Gaza dan Asqalan adalah dua kota Kan’an yang dari hasil penggalian menunjukkan bahwa keduanya telah menjadi kota yang berpenduduk sejak masa batu.  Gaza dan Asqalan terletak di sebelah selatan Palestina, sedangkan Gaza terletak di barat daya Asqalan.  Pada awalnya Gaza adalah  bagian dari Asqalan [ sejak awal pembebasan masa Islam sampai masa perang salib ].

Awal penyebutan Asqalan dalam sejarah kembali kepada teks sejak masa Firaun pada abad ke 19 sebelum Masehi.  Asqalan telah dikenal sejak dahulu. Menempati tempat strategis di bibir pantai, ramai dengan perdagangan. Palestina tidak pernah ditaklukkan, kecuali diawali dengan penaklukkan Asqalan.

Sedangkan Gaza adalah kota tua juga, dan namanya berubah dengan perubahan penduduk yang silih berganti menempatinya.

  • Masyarakat Kan’aniyun menamakan “Huzati”
  • sedangkan penduduk Mesir Kuno (Fara’inah) menamakannya “Gazatu”, dan “Gadatu”
  • bangsa Ibrani menamakannya “Gaza”,
  • sedangkan Asyuriyun menamakannya “ ‘Azati”. S
  • sedangkan orang Arab menyebutnya dengan “Hamra’ Yaman”, Gaza, atau “Gaza Hasyim”.

Kedua kota Gaza dan Asqalan terletak pada sebelah selatan Palestina, sedangkan Gaza terletak pada barat daya Asqalan.

Kota Gaza semenjak dibebaskan dan menjadi kota Islam sampai terjadinya perang salib adalah bagian dari Asqalan, dan dikenal dengan “Gaza Asqalan”.

Jarak antara Asqalan dan Gaza adalah 12 mil [ sekitar 21 km ].  Dan jarak antara Gaza dan Yafa sekitar 80 km.  Jarak antara Yafa dan Asqalan sekitar 56 km.

Pemisah antara Gaza, Asqalan dan Baitul Maqdis adalah kota “Baitu Jibrin” [ yang berjarak sekitar perjalanan dua hari dari Gaza ]  Dan antara Baitu Jibrin dan  Asqalan sekitar 32 km.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa Gaza sangat dekat dengan Asqalan.  Bahkan dulunya Gaza adalah  bagian dari Asqalan [ sejak awal pembebasan masa Islam sampai masa perang salib ].

Kemuliaan Kota Gaza

Kemuliaan kota Gaza terpancar dari akhlak dan tradisi rakyatnya yang sesuai dengan ajaran syariat Islam sebagaiman yang di ajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemuliaan akhlak warga Gaza itu antara lain sebagai berikut.

Pertama, Memuliakan Tamu

Di negeri yang dalam blokade tentu sangat merasakan kesulitan dalam berbagai hal, tapi itu tidak berlaku bagi warga Gaza.

Salah satu tradisi yang sangat terlihat di Gaza adalah cara warganya memuliakan tamu. Akhlak memuliakan tamu ini sebagaimana dicontohkan oleh Abul Anbiya’ (bapaknya para Nabi) Ibrahim As.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (HR. Muslim).
Dalam sebuah hadis lain Rasulullah juga bersabda, “Dan siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Imam Al Qadhi Iyadh mengatakan, “Makna hadis tersebut adalah, siapa yang ingin menegakkan syariat Islam, maka wajib baginya untuk memuliakan tetangga dan tamunya, serta berbuat baik kepada keduanya.”

Dalam sebuah hadis diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim disebutkan, “Siapa yang beriman pada Allah dan hari Kiamat, hendaknya memuliakan tamunya, yaitu jaizahnya. Para sahabat bertanya apa yang dimaksud dengan jaizah itu? Rasulullah menjawab, jaizah itu adalah menjamu satu hari satu malam (dengan jamuan yang lebih istimewa dibanding hari yang setelahnya). Sedangkan penjamuan itu adalah tiga hari adapun selebihnya adalah shodaqah.”

