi itu dinterpretasikan sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi pihak lain dalam perang propaganda.
Disamping tentu saja, pada masyarakat Arab abad itu, kata-kata penyair sama sakralnya dengan kata-kata seorang kyai pada abad sekarang. Penyair bahkan dipercaya memiliki unsure magis, pembentuk opini masyarakat. Itulah sebabnya beberapa penyair ditengarai karyanya bersifat amat politis ketimbang seni.
Kelak, diasuhnya Muhammad di lingkungan pedalaman memberi kontribusi yang amat besar bagi pemahaman Muhammad akan ‘bahasa’ Allah lewat wahyu yang diturunkan kepadanya.Selain terserapnya segala kebaikan dari sifat bangsa Badui gurun, tentu saja. Sebagai insan yang diasuh dan dididik dengan kualitas bahasa yang baik, Muhammad akan mampu mengejewantahkan wahyuwahyu Tuhan Sang ‘Empunya’ bahasa-bahasa. Ia akan fasih berbicara dengan kaumnya.

(Kelak, setelah menjadi Rasul, Muhammad sering mengatakan: Aku yang paling fasih diantara kamu sekalian. Aku dari Quraisy tapi diasuh di tengah-tengah keluarga Sa’ad bin Bakr)

Bukankah sebagai Nabi kelak, dirinya dituntut untuk mampu memahami apa-apa yang diwahyukan Allah kepadanya dan mengkomunikasikannya kembali dalam bahasa yang sama kepada umatnya?

.
Barangkali, inilah salah saatu ibrah dibalik pengsuhan Muhammad di daerah pedalaman.
Keadaan fisik Aminah yang tidak mampu menyusui bayi Muhammad, membuat Aminah harus sesegera mungkin menemukan seorang ibu yang mau menyusui bayinya. Menunggu para perempuan pedalaman datang ke Mekah dirasakan cukup lama, padahal bayi Muhammad harus sesegera mungkin disusukan. Abdul Muthalib yang mengetahui keadaan ini merasa sedih hatinya. Cucu yang disayanginya tidak bisa menyusu. Agar sang bayi tidak mati kelaparan, Aminah akhirnya menyerahkan bayinya kepada Thuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, saudara kandung Abdullah.

Pada saat itu Thuwaibah juga sedang menyusui Hamzah, anak dari sang kakek, Abdul Muthalib yang juga baru lahir. Tetapi Hamzah dan Abdullah, ayah Muhammad, memiliki ibu yang berbeda.

.
Selama beberapa hari Thuwaibah menyusui Muhammad, terlihatlah sekelompokperempuan pedalaman memasuki kota Mekah. Ah, akhirnya mereka datang juga. Mereka berasal dari suku Bani Sa’ad. Badui ini merupakan salah satu klan tertua dan sisa badui purba Arabia. Mereka menghuni lembah antara pegunungan yang memanjang dari Tha’if ke selatan. Mendengar kabar itu bergegaslah Abdul Muthalib ketempat para perempuan pedalaman itu biasa berkumpul menawarkan jasa air susu mereka.

.
Tampak dari kejauhan para perempuan itu bergerombol dan Abdul Muthalib merasa gembira hatinya karena terbayang sang cucu akan segera bisa menyusu. Didekatinya mereka dan ditawarkanlah untuk menyusui Muhammad. Namun, apa daya, sejarah mencatat bahwa para perempuan itu menolak bayi cucu Abdul Muthalib ketika mereka tahu sang bayi sudah tidak memiliki ayah lagi. Ia adalah bayi yang yatim. Kelebihan materi apa yang bisa diharapkan dari bayi yang yatim? Apalagi, Aminah juga miskin.(9) Karen, hal 87

.
Padahal, para perempuan itu yang memang taraf hidupnya tidak terlalu baik, amat mengharapkan upah yang tinggi dari menyusui bayi. Mereka sedikit banyak menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarga mereka dari pekerjaan seperti ini. Mendapati kenyataan ini, Abdul Muthalib kian bertambah risau. Jiwanya seperti disayat-sayat mendapati kenyataan cucunya ditolak dimana-mana. Namun, ia adalah laki-laki yang teguh dan penuh perjuangan. Kendati terus menerus ditolak, ia tetap menawarkannya pada para perempuan itu. Satu persatu didatanginya, hingga pada perempuan terakhir. Namun, kenyataan pahit memang harus dihadapi. Semuanya menolak.

