Al Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Amir bin Syarahil asy Sya’bi [12] -kabilah Hamdan- bahwasanya ia bertanya kepada Fathimah binti Qais, saudari adh Dhahhak bin Qais, -dia adalah salah seorang wanita yang ikut pada hijrah yang pertama-

Dia berkata, “Ceritakanlah kepadaku satu hadits yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak engkau sandarkan kepada seorang pun selain beliau!” “Jika engkau mau, maka aku akan melakukannya,” Jawabnya.

Dia berkata, “Tentu saja, ceritakanlah kepadaku.” Akhirnya dia menceritakan bagaimana dia menjanda dari suaminya, dan bagaimana ia melakukan ‘iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum, kemudian
dia berkata, “Setelah masa ‘iddahku selesai, aku mendengar panggilan penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Shalat berjama’ah,’ lalu aku pergi menuju masjid dan melakukan shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika itu aku berada di shaff para wanita yang dekat dengan barisan kaum (pria). Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, beliau duduk di atas mimbar sambil tersenyum, lalu berkata, “Hendaklah setiap orang tetap pada tempat shalatnya!” Selanjutnya beliau bersabda, “Apakah kalian tahu mengapa aku mengumpulkan kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian untuk menyampaikan kabar gembira atau kabar buruk, akan tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim ad Dari sebelumnya adalah seorang Nasrani, lalu dia datang, melakukan bai’at dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Masihud Dajjal. Dia menceritakan kepadaku bahwa dia pernah menaiki sebuah kapal laut bersama 30 orang yang berpenyakit kulit dan kusta.

Al Jassasah

Mereka terombang ambing oleh ombak selama satu bulan di tengah lautan hingga akhirnya terdampar pada sebuah pulau di arah terbenamnya matahari. Mereka menaiki kapal kecil (sampan), lalu mereka masuk ke dalam pulau. Selanjutnya binatang dengan berbulu lebat menemui mereka, mereka tidak mengetahui mana depan juga mana belakangnya karena bulunya lebat, mereka berkata, ‘Celaka! Siapa engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah Al Jassasah.’ Mereka bertanya, ‘Apakah al Jassasah itu?’

Dia berkata (tanpa menjawab), ‘Wahai kaum! Pergilah kepada orang yang berada di dalam kuil ini, karena dia sangat merindukan berita dari kalian.’ (Tamim ad-Dari) berkata, ‘Ketika binatang itu menyebutkan seseorang kepada kami, maka kami pun meninggalkannya karena kami takut jika dia adalah syaitan.’ Dia berkata, ‘Akhirnya kami cepat-cepat pergi hingga kami memasuki kuil, ternyata di dalamnya ada orang yang sangat besar dan diikat dengan sangat kuat yang pertama kali kami lihat. Kedua tangannya dibelenggu sampai ke lehernya, antara kedua lututnya hingga kedua mata kakinya dirantai dengan besi, kami berkata, ‘Celaka, siapa engkau?’

Ad Dajjal

Dia berkata, ‘Kalian telah ditakdirkan untuk membawa kabar untukku, kabarkanlah siapa kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah manusia dari bangsa Arab, kami menaiki kapal laut, lalu kami mendapati laut dengan ombaknya sedang mengamuk, kami terombang ambing oleh ombak selama satu bulan di tengah lautan hingga terdampar di pulau ini, kemudian kami menaiki sampan, lalu kami masuk ke pulau ini, selanjutnya binatang dengan berbulu lebat menemui kami, kami tidak mengetahui mana depan juga mana belakangnya karena bulunya sangat lebat. Kami berkata, ‘Celaka! Siapa engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah al Jassasah.’ Kami bertanya, ‘Apakah al-Jassasah itu?’ Dia berkata (tanpa menjawab), ‘Pergilah kepada orang yang berada di dalam kuil ini karena dia sangat merindukan berita dari kalian,’ akhirnya kami pun segera mendatangimu. Kami merasa kaget dan takut kepadanya, dan mengira bahwa dia adalah syaitan.’

Pohon Kurma di Baisan

Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang pohon kurma di Baisan?[13]’ Kami berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Aku bertanya kepada kalian tentang buahnya, apakah dia masih berbuah?’ Kami menjawab, ‘Ya (masih berbuah).’ ‘Hampir saja dia tidak berbuah lagi,’ katanya.

Danau Thabariyah

Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang danau Thabariyah?’ Kami berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Apakah masih ada airnya?’ Mereka menjawab, ‘Danau itu masih banyak airnya.’ “’Hampir saja airnya kering,’ katanya.

Mata air Zughar

Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang mata air Zughar ?[14]’ Mereka berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Apakah mata air tersebut masih mengalir? Dan apakah penduduknya masih bercocok tanam dengan airnya?’ Kami menjawab, ‘Betul, airnya masih banyak dan penduduknya masih bercocok tanam dengan airnya.’

