بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hadis Hasan adalah bila hadis yang tersebut sanadnya bersambung.  Namun ada sedikit kelemahan pada rawi (-rawi)nya.  Misalnya diriwayatkan oleh rawi yang adil namun tidak sempurna ingatannya. Namun matannya tidak syadz atau cacat.

Hadis hasan adalah  jenis hadis berdasarkan tingkat keaslian hadis [shahih, hadis hasan, dhaif dan maudlu’ ]  .  

Definisi Hadis Hasan

a. Secara bahasa (etimologi)
Kata Hasan (حسن) merupakan Shifah Musyabbahah dari kata al-Husn (اْلحُسْنُ) yang bermakna al-Jamâl (الجمال): kecantikan, keindahan.

b. Secara Istilah (teriminologi)
Sedangkan secara istilah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama hadits mengingat pretensinya berada di tengah-tengah antara shahih dan dhaif Juga, dikarenakan sebagian mereka ada yang hanya mendefinisikan salah satu dari dua bagiannya saja.

Hadis hasan adalah  salah satu jenis hadis berdasarkan tingkat keaslian hadis [shahih, hadis hasan, dhaif dan maudlu’ ]  . 

Kategorisasi tingkat keaslian hadis adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut.

Hadis yang dapat diterima, bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi menjadi dua kelompok :

  1. Shahih
  2. Hasan.

Masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 2 :

  1. Li Dzatihi (secara independen) dan
  2. Li Ghairihi (karena riwayat pendukung).

Dengan demikian, pembagian hadis yang bisa dijadikan dalil ada empat, yang disusun secara hirarki sebagai berikut:

  1. Shahih Li Dzatihi (shahih secara independen)
  2. Shahih Li Ghairihi (shahih karena yang lainnya/riwayat pendukung)
  3. Hasan Li Dzatihi (hasan secara independen)
  4. Hasan Li Ghairihi (hasan karena yang lainnya/riwayat pendukung)

 

Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, dhaif dan maudlu‘.

  •   Hadits Shahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:
    • Sanadnya bersambung
    • Diriwayatkan oleh para penutur/rawi yang adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
    • Pada saat menerima hadis, masing-masing rawi telah cukup umur (baligh) dan beragama Islam.
    • Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadits (’illat).
  • Hadis Hasan, bila hadis yang tersebut sanadnya bersambung, namun ada sedikit kelemahan pada rawi(-rawi)nya; misalnya diriwayatkan oleh rawi yang adil namun tidak sempurna ingatannya. Namun matannya tidak syadz atau cacat.
  • Hadis Dhaif (lemah), ialah hadis yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa hadits mauquf, maqthu’, mursal, mu’allaq, mudallas, munqathi’ atau mu’dlal), atau diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, atau mengandung kejanggalan atau cacat.
  • Hadis Maudlu’, bila hadis dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang dikenal sebagai pendusta.

.

5 syarat hadit Hasan yaitu :

Syarat syarat hadis disebut Hasan secara keseluruhan hampir sama dengan syarat syarat hadis shahih.

  1. Periwayat (Sanad) bersambung,
  2. Diriwayatkan oleh rawi yang adil
  3. Diriwayatkan oleh rawi yang hafal (dhabith), tapi tingkat kehafalannya masih dibawah hadits Shahih,
  4. Tidak bertentangan dengan hadits dengan rawi yang tingkat dipercayanya lebih tinggi atau Al-Qur’an,
  5. Tidak terdapat cacat.

Perbedaan hadis Shahih dan hasan terletak pada kedhabithannya. Jika hadits Shahih tingkat dhabithnya harus tinggi, maka hadis hasan tingkat kedhabithannya berada dibawahnya.

Contoh hadis Hasan adalah seperti hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Amr bin al-Qamah, dari Salamah, dari Abu Hurairah. Dalam hadits ini, hadits dikategorikan hasan dikarenakan Muhammad bin Amr bin al-Qamah dikenal tingkat hafalannya yang tidak luar biasa. [ Prof. Dr. Muhammad Alawi Al-Maliki (2006). Ilmu Ushul Hadits. Yogyakarta: Pustaka Pelajar ]

.

Tingkatan Tingkatan Hadis Hasan

Sebagaimana hadis Shahih yang memiliki beberapa tingkatan yang karenanya satu hadis shahih bisa berbeda dengan yang lainnya, maka demikian pula halnya dengan hadis Hasan yang memiliki beberapa tingkatan.