.
Kekecewaan tergambar jelas pada gurat wajah Abdul Muthalib. Ia sungguh galau dan bersedih. Bagaimana jika pada akhirnya sang cucu tetap tidak mendapatkan ibu susu? Apa yang akan terjadi padanya? Abdul Muthalib terus berdoa dalam hatinya, agar sesuatu terjadi dalam situasi ini. Ia betul-betul mengharapkan ada perempuan yang sudi membawa pulang cucunya ke rumah mereka di pedalaman.
Tetapi, sebuah narasi sejarah besar tengah menanti seorang perempuan dari kabilah bani Sa’ad bin Bakr. Allah telah berkehendak bahwa Muhammad akan melewati masa kecilnya di pedalaman Bani Sa’ad sana.
Salah satu perempuan pedalaman yang juga mencari bayi yang akan diasuh, Halimah As-Sa’diyyah binti Abu Dzuaib, ditakdirkan Allah menjadi ibu susu bagi Muhammad.(10) ) Haekal, hal. 51: penulisannya Halimah bint Abi-Dhua’ib. Mubarakfury, hal 71. Al buthy, hal 30: penulisannya Halimah binti Abu Dzu’aib. Dan ketentuan Allah jualah yang akan terjadi.

.

Semula Halimah juga menolak untuk menyusui Muhammad. Karena ia mengharapkan adanya kelebihan rejeki dari upah yang telah disepakati, yang akan diberikan oleh ayah sang bayi. Bila ayahnya telah tiada, darimana keluarga itu memperoleh uang, bukankah sang ibu juga tidak bekerja? Apa pula yang bisa diharapkan dari seorang kakek? Tetapi seperti juga Muhammad, Halimah pun ditolak oleh para keluarga bangsawan yang mencari ibu susu. Seperti sebuah kebetulan yang mengundang senyum. Waktu itu penampilan fisik Halimah kurang meyakinkan. Tubuhnya kurus dan buahdadanya terlihat tidak penuh. Sehingga orang-orang kuatir bayi-bayi mereka tidak akan tercukupi kebutuhan asinya. Memang kenyataannya air susu Halimah tidak lancar keluar, sehingga Hudzafah atau Juzamah binti al-Harits (kelak ia lebih dikenal dengan julukan Syaima’) bayi mereka yang ikut dalam perjalanan itu pun kekurangan air susu dan terus menerus rewel. (11) ) Haekal, hal 51. Ditambah keledai betina putih kehijauan dan seekor onta tua yang mereka kendarai, tidak menghasilkan susu setetes pun. Sehingga mereka menghabiskan malam di perjalanan tanpa bisa tertidur sekejab pun karena tangis bayi mereka.

.
Ketika romobongan perempuan penyusu masing-masing telah mendapatkan bayi susuannya, mereka segera berkemas pulang. Hanya Halimah yang belum. Dan kenyataan ini sungguh tidak mengenakkan Halimah.
“Demi Allah, aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan. Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku,” ujar Halimah kepada suaminya. (12) ) Mubarakfury, hal 72. Nur Wahidin, jilid 3
Al Harits bin ‘Abdul ‘Uzza, sang suami yang berjuluk Abu Kabsyah yang juga berasal dari kabilah yang sama, dengan bijak dan arif mengiyakan.
“Tidak mengapa, Halimah. Lakukanlah apa yang kau inginkan. Mudah-mudahan Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita sebagai sebuah keberkahan”

.
Mendengar kata-kata Harits, bertambah yakinlah Halimah. Bergegas ia menemui Abdul Muthalib yang telah kelihatan letih dan sedih. Lalu dimintanya Abdul Muthalib untukmembawanya ke rumah cucunya karena ia bersedia menjadi ibu susu bagi Muhammad. Mendengar kesediaan Halimah, seketika wajah Abdul Muthalib menjadi cerah. Suka cita menyelimuti hatinya.
“Siapakah namamu?” tanya Abdul Muthalib.
“Halimah”
“Ah, sebuah nama yang berarti bahagia dan sabar! Dua sifat yang membawa kebaikan sepanjang masa, dan kemuliaan sepanjang abad” ujar Abdul Muthalib dengan tersenyum tenang. (13) Judah, periode Mekah, hal 98 Abdul
“Mari, kuantar kau kerumah anakku segera,”
Di rumah, Aminah tengah menanti kedatangan Abdul Muthalib dengan harap-harap cemas. Demi melihat Abdul Muthalib datang bersama seorang perempuan pedalaman, legalah hatinya. Ia menjadi tenang kembali. Kepada Halimahlah, Aminah menyerahkan pengasuhan Muhammad. Ia percaya pada kata hatinya, bahwa Muhammad akan dapat tumbuh sehat dan bahagia dalam asuhan keluarga Halimah.
Halimah dengan senyum tulus segera mengambil Muhammad dan menimangnya. Demi melihat wajah si bayi, ia langsung jatuh cinta dan merasa bahagia. Ia merasa keberkahan telah mulai meliputi hidupnya. Lalu, seperti sebuah insting, ia merasa payudaranya ingin segera menyusui Muhammad. Didudukkkannya Muhammad dan segera disusuinya.