Lalu, bagaimana cara memuliakan tamu di kota gaza?
Cara memuliakan tamu di kota Gaza yaitu sebagaimana yang di ajarkan Nabi Ibrahim dalam menjamu tamunya.

Berikut ini adalah beberapa cara yang dikerjakan oleh Nabi Ibrahim As saat memuliakan para tamunya. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya di surat Ad Dzariyat ayat 24 – 27 telah merinci secara khusus tentang cara Nabi Ibrahim memuliakan tamunya antara lain sebagai berikut.

  • Pertama, menjawab ucapan salam dari tamu dengan jawaban yang lebih sempurna. Nabi Ibrahim Alaihissalam tidaklah bertanya pada tamunya terlebih dahulu, “Apakah kalian mau hidangan dari kami?”
  • Kedua, Nabi Ibrahim Alaihissalam bersegera menyuguhkan makanan kepada tamu.
  • Ketiga, menyuguhkan makanan terbaik yang beliau miliki, Yakni, daging anak sapi yang gemuk dan dibakar. Pada mulanya, daging tersebut tidak diperuntukkan untuk tamu. Akan tetapi, ketika ada tamu yang datang, maka apa yang sudah ada, beliau hidangkan kepada para tamu. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi penghormatan Nabi Ibrahim Alaihissallam kepada tamu-tamunya.
  • Keempat, menyediakan stok bahan di dalam rumah, sehingga beliau tidak perlu membeli di pasar atau di tetangga.
  • Kelima, Nabi Ibrahim Alahissallam mendekatkan jamuan kepada para tamu dengan meletakkan jamuan makanan di hadapan mereka. Tidak menaruhnya di tempat yang berjarak dan terpisah dari tamu, hingga harus meminta para tamunya untuk mendekati tempat tersebut, dengan memanggil, misalnya, “kemarilah, wahai para tamu.” Cara ini untuk lebih meringankan para tamu.
  • Keenam, Nabi Ibrahim Alaihissallam melayani tamu-tamunya sendiri. Tidak meminta bantuan orang lain, apalagi meminta tamu untuk membantunya, karena meminta bantuan kepada tamu termasuk perbuatan yang tidak etis.
  • Ketujuh, bertutur kata sopan dan lembut kepada tamu, terutama sewaktu menyuguhkan jamuan. Dalam hal ini, Nabi Ibrahim Alaihissallam menawarkannya dengan kata-kata yang lembut, “Sudikah kalian menikmati makanan kami (silahkan kamu makan)?” Ia tidak menggunakan nada perintah, seperti, “Ayo, makan.” Oleh karena itu, sebagai tuan rumah, seseorang harus memilih tutur kata simpatik lagi lembut, sesuai dengan situasinya. Intinya, tuan rumah seharusnya memuliakan tamu, yaitu dengan memberikan perlakuan yang baik kepada tamunya.

Kedua, Menjaga Hijab dan Kehormatan

Bagi rakyat Gaza menjaga hijab dan ke hormatan adalah prioritas utama sesuai dengan syariat Islam. Jika di negara-negara lain banyak terlihat orang yang jalan berdua antara pria wanita yang bukan muhrim, maka di kota Gaza hal semacam itu tidak akan pernah Anda temui. Muslim Gaza sangat menjaga ke hormatannya, berjalan berduaan yang bukan muhrim merupakan suatu aib yang sangat dihindari, meskipun hal itu hanya sekedar tegur sapa, sangat jarang ditemukan. Itulah cara Musim Gaza dalam menjaga hijab dan kehormatan.

Ketiga, Penghafal al Quran

Gaza adalah negeri penghafal al Qur’an. Kira-kira itulah nama yang pantas disematkan pada negeri Gaza. Bagaimana tidak? Kota Gaza yang di huni sekitar 1,8 juta jiwa itu, sebagian besarnya adalah Muslim, hanya sedikit yang beragama lain. Muslim Gaza rata-rata hafal al Qur’an. Sebab dari kecil mereka di kenalkan dan dididik untuk menghafal al Qur’an. Tak heran rakyat Gaza memiliki ketabahan dalam menghadapi segala cobaan, juga dalam menghadapi penjajah Zionis Yahudi.

