<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad SAW Teladanku</title>
	<atom:link href="http://nabimuhammad.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabimuhammad.info</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Feb 2010 02:41:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bab IV: Matahari di tangan kananku! Bulan di tangan kiriku!</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-matahari-di-tangan-kananku-bulan-di-tangan-kiriku/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-matahari-di-tangan-kananku-bulan-di-tangan-kiriku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:41:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=868</guid>
		<description><![CDATA[Tak seorangpun sanggup menghentikan atau sekedar membelokkan laju roda-roda cahaya Islam yang menggelinding dengan sangat cepatnya. Barisan kaum muslim makin banyak dan  makin rapat.
Hal ini semakin membuat frustasi orang-orang Quraisy.  Mereka, sekali lagi bertemu dan aliansi ini sekali lagi membuat strategi baru.  Namun kebuntuan menyelimuti mereka.
Para senator merasa putus asa.  Karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak seorangpun sanggup menghentikan atau sekedar membelokkan laju roda-roda cahaya Islam yang menggelinding dengan sangat cepatnya. Barisan kaum muslim makin banyak dan  makin rapat.<br />
Hal ini semakin membuat frustasi orang-orang Quraisy.  Mereka, sekali lagi bertemu dan aliansi ini sekali lagi membuat strategi baru.  Namun kebuntuan menyelimuti mereka.<br />
Para senator merasa putus asa.  Karena mereka sudah melakukan apapun, bahkan menyiksa sampai mati, namun Muhammad tetap tegak bagai gunung batu yang menjulang tinggi.<br />
Namun kartu truf masih berada di tangan Abu Thalib.  Mereka terpaksa menempuh jalan itu lagi. Tapi strategi harus diubah.  Kalau kemarin mereka masih meminta dengan sopan, bagaimana kalau kali ini dengan kekerasan?<br />
Sekali lagi, mereka mendatangi Abu Thalib&#8230;<br />
“Hai Abi Thalib, Demi Latta dan Uzza.  Kami sudah tidak sabar lagi mendengar nenek moyang kami di cerca dan dijelek-jelekkan.  Sekarang kami tak bisa tinggal diam sebelum kau dapat menghentikan kegiatannya.  Jika kau tidak melakukan hal itu, dia dan kau akan kami perangi hingga salah satu pihak hancur binasa..!” </p>
<p>Genderang perang telah ditabuh.  Ultimatum telah pula dicetuskan.  Abu Thalib, orangtua yang lembut itu kini harus menanggung beban yang tiba-tiba disandarkan di bahunya.  Padahal, dia samasekali tak mengerti apa yang telah terjadi.  Seperti pusaran air, ia bagaikan daun kering yang diletakkan ditengah-tengah pusaran.<br />
Menagapa tak menghentikan pusarannya?   Atau menambah volume air agar kekuatan rollingnya berkurang?<br />
Tapi Abu Thalib adalah orangtua yang walaupun lemah, ia punya keteguhan hati yang sulit digoyahkan.   Kendati ancaman telah disebutkan, ia tetap tenang dan teguh akan melindungi Muhammad.  Ia menolak menyerahkan Muhammad pada mereka. Tidak mungkin!  Ia tak kuasa membayangkan betapa akan melakukannya: meneriakkan di Ka’bah atau menyewa tukang teriak di pasar Okadz, bahwa ia tidak lagi bertanggung jawab atas Muhammad dan segala tindak tanduknya.  Akibatnya bisa sangat mengerikan baginya: karena orang yang dilepaskan atau diusir dari klan –dan disebut khali- berarti ia menjadi seorang buronan.  Ia rentan, dapat diperlakukan apa saja.  Dibunuh sekalipun, tanpa ada yang membela atau menuntut balas.<br />
Abu Thalib tahu benar betapa mereka yang menjadi khali, kalau tak ada klan lain yang mau menerima, berubah menjadi penjahat.  Ia akan mencari rekan senasib, bergabung dalam komplotan perampok gurun yang kerjanya mengganggu kafilah.<br />
Betapa mengerikan membayangkan nasib Muhammad akan seperti itu!<br />
Dan jawaban yang kedua ini pun sama pasti dengan yang pertama.  Ia tak akan menyerahkan Muhammad kepada mereka!</p>
<p>Seperti yang pertama, kali ini pun orang-orang Quraisy itu pun pulang dengan kecewa dan marah.  Namun setidaknya saat ini mereka sudah menyatakan keputusan politik penting.  Bahwa garis demarkasi telah dihapus.  Batas perlindungan telah dihancurkan.  Dan konsekuensi berupa pembunuhan telah diisyaratkan.  AbuThalib pun amat menyadari hal itu.<br />
Itulah sebabnya ia langsung menemui Muhammad dan menceritakan detail pertemuan yang telah terjadi antara dirinya dan orang-orang Quraisy.<br />
“Wahai Muhammad, ketahuilah. Orang-orang Quraisy baru saja datang ke rumahku.  Dan mereka menegaskan tak akan mau lagi bersabar dalam menghadapimu.  Mereka telah mengumumkan perang terhadapmu dan tak perduli atau takut lagi padaku.  Mereka tetap ingin menghancurkanmu”<br />
Rasul mendengar penjelasan paman yang dicintainya dengan seksama dan tenang.  Ia perhatikan tiap kalimat yang terucap dari bibir Abu Thalib.  Lalu Rasul menjawab:<br />
“Paman, bagaimana kalau aku mengajak mereka pada suatu kebaikan?”<br />
“Apa maksudmu?<br />
“Aku ajak mereka untuk mengucapkan satu kalimat, yang dengannya mereka akan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.  Mereka juga akan dipatuhi oleh bangsa Arab bahkan mereka dapat menguasai dunia&#8230;” kata Rasul dengan tenang.<br />
“Kalimat apakah itu?” Penasaran Abu Thalib dengan penjelasan keponakannya itu.<br />
“Dengarkanlah paman. Kalimat itu adalah Laa Ilaaha Illallaah”<br />
“Muhammad&#8230;.Bukan itu yang menjadi persoalan” Putus asa rasanya Abu Thalib dalam menghadapi Muhammad yang tak pernah sekalipun terpancing amarah atau sedikit saja kekesalan dalam hatinya.<br />
“Ini menyangkut keselamatan diriku dan juga keselamatan dirimu. Wahai Muhammad, janganlah engkau membebani diriku dengan persoalan-persoalan yang tak akan sanggup aku hadapi.  Karena itu, aku mohon kepadamu, pertimbangkanlah sekali lagi seruan orang-orang Quraisy itu..” kata Abu Thalib.<br />
Wajah tuanya terlihat jadi semakin berkerut dan semakin muram.  Ia sungguh berasal dari generasi pendahulu yang sudah lamban dan tertatih tatih.  Hidupnya sudah teramat panjang.  Dan ia segan bila masih harus berjibaku dengan masalah-masalah kehidupan lagi. Ia ingin hidup tenang.  Ia ingin bisa duduk-duduk dibangku terasnya besama istri.  Sambil menikmati sepiring kurma dan segelas susu unta.  Buatnya, itulah impian terindah yang bisa ia bayangkan.<br />
Jawaban Abu Thalib sungguh menyedihkan Rasul Allah.  Karena ia menyangka pamannya telah berubah sikap tak mau lagi melindunginya. Abu Thlaib hendak menyerahkan dirinya kepada kaum musyrikin Quraisy.  Wajahnya ikut muram seperti wajah Abu Thalib.  Kali ini suaranya terdengar bergetar dan seperti menahan gejolak  kalbu.<br />
“Paman, sekiranya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku. Dan meletakkan bulan di tangan kiriku.  Agar aku menghentikan seruan dari Tuhanku&#8230;ketahuilah paman.  Aku tidak akan meninggalkannya hingga tiba saat Allah memenangkan agamanya atau aku binasa karenanya”. </p>
<p>Rasul Allah yang wajahnya selalu dipenuhi cahaya Ilahi ini, kini telah menggadaikan hidupnya.<br />
Lalu air mata jatuh di pipi Rasul Allah tercinta.  Kesedihan sungguh-sungguh melingkupi kalbunya.  Sesungguhnya ia tidak ingin dan tak mungkin mencelakakan paman yang dicintainya setulus hati itu.  Baginya, Abu Thalib adalah orangtua yang sesungguhnya.  Ialah yang mengasuhnya, mendidiknya dan menyiramkan cinta pada kalbunya setiap hari.  Betapapun Rasul mencintai Abu Thalib, namun ia tak akan sanggup mengubah hati seseorang untuk menerima hidayah Allah.  Kecuali atas kehendak Allah sendiri.<br />
Namun bila Abu Thalib memintanya untuk menghentikan dakwah ini, ia tak akan mungkin mengabulkannya.<br />
Biarpun semua benda angkasa berkumpul di tangannya pun, tak mungkin ia mundur.  Ini adalah konsekuensi yang mesti diterimanya.  Dan hanya kepada Allahlah ia berserah diri.  Hanya kepada Allahlah segala hal bisa terjadi.  Jika ia tidak yakin dengan janji Allah, lalu, kepada siapa lagi? Bukankah semua ini milik Dia?  Dan akan kembali kepada Dia? Langkah pertama sebuah perjuangan adalah sikap pasrah. Berserah diri dengan tidak menyisakan ttmpat untuk hal hal lain.<br />
Kata-kata Muhammad menggambarkan kedasyatan imannya.  Kedalaman tauhidnya.  Dan sungguh, tak bisa tergambarkan betapa Islam telah terpatri dengan kuat dalam hatinya.<br />
Gemetarlah Abu Thalib mendengar jawaban Muhammad. Ia tak sanggup lagi membayangkan ada perumpamaan yang sedemikian hebat dan menakjudkannya seperti pilihan kalimat yang diucapkan Muhammad.  Sekejab ia terpesona pada pancaran kata-kata Muhammad, tapi lalu ia berkata  dengan mantap:<br />
“Muhammad, katakanlah apa yang ingin engkau katakan kepada kaummu. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan dirimu kepada siapapun juga.  Apapun yang terjadi&#8230;!”<br />
Rasul Allah tersenyum penuh kelegaan mendengar jawaban pamannya.  Kendati sinar iman Islam belum lagi membasahi kalbu Abu Thalib, namun karena kecintaan pamannya kepada dirinya, Abu Thalib bersedia menanggung semua resiko yang bisa dibayangkan.  Sebuah wujud kecintaan yang tulus, indah dan luar biasa!  Bagaikan serpihan sinar bulan purnama!***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-matahari-di-tangan-kananku-bulan-di-tangan-kiriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Siksa Saja Kami!</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-siksa-saja-kami/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-siksa-saja-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=866</guid>
		<description><![CDATA[Setiap suku mulai menangkapi anggota mereka yang masuk Islam dan menahan mereka. Mereka melampiaskan kemarahan dengan mencambuk, tidak memberi makan dan minum atau dijemur pada saat terik matahari.