.
Dan sungguh, keberkahan itu benar-benar datang. Air susu Halimah tiba-tiba memancar deras dan menyusulah Muhammad hingga kenyang dan tertidur pulas. Halimah sungguh terkejut sekaligus senang mendapati kenyataan itu. Kini hatinya tak ragu lagi untuk membawa Muhammad pulang ke pedalaman.
Dalam perjalanan, keberkahan juga menyapa Halimah. Onta tua milik mereka, tiba-tiba telah terisi penuh kantung susunya sehingga bisa diperah. Mereka meminum susu itu hingga kenyang. Bayi mereka pun tidak lagi rewel karena asi Halimah telah mengalir deras. Sehingga ketika mereka bermalam diperjalanan, keluarga itu bisa tertidur dengan nyenyaknya.
Pagi harinya ketika terbangun, Halimah berkata kepada suaminya.
“Inilah malam terindah yang pernah aku rasakan”
“Wahai Halimah, kamu telah mengambil manusia yang benar-benar membawa berkah” jawab Harits.
“Aku berharap demikian seterusnya, suamiku”
Lalu rombongan itu melanjutkan perjalanannya dan Halimah menunggangi keledainya yang semula lemah dan pelan jalannya, kini seperti memiliki energi baru. Bersama onta tua, halimah dan suaminya menikmati perjalanan dengan sangat menyenangkan. Kedua binatang tunggangannya kini mampu berjalan gagah dan cepat. Ini mengejutkan kelompok perempuan bersama bayi-bayi susuan mereka ketika Halimah mampu menyusul mereka.
Bukankah dalam perjalanan pergi binatang tunggangan mereka berjalan dengan payah sekali? Mengapa kini mereka mampu menyusul rombongan yang telah pergi lebih dulu?

.
Halimah menyapa teman-temannya dengan senyum tersungging di wajahnya. Ia benar-benar merasa bahagia karena telah membawa pulang Muhammad. Kemudian sampailah mereka di kampong halaman.
Para perawi sirah telah sepakat bahwa pedalaman Bani Sa’ad pada waktu itu sedang mengalami musim kemarau yang menyebabkan keringnya lading peternakan dan pertanian.(14) Al buthy, hal 30
Ketika Halimah tiba kembali di kampungnya, ia merasa cemas. Karena kampungnya terlihat begitu tandus, sepertinya tidak ada hamparan lain yang lebih tandus lagi. Mampukah ia mengasuh dan menyusui Muhammad ditengah keadaan alam yang gersang ini? Namun segera kekhawatirannya pupus. Tak lama setelah kepulangan itu, Halimah merasa rumput-rumput dan tanaman di sekelilingnya mulai tumbuh subur. Kambing-kambingnya kini banyak air susunya sehingga ia bisa memerah dan meminumnya, padahal kambing para tetangganya tetap kurus dan kering air susunya. Kejadian ini membuat kaumnya menyuruh para penggembalanya untuk mengikuti kemana pun putri Abu Kabsyah menggembalakan kambingnya.

.
Berkah ini sungguh menakjudkan Halimah sekeluarga, sehingga mereka semakin mencintai dan menjaga Muhammad.(15 ) Karen, hal 89
Di keluarga ini, Muhammad memiliki banyak saudara sesusuan seperti ‘Abdullah bin al-Harits, Anisah binti al-Harits dan tentu saja Syaima’. Disamping Muhammad, Halimah juga merawat Abu Sufyan bin al-Harits bin ‘Abdul Muthalib yang juga saudara sepupu Muhammad. Sejarah juga mencatat paman beliau, Hamzah bin ‘Abdul Muthalib juga disusui ditengah kabilah Bani Sa’ad bin Bakr.

.

Suatu hari, ketika ibu susu Hamzah berada di dekat Halimah, ia tergerak untuk ikut menyusui Muhammad. Diambilnya Muhammad dari gendongan Halimah dan disusuinya Muhammad. Sehingga Hamzah merupakan saudara sesusuan Muhammad dari dua pihak, Thuwaibah dan Halimah as-Sa’diyyah.
Di pedalaman, Muhammad tumbuh sehat, badannya bugar dan terlihat lebih bongsor atau besar dari teman sebayanya. Muhammad menjadi anak yang periang dan cerdas yang disukai semua orang tua dan teman sebayanya. Hingga usianya mencapai dua tahun, Muhammad telah menjadi anak kesayangan keluarga Halimah bahkan orang-orang sekampung.

.
Namun setelah dua tahun, usai pulalah saat menyusui dan kini Muhammad kecil harus disapih. Itu berarti saatnya Muhammad untuk pulang ke pangkuan bundanya. Namun Halimah sangat ingin mengasuh Muhammad lebih lama lagi. Itulah sebabnya ia berusaha keras membujuk Aminah agar mengijinkannya membawa pulang kembali Muhammad ke pedalaman. Ia membujuk Aminah bahwa Muhammad akan lebih baik hidup di pedalaman ketimbang di kota Mekah yang pada saat itu, memang tengah dilanda wabah penyakit.
“Biarkanlah Muhammad bersamaku lagi hingga dia agak besar dan tubuhnya sudah kuat melawan bibit penyakit yang menghinggapinya,” kata Halimah dengan memelas.
Aminah yang tentu saja menyayangi anak semata wayangnya, tidak ingin Muhammad ikut terkena penyakit. Akhirnya, dengan berat hati Aminah melepas kembali Muhammad. Namun ia percaya akan ketulusan cinta Halimah, sehingga Muhammad bisa tumbuh lebih baik ketimbang di kota Mekah yang silih berganti dilanda wabah.
Betapa senangnya Halimah ketika Aminah mengizinkan untuk membawa pulang kembali Muhammad.

