بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hafsah binti Umar adalah istri ke empat Rasulullah. Suami pertamanya  Khunais bin Hudhafah al Sahmiy meninggal dunia saat Perang Badar [ 624 M ].  Pernikahan Nabi dan Hafsah terjadi pada tahun 3 H

.


Nasab Hafsah binti Umar

Nama lengkapnya Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah.

Ibunya adalah Zaynab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un.

Ayahnya adalah Umar bin Khattab, Khalifah ke dua

.


Tahun Kelahiran Hafsah

Hafshah lahir sekitar tahun 607 M atau 3 tahun sebelum kenabian [ before bi’tshah ] atau 16 tahun sebelum Hijrah.

Hafsah lebih muda 2 tahun dari Fatimah.  Dan ketika ia lahir, diperkirakan tahun itu Ali bin Abu Thalib mulai tinggal di rumah Rasulullah.

Ia menjadi janda pada tahun 624 M pada saat usianya 18 tahun.

 


Tahun Wafatnya Hafsah

Hafshah wafat pada tahun 45 H, pada masa Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiallaahu ‘anhu setelah memberikan wasiat kepada saudaranya yang bernama Abdullah dengan wasiat yang diwasiatkan oleh ayahnya radhiallaahu ‘anhu. Semoga Allah meridhai beliau karena beliau telah menjaga al Quran al- Karim, dan beliau adalah wanita yang disebut Jibril sebagai Shawwamah dan Qawwamah [ Wanita yang rajin shaum dan shalat ] dan bahwa beliau adalah istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di surga.

.


Riwayat Pernikahan

Hafshah menikah dengan Khunais bin Hudhafah al Sahmiy meninggal dunia saat Perang Badar dan dimakamkan di Madinah pada tahun  624 M  atau 1 H.

.


Tahun Pernikahan Dengan Rasulullah

Hafsah dinikahi Rasulullah pada tahun 3 Hijriah.

NoNama, Lahir Wafat, Nikah, Status, Suami Sebelumnya, Anak Dari Nabi
1Khadijah binti Khuwailid, 555 M/ 55 BB - 619 M/ 4 BH, 595 M, Janda, Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik, Qasim - Zaynab - Abdullah - Ruqayyah - Ummu Kultsum - Fatimah
2Saudah binti Zam'ah, ? - 54 H, 620/621 M atau 3/2 BH, Janda, Sakran bin Amr bin Abdu Syams, Tidak Ada
3Aisyah binti Abu Bakar, 614 M/ 9 BH - 58 H, 620/621 M atau 3/2 BH Gadis,-Tidak Ada
4Hafshah binti Umar,607 M/ 3 BB - 45 H,3 H, Janda, Khunais bin Hudhafah al Sahmiy,Tidak Ada
5Zainab binti Khuzaimah, 597 M/ 13 BB - 4 H, 3 H, Janda, Ubaidah bin Al Haris bin Al Muthalib,Tidak Ada
6Ummu Salamah, 597 M/ 13 BB - 680 M, 4 H, Janda, Abdullah bin Abdul Asad Al Makhzumi,Tidak Ada
7Juwairiyah Binti Al Harits, 609 M/ 14 BH - 50 H, 5 H, Janda, Musafi’ bin Shafwan,Tidak Ada
8Zainab binti Jahsy,590 M/ 33 BH - 20 H, 5 H, Janda, Zaid bin HaritshahTidak Ada
9Ummu Habibah,592 M/ 31 BH - 44 H, 6 H,Janda,Ubaydullah bin Jahsy,Tidak Ada
10Maymunah binti Harits, 604 M/ 6 BB - 63 H, 6 H, Janda,Ibnu Mas’ud bin Amru bin Ats-Tsaqafi dan Abu Ruham bin Abdul Uzza, Tidak Ada
11Shafiyah binti Huyay,612 M/ 2 B - masa kekhalifahan Mu’awiyah,629 M atau 7 H,Janda,Salam bin Abi Al-Haqiq dan Kinanah bin Rabi' bin Abil Hafiq, Tiidak Ada
12Maria Qibtiyah, ?7 HBudak- Ibrahim

 

*Istilah yang digunakan :

M = Tahun Masehi

H = Tahun Hijirah,

BH = sebelum tahun Hijrah

B = Tahun Kenabian, yakni tahun saat Muhammad diangkat menjadi Rasul yakni tahun 610 M, dengan asumsi Rasul lahir tahun 570 M

BB = sebelum Tahun Kenabian,

.