Tapi, terhadap Sang Nabinya sendiri, mereka hanya bisa mencaci, memfitnah dan paling banter meludahi beliau atau melemparinya dengan kotoran unta.  Tapi lebih dari itu, mereka tak berani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap suku mulai menangkapi anggota mereka yang masuk Islam dan menahan mereka. Mereka melampiaskan kemarahan dengan mencambuk, tidak memberi makan dan minum atau dijemur pada saat terik matahari.<br />
Tapi, terhadap Sang Nabinya sendiri, mereka hanya bisa mencaci, memfitnah dan paling banter meludahi beliau atau melemparinya dengan kotoran unta.  Tapi lebih dari itu, mereka tak berani sama sekali.  Karena ada Abu Thalib dibelakang Muhammad.<br />
Suatu hari, para pembesar Quraisy berkumpul di Hijr Ismail.  Datanglah Rasul dan melakukan thawaf.  Melihat Rasul, mereka segera bangkit dan seperti melakukan olahraga kesenangan, mereka secara bersemangat ‘menyambut’ Rasul.<br />
“Lihatlah ini, pemimpin para orang gila telah datang!” teriak mereka dengan sangat keras.  Celaan penuh cemooh ini mereka ulang-ulang terus.  Rasul diam saja.  Raut wajah beliau tidak berubah sedikit pun.  Ia berusaha khusu’ dalam berthawaf kendati dengan kewaspaan yang tak lepas.  Sementara caci maki itu terus menggema.  Usai thawaf, beliau melihat kepada para pengganggunya.  Sambil tersenyum beliau berkata:<br />
“Apakah kalian tidak mendengar, wahai orang-orang Quraisy?  Demi Dzat yang diriku berada dalam KekuasaanNya.  Sesungguhnya aku akan membawakan binatang sembelihan untuk kalian” </p>
<p>Seketika kaum Quraisy itu terdiam, tidak bergerak.  Jawaban Rasul benar-benar diluar dugaan.  Membawa binatang sembelihan bagi bagi bangsa Arab adalah seperti membawakan mereka rejeki yang baik.  Karena orang Arab itu gemar berkurban. Dan daging kurbannya mereka makan sendiri atau dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin.  Seperti yang dilakukan para nenek moyang mereka.  Akan tetapi tradisi berbagi rejeki ini terkikis sedikit demi sedikit karena mereka kini menjadi semakin bakhil dan rakus.  Daging kurban itu mereka makan sendiri.<br />
Tapi kerhormatan yang mengiringi kurban tetap melekat pada mereka.  Itu sebabnya mereka kaget ketika Rasul mengatakan akan membawakan mereka  kurban atau binatang sembelihan. Mereka amat senang dan langsung bersikap ramah pada Rasulullah.  Rasul, masih dengan senyum yang seperti ketika ia datang, Cuma menganggukkan kepala dan segera berlalu.<br />
Tentu saja Rasul akan membawakan binatang sembelihan kepada mereka.  Tapi binatang itu akan disembelih atas nama Allah Yang Maha Berkuasa!  Bukan atas nama berhala-berhala mereka!<br />
Sebuah jawaban yang tepat, jitu sekaligus cerdas! Namun ini Cuma gangguan kecil yang selalu ada setiap saat.  Begitu pula keesokan harinya.  Ketika Rasul datang kembali ke Ka’bah untuk tawaf, orang-orang Quraisy itu kembali mengganggu.<br />
Kali ini sambil mencemooh, mereka mengepung Rasulullah.  Rasulullah tahu, mereka sedang berusaha memancing emosinya agar melayani nafsu marah mereka.  Itulah sebabnya Rasul diam saja dan meningkatkan kewaspaan.  Salah seorang dari mereka bahkan menarik selendangnya.  Kini Rasul menjadi sangat waspada.  Ia tak mungkin menarik selendang itu.  Akan terjadi tarik menarik yang bisa berujung jatuhnya beliau menubruk salah seorang dari mereka. Karena kekuatan si Quraisys yagn memegang selendangnya, kuat sekuat postur bongsornya.  Itu sebabnya Rasul segera melepaskan selendangnya.  Dan si Quraisy tentu saja jatuh terjerembab.  Menyaksikan temannya jatuh, semakin gemuruhlah suasana.  Teriakan dan hentakan kaki silih berganti.  Tangan-tangan mereka mulai menepak kepala Rasul dan menarik jenggotnya.  Suasana magis  yang menyanyat hati mulai turun perlahan-lahan.  Seorang mulia disakiti, apakah Tuhannya akan berdiam diri?<br />
Rasul tetap tidak bergerak.  Ia tidak mau memulai perkelahian itu.  Karena bila ia yang memulai, maka Quraisy itu punya alasan untuk membunuhnya.  Bukankah mereka bisa mengatakan bahwa Rasul telah memukuli mereka dan mereka terpaksa membalas?  Ini bisa seperti membuka tutup panci berisi belerang  mendidih.  Cipratannya akan melepuhkan kulit muka!</p>
<p>Itu sebabnya Rasul hanya bisa bersikap bertahan.  Tapi ia pun yakin, Quraisy itu tak mungkin berani mulai memukulnya.  Abu Thalib sebagai pemimpin klannya Rasul, klan Hasyim, bisa meneriakkan serangan balasan.  Dan akan dimulailah perang antar suku di Mekah ini.<br />
Sesuatu yang sangat mereka hindarkan.  Huru hara akan membuat orang-orang menjauhi Mekah.  Dan itu berarti bunuh diri!<br />
Rasul dalam posisi terkepung.  Tapi ia tetap bertahan dan waspada.  Lalu, datanglah Abu Bakar yang langsung tersulut belas kasihannya.  Sungguh, siapa yang sanggup melihat orang yang dicintai berada dalam posisi seperti hewan ternak yang digiring ke pojok untuk ditangkap dan disembelih?<br />
Menagislah Abu Bakar. Air matanya jatuh seperti hujan disebuah sore yang murung.<br />
“Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatkan bahwa Tuhannya adalah Allah?” jerit Abu Bakar.<br />
Merasa sudah cukup, karena datangnya Abu Bakar bisa menjadi saksi yang memberatkan, mereka menghentikan teror itu.  Mereka lalu membubarkan diri.  Abu Bakar membimbing Rasul dan bersama-sama mereka pulang.  Hari itu usai dengan membawa tetes demi tetes airmata Abu Bakar yang dicintai dan mencintai Rasul.</p>
<p>Pada suatu hari, seorang pengecut meludahi Rasul dari atap rumahnya.<br />
“Cih!”  Rasul kaget bukan main.  Beliau langsung mengusap kepalanya.  Membersihkan dan melanjutkan perjalananannya. Tidak ada reaksi berlebihan di sini. Tidak membalas?  Terlalu besar energi dan waktu  yang dikeluarkan hanya untuk seorang pengecut dengan ludah busuknya.<br />
Keesokkan harinya hal itu ternyata terulang lagi.  Begitu seterusnya.  Rasul tetap sabar.  Mengusap kepalanya, membersihkan dan kembali berjalan.  Rasul jadi terbiasa dengan ‘ritual’ kecil ini. Akan tetapi hari berikutnya tidak ada yang meludahi.  Sejenak, heran juga Rasul. Apa orang ini sudah kapok?  Rasanya kok tidak mungkin.  Penasaran, Rasul bertanya kepada tetangganya.<br />
“Ah, si fulan sedang sakit.  Untuk apa kau bertanya, hai Muhammad?” ucap tetangganya ketus.  Dia juga tidak suka dengan Rasu.  Rasul tersenyum dan menjawab:<br />
“Innalillahi. Kasihan dia. Aku akan menjenguknya nanti sepulang urusanku”<br />
Lalu, pergilah Rasul meninggalkan ketercengangan di wajah sitetangga.  Menjenguk?  Apa pula maksudnya ini?<br />
Setelah shalat, Rasul menengok orang yang biasa meludahinya itu.  Tentu saja, orang itu kaget bukan main.  Sekejab, ia merasa takut Rasul balas menyakitinya.  Padahal ia sedang terbaring lemah diatas tempat tidur.  Namun Rasul datang dengan senyum tenang dan salam pembuka yang sangat sopan.<br />
“Aku dengar kau sakit, wahai Fulan?”<br />
Orang itu Cuma mengangguk pelan dan melihat kalau Rasul Cuma datang sendirian.  Perlahan, ia melihat ada sinar menyelimuti wajah Rasul.  Cahaya itu begitu indah dan mesra.  Sebuah cahaya yang sesungguhnya hanya bisa dilihat oleh orang-orang mukmin.<br />
Seketika penyesalan merambati hatinya.<br />
“Aku berdoa kepada Tuhanku agar memberi kesembuhan padamu” kata Rasul.<br />
Sebuah doa yang sederhana.  Meminta kesembuhan.Tidak lebih? Seperti misalnya agar Tuhannya membalas kejahatan yang telah dilakukannya selama ini kepada Rasul?  Atau memintanya masuk Islam?<br />
Ah, benar-benar Rasul penuh kejutan manis.  Orang itu tersenyum malu dan tersipu-sipu. Ia seperti anak kecil yang ketahuan mencuri sebatang loli dari toples ibunya.<br />
“Maafkan aku, ya Rasul Allah,  Kini aku beriman kepadamu”<br />
Inilah mulut yang ludahnya paling bernilai dan pernyataannya paling indah yang didengar Rasul.  Rasul tak henti-hentinya mengucap Syukur Alhamdulillah.  </p>
<p>Abu Jahal juga termasuk orang yang kerap mengganggu Rasul.  Bila Rasul hendak pergi shalat, segera Abu Jalah menghadang dan menggangu beliau.<br />
Kali ini, Rasul menampakkan kemarahan di wajahnya.  Namun sikap beliau tetap tenang.  Kemarahannya tercermin dari pilihan kata-katanya.<br />
Mendengar kata-kata Rasul kali ini yang mencerminkan ketidaksukaannya, Abu Jahal menantang Rasul :<br />
“Muhammad, apakah engkau berani mengancam aku? Tidakkah engkau tahu, bahwa aku ini seorang yang memiliki harta berlimpah dan kawan yang banyak?  Aku adalah orang yang berkuasa di Mekah.  Sedangkan kau, siapakah dirimu? Ha? Apa kau berani padaku?”</p>
<p>Sungguh sombong kata-kata yang berhamburan dari mulut Abu Jahal.  Ia mengira, harta yang banyak, kawan yang siap membela dan jabatan bisa membuat seseorang menjadi hebat atau mulia.<br />
Tidak.  Sesekali tidak. Semua itu Cuma laksana planton-planton kecil yang berenang-renang di air.  Banyak sekali dan indah-indah.  Tapi, bisakah ditangkap? Disentuh? Atau bahkan di makan?<br />
Seketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw. </p>
<p>“Ketahuilah bahwa sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.<br />
Karena dia melihat dirinya serba cukup.<br />
Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).<br />
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat?<br />
Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada diatas kebenaran,<br />
atau dia menyuruh untuk bertakwa (kepada Allah)?<br />
Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling ? Tidaklah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Melihat segala perbuatannya?”</p>
<p>Rasulullah, seperti bisa hanya mengaggap angin lalu dan segera pergi.  Walau pun telah mendengar wahyu Allah yang mengecamnya, kekejaman dan kebodohan Abu Jahal tidaklah surut. Kiranya Allah telah menutup hati dan matanya dari sinar kebenaran.<br />
Pernah suatu saat ia berkata:<br />
“Apakah Muhammad sujud dan menempelkan dahinya di tanah (shalat) di depan kalian?”<br />
“Benar,” jawab seseorang.<br />
“Demi latta dan Uzza, andaikan aku melihatnya, tentu kuinjak tengkuknya dan kulumuri mukanya dengan debu” teriak Abu Jahal.<br />