Menjadi Anak Badui Gurun

Begitulah, akhirnya Muhammad kecil kembali lagi ke perkampungan kabilah Bani Sa’ad bersama ibu susu Halimah. Di sinilah ia menghabiskan masa kecilnya yang bersahaja dengan keriangan dan canda tawa yang membahana. Menghirup udara pedalaman yang segar, membau udara gurun yang membangkitkan imajinasi ditambah tantangan alam bebas yang melecut kekuatan fisik dan emosinya.

.
Bersama saudara-saudara sesusuannya seperti Syaima’, Abdullah dan Anissa, Muhammad menghabiskan masa kecilnya jauh di pedalaman sana. Mereka kerap bersama-sama menyaksikan hewan gurun yang eksotis atau berlarian diantara pepohonan yang tumbuh subur di bukit-bukit. Mereka juga pergi bersama-sama menggembalakan kambing sambil berlarian dan tertawa-tawa. Muhammad kecil menikmati cinta Halimah yang tulus dan kasih sayang saudara sesusuannya yang berwarna-wari. Semua itu tercurahkan pada diri Muhammad, terus menerus. Seperti tetesan hujan yang jatuh di sore yang syahdu. Mereka telah menjelma menjadi satu keluarga yang ruangannya dipenuhi gairah cinta. Ah, sungguh masa kecil yang amat bersahaja.

.
Jiwa Badui yang merdeka, memberi pengaruh besar pada kepribadian Muhammad.(1) Hashem, hal 34, 36,37,38. Mubarakfury, hal 56-59. Karen, hal 59-63. Kelak, ia akan dikenal sebagai Nabi yang amat egaliter sekaligus tegas. Sebuah paduan sifat yang amat sulit bila bukan pribadi itu amatlah istimewa. Pada kenyataannya, sifat orang Badui yang muruwwah atau jantan adalah dasar karakteristik Badui. Sifat ini menggambarkan keberanian bertempur, sabar dalam kekalahan, tenang dan tak cepat marah. Orang Badui juga ramah tamah, pemurah bahkan cenderung gila memberi, mereka akan selalu gembira menyambut dan membagi makanan dengan kelana yang mampir. Semua sifat ini menjadi satu nilai social yang melapisi watak para Badui.

.
Bagaimanapun juga, bangsa Badui, dengan kecenderungan membangkitkan potensi dalam diri manusia, bagai menganut paham humanis yang mudah terpanggil pada kebenaran. Dan semua itu diserap dan direkam dalam otak Muhammad kecil. Lebih dari 15 abad kemudian, ilmu psikologi membuktikan bahwa masa kanak-kanak adalah masa yangpaling mudah dlaam menanamkan prilaku dan segala macam kebaikan. Inilah yagn disebut “the golden age” atau masa-masa emas.
Periode 5 tahun pertama dalam kehidupan manusia di percaya merupakan masa amat berharga untuk melejitkan potensi dirinya. Baik potensi kecerdasan otak maupun kecerdasan emosi. Dan tentu saja masa ini pun merupakan kesempatan amat istimewa untuk menanamkan ketauhidan atau memompa spiritualisme seseorang.
Tidak meleset sedikit pun desain Allah SWT yang telah menempatkan Muhammad untuk menjalani kehidupan masa kecilnya di pedalaman.
Lingkungan yang terjaga dan akhlak yang terpuji menjadi dasar bagi perkembangan mental- spiritual Muhammad. Kelak, dasar-dasar sifat yang terbentuk ini ikut melejitkan kecerdasan spiritualisme Muhammad dalam mengelaborasi ketauhidan dalam dirinya. Masa-masa ketika ia mulai menyendiri di gua Hira, menghabiskan malam penuh kesunyian untuk mencari-cari siapa Tuhannya.

.
Sejarah mencatat hidup di pedalaman bersama Halimah dan keluarganya terjadi sampai Muhammad berusia 5 atau 6 tahun. Dalam kurun waktu inilah terjadi sebuah peristiwa yang menjadi salah satu kisah fenomenal yang terjadi pada kisah hidup Muhammad. Kendati kisah ini banyak di bahas, dianalisis sekaligus diperdebatkan kebenarannya. Namun sungguh, kisah ini telah terlanjur diterima tanpa tanya oleh umat Islam di seluruh dunia. Barangkali, kejadian ini harus disikapi dari sudut personal dimana Muhammad, yang kelak menjadi Rasul Allah, akan menjadi sosok paling dicintai dan dihujani shalawat dan salam yang mengalir bagai aliran anak-anak sungai dari puncak gunung. Tak pernah berhenti. Sebuah kejadian yang sebaiknya dilihat sebagai penggugah cinta dan penunjukkan rasa hormat luar biasa terhadap pribadi mulia ini.(2) Annemarie, hal 115