Bertanya tentang Nabi

Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang Nabi orang-orang yang ummi, apa yang dia lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Dia telah berhijrah dari kota Makkah dan singgah di Yastrib (Madinah).’ ‘Apakah orang-orang memeranginya?’ Tanya dia. ‘Betul,’ jawab kami. Dia bertanya, ‘Apa yang dia lakukan terhadap mereka?’ Lalu kami pun mengabarkan kepadanya bahwasanya dia telah menolong orang-orang yang mengikutinya dan mereka pun taat kepadanya.’ Dia berkata kepada mereka, ‘Apakah benar seperti itu?’ Kami menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata, ‘Sesungguhnya lebih baik bagi mereka untuk mentaatinya, dan aku kabarkan kepada kalian sesungguhnya aku adalah al Masih (Dajjal), dan hampir saja aku diizinkan untuk keluar hingga aku bisa keluar, lalu aku akan berkelana di muka bumi, maka aku tidak akan pernah meninggalkan satu kampung pun melainkan aku menyinggahinya dalam waktu empat puluh malam, selain Makkah dan Thaibah (Madinah), keduanya diharamkan atasku. Setiap kali aku hendak masuk ke salah satu darinya, maka para Malaikat akan menghadangku dengan pedang yang terhunus yang menghalangiku dengannya, dan pada setiap lorong-lorong kedua kota tersebut ada seorang Malaikat yang menjaganya.’”

Dia (Fathimah) berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -sambil menusukkan tongkat kecilnya di mimbar-, ‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah -yakni Madinah– ingatlah bukankah aku pernah mengatakan hal itu kepada kalian?” Lalu orang-orang berkata, “Benar.” “Sungguh cerita yang diungkap-kan oleh Tamim telah membuatku kagum karena ia sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan kepadanya, tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah sesungguhnya dia (Dajjal) berada di lautan Syam, atau lautan Yaman. Oh tidak, tetapi berada dari arah timur, dari arah timur, dari arah timur,’ (dan beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke arah timur).”

Dia (Fathimah) berkata, “Maka aku hafal hal ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [15]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebagian ulama beranggapan bahwa hadits Fathimah ini gharib yang hanya diriwayatkan oleh perorangan. Padahal tidak demikian. Sebab, selain Fathimah juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, Aisyah, dan Jabir Radhiyallahu anhum.” [16]

 

Catatan Kaki :

[12]. Beliau adalah seorang imam lagi hafizh, Amir bin Syarahil. Ada juga yang mengatakan, Amir bin ‘Abdillah bin Syarahil asy-Sya’bi al-Humairi, dilahirkan 6 tahun setelah kekhilafahan ‘Umar dan meriwayatkan dari banyak Sahabat, dia pernah berkata, “Aku tidak pernah menulis hitam di atas yang putih (menulis), dan tidaklah seseorang meriwayatkan hadits kepadaku kecuali aku meng-hafalnya.” Wafat setelah tahun 100 H dengan umur 90 tahun rahimahullah.
Lihat Tahdziibul Kamaal, karya al-Mazzi (II/643), Tahdziibut Tahdziib (V/65-69).
[13]. (بيسان) dengan huruf yang difat-hahkan kemudian sukun dan huruf sin tanpa titik, lalu nun, sebuah kota di Yordania, tegasnya di dataran rendah Syam lebih dikenal tempat tersebut dengan se-menanjung. Semenanjung itu berada di antara Hauran dan Palestina, di sanalah tempat mata air al-Fulus, mata air yang sedikit mengandung kandungan garam dan terkenal dengan banyaknya pohon kurma.
Yaqut berkata, “Aku telah melihatnya berkali-kali, lalu aku tidak melihat di sana kecuali dua pohon kurma yang besar, ia adalah salah satu tanda akan keluarnya Dajjal.” Lihat Mu’jamul Buldaan (I/527).
[14]. (زُغَرٌ) dengan wajan (زُفَرٌ) dan (صُرَدٌ), dan huruf akhirnya tanpa titik.
Yaqut berkata, “Orang terpercaya bercerita kepadaku bahwa Zughar berada di ujung sebuah danau yang berbau busuk pada sebuah lembah di sana. Jarak antara mata air itu dengan Baitul Maqdis se-panjang perjalanan tiga malam, daerah tersebut ada di sisi kota Hijaz, dan mereka memiliki per-kebunan di sana.
Lihat Mu’jamul Buldaan (III/142-143), dan kitab an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/304).
[15]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibnu Shayyad (VIII/78-83, Syarh an-Nawawi).
[16]. Fat-hul Baari (XIII/328).
Kami katakan: Di antara orang yang membantah hadits yang mulia ini adalah Syaikh Abu Ubayyah, dia berkata, “Hadits ini memiliki tabiat khayalan dan tanda kepalsuan.”
Dan kita tanya Abu ‘Ubayyah, “Dengan dalil apakah sebuah hadits shahih yang telah diterima oleh umat bisa ditolak? Ya Allah, kecuali karena kerancuannya dan berjalan di belakang pikiran yang dangkal, semoga Allah mengampuni kita semua dan dia.”
Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim dengan ta’liq Syaikh Muhammad Fahim Abu ‘Ubayyah