Lalu dia menemui Rasulullah saw. yang sedang shalat dan  bermaksud hendak menginjak tengkuk beliau saw.  Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.  Wajahnya gemetar menahan kengerian yang terlihat di pelupuk matanya.  Ia mundur dengan berlindung dibalik kedua tangannya. Nafasnya memburu, keringatnya bercucuran.<br />
“Ada apa dengan dirimu wahai Abul Hakam ?” tanya mereka<br />
“Antaraku dan dia seperti ada parit dari api dan sekumpulan makhluk menyeramkan dan bersayap beeerdiri disekeliling Muhammad”<br />
Lantas Rasul bersabda “Andaikan dia sedikit lagi mendekatiku, tentu para malaikat akan menyambarnya sepotong demi sepotong”.<br />
Dan ketika itu turunlah ayat :<br />
<em><br />
“Oh, janganlah begitu!<br />
Sesungguhnya jika ia tidak menghentikan perbuatannya itu,<br />
tentu akan Kami (Allah) Tarik ubun-ubunnya,<br />
(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.<br />
Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya).<br />
Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabbaniyah.<br />
Sekali-kali janganlah kamu patuh padanya,<br />
dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” </em><br />
							<strong>Al Quran surat Al Alaq (96): 15-19</strong></p>
<p>Begitulah perlakuan yang diterima Rasul.  Namun, apapun dan bagaimana pun situasinya, Rasulullah tak pernah hilang kendali.  Logika berpikirnya tetap terstruktur, kata-katanya selalu penuh perhitungan. Beliau tak pernah sekali dan sedikitpun membiarkan emosi menutupi kalbunya.  Sikap sabar menjadi rambu yang sangat logis.<br />
Lebih dari itu, Rasul selalu memasrahkan dirinya kepada Allah SWT.  Karena ia hanyalah seorang hamba.  Yang lemah dan tiada daya.  Bukankah kepada tuannya seorang hamba meminta perlindungan dan berserah diri?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-siksa-saja-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Sayap Sayap Abu Thalib</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-sayap-sayap-abu-thalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-sayap-sayap-abu-thalib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=864</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Rasul Allah mengajarkan tentang konsep monotheisme atau hanya percaya satu Tuhan, kaum Quraisy masih menganggapnya hal yang biasa.  Ini seperti orang Nasrani atau Yahudi atau juga Kaum Hanif.  Mereka takk perduli karena buat mereka, menambah satu tuhan lagi, misalnya tuhan orang Nasrani, sungguh, mereka tidak keberatan.  Tapi bila berhala mereka harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Rasul Allah mengajarkan tentang konsep monotheisme atau hanya percaya satu Tuhan, kaum Quraisy masih menganggapnya hal yang biasa.  Ini seperti orang Nasrani atau Yahudi atau juga Kaum Hanif.  Mereka takk perduli karena buat mereka, menambah satu tuhan lagi, misalnya tuhan orang Nasrani, sungguh, mereka tidak keberatan.  Tapi bila berhala mereka harus disingkirkan? Itu ide yang gila, menurut mereka.<br />
Itulah sebabnya dengan konsep monoteheisme ini, Muhammad belum mereka anggap berbahaya.  Namun melihat semakin banyaknya orang yang terpikat, mereka mulai waspada.  Apalagi, kini Rasul Allah secara terang-terangan telah menyerang berhala-berhala mereka.  Kini mereka mulai pasang kuda-kuda dan membentuk aliansi diantara para klan agar ajaran ini bisa mereka bendung.   </p>
<p><em>“Apakah mereka mempersekutukan Allah<br />
dengan berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun?<br />
Sedangkan berhala itu sendiri buatan manusia<br />
Dia tidak mampu memberi pertolongan<br />
Kepada para penyembahnya<br />
Bahkan kepada dirinya sendiri<br />
Jika kamu, hai orang-orang musyrik!<br />
Menyembah berhala untuk minta petunjuk<br />
Tidakkah berhala itu memperkenankan seruanmu?<br />
Sama saja kamu berseru atau bahkan berdiam diri” </em><br />
							<strong>Al Quran surat Al A’raaf  (7): 191-193<br />
</strong><br />
Sesungguhnya, yang mereka takutkan bukanlah berhala mereka yang dicela.  Karena mereka juga terbiasa mengagungkan satu berhala dan menyingkirkan berhala lainnya.  Atau malah menjual berhala yang dianggap tidak lagi membawa berkah dan menggantikannya dengan berhala yang lebih ia sukai.<br />
Tapi ide untuk menyapu bersih berhala adalah ide yang cukup mengerikan yang sulit mereka bayangkan akibatnya. Karena begitu berbahayanya.<br />
Jika tak ada berhala, itu berarti Kabah tak punya peran apa-apa.  Dia Cuma seonggok batu-batu yang berbentuk segi empat. Dan jika tak ada berhala di Kabah, maka tak akan ada lagi yang berhaji di sini.  Tak ada lagi musim-musim dimana para jamaah akan menyemut di Mekah dan kemudian membelanjakan uang mereka di sini.  Tak akan ada lagi yang datang&#8230;.<br />
Berhala-berhala itulah yagn mendatangkan semua kemakmuran ini.  Banyaknya orang berhaji yang datang ditambah reputasi Kabah sejak dulu sebagai Rumah Tuhan, menjadikan Mekah sebagai pusat perdagangan, urat nadi perekonomian bangsa-bangsa Arab.  Mekah telah berubah menjadi kota internasional.  Kota metropolitan dengan segala kemajuan dan kemakmurannya.<br />
Dan kini, Muhammad ingin menyingkirkan berhala-berhala itu dan menggantikannya dengan Satu Tuhannya yang tidak kelihatan.  Sungguh sungguh sebuah bencana! Mekah akan berubah menjadi kota mati karena tidak ada lagi para haji yang berdatangan membawa pundi-pundi uangnya. Kabah akan ditinggalkan dan dilupakan orang-orang.</p>
<p>O, betapa mengerikan hal itu?  Kesengsaraan dan kemiskinan adalah ancaman serius yang harus dimusnahkan.  Bagaimanapun caranya!<br />
Kaum musyrikin itu sesungguhnya sudah sangat ingin membunuh Muhammad.  Namun mereka juga tahu Muhammad adalah anggota klan Hasyim, dimana Abu Thalib menjadi ketua klan ini.  Mereka juga tahu, sejak remaja, Muhammad tinggal bersama pamannya itu dan hubungan mereka berdua sangatlah erat.  Tak ada penduduk Mekah yang melupakan kenangan saat Muhammad duduk dibonceng unta oleh Abu Thalib ketika akan berdagang ke negeri Syam! Saat itu Abu Thalib mengajak Muhammad ikut berdagang sementara anak-anaknya sendiri ditinggal pergi!<br />
Jadi sudah bisa dipastikan, ketua klan Hasyim akan memberi perlindungan kepada Muhammad.  Kendati hal itu belum tercetuskan secara resmi seperti perlindungan yang diberikan oleh Hamzah dengan suara menggelegak kepada Muhammad.  Tapi Hamzah bukanlah ketua klan. Ia tak punya kekuatan apapun dalam hal ini.  Justru dukungan Abu Thaliblah yang mereka takuti.<br />
Walau pun Abu Thalib seorang tua yang fisik maupun hatinya lemah, tapi jabatan yang disandangnya bisa membuat seorang Hamzah pun tak akan berani menentangnya.  Sayap sayap Abu Thalib memang lembut dan halus, namun magnet yang tercipta cukup membuat siapapun akan aman dalam naungannya.<br />
Sedang Hamzah menawarkan perlindungan yang amat heroik buat Muhammad. Bak singa padang pasir, ia berjanji akan melindungi keponakan yang dicintainya.  Tetapi singa padang pasir ini tak punya istana.  Justru Abu Thalib dengan sayap lembutnya lah yang memikinya dan akan mampu melindungi Muhammad dari gangguan fisik atau bahkan pembunuhan.<br />
 Aliansi para klan yang telah terbentuk ini mengadakan rapat untuk membahas situasi yang mulai tak terkendali. Dan masing-masing mengeluarkan unek-uneknya.  Ada yang mengumpat Muhammad, mencacinya bahkan banyak pula yang sudah sangat ingin membunuhnya.<br />
“Hei, kalau bicara jangan sembarangan!Kita tak bisa membunuh Muhammad!” Seseorang mengingatkan akan kata-kata yang sudah kebablasan.<br />
“Benar, kita harus hati-hati.  Abu Thalib sebagai ketua klan Hasyim tentu akan melindungi Muhammad.  Kalau kita bunuh Muhammad, Abu Thalib bisa marah besar dan bisa-bisa kita akan berperang dengan kaum kita sendiri” ujar yang lainnya. </p>
<p>Memang selama Muhammad berada dalam lindungan Abu Thalib, maka akan amanlah dia.  Tak akan ada yang berani mengusik.  Menilik masalah yang mereka hambati, akhirnya mereka sepakat untuk menemui dan berbicara kepada Abu Thalib agar mau ‘melepaskan’ Muhamamad dari perlindungannya.<br />
Maka, berangkatlah 10 senator tua berpengaruh yang gelisah ke rumah Abu Thalib.  Mereka adalah Utbah bin Rabi’ah, Abu Sufyan bin Harb, Syaibah ibn Rabi’ah, Abul Bahktariv, Al Jawad   bin Al Muthalib, Abu Jahal bin Hisyam, Al Walid bin Mughirah,  Nubaih bin Al Hajjaj dan Al-Ash bin Wail.<br />
Delegasi para senator ini dipimpin Abu Sofyan. Mereka berbicara langsung kepada Abu Thalib.<br />
“O, Abu Thalib. Keponakanmu telah membuat kami porakporanda.  Ia kini mengutuk tuhan-tuhan kami dan menista agama kami. Muhammad akan membawa bencana yang lebih besar yang tak akan mampu kita semua membayangkannya. O, Abu Thalib, kau harus menghentikannya.  Bebaskan kami dari gangguannya.  Beri nasehat padanya.  Atau, kalau kau tak sanggup menghentikannya, lepaskan dia! Serahkan dia pada kami!”</p>
<p>Abu Thalib, sangat memahami kegundahan mereka. Ia tak perlu mencari contoh  jauh-jauh.  Kedua putranya sendiri, Ali dan Ja’far, telah lebih dulu memeluk agama Islam.  Kendati kecemasannya tidaklah sehebat para tamu itu.  Abu Thalib cenderung memberi kebebasan kepada keluarganya untuk memeluk atau menolak ajaran Muhammad.  Tapi ia tahu dengan pasti kepribadian Muhammad.  Bukankah selama ini, ia yang mengasuh, mendidik dan mencintainya?  Mengapa pula harus ragu?  Barangkali Abu Thalib belum yakin benar akan wahyu itu, tetapi bukan berarti ia tak percaya pada Muhammad.  Usia tua dan kelemahan hatinya kelihatannya membuat Abu Thalib tak sanggup untuk berubah.  Hidayah Allah masih jauh dari kalbunya.<br />
Namun ajaran Muhammad terasa dekat di hatinya.  Muhammad memuliakan Ka’bah dan menyuruh orang untuk percaya kepada Tuhan yang Esa. Ia melindungi yang lemah, mengerjakan shalat, berbuat kebaikan dan selalu bersyukur kepada Tuhannya.<br />
“Aku belum pernah melihat Muhammad melakukan perbuatan yang merugikan orang banyak.  Bahkan, dia banyak melakukan kebaikan dengan menolong orang lain yang kesusahan, setelah tak ada satu pun dari kita yang mau bertindak&#8230;”<br />
ucap Abu Thalib.  Lembut namun langsung kepada sasaran.  Secara halus Abu Thalib ingin mengatakan bahwa Muhammad jauh lebih baik dari mereka yang hadir itu.  Karena mereka sesungguhnya ikut bertanggungjawab atas situasi yang bobrok ini.  Setiap dari mereka menyumbang kemaksiatan dan kemiskinan di kota ini.<br />