.
Lebih jauh harus pula diakui, kisah ini yaitu cerita tentang pembelahan dada Muhammad kecil, telah menjadi ciri utama dari semua penulisan biografi Muhammad oleh semua penulis di seluruh dunia.
Kisah pembelahan dada ini bermula dari sebuah siang ketika matahari bersinar dengan malu-malu. Tiba-tiba saja, suasana damai ini dipecahkan oleh suara kanak-kanak. Mereka adalah saudara sesusuan dan sepermainan Muhammad yang memanggil-manggil Halimah dan suaminya, Abu Kabsyah.
Muhammad telah dibunuh! Muhammad telah dibunuh!”
Demi mendengar teriakan itu, seakan berhentilah aliran darah Halimah. Sekejab ia merasa nyawanya sendiri yang melayang. Muhammad, Muhammad! Apa yang terjadi pada dirimu, anandaku tersayang?! Jerit hati Halimah berulang-ulang.
“Apa yang terjadi?” Halimah bertanya dengan suara bergetar.
“Saudaraku dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil dibalik-balikkan” (3)
Haekal, hal 51
Nadwi,hal 101
Mubarakfury, hal 74
Al Buthy, hal 33

Bergegas, tanpa bertanya lebih jelas lagi Halimah dan Abu Kabsyah berlari keluar, mencari cari di mana gerangan bocah kecil pujaan hati itu. Muhammad akhirnya ditemukan disebuah bukit sedang duduk dengan muka pucat pasi.
“Apa yang terjadi pada dirimu, nak?” Halimah bertanya dengan kecemasan yang besar.
“Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku dibaringkan. Lalu, perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Namun sungguh, aku tak tahu apa yang mereka cari” ( 4 )
Haekal 51
Bertahun tahun setelah kejadian, setelah Muhammad diangkat menjadi Rasul, ia melanjutkan menceritakan sendiri pengalaman itu. “Setelah itu mereka membungkukkan badan ke arahku, mencium kepalaku dan diantara kedua mataku, dan berkata: “Wahai Kekasih Allah, sesungguhnya engkau tidak akan pernah ketakutan, dan jika engkau tahu kebaikan apa yang telah dipersiapkan untukmu, engkau akan sangat bahagia.” Kemudian mereka terbang menembus langit. ( 5)
Annemarie, hal 101
Abu baker Ahmad al-Baihaqi, Dala’il an-nubuwwah
Kisah ini seperti menggambarkan suatu upacara pentasbihan yang sangat khas, tak ada duanya kendati hanya mirip-mirip, dimana ‘seakan-akan’ pemuda kecil itu dipersiapkan untuk menerima wahyu Illahi.( 6)
Annemarie, 101
Inilah persiapan spiritual yang melalui proses fisik empiric, sehingga mudah dipahami oleh umat Islam kelak ketika menyikapi cerita ini. Semacam operasi pembersihan spiritual yang diyakini sebagai tanda awal dari persiapan kenabian Muhammad.(7)
Al Buthy, hal 33
Mukjizat mukjizat seperti ini, kendati menimbulkan banyak kontroversi akan kebenarannya, namun amat bijaksana untuk menyikapinya dengan melihatnya sebagai sarana bagi umat Islam dalam mengungkapkan rasa cinta mereka. Disadari atau tidak, meyakini ‘legenda tradisional’ semacam ini akan mampu menjalin hubungan pribadi dengan (Nabi) Muhammad. Hal ini bisa menjadi semacam ‘jembatan’ agar suatu saat, diharapkan akan mampu melihat (Nabi) Muhammad dalam mimpi. Sebuah anugrah terbesar yang dapat diharapkan dalam kehidupan ini. ( 8) Annemarie, hal 115
Bertahun-tahun kemudian, Al Quran menegaskan peristiwa itu dengan menurunkan wahyu berupa Surat Alam Nasyrah.
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?
Dan Kami telah hilangkan beban, yang memberatkan punggungmu?” Al Quran surah 94:1,2,3.

Atas keseluruhan peristiwa ini, Halimah tentu saja merasa khawatir. Dalam hati kecilnya, ia merasa sedang berurusan dengan sesuatu yang besar, yang tak akan sanggup ia memikulnya. Usai kejadian itu, Halimah semakin ketat menjaga Muhammad. Kemana pun Muhammad pergi bermain, selalu di pantaunya.

.
Ada lagi satu kejadian yang cukup menakutkan bagi Halimah. Suatu saat, Halimah mengajak Muhammad untuk berjalan jalan di sebuah keramaian. Di tempat ini, berbagai atraksi diselenggarakan. Tak hanya itu, para penyair dan peramal pun turut serta meramaikan. Halimah, sebagai perempuan gurun yang sederhana, merasa tertarik untuk meramalkan nasib Muhammad kepada seorang peramal. Banyaknya kemudahan hidup yagn dirasakan Halimah semenjak mengasuh Muhammad ditambah kejadian misterius diatas bukit waktu itu, cukup mengusik keingin tahuannya akan tabir dibalik sosok Muhammad. Dibawanya Muhammad memasuki tenda sang peramal. Namun Halimah tak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya pada tangan Muhammad. Hatinya menyuruhnya untuk tetap memegang Muhammad. Ketika sang peramal melihat wajah Muhammad dan memeriksa leher belakang Muhammad, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.