Dalam hal ini, ad Dzahaby menjadikannya dua tingkatan :
Pertama, (yang merupakan tingkatan tertinggi), yaitu: riwayat dari Bahz bin Hakîm dari ayahnya, dari kakeknya; riwayat ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya; Ibn Ishaq dari at-Tîmiy. Dan semisal itu dari hadits yang dikatakan sebagai hadits Shahih padahal di bawah tingkatan hadits Shahih.

Kedua, hadits lain yang diperselisihkan ke-Hasan-an dan ke-Dhaif-annya, seperti hadis al Harits bin Abdullah, ‘Ashim bin Dlumrah dan Hajjâj bin Artha’ah, dan semisal mereka.

Pengklasifikasian Hadis Hadis Yang Dilakukan Oleh  Imam al Baghawy Dalam Kitab Mashabih as Sunnah

Di dalam kitabnya, “Mashabih as Sunnahimam al-Baghawy menyisipkan istilah khusus, yaitu mengisyaratkan kepada haditshadits shahih yang terdapat di dalam kitab ash-Shahîhain atau salah satunya dengan ungkapan, “Shahîh” dan kepada haditshadits yang terdapat di dalam ke-empat kitab Sunan (Sunan an-Nasâiy, Sunan Abi Dâûd, Sunan at-Turmdzy dan Sunan Ibn Mâjah) dengan ungkapan, “Hasan”. Dan ini merupakan isitlah yang tidak selaras dengan istilah umum yang digunakan oleh ulama hadits sebab di dalam kitab-kitab Sunan itu juga terdapat hadits Shahîh, Hasan, Dla’îf dan Munkar.

Oleh karena itulah, Ibn ash-Shalah dan an Nawawy mengingatkan akan hal itu. Dari itu, semestinya seorang pembaca kitab ini ( “Mashâbîh as-Sunnah” ) mengetahui benar istilah khusus yang dipakai oleh Imam al Baghawy di dalam kitabnya tersebut ketika mengomentari haditshadits dengan ucapan, “Shahih” atau “Hasan.”

Kitab Kitab Yang Di Dalamnya Dapat Ditemukan Hadits Hasan

Para ulama belum ada yang mengarang kitab-kitab secara terpisah (tersendiri) yang memuat hadits Hasan saja sebagaimana yang mereka lakukan terhadap hadits Shahîh di dalam kitab-kitab terpisah (tersendiri), akan tetapi ada beberapa kitab yang di dalamnya banyak ditemukan hadits Hasan. Di antaranya yang paling masyhur adalah:

  1. Kitab Jami’ atT irmudzy atau yang lebih dikenal dengan Sunan at Tirmudzy. Buku inilah yang merupakan induk di dalam mengenal hadits Hasan sebab at Tirmidzy-lah orang pertama yang memasyhurkan istilah ini di dalam bukunya dan orang yang paling banyak menyinggungnya.
    Namun yang perlu diberikan catatan, bahwa terdapat banyak naskah untuk bukunya tersebut yang memuat ungkapan beliau, “Hasan Shahîh”, sehingga karenanya, seorang penuntut ilmu harus memperhatikan hal ini dengan memilih naskah yang telah ditahqiq (dianalisis) dan telah dikonfirmasikan dengan naskah-naskah asli (manuscript) yang dapat dipercaya.
  2. Kitab Sunan Abi Dawud. Pengarang buku ini, Abu Dawud menyebutkan hal ini di dalam risalah (surat)-nya kepada penduduk Mekkah bahwa dirinya menyinggung hadits Shahih dan yang sepertinya atau mirip dengannya di dalamnya. Bila terdapat kelemahan yang amat sangat, beliau menjelaskannya sedangkan yang tidak dikomentarinya, maka ia hadits yang layak. Maka berdasarkan hal itu, bila kita mendapatkan satu hadits di dalamnya yang tidak beliau jelaskan kelemahannya dan tidak ada seorang ulama terpecayapun yang menilainya Shahih, maka ia Hasan menurut Abu Dawud.
  3. Kitab Sunan ad Daruquthny. Beliau telah banyak sekali menyatakannya secara tertulis di dalam kitabnya ini.

(SUMBER: Kitab Taysir Musthalah al Hadis karya Dr. Mahmud ath Thahhan, h. 45-50)

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