Jawaban lugas dari Abu Thalib jelas mengecewakan para senator itu.  Pulanglah mereka dengan kegeraman yang memuncak.  Si tua Abu Thalib tak mau melepas perlindungannya kepada Muhammad! Demikian umpat mereka.<br />
Situasi kembali tak terkendali.  Tak seorang Quraisy pun sanggup menghadapi badai pesona agama baru ini. Layaknya bola salju, Islam siap menghantam mereka pada titik terakhir perlawanan dengan kekuatan yang luar biasa.<br />
Sementara makin hari makin banyak saja orang-orang Mekah yang masuk Islam.  Bahkan, kini telah meluas ke Yastrib dan Yaman!  Orang-orang itu banyak mendengar kebenaran dan keindahan yang ditawarkan agama baru ini.  Sehingga berbondong-bondonglah mereka menghadap Rasul Allah untuk mengucapkan kalimat syahadat.  Kaum musyrik, sangat gerah dengan situasi ini.  Mereka menjadi amat marah dan geram.  Bagai serigala kelaparan, mereka bertingkah amat kejam kepada siapa saja yang berani memeluk Islam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-sayap-sayap-abu-thalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Hamzah, Oh Hamzah!</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-hamzah-oh-hamzah/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-hamzah-oh-hamzah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=862</guid>
		<description><![CDATA[Perseteruan kaum Qurasy dengan Rasulullah saw. dan para sahabat dan pengikutnya semakin keras dan gencar. Namun hal itu tidak dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam dikalangan penduduk Mekkah. Dakwah yang menyatakan kebebasan manusia terhadap berbagai macam bentuk perbudakkan, baik itu budak hawa nafsu, berhala, harta maupun perbudakan terhadap sesama manusia. Hal inilah yang ditolak oleh mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perseteruan kaum Qurasy dengan Rasulullah saw. dan para sahabat dan pengikutnya semakin keras dan gencar. Namun hal itu tidak dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam dikalangan penduduk Mekkah. Dakwah yang menyatakan kebebasan manusia terhadap berbagai macam bentuk perbudakkan, baik itu budak hawa nafsu, berhala, harta maupun perbudakan terhadap sesama manusia. Hal inilah yang ditolak oleh mereka yang telah terbelenggu oleh kenikmatan dunia dan terbiasa dengan kemaksiatan. Pada dasarnya mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. Namun hawa nafsulah yang menghalangi mereka untuk memperoleh hidayah Allah.<br />
Tantangan paling keras datang dari kelompok oligarki yang menguasai kehidupan kota itu.  Mereka tidak hanya takut akan konsep agama politheisme mereka, tetapi juga khawatir kalau struktur masyarakat dan kepentingan dagang mereka akan tergoyahkan langsung oleh ajaran Rasul.  Keadilan sosial yang gencar disuarakan Rasul sungguh membuat mereka risau. </p>
<p>Al Quran sudah secara terang-terangan mencela sikap mereka yang suka menimbun harta tanpa pernah perduli dengan orang-orang miskin.<br />
Sesungguhnya sikap ini telah lama diterapkan Nabi Muhammad  bahkan sebelum ia diangkat menjadi Rasul.<br />
Orang-orang sudah menyaksikan sendiri beliau hidup berkecukupan, namun tak pernah sekalipun tergiur oleh harta bahkan beliau menginfakkannya untuk golongan lemah.  Namun dulu Rasul tak pernah ikut campur atau mencela kaumnya yang suka bersikap sewenang-wenang itu.  Sehingga ketika hal ini menjadi terang, tak ada jalan lain.  Kebenaran benar-benar harus ditegakkan.  Tapi, tetap konfrontasi fisik harus dihindarkan.</p>
<p><em>Berpacu Memperbanyak harta telah melalaikanmu<br />
Hingga saat kamu masuk ke dalam kubur<br />
Janganlah demikian, kalian kelak akan mengetahui akibatnya<br />
Janganlah demikian, kalian kelak akan tahu<br />
Jangan! Niscaya kelak kalian akan melihat sendiri neraka jahanam<br />
Sungguh, kalian kelak akan melihatnya dengan ainul yaqin<br />
Pada hari kiamat itu, kalian akan dituntut<br />
Pertanggungjawaban atas kenikmatan hidup di dunia</em><br />
					<strong>Al Quran surat At-Takaatsur  (1o2): 1-8<br />
 </strong><br />
Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy yang lain sungguh tidak dapat menghalangi kegiatan dakwah yang dilancarkan Rasul dan para sahabatnya.  Mereka tetap maju terus pantang mundur.  Kendati caci maki telah berhamburan bak badai meteor di antariksa sana.<br />
Namun mereka yang memang merindukan kebenaran yang hakiki, bagaikan mendapat hujan embun yang membasahi kerongkongan mereka.  Kaum lemah, para budak belian, para hanif, mereka yang memiliki hati-hati yang lembut, semua berdatangan baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok.  Dihadapan Rasul yang diam-diam telah mereka cintai jauh sebelum bi’tsah ini, mereka mengucapkan dua kalimat syahadat.<br />
Rasul Allah menerima keimanan mereka dengan rasa syukur tak henti-henti.  Dakwah selanjutnya jadi terasa lebih indah manakala yang menghadirinya semakin lama, semakin banyak.<br />
Tapi Abu Jahal pun tak pernah istirahat dalam usahanya menistakan Rasul, menerornya dengan kata-kata kasar.  Seperti suatu hari&#8230;<br />
Saat Rasul berada di suatu jalan di kota Mekah. Tiba-tiba saja ia bersua dengan Abu Jahal yang kegirangan melihat Rasul.  Baginya, mencaci Rasul sudah seperti olahraga saja.  Karena dimanapun bertemu  Rasul, ia selalu berusaha memulai  konflik fisik.  Ini menjadi semacam ritual pribadi yang membawa kenikmatan tersendiri, sebuah kesenangan yang membanggakan.<br />
“Hai Muhammad, sungguh kau mempermalukan martabat kita semua dengan ajaran omongkosongmu. Ketahuilah, kami tak pernah takut dengan sihirmu itu&#8230;”</p>
<p>Mulailah Abu Jahal mencaci Rasul. Namun, Rasul tidak menanggapi sedikit pun. Raut wajahnya tetap tenang.  Sorot matanya tak memancarkan gejolak emosi sedikit pun.  Dan, sebuah senyum persahabatan tetap tersinggung di bibirnya yang indah.<br />
Diam-diam ada yang menyaksikan hal itu. Dan disaksikannya manakala penghinaan  Abu Lahab telah keterlaluan, Rasul masih tetap saja bisa tenang. Hingga akhirnya Abu Lahab kehabisan kata-kata dan berlalulah Rasul dengan ketenangan yang sama seperti ketika ia datang tadi.  Sungguh sebuah pengontrolan diri yang sangat baik.  Abu Lahab benar-benar dianggap angin lalu oleh Rasul.  Pembalasan yang cukup cerdik dan jitu.<br />
“Sungguh luar biasa kesabaran Muhammad”, ujarnya.  Kejadian itu dilaporkannya kepada Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah, adalah paman sekaligus saudara sepermainan yang dicintai Rasul. Karena Hamzah sesungguhnya berhati baik, dengan akhlak yagn terpuji dan sifatnya yang selalu riang gembira. Namun mendengar Abu Jahal, yang notabene adalah kakaknya sendiri namun lain ibu, telah mengganggu saudara yang dicintainya, marahlah Hamzah.  Ia tidak terima bila Muhammad dihinakan seperti itu.  Sikap Hamzah kepada Muhammad, benar-benar seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya. Sejak kecil dulu ketika masih sama-sama di susui di pedalaman Badui,  Hamzah selalu melindungi Muhammad.  Ia adalah ‘kakak’ yagn gagah berani sekaligus periang.  Dan Muhammad adalah anak yang lembut dan amat baik hatinya. </p>
<p>Dengan busur dan panah ditangan, karena ia memang habis pulang berburu, Hamzah mencari-cari Abu Jahal. Ketika sudah ditemukannya, tanpa kata pembuka, Hamzah memukul Abu Jahal.  Walau pun sang paman usianya jauh lebih tua dengan postur badan besar, namun Hamzah tak takut sedikit pun.<br />
Abu Jahal terjerembab ke tanah.  Ia kaget bukan main. Teman-temannya juga kaget.  Mengapa Hamzah marah luarbiasa padanya? Bukankah biasanya ia selalu riang?<br />
“Kuperingatkan pada kalian semua&#8230;!” sembur Hamzah dengan gagah berani.<br />
“Jangan sekali-sekali kalian ganggu Muhammad, selama masih ada aku!”<br />
Inilah pembelaan sekaligus perlindungan terang-terangan yang pertama yang diterima Rasul.  Sebuah sikap yang mencerminkan kekuatan sekaligus kelembutan hati yang cerdas. Mencerminkan kebesaran hati Hamzah.  Hamzah yang pemberani telah menggunakan keberaniannya untuk membela Rasul tanpa takut.  Ia juga tidak khawatir akan balasan Abu Jahal, karena kedudukan mereka sama.<br />
“Kau telah membela Muhammad, berarti engkau telah masuk agamanya&#8230;.” teriak teman-teman Abu Jahal.<br />
“Siapa yang berani melarangku” bentak Hamzah. “Ayo, kalau kalian berani.  Lawan aku!”<br />
Hamzah memang sendirian, tapi kekuatan dan keberaniannya melebihi sepuluh ekor singa.  Tak ada yang berani melawan Hamzah.  Semua ketakutan.  Pun Abu Jahal.  Dan ramai-ramai itu pun berakhirlah sudah.  Mereka menyingkir perlahan-lahan.<br />
“Saksikan oleh kalian, sekarang aku menjadi pengikut Muhammad!”</p>
<p>Abu Lahab dan teman-temannya pergi membawa hati yang geram dan penuh dendam.  Pengikut Muhammad kini bertambah satu lagi&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-hamzah-oh-hamzah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Ya Shabahah!  Ya Shabahah!</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-ya-shabahah-ya-shabahah/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-ya-shabahah-ya-shabahah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[Perjuangan harus berlanjut.  Walau pun tidak mendapat hasil yang diinginkannya dari jamuan makan tersebut, Rasul tidak berputus asa.  Ia tahu, peristiwa kemarin hanya sebagian kecil dari ujian yang akan dihadapinya dalam menjalankan misi ini.  Kini ia memikirkan cara lain yang efektif dan efisien.  Karena kali ini sasarannya tidaklagi hanya kaum kerabat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjuangan harus berlanjut.  Walau pun tidak mendapat hasil yang diinginkannya dari jamuan makan tersebut, Rasul tidak berputus asa.  Ia tahu, peristiwa kemarin hanya sebagian kecil dari ujian yang akan dihadapinya dalam menjalankan misi ini.  Kini ia memikirkan cara lain yang efektif dan efisien.  Karena kali ini sasarannya tidaklagi hanya kaum kerabat dekatnya.  Tetapi jangkauannya harus diperluas lagi.  Yakni seluruh penduduk Mekah.<br />