.

Tanpa berkata-kata lagi ia segera menyingkap tirai pembuka tenda, dan berteriak-teriak kepada orang banyak;
“Wahai orang-orang Arab…..Wahai orang-orang Arab….Cepatlah kalian berkumpul!Cepat!”
Halimah, demi melihat gelagat yang membahayakan pelita hatinya ini, segera menarik bahu Muhammad dan kabur lewat belakang dengan menyingkap tirai tendanya. Nafasnya serasa buntu, darahnya membeku ketika dari kejauhan ia mendengar peramal itu berteriak:Bunuh anak itu…Bunuh ia! Aku melihat anak lelaki yang demi segala tuhan! Ia akan memerangi pengikut agama kalian, menghancurkan tuhan-tuhan kalian dan menguasai kalian! Bunuh segera ia…bunuh…
Namun, Halimah dan Muhammad telah menghilang jauh sebelum orang-orang sempat melihat mereka. ( 9) Judah, hal 106

.
Allah tentu saja tidak mengijinkan orang-orang untuk menyakiti Muhammad saat itu. Maka Allah menyelamatkan mereka berdua dari ‘usaha’ pembunuhan itu. Saatnya masih jauh bagi Muhammad untuk dihadapkan pada situasi yang penuh mara bahaya seperti itu. Masih lama lagi. Allah masih harus mempersiapkan Muhammad untuk mampu menghadapi situasi yang paling berbahaya sekalipun. Nanti, saatnya akan tiba ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasul. Saatnya akan datang.
Kejadian-kejadian yang cukup menciutkan hati Halimah, pada akhirnya memaksanya berpikir ulang untuk mengembalikan Muhammad sesegera mungkin. Kendati cintanya kepada Muhammad sangat besar, namun ia merasa tak sanggup menjaga keselamatan dan ketentraman Muhammad. Ia merasa ada campur tangan Maha Besar tengah bermain di sini. Maka, setelah berunding dengan suaminya, akhirnya Halimah mengambil keputusan penting itu. Memulangkan anak Quraisy, anak asuh yang dicintai dengan segenap jiwanya, kerumah ibundanya di Mekah. Merelakannya untuk berpisah selama-lamanya.

Selamat Jalan, Bunda!

Tak terasa enam tahun sudah usia Muhammad. Masa-masa indah bersama Bunda Halimah dan saudara-saudara sesusuan telah berakhir. Halimah, kendati telah begitu mencintai Muhammad, namun akhirnya didera ketidakberdayaan. Banyaknya peristiwa mengejutkan yang dikhawatirkan dapat mencederai fisik maupun psikologis Muhammad, membuat Halimah harus membuat keputusan berat. Mengembalikan Muhammad kepada Bundanya sendiri, Aminah. Halimah merasa tidak sanggup lagi menjaga Muhammad. Ia merasa ada ‘sesuatu’ pada diri Muhammad yang tidak akan mungkin sanggup ia tangani. Muhammad harus diasuh langsung oleh orang yang tepat. Dan Halimah menyadari ia dan keluarganya bukanlah tempat yang pas. Kendati cintanya pada Muhammad telah mengakar, Muhammad harus kembali ke lingkungan asalnya. Perpisahan yang cukup berat dirasakan Halimah dan keluarganya, tentu. Pada diri Muhammad pun ia merasakan khilangan yang cukup berarti. Barangkali, inilah fase psikologis kedua yang dialami sikecil Muhammad setelah yang pertama harus berpisah dengan bunda Aminah pada usia yang masih sangat muda, hanya dalam hitungan hari. Untuk disusui bunda Halimah.(interpretasi)
Ketika saatnya telah tiba, Halimah membawa pulang sendiri Muhammad tanpa mengajak suami atau anaknya yang lain. Seakan-akan ia ingin menghabiskan waktu selama perjalanan dari perkampungan Hawazin Ke Mekah, hanya berdua saja dengan Muhammad.
Karena kali ini, baik Halimah maupun Muhammad sama-sama menyadari bahwa inilah perpisahan yang sesungguhnya. Setelah itu mereka berdua akan menjalani kehidupan masing-masing. Kecil kemungkinan bagi keduanya untuk bisa bersatu lagi. Kendati telah terjalin cinta antara ‘ibu’ dan ‘anak’.
Perjalanan itu ditempuh mereka berdua dalam diam dan kehati-hatian. Langkah sang unta yang membawa mereka terdengar jelas dan seperti menyanyikan sebuah lagu perpisahan yang penuh harapan dan cinta. Harapan agar kenangan ini tidak pupus oleh waktu. Semoga cinta antara mereka bisa kekal kendati tidak bersama-sama lagi. Sejarah pula yang membuktikan bahwa Muhammad adalah manusia paling mulia di muka ini. Kendati Cuma ibu susu, namun Halimah dimata Muhammad adalah sama mulia dan terhormatnya seperti Aminah. Muhammad tak pernah memutuskan tali ingatan dan silaturahmi antar mereka. Pun sebaiknya Halimah dan keluarganya.
Dalam perjalanan pulang terakhir kali inilah sejarah mencatat sebuah peristiwa kecil namun cukup penting.
Menjelang memasuki kota Mekah, kemungkinan karena Halimah sudah letih dan jarak yang semakin dekat membuat hatinya tambah membiru, pada suatu tempat Halimah kehilangan Muhammad.(1) Judah, 106. Haekal, hal 53
Sejarah memang tidak mencatat kejadian pasti dan lokasinya, namun disepakati pada waktu itu Muhammad benar-benar lepas dari pengawasan Halimah. Anak laki-laki santun itu hilang. Halimah bingung sekali ketika menyadari Muhammad tidak lagi berada di sampingnya. Hatinya diliputi kecemasan, ia ketakutan. Pada saat itulah ia menyadari betapa ia sangat mencintai Muhammad. Hilangnya Muhammad justru ketika ia dalam pengawasannya, membuatnya tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia menyesali keteledorannya. Berulangkali ia bolak balik dari tempat terakhir ia menyadari hilangnya Muhammad hingga ke arah yang baru saja ditempuhnya. Namun Muhammad tetap tidak ditemukan. Batin Halimah menjerit-jerit pilu. Dimana engkau, Muhammad! Dimana engkau Muhammad!
Maulana Jalaluddin Rumi (wafat 1273) seorang penyair –sufi dalam kitab legendarisnya Mastnawi-Ma’nawi, beberapa abad kemudian menyitir sebuah syair indah ketika mengungkapkan peristiwa ini:
Jangan khawatir, dia tidak hilang darimu!
Dialah yang didalamnya seluruh dunia akan karam!