Keempat, Kekuatan Iman Muslim Gaza

Keimanan Muslim Gaza sangat teruji. Mereka, bertahun-tahun dalam blokade dengan keterbatasan materi dan kezaliman yang tak kunjung henti. Demi menjaga tanah wakaf kaum muslimin, Muslim Gaza tetap bertahan meski apa pun yang terjadi.
Saat agresi militer penjajah tahun 2014, selama 51 hari masyarakat Gaza melalui masa yang sangat sulit, tapi rakyat Gaza tetap tabah mempertahankan hak mereka. Sebagaimana yang diceritakan seorang muslimah Gaza kepada media barat setelah shalat idul fitri tahun 2014. Media barat itu bertanya mengapa rakyat Gaza tidak mengungsi?

Muslimah itu menjawab, “Kami akan tetap disini. Kaum muslimin, menggantikan kalian untuk tetap menjaga tanah waqaf dan hak kaum muslimin yaitu masjid Al Aqsha.”

Ujian yang lain yang tak kalah hebat adalah apa yang menimpa Pegawai Negeri Sipil (PNS) dimana ada sekitar 1500 PNS di kota Gaza sejak sebelum agresi I penjajah Zionis Yahudi belum menerima gaji.
Masih banyak ujian lain yang harus dihadapi Muslim Gaza. Apakah mereka stress menghadapi ujian-ujian itu? Justeru sebaliknya, ujian-ujian itu mereka jadikan wasilah untuk menggapai ridha Allah dengan bersungguh-sungguh berjihad melawan penjajah Zionis Yahudi.

Kelima, Bumi yang Subur

Bumi Gaza memiliki struktur tanah bercampur pasir. Di negeri itu juga terdapat 4 musim yaitu musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur. Karena itulah bumi Gaza memiliki kesuburan yang luar biasa, sehingga tak mengherankan jika banyak buah-buahan yang terdapat di sana. Semua keberkahan itu tidak terlepas dari doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk keberkahan negeri Syam.

“Ya Allah, berilah kami keberkahan pada negeri Syam. Ya Allah, berilah kami keberkahan pada negeri Yaman. Para sahabat bertanya, “Termasuk Nejed?

Rasulullah berdoa, “Ya Allah berilah bami keberkahan pada negeri Syam. Ya Allah, berilah kami keberkahan pada negeri Yaman. Para sahabat masih bertanya, “Termasuk Nejed? Rasulullah menjawab, “Disana (Nejed) terjadi gempa dan huru hara, dan disana muncul dua tanduk syetan.” (HR Bukhari)

Keenam, Bumi Ribath

Ath Thabrani meriwayatkan dalam al Mu’jamul Kabir, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Permulaan dari perkara ini (Islam) adalah kenabian dan rahmat. Berikutnya tegaknya khilafah dan rahmat. Selanjutnya muncul kerajaan dan rahmat. Kemudian, orang-orang memperebutkannya, seperti kuda-kuda yang berebut. Maka, kewajiban kalian untuk berjihad. Sesungguhnya sebaik-baik jihad adalah ribath. Sebaik-baik tempat ribath adalah Asqalan.” (Ash Shahihah, 3270).

Asqalan telah dikenal sejak dahulu. Menempati tempat strategis di bibir pantai, ramai dengan perdagangan. Palestina tidak pernah ditaklukkan, kecuali diawali dengan penaklukkan ‘Asqalan. Letak jalur Gaza sendiri juga berada di bibir pantai dan berdekatan dengan Asqalan. Wallahu a’lam. (K01/R02)

Referensi : al Hayatul ‘Ilmiyah fi Gaza dan ‘Asqalan Mundzu Bidayatil Ashril Abbasi ilal Ghazwi ash Shalibi/hal: 2-5/DR. Zuhair Abdullah Sa’id Abu Rahmah