بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hadis Ahad adalah hadis yang  diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir.  Sifatnya atau tingkatannya adalah “zhonniy”.

Dan merupakan salah satu jenis hadis yang berdasarkan jumlah perawi / penutur.

Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadis tersebut.

Berdasarkan klasifikasi ini hadis dibagi atas hadis mutawatir dan hadis ahad.

 

Para ulama membagi Hadis Ahad menjadi 2 macam, yakni hadits Shahih dan hadits Dha’if.

Namun Imam At Tirmidzi kemudian membagi hadits Ahad ini menjadi 3 macam, yaitu : hadis shahih, hadis hasan dan hadis dha’if.

 

Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu’allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

  1. Kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al Qur’an.
  2. Harus bersambung sanadnya
  3. Diriwayatkan oleh orang / perawi yang adil.
  4. Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya)
  5. Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
  6. Tidak cacat walaupun tersembunyi.

Ialah hadits yang banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz.

Ialah hadits yang tidak bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan cacat

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