Dengan hati hancur, Halimah, perempuan sederhana yang menjadi ibu susu Muhammad, memasuki kota Mekah. Air matanya terus menerus membasahi pipi. Ia tidak berani menuju ke tempat Aminah, yang diperkirakan akan sangat terpukul. Akhirnya ia memutuskan pergi ke rumah Abdul Muthalib. Kepada kakek Muhammad itulah ia menceritakan ketidakmengertiannya, mengapa Muhammad sampai hilang ketika akan memasuki kota Mekah. Ia sudah mencari kemana-mana, namun Muhammad tetap tidak ditemukan. Muhammad seperti hilang ditelan bumi.
Mendengar cerita Halimah, Abdul Muthalib tentu saja merasa cemas. Ia sangat kuatir akan keselamatan Muhammad yang masih berusia 6 tahun, sendirian di padang pasir yang tandus. Bagaimana Muhammad dapat menghadapi hal itu? Tidakkah ia akan ketakutan? Berteriak-teriak dan mengangis? Seperti biasanya yang dilakukan anak kecil?
Dimanakah sebenarnya Muhammad berada? Apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya? Tak seorang pun bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada informasi apa-apa . Sejarah hanya mencatat, pada saat yang bersamaan dua orang Quraisy yang hendak pulang ke Mekah melewati lembah Tihamah. DI sanalah mereka menemukan seorang anak kecil yang sedang duduk santai di bawah pohon, menikmati keindahan alam sekitarnya. Tentu saja dua orang Quraisy itu merasa heran. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa sendirian di tempat sepi dan jauh dari mana-mana namun si kecil tidak menunjukkan rasa takut atau cemas sedikitpun? Siapa anak kecil yang luar biasa ini? Maka bertanyalah keduanya pada anak kecil itu, siapakah dia?
“Aku Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim,” jawab Muhammad dengan jelas dan tenang.(2) Judah, hal 108
Mendengar jawaban itu, kedua orang itupun segera membawa membawa Muhammad ke kota Mekkah untuk dikembalikan ke rumah kakeknya Abdul Muthalib. Karena kedudukan Abdul Muthalib sebagai pemimpin kaum Quraisy, maka sudah sewajarnyalah kedua orang itu mengenalinya.
Tentu saja tak terlukiskan betapa gembiranya hati Abdul Muthalib dan Halimah ketika tiba-tiba melihat Muhammad tiba di rumah diantar dua orang Quraisy. Abdul Muthalib segera memeluk Muhammad, diciuminya cucu terkasihnya itu dengan linangan airmata bahagia. Pertemuan yang sungguh melegakan hati! Tak lupa Abdul Muthalib mengucapkan ribuan terimakasih kepada dua orang yang telah menemukan dan mengembalikan Muhammad padanya. Ketika diceritakan bahwa Muhammad ditemukan dalam keadaan tenang, tanpa takut sedikit pun, Abdul Muthalib tersenyum. Seakan-akan dia berkata: Anak ini memang istimewa. Dia sangat berbakat menjadi pemimpin. Kelak, ketenangan dirinya akan membawa kesuksesan besar baginya. Lihat saja!
Ramalan Abdul Muthalib, tidak meleset sedikit pun. Muhammad memang akan menjadi orang besar sepanjang sejarah. Dan ‘sifat orang besar’ itu telah melekat pada dirinya bahkan pada usia yang amat belia.
Pada level psikologis yang semuda itu, amat jaranglah seseorang bisa menghadapi kenyataan bahwa dirinya sendirian di tengah alam sekitar yang masih sepi dan menakutkan akan bahaya binatang buas. Namun ketenangan Muhammad dan kepandaiannya menguasai emosilah yang justru menyelamatkannya. Karena ia tahu ia tidak mungkin menjerit –jerit ketakutan atau menangis. Semua itu tak ada gunanya. Hatinya menyuruhnya untuk diam tenang dan waspada. Dalam kesendirian itu ia pun berpikir betapa lemahnya manusia. Berada di alam yang tidak dikenalnya dengan baik pun bisa menimbulkan kepanikan dan ketakutan. Padahal semua itu tidak membantu.
Tapi Muhammad juga menyadari, hanya bersikap tenang dan waspada tidak menyelesaikan masalah secara keseluruhan. Pada titik inilah ia menyadari bahwa ketenangan dan sikap waspada masihlah belum memadai. Bahwa ada hal lain yang lebih penting daripada control terhadap diri sendiri. T