Dan cara yang paling tepat dan jitu untuk melaksanakan hal itu adalah membicarakannya dari atas sebuah bukit.  Seperti kebiasaan yang terjadi selama ini pada bangsa Arab.  Mereka biasa berteriak diatas sebuah bukit bila ingin memberi pengumuman atau sekedar membaca syair-syair.<br />
Maka, mulailah Rasul yang pemalu itu mendaki sebuah bukit kecil yang bernama Shafa.  Berteriaklah Rasul memanggil-manggil bangsa Arab dengan suara lantang.</p>
<p>“Ya shabahah! Ya Shabahah!”<br />
Inilah teriakan yang sangat dikenal oleh orang Arab dan sangat memberi pengaruh orang-orang yang mendengarnya.  Teriakan yang dikumandangkan bila ada bahaya, misalnya musuh yang datang menyerang, padahal mereka sedang lengah.  Maka, demi mendengar teriakan ini tak ada seorang Quraisy pun yang datang terlambat. Apalagi demi yang dilihatnya berteriak adalah seseorang yang baru saja mengaku sebagai nabi.  Dan ia membawa agama baru yang aneh. Teriakkan Rasulullah, tentu saja mengusik keingin tahuan orang-orang.  Setelah sekian lama informasi tentang agama baru ini Cuma datang sepotong-sepotong, orang jadi ingin tahu apa yang ingin dikatakan Rasul. Semua berbondong-bondong menyemut di bawah kaki bukit .<br />
Melihat pancingannya berhasil, Rasul segera melanjutkan teriakkannya.<br />
“Wahai kaum Quraisy!<br />
Apa pendapat kalian bila saat ini kukabarkan kepada kalian bahwa dibalik bukit ini ada pasukan musuh yang hendak menyerang kalian.  Apakah kalian akan mempercayaiku?”<br />
Sesungguhnya inilah pertanyaan yang sangat tepat untuk langsung menggiring opini massa bahwa Rasul adalah pembawa berita yang benar.  Karena reputasi Rasulullah begitu kuat sehingga opini itu akan segera terbentuk. Bahwa apa yang akan dikatakan Rasul adalah kebenaran.<br />
“Ya kami percaya, karena kau selalu berkata jujur”<br />
Rasul yang mereka kenal sebagai Al Amin telah teruji kejujuran, amanah dan akhlaknya.  Itu sebabnya secara spontan mereka mengiyakan pertanyaan Rasul.<br />
“Maka ketahuilah, wahai bangsa Quraisy.  Bahwa aku adalah pemberi peringatan kepada kalian, tentang adanya adzab yang teramat pedih”  ucap Rasul.<br />
Mendengar kata-kata yang cukup mengejutkan itu, orang-orang menjadi terdiam.<br />
Belum sempat Rasulllah saw. melanjutkan pembicaraannya, tiba-tiba Abdul Uzza (Abu Lahab) berteriak sambil berdiri sehingga mengejutkan para hadirin, ia berkata “Celakalah bagimu Muhammad ! Apakah hanya untuk ini saja kamu kumpulkan kami semua!”</p>
<p>Rasul hanya terdiam, tidak melanjutkan pembicaraan. Karena memang menentang atau memberi nasihat kepada orang yang sedang marah tidaklah akan dapat membuatnya menjadi sadar, bahkan sebaliknya akan bertambah marah. Kemudian Abu Lahab kembali berkata:<br />
“Sama sekali belum pernah aku melihat seorang yang datang pada keturunan orang tuanya dan kaumnya yang lebih keji daripada apa yang engkau datangkan itu”.  Saat itu Rasul tetap tenang, tidak terpancing sedikit pun.  Sikap ini malah memancing kemarah Abu Lahab lebih dasyat. Emosinya telah menutupi akalnya.  Kata-katanya mulai tak terkendali.<br />
Pada saat itulah,  turunlah wahyu kepada Nabi saw. yang berbunyi<br />
“Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan celakalah”</p>
<p>Abu Lahab semakin dikuasai amarah dan melanjutkan caci makinya:<br />
“Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, maka aku akan menebusnya dengan harta bendaku dan anakku”. </p>
<p>“Tidaklah berguna daripadanya (Abu Lahab) harta bendanya dan segala usahanya”<br />
Abu Lahab terus berteriak-teriak dan menyuruh orang-orang untuk pergi.  Abu Lahab adalah salah satu penguasa kota Mekah yang terkenal bengis.  Kekayaan dan kekuasaannya cukup membuat orang-orang merasa takut.  Satu persatu orang-orang itu pergi meninggalkan tempat.<br />
Rasulullah pun menghentikan dakwahnya, saat itu juga.  Hatinya sungguh sedih karena yang menghalangi dan menyuruh orang-orang Quraisy untuk menjauh adalah pamannya sendiri, dari keluarga terdekatnya, Abu Lahab&#8230;</p>
<p><strong>“Api yang menjilat-jilat akan menggulungnya<br />
Begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar yang dilehernya ada tali dari sabut”</strong><br />
					<strong>Al Quran surat Al-Lahab  (111): 1-5 </strong> </p>
<p>Namun sungguh, seruan pertama itu telah menggema diseantero tanah Makkah, menggelegar bagai petir ditengah hari, menyulut kegundahan dan kemarahan bagi kaum musyrikin dan para penyembah berhala. Sekaligus pula menimbulkan gejolak kegelisahan akan hati yang mulai disinari tauhid. Karena konflik sudah semakin terbuka dan akut.<br />
Namun, seruan harus diteruskan. Tak boleh ada kata istirahat.  Pertemuan berikutnya masih dilakukan Rasul di bukit Shafa. Dan seperti kemarin, kali ini pun Rasul masih tetap mengucapkan bahwa ia adalah seorang pemberi peringatan. Kemudian berbicara tentang konsep akhirat.</p>
<p>“Wahai kaum Quraisy.<br />
Demi Allah, sesunggunya aku ini diutus Allah kepada kamu dan seluruh umat manusia.<br />
Aku hanyalah seorang pemberi peringatan!”</p>
<p>Orang-orang mulai kembali berkumpul dibawah bukit Shafa.  Seperti kemarin, dakwah Rasul cukup menarik hati mereka karena Rasul mengucapkannya dalam bahasa Al Quran yang sangat indah.  Dengan tata bahasa yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.  Dan dengan kandungan yang  mengandung inti kebenaran. </p>
<p>“Sungguh kamu akan mati, seperti kamu tidur.<br />
Dan sungguh kamu akan dihidupkan kembali sesudah mati<br />
seperti kamu bangun dari tidur;<br />
Dan sungguh kamu akan diperiksa tentang apa-apa yang kamu kerjakan,<br />
dan sungguh kamu akan menerima balasan yang setimpal,<br />
yang baik akan dibalas dengan kebaikan<br />
dan yang jahat akan dibalas dengan kejahatan<br />
dan sesungguhnya pembalasan itu mestilah ada,<br />
di surga selamanya atau di neraka selamanya”. </p>
<p>Inilah konsep keadilan yang sesungguhnya! Karena itu, ramailah orang-orang.  Mereka telah mendengar dengan teling mereka sendiri, bahwa setiap perbuatan akan mendapt balasan yang setimpal. Baik atau buruk.</p>
<p>“Wahai kaum Quraisy.<br />
Hendaklah kamu menyelamatkan dirimu dari api neraka<br />
karena sesungguhnya aku tidaklah mempu sedikitpun di hadirat Allah kelak<br />
untuk membantu kamu.<br />
Sesungguhnya aku ini hanya pemberi peringatan yang nyata<br />
Dan siksa Allah sangatlah keras kelak!”</p>
<p>Kemudian Rasul menyebut satu persatu para bani yang ada di Mekah, orang-orang Quraisy. Rasul ingin dakwah ini selain ditujukan secara universal tetapi juga menyentuh sisi personalnya.  Karena, salah satu sifat orang Quraisy adalah kesenangan mereka disanjung, diistimewakan, dipuji-puji.  Sungguh, mereka adalah orang-orang yang sombong.</p>
<p>“Wahai orang-orang keturunan Ka’ab bin Luayyi, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”<br />
“Wahai orang-orang keturunan Murrah bin Ka’ab, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”<br />
“Wahai orang-orang keturunan Abdul Manaf, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”<br />
“Wahai orang-orang keturunan Abdu Syamsin, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”<br />
“Wahai orang-orang keturunan Zuhrah, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”<br />
“Wahai orang-orang keturunan Abdul Muthalib, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka”<br />
“Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”<br />
“Wahai Haffiyah bibik Muhammad, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”</p>
<p>Kemudian Rasul berseru pula menyebut nama putri bungsu tercintanya.</p>
<p>“Wahai Fatimah anak perempuan Muhammad, engkau mintalah sekehendakmu semua harta bendaku.  Tetapi aku tidak tetap tidak akan mampu sedikitpun di hadapan  Allah untuk menolong kamu kelak” </p>
<p>Penyebutan nama anaknya sendiri dalam dakwah awal-awal ini, sesungguhnya bagian dari strategi Rasul.  Rasul benar-benar ingin menunjukkan kepada mereka, bahwa inilah agama yagn paling adil yang pernah mereka temui.  Setiap orang harus menanggung sendiri perbuatannya.  Tidak ada tolong-menolong di akhirat nanti.  Tidak ada katabelece.  Surat sakti. Atau karena mentang-mentang.<br />
Fatimah memang anak Rasul, tapi itu tidak ada hubungannya dengan ‘pembalasan yang setimpal’.  Fatimah pun harus mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya.<br />
Hal mana lagi yang lebih indah dari agama Islam?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-ya-shabahah-ya-shabahah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Jamuan Makan Malam</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-jamuan-makan-malam/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-jamuan-makan-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=858</guid>
		<description><![CDATA[Insiden kecil di bukit terpencil itu seakan pintu waduk yang membuka sedikit. Atau seperti palu yang membuat lubang kecil pada tembok.  Namun hal itu menjadi isyarat penting   bahwa setelah itu akan ada banyak lagi lubang-lubang yang menganga.  Dan bukan Cuma palu yang bermain.  Barangkali sebuah bandul besi tengah dipersiapkan disini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Insiden kecil di bukit terpencil itu seakan pintu waduk yang membuka sedikit. Atau seperti palu yang membuat lubang kecil pada tembok.  Namun hal itu menjadi isyarat penting   bahwa setelah itu akan ada banyak lagi lubang-lubang yang menganga.  Dan bukan Cuma palu yang bermain.  Barangkali sebuah bandul besi tengah dipersiapkan disini.  Untuk menghancurkan pertahanan kaum muslim.<br />
Insiden ini sudah pasti merisaukan Rasul.  Ia berdoa siang malam kepada Allah SWT  agar memberinya jalan keluar dari situasi psikologis yang menjebak  dan relita fisik yang cukup menakutkan.<br />
Rasul adalah seorang yang amat lembut hatinya, penyayang dan suka merenung.  Situasi yang mulai mengeras ini mengharuskan ia berbuat lebih dari sekedar bersembunyi.<br />
Karena sebagai pemimpin, Rasul tidak ingin umatnya menjadi martir.  Atau  pion-pion yang harus mati agar sang Ratu tetap hidup.  Kendati umatnya sangat ikhlas bila pengorbanan itu harus demikian dasyatnya.<br />