Kisah Hafshah binti Umar

Melihat kenyataan bahwa nyawa menantunya tak tertolong lagi membuat Umar sedih memikirkan putrinya yang harus menjanda di usia yang sangat muda. Umar pun bertekad untuk mencarikan jodoh buat putrinya apabila masa iddahnya sudah habis. Namun ia juga bingung siapakah yang akan menjadi suaminya? Umar tidak tahu bahwa Nabi memiliki perhatian khusus pada nasib Hafsah dan diam-diam bercerita pada Abu Bakar Ash-Shidiq bahwa beliau hendak melamar Hafsah.

Ketika masa iddah sudah lewat, Umar menawarkan putrinya pada Abu Bakar. Namun Abu Bakar diam saja tidak menjawab sepatah katapun. Umar pun menawarkan putrinya pada Usman bin Affan yang baru ditinggal istrinya Ruqayyah. Usman menjawab dengan tegas: “Aku tidak ingin menikah lagi.” Melihat sikap kedua sahabat baiknya yang menolak menikahi putrinya ini, Umar semakin sedih. Iapun datang menghadap Rasulullah dan menceritakan kegagalan misinya. Saat itu Nabi merespons keluhan Umar demikian: “Hafsah akan menikah dengan pria yang lebih baik dari Usman. Usman akan menikah dengan wanita yang lebih baik dari Hafsah.”

Umar tidak mengerti maksud dari sinyal-sinyal perkataan Nabi ini karena ia masih dipenuhi oleh kesedihan memikirkan nasib putrinya Hafsah. Ia baru faham setelah Nabi datang padanya dan meminang Hafsah. Betapa gembiranya Umar. Pinangan Rasulullah itu langsung diterimanya. Tak lama kemudian, Umar menikahkan putrinya dengan Nabi. Fakta bahwa ia menjadi mertua Nabi sungguh membuatnya sangat bersuka cita. Sebagai salah satu Sahabat utama Nabi, ia merasa iri pada Abu Bakar yang mendapat posisi terhormat menjadi mertua Nabi. Kini posisinya sebanding dengan ayah dari Aisyah itu.

Pernikahan Nabi dan Hafsah terjadi pada tahun 3 H, dengan maskawin 400 dirham perak atau sekitar 1.200 (seribu dua ratus) gram perak dalam rupiah itu berarti sekitar Rp. 13.200.000 (tiga belas juta dua ratus ribu rupiah). Dengan rincian, 1 dirham perak zaman Nabi sama dengan 3 gram perak. Harga 1 gram perak saat ini (Agustus 2014) adalah Rp. 11.000 (sebelas ribu rupiah).

.


Hafshah dan Nabi

Nabi membuatkan rumah untuk Hafshah persis seperti halnya rumah yg ditempati aisyah dan saudah, yakni berdekatan dengan masjid.

Begitulah Hafshah menempati kamar khusus, sama dengan Saudah dan Aisyah. Secara manusiawi Aisyah sangat mencemburui Hafshah karena mereka sebaya. Lain halnya dengan Saudah binti Zum`ah yang menganggap Hafshah sebagai wanita mulia putri Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah SAW yang terhormat.

Pesan umar kepada puterinya – Umar berpesan kepada putrinya agar berusaha dekat dengan Aisyah dan mencintainya, karena Umar mengetahui bahwa kedudukan Aisyah sangat tinggi dihati Rasulullah SAW juga yang ridha terhadap Aisyah berarti ridha terhadap Rasulullah SAW. Selain itu Umar juga mengingatkan Hafshah agar menjaga tindak tanduknya sehingga diantara mereka berdua tidak terjadi perselisihan. Akan tetapi memang sangat manusiawi jika diantara mereka tetap saja terjadi kesalahpahaman yang bersumber dari perasaan cemburu.