api, apakah itu? Apakah hal lain yang bisa ‘menyelamatkannya’ selain dari dirinya sendiri?
Lama ia memikirkan jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan filsafat yang ‘sederhana’ itu terus menggayuti jiwanya yang muda dan harum. Saat inilah Allah ‘membimbing’ Muhammad dengan mengarahkan jiwa dan pikirannya untuk menemukan kebenaran. Bahwa sesungguhnya ia harus ‘berserah diri’ seutuhnya pada Tuhan yang menciptakan alam ini, tuhan yang belum dikenalnya, namun telah diakui keberadaanNya. Ia harus pasrah pada apapun yang bakal menimpa dirinya, ia harus percaya pada tuhan. Karena kekuasaan Tuhan melebihi kemampuan manusia dalam mempertahankan dirinya. Manusia tidak berarti apa-apa di hadapan Tuhan. Laksana setitik embun di tengah samudra luas. Kecil sekali. (interpretasi)
Peristiwa hilangnya Muhammad kecil ini sering dianggap tidak penting oleh kaum muslimin. Padahal, lewat peristiwa ini kita bisa menyaksikan satu lagi kecerdasan emosi sekaligus kecerdasan spiritual Muhammad ketika bagaimana ia mampu mengontrol dirinya agar tidak panic dan menangis selagi hilang. Padahal usianya baru sekitar 4 atau 5 tahun! Sebuah pengontrolan diri yang luar biasa. Lebih dari itu Muhammad bahkan menyadari ia tidak Cuma harus tenang, tapi juga pasrah. Sebuah pemikiran yang brilian. (interpretasi)
Kembalinya Muhamamd dengan diantar dua orang Quraisy, tentu sangat melegakan hati Halimah. Ia, serta merta membawanya ke rumah Aminah untuk diserahkan sepenuhnya kembali.
Aminah tentu saja heran ketika tiba-tiba melihat Halimah pulang membawa Muhammad. Karena ia tahu Halimah amat mencintai Muhammad. Mengapa? Dengan jelas Halimah menerangkan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi menjaga Muhammad. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan anak itu dan peristiwa yang terjadi belakangan ini sudah tidak lagi mampu ia kuasai. Dengan sangat berat Halimah mengembalikan Muhammad ke pangkuan Bunda tercintanya.
Hal ini tentu saja disambut penuh kelegaan dan bahagia oleh Aminah. Sudah lama sebenarnya ia merindukan anak kandungnya untuk dirawat dan dididiknya sendiri. Namun baru kali inilah hal ini bisa terjadi. Kembalinya Muhammad ke pangkuannya seakan memberi isyarat halus bagi dirinya. Inilah waktunya ia bisa mencurahkan seluruh energi cintanya pada si jantung hati. Inilah saatnya ia bisa menciumi sikecil ketika ia pertamakai membuka matanya, mengucapkan salam dan doa dan memberinya senyum terindah. Setiap hari! Setiap saat! Ya, kesempatan ini akhirnya datang jua. Sebelum takdir lain menjemputnya!
Sejak itu Muhammadpun tinggallah bersama bunda tersayang. Sebagaimana bundanya, ia pun amat menanti-nanti kesempatan istimewa ini. Dimana ia bisa bermanja-manja, tertawa dan bergurau dan tidur dalam pelukan bunda kapan saja ia mau. Sungguh saat yang indah dan berkesan!

 

.