Disekitar saat itulah, Allah memerintahkan Rasul untuk mendeklarasikan dirinya secara terbuka, kepada seluruh anggota klannya, dan mengajak mereka masuk Islam. </p>
<p><em>Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan<br />
segala apa yang diperintahkan (kepadamu)<br />
dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik</em><br />
							<strong>Al Quran surat al Hijr  (15): 94</strong>  </p>
<p>Wahyu berikutnya, benar-benar menjawab lebih detil kegelisahan Rasul. Pada saat itu waktu telah berlalu tiga tahun sejak Rasul menerima wahyu pertama di gua Hira.</p>
<p><em>“Berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat<br />
 dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu,<br />
yaitu orang-orang yang beriman.<br />
Jika mereka  mendurhakaimu, maka katakanlah:<br />
‘Sesungguhnya aku tidak bertanggungjawab atas apa yang kamu kerjakan’<br />
bertaqwalah kepada Allah Yang Maha Perkasa<br />
lagi maha Penyayang<br />
yang melihat kamu ketika kamu shalat<br />
melihat pula gerak badanmu di antara orang yang sujud<br />
sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar<br />
lagi Maha Mengetahui”</em><br />
					<strong>Al Quran surat Asy Syu’ara  (26), 214-220 </strong> </p>
<p>Saat yang cukup krusial itu akhirnya tiba juga.  Rasul tahu, bila Allah telah memerintah ia untuk segera menanggalkan tirai, itu artinya Allah telah menilai Rasul telah cukup siap untuk menjalankan perintahNya.  Berdakwah secara terang-terangan.  Tanpa harus malu-malu lagi, tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa saputangan di wajah.<br />
Tetapi Allah juga mengingatkan untuk berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.  Itu artinya kendati sudah bisa mulai berdakwah secara terang-terangan, terhadap gangguan orang musrik, Rasul diperintahkan untuk menghindarinya.  Tidak perlu menanggapi ajakan yang mereka lontarkan.  Konfrontasi secara fisik masih harus dihindari.  Artinya, jangan membuang-buang tenaga untuk hal yang tak perlu.  Inilah periode dimana ketahanan mental dan kesabaran orang-orang Muslim tengah diuji. Periode menahan tangan dan hanya melakukan tabligh.</p>
<p>Kelompok awal atau generasi pertama ini dinilai Allah sudah cukup layak untuk mentas.  Segala persiapan telah dilakukan.  Rasul tinggal menjalankan apa yang sudah ditetapkan.<br />
Namun sebagai Nabi baru dan tidak mempunyai sedikitpun pengetahuan tentang para Nabi sebelumnya, Rasul tidak bisa belajar sesuatu dari pengalaman mereka, para nabi terdahulu.  Tidak ada satupun cerita yang sampai kepadanya tentang perjuangan Nabi-nabi yang lalu untuk diambil ibrahnya.  Semua tarbiyah dan bimbingan, semata-mata berasal dari wahyu Allah.<br />
Pun pengetahuan tentang masa yang terdahulu. Namun gambaran perjuangan Nabi terdahulu itu amat penting untuk diketahui Rasul.  Agar ia bisa mempersiapkan dirinya dan umatnya akan permasalahan yang sesungguhnya akan terjadi.  </p>
<p>Mengingat pentingnya hal ini, Allah menurunkan wahyunya:</p>
<p><em>“Dan ( ingatlah) ketika Tuhan-mu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang dzalim itu. (Yaitu)  kaum Fir’aun.<br />
 Mengapa mereka tidak bertakwa ?”.<br />
Berkata Musa: “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka akan membunuh aku.<br />
Dan (karenanya) sempitlah dadaku<br />
dan tidak lancarlah lidahku,<br />
maka utuslah (Jibril) kepada Harun.<br />
Dan aku berdosa terhadap mereka,<br />
maka aku takut mereka akan membunuhku”.<br />
Berfirman Allah: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu),<br />
maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat);<br />
sesungguhnya kami bersamamu, mendengarkan apa yang mereka katakan”.</em><br />
					<strong>Al Quran surat Asy Syu’araa  (15): 10-17<br />
</strong><br />
Resiko terbesar dari sebuah perjuangan adalah pembunuhan.  Dengan berpegang pada janji Allah, Rasul tak perlu takut dengan ancaman itu.<br />
Namun Rasul merasa perintah itu terlalu berat untuknya.  Ia, yang tak pernah memimpikan menjadi Khalifah, adalah sesungguhnya pribadi yang sederhana dan memiliki hati yang teramat halus.  Tutur katanya santun dengan intonasi yang rendah namun jelas maksud dan tujuannya.<br />
Kini, ia harus menyampaikan sesuatu yang (sudah pasti) akan membangkitkan amarah dan memuntahkan caci maki dari kaum yang terkenal kasar dan pemberang ini.  Sanggupkah Rasul?<br />
Keraguan mulanya menyelimuti hatinya.  Langkahnya terasa berat. Walaupun yakin sepenuhnya akan perlindungan Allah, namun kekhawatiran utamanya adalah keselamatan keluarga,  terutama umatnya.  Sebuah ketakutan yang manusiawi. Keresahan ini membuatnya semakin memperpanjang waktu-waktu shalatnya.  Siang malam Rasul memohon pertolongan berupa kekuatan hati dan iman.  Karena hanya Allahlah sebaik-baik perlindungan dan tarbiyahNya.<br />
Ketidak hadiran Rasul untuk shalat berjamaah mengundang tanya dan kecemasan umatnya. Segeralah mereka mengunjungi beliau.  Melihat kedatangan mereka, Rasul seperti merasa menjadi sebatang padi yang diberi pupuk.<br />
Kehadiran mereka memberi energi lain dari yang lain.  Kecemasan yang membayang di mata mereka serasa menyuntikkan harapan baru dalam kalbu Rasul.<br />
Ya, Allah telah menguatkan hati dan iman Rasul lewat kunjungan kekhawatiran umatnya.<br />
Karena bila Rasul sendiri ragu akan kemampuan diri dalam manjalankan perintah Allah, bagaimana mungkin umatnya yang masih ‘muda’ ini bisa menjadi kuat?  Bila Rasul lemah, siapa nanti yang akan menjadi pelindung mereka?  Memang hanya Allahlah yang memiliki kekuasaan.  Namun Rasul sedang dalam menjalankan misinya untuk menjad pembimbing mereka menuju sinar terang. </p>
<p>Bila seorang imam merasa takut, bagaimana pula umatnya?<br />
Tetapi Rasul adalah tipe pemimpin yang demokratis. Kendati keputusan ada ditangannya, ia senantiasa meminta pertimbangan umatnya dulu. Apalagi ini juga menyangkut kesediaan dan kesanggupan mereka mengingat beratnya resiko yang akan mereka hadapi. Untuk itulah Rasul meminta izin dan kesanggupan mereka sebelum strategi ini dijalankan.<br />
Betapa rendah hatinya Rasul.  Kendati ia adalah seorang pemimpin, dia tidak bertindak otoriter.  Kepemimpinannya dijalankan atas prinsip hak dan kewajiban yang sama dari semua elemen organisasi.  Baik itu pemimpin maupun yang dipimpin.  Keputusan diambil lewat jalan musyawarah dan pertimbangan dari semua sisi. Tentu saja, sepanjang ini tidak berkaitan dengan masalah Tauhid.<br />
Sesungguhnya, inilah salah satu inti ajaran Islam.  Bahwa semua manusia sama di mata Allah.  Yang membedakan Cuma amal ibadahnya saja.</p>
<p>Para sahabat, setelah mendengar penjelasan Rasul menganggap bahwa wahyu Allah adalah sebuah perintah yang harus mereka laksanakan.  Dan seperti sang Imam, mereka berserah diri pada perlindungan Allah semata, atas apapun resiko yang akan mereka hadapi.<br />
Maka, lapanglah hati Rasul mendengar kesiapan para sahabatnya, umat yang amat dicintainya itu.<br />
Kini strategi baru harus diterapkan.  Mengingat ajaran ini banyak menimbulkan benturan dan telah mengakibatkan luka yang cukup dalam berupa terpecah belahnya sebuah keutuhan keluarga.  Rasul perlu memikirkan cara-cara agar perintah ini bisa dijalankannya dengan tepat, cepat dan jitu.  Beliau butuh suasana dimana ia bisa mengkomunikasikan ajaran ini dengan tenang sehingga para kerabatnya dapat berpikir dengan jernih dan terbuka.  Sebelumnya Rasul harus mengkondisikan lebih dulu para kerabat yang ia tahu memilki karakter keras.<br />
Dan sesuai dengan ibrah perjuangan Nabi Musa, Rasul terlebih dahulu harus melapangkan dadanya dan mampu menuturkan ajaran ini dalam bahasa yang jernih, lugas, terstruktur dan jelas.<br />
Untuk menjalankan misi ini, Rasul mengundang kaum kerabat terdekatnya dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib.  Ia meminta bantuan Ali mengatur semua itu. Mulai dari mempersiapkan makanannya, hingga menyebarkan undangan kepada mereka. Sekitar 45 kerabatnya, akhirnya datang pada jamuan makan sederhana di rumah Rasul.</p>
<p>Usai acara jamuan, Rasulullah bersiap untuk berbicara.  Namun, Abu Lahab, paman yang selalu memperlihatakan secara terang-terangan kebenciannya pada Rasul, langsung memotongnya.<br />
“Mereka yang hadir disini adalah paman-pamanmu sendiri dan sepupu-sepupumu. Bicaralah, dan segera tinggalkan agama baru itu.  Jika engkau bersikeras, seluruh bangsa Arab akan memusuhimu.  Sedang kaummu, bangsa Quraisy, tidak akan mampu melawannya dan melindungimu.  Sungguh, aku tak pernah melihat ada orang yang membawa sesuatu yang lebih jelek dari apa yang telah engkau ini.”<br />
Mendengar kata-kata yang emosional seperti itu, Rasulullah saw. hanya diam dan sama sekali tidak berbicara dalam pertemuan itu. Rasulullah saw. mengenal sifat pamanya yang berbadan tinggi besar dan cepat naik darah itu.  Tidak ada gunanya berbicara  pada orang yang telah kehilangan akal dan logikanya. Karena kata-kata kita tidak akan mampu diresponnya dengan baik.  Dan Rasul tahu, bila ia memaksakan dakwahnya tentu akan terjadi kekacauan.   Maka Rasul memutuskan untuk menunda dakwahnya hingga esok.<br />
Keesokan harinya, jamuan diadakan kembali dan kaum kerabatnya datang lagi. </p>
<p>Kuatir Abu Lahab, kali ini Rasulullah langsung  berkata:<br />
“Wahai putra-putra Abdul Mutahlib, aku tahu tak seorang Arabpun datang pada rakyatnya dengan pesan yang lebih agung daripadaku.<br />
Kubawakan pesan terbaikNya.  Tuhan memerintahkanku untuk mengajakmu menyembahNya. Siapa diantara kamu ini yang mau mendukungku dalam perjuaangn ini.  Ia akan menjadi saudaraku, menjadi penerima wasiatku dan menjadi penerusku sepeninggalku”</p>
<p>Kesunyian yang kaku segera menyergap ruangan itu.  Bahkan Abu Thalib dan paman tercintanya, Abbas dan Hamzah, tidak berkata sepatahpun.<br />
Akhirnya Ali tak tahan dengan kesunyian itu dan ia ingin segera mengakhiri suasana untuk menyelamatkan kewibawaan paman yang dicintainya itu.  Meskipun baru beranjak dewasa, Ali berbicara didepan semua dengan agak kikuk.<br />
“Aku, wahai Rasulullah.  Akulah yang akan menjadi pembantumu”<br />
Rasulullah tersenyum mendengar jawaban lugas Ali.  Dengan bijak beliau menjawab:<br />