.


Kehidupan setelah menikah

Hafshah hidup bersama dengan istri-istri Rasulullah dan Ummahatul mukminin yang suci. Di dalam rumah tangga Nubuwwah ada istri selain beliau yakni Saudah dan Aisyah. Maka tatkala ada kecemburuan beliau mendekati Aisyah karena dia lebih pantas dan lebih layak untuk cemburu. Beliau senantiasa mendekati dan mengalah dengan Aisyah mengikuti pesan bapaknya (Umar) yang berkata: “Betapa kerdilnya engkau bila dibanding dengan Aisyah dan betapa kerdilnya ayahmu ini apabila dibandingkan dengan ayahnya”.

Hafshah dan Aisyah pernah menyusahkan Nabi, maka turunlah ayat :”Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong untuk menerima kebaikan dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril” (Q.S. at-Tahrim: 4).

Telah diriwayatkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mentalak sekali untuk Hafshah tatkala Hafshah dianggap menyusahkan Nabi namun beliau rujuk kembali dengan perintah yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam yang mana dia berkata:

“Dia adalah seorang wanita yang rajin shaum, rajin shalat dan dia adalah istrimu di surga”.

Hafshah pernah merasa bersalah karena menyebabkan kesusahan dan penderitaan Nabi dengan menyebarkan rahasianya namun akhirnya menjadi tenang setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memaafkan beliau. Kemudian Hafshah hidup bersama Nabi dengan hubungan yang harmonis sebagai seorang istri bersama suaminya. Manakala Rasul yang mulia menghadap ar-Rafiiq al-A’la dan Khalifah dipegang oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, maka Hafshah- lah yang dipercaya diantara Ummahatul Mukminin termasuk Aisyah didalamnya, untuk menjaga mushaf Al-Qur’an yang pertama.

.


Keutamaan Hafshah

Sayyidah Hafshah r.a. dibesarkan dengan mewarisi sifat ayahnya, Umar bin Khaththab. Dalam soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sama dengan ayahnya. Kelebihan lain yang dimiliki Hafshah adalah kepandaiannya dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.

Hafshah radhiallaahu ‘anha mengisi hidupnya sebagai seorang ahli ibadah dan ta’at kepada Allah, rajin shaum dan juga shalat, satu-satunya orang yang dipercaya untuk menjaga keamanan dari undang-undang umat ini, dan kitabnya yang paling utama yang sebagai mukjizat yang kekal, sumber hukum yang lurus dan ‘aqidahnya yang utuh.

.


Pemilik mushaf pertama

Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya Al Quran ditangannya. Dialah istri Nabi SAW yang pertama kali menyimpan Al Quran dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah kurma, hingga kemudian menjadi sebuah Kitab yang sangat agung. Mushaf asli Al Qur`an itu berada dirumah Hafshah hingga dia meninggal.

Pada masa khalifah Abu Bakar, para penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur dalam peperangan Riddah (peperangan melawan kaum murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar bin Khaththab untuk mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur’an yang tercecer. Awalnya Abu Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang mengada-ada karena pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, atas desakan Umar, Abu bakar akhirnya memerintah Hafshah untuk mengumpulkan Al-Qur’an, sekaligus menyimpan dan memeliharanya.

Sayyidah Hafshah wafat pada tahun ke-47 pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan. Dia dikuburkan di Baqi, bersebelahan dengan kuburan-kuburan istri-istri Nabi SAW yang lain.

Meski demikian, Hafshah tidak termasuk ke dalam golongan orang yang pertama masuk Islam, karena ketika awal-awal penyebaran Islam, ayahnya, Umar bin Khaththab, masih menjadi musuh utama umat Islam hingga suatu hari Umar tertarik untuk masuk Islam.

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