“Terimakasih, Ali.  Duduklah dulu”<br />
Kemudian Rasul mengulangi lagi kata-katanya.  Ia masih berharap seorang dari kerabatnya yang ia undang ini, mau menerima ajaknnya.<br />
“Tuhan memerintahkanku untuk mengajakmu bersembah sujud hanya kepadaNya. Siapa diantara kalian yang mau mendukungku dalam perjuaangn ini.  Ia akan menjadi saudaraku, menjadi penerima wasiatku dan menjadi penerusku sepeninggalku”<br />
Kali ini pun tak terjadi apa-apa.  Tak seorang pun mengangkat tangannya.  Dan Ali, kembali tak tahan dengan ejekan terselubung atas diri pamannya itu.  Tangannya mengacung ke atas.<br />
“Aku ya Rasulullah”<br />
Rasul adalah pemimpin yang tak pernah menarik kembali janji yang pernah diucapkannya.  Kendati tawaran cukup berat ini hanya disanggupi oleh seorang pemuda tanggung, Rasul tetap menghargai pemikiran dan ikrar yang diucapkan Ali.  Lagi pula, Rasul tahu bagaimana karakter dan akhlak Ali.<br />
Dengan lembut dan tanpa ragu, Muhammad meraih pundak Ali.<br />
“Baiklah Ali.  Mulai sekarang, engkaulah saudaraku, penerima wasiatku dan penerusku sepeninggalku.  Dengarkan dia dan patuhilah!”</p>
<p>Mendengar kata-kata Rasul, beberapa orang berteriak dan mengejek Rasul.  Rasul tahu keputusannya menjadi bahan cemooh kerabatnya sendiri. Mengangkat seorang anak kecil dan menyuruh ayah-ayah mereka mentaatinya, sungguh sebuah lelucon yang amat menggelikan.<br />
Tapi, kepemimpinan bukan pewarisan tahta dalam sebuah kerajaan.  Seperti juga aturan dalam suku, ia ditentukan oleh kualitas dan ketangguhan.  Sehingga, mengapa kejadian ini mesti disikapi sinis? Barangkali karena Ali tak punya ‘karier militer, politik dan ekonomi’ dalam struktur masyarakat Arab. Ali betul-betul masih terlalu rendah. </p>
<p>Namun Rasul adalah pemimpin yang konsisten dengan ucapan dan janjinya.  Walaupun Ali adalah seorang yang masih muda dan orang Arab sangat pantang dipimpin oleh orang yang lebih ‘rendah’ darinya.  Namun Muhammad ingin menunjukkan sekali lagi, inilah agama yang paling humanis dari yang pernah ada di muka bumi.<br />
Seseorang tidak dipandang dari segi kedudukan, harta, ilmu maupun usia.  Semua sama dihadapan Allah.  Hanya amal ibadah saja yang bisa membedakan.  Dan Rasul, harus menerapkan ajaran itu, walau apapun resikonya.  Kendati dia harus menerima cemooh, hinaan bahkan menjadi bahan tertawaan.  Itu hanya reaksi dari orang yang, sungguh, belum memahami ajaran Islam yang sesungguhnya.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-jamuan-makan-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Darah Pertama Kaum Muslim</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-darah-pertama-kaum-muslim/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-darah-pertama-kaum-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 01:38:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=856</guid>
		<description><![CDATA[Cukup mengejutkan ajaran Rasul bisa menarik hati banyak orang Quraisy.  Lebih jauh lagi ajaran ini, dengan sangat ‘kejam’nya memisahkan bahkan menghancurkan sebuah ikatan inti, seperti keluarga.  Banyak keluarga yang tercerai berai karena banyaknya hati yang mempertahankan ajaran Islam dengan keteguhan yang mengagumkan.
Dasyat memang akibat yang terjadi bila hidayah telah turun dan mengendap dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cukup mengejutkan ajaran Rasul bisa menarik hati banyak orang Quraisy.  Lebih jauh lagi ajaran ini, dengan sangat ‘kejam’nya memisahkan bahkan menghancurkan sebuah ikatan inti, seperti keluarga.  Banyak keluarga yang tercerai berai karena banyaknya hati yang mempertahankan ajaran Islam dengan keteguhan yang mengagumkan.<br />
Dasyat memang akibat yang terjadi bila hidayah telah turun dan mengendap dalam lubuk hati seorang manusia.<br />
Bila percikan spiritual telah menjelma menjadi galaksi-galaksi kecil yang mengililingi mata hati.  Pertemuan dengan Tuhan menjadi amat manis laksana menyaksikan tajuk hutan hujan yang langitnya dipenuhi kupu-kupu morfo dan burung kolibri.  Siapa kiranya yang sanggup menolak?<br />
Taruhan semua itu memang tidaklah ringan.  Suami terpisah dari istri, istri-istri yang  rela menjanda, pemuda-pemudi yang dengan hati teguh kendati luka parah, menerima amarah ayah bunda mereka yang tak sudi menerima kemusliman anaknya.<br />
Banyak hati telah luka.  Banyak airmata yang tumpah. Dan banyak ikatan telah koyak.  Namun, itulah konsekuensi sebuah perjuangan.  Dan bagi kaum Quraisy sendiri, ada jerit kemarahan dari dalam hati ketika harus menyadari bahwa kelak dari dalam rumah mereka sendiri akan muncul kuda troya.<br />
Sesungguhnya, inilah cobaan paling awal sekaligus semacam uji coba bagi pergerakan dakwah Rasul.  Jika rintangan pertama ini bisa berhasil, Insya Allah, tahap ujian berikutnya pasti bisa dilalui.<br />
Dan, cobaan kedua itu pun datang berupa darah yang tertumpah membasahi bumi Allah.</p>
<p>Suatu ketika,  Rasul dan mereka yang telah masuk Islam akan melaksanakan shalat secara berjamaah di sebuah tempat  terpencil.  Sa’ad bin Abi Waqqas, paman Rasul dari pihak ibu keluar dari rumahnya dengan sangat hati-hati, untuk ikut shalat berjamaah bersama Rasul.  Ia tidak ingin kepergiannya diketahui kaum Quraisy.  Merasa sudah aman, Sa’ad pun pergi mengendap-endap.  Sa’ad, adalah salah seorang Muslim yang mendapat hidayah Allah lewat sebuah mimpi mengejutkan dan penuh arti.  Ia bermimpi melihat bulan menyembul di cakrawala.  Cahanyanya menyingkap kegelapan malam yang amat pekat.  Lalu tampaklah olehnya Abu Bakar, Zaid bin Haritstsah serta Ali bin Abu Thalib melambaikan tangan padanya.  Mimpi itu membuatnya terangun seketika.  Dan hatinya diliputi misteri yang mengganggu.  Keesokan paginya Abu Bakar datang lalu menyampaikan kabar tentang ajaran ini. </p>
<p>Hidayah Allah pada periode awal ini bisa jadi berupa mimpi seperti yang dialami Sa’ad, dan juga Khalid bin Sa’id dari klan Abdi Syams.  Usman bin affan pun mendapat mimpi berupa seruan dari kegelapan: “Bangunlah para penidur! Karena Ahmad telah tiba di Mekah!”<br />
Kepergian Sa’ad yang mengendap-endap, rupanya diketahui Abu Jahal, yang juga paman Nabi namun dari pihak ayah.  Kesempatan ini tak disia-siakan Abu Jahal dan teman-temannya yang sangat ingin mengetahui tempat rahasia Rasul melaksanakan ibadahnya.<br />
Usai shalat, Sa’ad yang berkarakter tegas ini menjauh sejenak untuk beristirahat.  Ditempat itulah ia memergoki Abu Jahal dan teman-temannya. Tapi belum sempat Sa’ad  menegur, Abu jahal telah bertanya dengan nada sedikit membentak.  Status ikatan klan dan darah yang cukup berdekatan membuat Abu Jahal sedikit segan untuk mengasari Sa’ad.<br />
“Apa yang sedang kalian kerjakan?”<br />
“Kami sedang shalat..” jawab Sa’ad dengan agak malas.  Namun ia mulai waspada karena instingnya mengatakan sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sini.</p>
<p>Orang-orang Quraisy yang memang telah punya niat jelek itu menanggapi jawaban Sa’ad dengan ejekan dan hinaan. Mereka mentertawakan keanehan gerakan ritual shalat.<br />
Sa’ad, sangat tidak suka mendengar komentar itu. Ejekan itu serasa melukai harga dirinya.  Insting Baduinya timbul seketika.  Diambilnya sepotong kayu yang tergeletak di sana. Dan dihantamkannya pada salah seorang dari mereka.<br />
Sebuah konfrontasi fisik secara terbukapun dimulailah.  Pukulan demi pukulan kini terimplementasi dengan bebas dan vulgar.  Orang-orang Quraisy, tentu saja membalas. Dan Sa’ad, seorang diri harus menerima kekerasan fisik itu.<br />
Usai perkelahian tak imbang, kaum Quraisy meninggalkan Sa’ad yang lukanya menghancurkan wajah sekaligus menyulut amarah.  Ketika Sa’ad kembali,<br />
Rasul dan kaum muslim menyambutnya dengan pandangan yang patah.  Kesunyian yang sungguh tak mengenakkan itu menyelimuti mereka. Ada kemarahan yang siap untuk diledakkan.  Namun tertahan karena sang Imam keburu menuangkan air es ke dalam hati mereka.<br />
Dengan suara tenang dan kata-kata yang trstruktur Rasul meminta umat Islam mau menahan diri, tidak terpancing jenis konfrontasi yang dilancarkan lawan.  Rasul meminta mereka untuk bersabar.  </p>
<p>Sebuah sikap yang sangat dalam dan luas makna serta akibatnya.  Sabar menuntut kita untuk tetap berpikir jernih.  Semarah apapun, setersinggung apapun atau bahkan sehebat apapun derita yang kita alami, jangan sampai akal pikir kita tak mampu menjalani fungsinya dengan baik.  Sabar memotong amarah agar kita masih mampu berpikir.  Karena bila akal kita tak bisa berfikir baik dan jernih, maka sudah bisa ditebak.  Kita akan hancur dan binasa sia-sia.<br />
Rasul tak ingin umatnya harus menderita hanya karena tak mampu bersabar.  Tak bisa ‘mengelola’ emosi.  Sesungguhnya, sabar melejitkan kecerdasan emosi manusia.  Dan itulah yang diajarkan Rasul pertama kali kepada umatnya.</p>
<p>Ketika darah pertama telah mengalir.  Ketika pintu kemarahan sudah membuka.  Dan ketika dendam mulai tersulut.<br />
Kepada Sa’ad, Rasul tidak memarahinya. Karena tak ada gunanya.  Toh Sa’ad sendiri menyesali kemarahan yang tumpah ini.  Ia merasa telah membawa teman-teman dan Rasul yang dicintainya, kedalam situasi yang membahayakan.  Situasi yang mereka belum siap menanggungnya.<br />
“Sa’ad saudaraku, darahmu fi sabilillah&#8230;” ucap Rasul dengan sangat bijak.  Sekaligus menenangkan gemuruh penyesalan dalam dada Sa’ad.  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-darah-pertama-kaum-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Keluarga Yang Terpecah Pecah</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-keluarga-yang-terpecah-pecah/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-keluarga-yang-terpecah-pecah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 01:36:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[Magnet Islam, mulai menyebar dengan sangat indahnya. Spora spiritual yang ditawarkannya segera disambut antusias bagi jiwa-jiwa yang kehausan.  Konsep monotheis agama ini, sungguh menjadi pilar-pilar penggoda dalam membuka mata hati kaum Quraisy akan kebenaranan yang ditawarkannya.
Tapi lebih dari itu, sesungguhnya,  yang pertamakali dilihat dan disimak oleh orang-orang, tentu saja adalah siapa yang mengucapkannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Magnet Islam, mulai menyebar dengan sangat indahnya. Spora spiritual yang ditawarkannya segera disambut antusias bagi jiwa-jiwa yang kehausan.  Konsep monotheis agama ini, sungguh menjadi pilar-pilar penggoda dalam membuka mata hati kaum Quraisy akan kebenaranan yang ditawarkannya.<br />
Tapi lebih dari itu, sesungguhnya,  yang pertamakali dilihat dan disimak oleh orang-orang, tentu saja adalah siapa yang mengucapkannya.  Sosok Rasul menjadi dayatarik pertama bagi mereka.  Siapa dan bagaimana Rasul, telah mereka ketahui dengan sangat baik.  Bagimana keindahan prilakunya, akhlaknya yang terjaga dan kata-katanya yang senantiasa dalam kebenaran.   Benar-benar pribadi yang mengesankan dan semua itu telah terbukti sejak dulu.<br />
Artinya, karakterbaik itu terbentuk bukan sejak Muhammad bertahanuts lalu mendapat wahyu di gua Hira.  Tidak.  Sejak Rasul kecil hingga remaja, dewasa dan kemudian menikah, ia telah menampakkan pribadi yang kuat pendirian.  Istiqomah. Konsistensinya dalam memegang kebenaran sungguh mengagumkan.  Kendati berbagai cobaan, godaan dan tekanan bukannya tidak ada. Namun, Alhamdulillah, berkat pertolongan dan kehendak Allah jua, Rasul bisa tampil dengan sebaik-baik teladan.<br />
Setelah embrio pertama terbentuk, embrio-embrio selanjutnya, dengan kecepatan yang cukup fantastis, mulai terbentuk pula.  Satu persatu keluarganya mulai mengikuti kebenaran yang didakwahkannya.<br />
Abbas dan Hamzah, kendati belum masuk Islam, namun para istrinya telah tidak sabar akan keragu-raguan suami mereka.  Ummu Fadhl dan Salamah segera menjadi muslim.  Begitu pula istri ja’far, Asma dan bibi Muhammad, Shafiyah binti Abdul Muthalib.  Ummu Aiman, budak pengasuhnya segera dibebaskan dan langsung ikut bergabung.<br />
Tak bisa dipungkiri lagi, kedatangan ajaran baru ini pelan-pelan mulai memecah belah keutuhan keluarga.  Abu Thalib bersama putra sulungnya, Thalib dan Aqil, tetap memeluk agama nenek moyang.  Walaupun mereka agak toleran dengan agama Islam.  Bibi Muhammad yang lain, Arwah, karena mengikuti putranya Thulayb, bujang 15 tahun, ikut masuk Islam.  Dan Arwah selalu memarahi saudaranya Abu Lahab karena sering mencela Islam.  Saudara tiri Khadijah, Nawfal menjadi musush Rasul yang paling sengit, tetapi putranya Aswad, malah masuk Islam.<br />
Suami Zainab (anak perempuan Rasul), Abu Al-‘Ash tidak ikut bergabung namun suami istri yang saling mencintai ini tetap rukun.  Abu Bakar sendiri kesulitan mengislamkan putranya ‘Abdul Ka’bah.  Namun anaknya yang masih balita, Aisyah, segera di Islamkan Abu Bakar dan istrinya, Ummu Rumman.</p>
<p>Selain keluarga yang telah terbentuk, konflik ini juga menyeret perkawinan yang baru saja akan dimulai.  Atikah, sepupu Rasul, anaknya yang satu Abdullah menolak masuk Islam, namun anaknya yang lain, Zuhayr, agak lunak sikapnya.  Hindun, anak perempuannya akan segera dinikahkan dengan Abu Salamah.  Semua telah bergembira hati namun kemudian menjadi kecewa luar biasa begitu mendengar Abu Salamahmasuk Islam. Hindun, akhirnya juga ikut suaminya, menjadi muslimah.<br />
Keluarga Suhayl yang sedang menanjak, akan menikahkan putrinya Sahlah dengan Hudzayfah, putra ‘Utbah dari Bani Syams.  Pernikahan ini diharapkan dapat semakin memperkuat kedua klan. Tapi, apa hendak di kata.  Sahlah dan Hudzayfah malah masuk Islam diiringi kakak mereka, Umm Kultsum dan suaminya, Abu Sabrah.  Ini berarti Suhayl kehilangan dua putri dan menantu yang telah dipilihnya dengan teliti.  Ia juga kehilangan tiga saudara, Salith, Sakran dan Hathib.  Tak ada lagi yang bisa diperbuat Suhayl.  Ia mengundurkan diri secara spiritual dan dengan sendu mundur dari linkaran sosial.  Ia pasrah melihat keluarganya tercerai berai. </p>
<p>Kenyataan bahwa   ajaran baru ini telah menimbulkan perpecahan di dalam keluarga sungguh amat menakutkan.  Fenomena ini cukup menggoncangkan masyarakat kesukuan Arab yang tengah berupaya menggalang kembali solidaritasnya di atas ikatan darah dan afiliasi pakta-pakta.<br />
Itulah sebabnya Rasul harus segera mengambil tindakan, mengatur lagi strategi.  Agar konflik yang mulai akut ini tidak mematikan dakwahnya.<br />
Kaum Quraisy pun kelihatan sudah mulai waspada terhadap agama baru ini.  Kalau sebelumnya mereka menganggap enteng dan menyangka nasibnya akan sama dengan ajaran-ajaran lain. Kali ini mereka merasa mendapat ‘lawan berat’ yang cukup tangguh.  Kini, belum lagi dalam hitungan tahunan, pengikut Muhammad telah cukup besar jumlahnya.  Kemana pun orang-orang Quraisy itu pergi, mereka selalu saja bertemu dnegan pengikut-pengikut Muhammad.  Rasul baru ini sedikit membuat mereka geram pada akhirnya. Mereka pun diam-diam mulai mengawasi dengan ketat pergerakan ajaran ini.<br />
Dalam menjalankan ibaadat, kaum Muslim masih mengadakannya secara sembunyi-sembunyi.  Rasul masih melarang mereka untuk ‘unjuk diri’.  Saatnya belum lagi datang.<br />
Tentu saja, embrio lapis kedua ini belum matang.  Masih terlalu rapuh.<br />
Sehingga seringkali mereka shalat di bukit-bukit terpencil, dalam kamar-kamar tertutup mereka, atau sesekali, bila sedang mujur, mereka bisa shalat di Kabah ketika saat sepi.  Dan dalam kelompok kecil.<br />
Rasulullah menginginkan kelompok kecil ini dapat dibangun atas pondasi ukhuwah/ persaudaraan yang kuat dan ta’awun/ solidaritas yagn tinggi yang akan membawa mereka secara  bersama-sama ke posisi yang mantap.</p>
<p>Namun Rasul tetap menyuruh umatnya agar berhati-hati.  Benturan harus dihindari sedapat mungkin. Rasul juga menekankan berkali-kali, saat ini kaum Muslimin belum boleh mencampuri urusan orang lain dengan mengkritik, melakukan konfrontasi   atau menantang  secara terang-terangan.   Pokoknya, kaum Muslimin tidak boleh menampilkan ketidaksetujuan.  Kecuali, tentu saja, dalam keadaan terpaksa.<br />
Jadi, apapun yang telah dilakukan orang-orang Quraisy, tidak berkomentar adalah jalan paling bijaksana saat itu.<br />
Ideologi yang membungkus sikap kaum Quraisy, sudah begitu mengakar dan mendominasi kehidupan mereka, menentang atau bahkan menantang bukanlah cara yang bijak.<br />
Rasul masih harus memperbaiki dan membina aqidah umatnya yang masih baru ini.  Karena sebagai umat yang masih baru, masih banyak fikrah atau pemikiran yang perlu disampaikan dan dipahami umatnya.  Dan tentu saja untuk menyamakan pemikiran.  Ibarat rumah, Rasul belum lagi membuat podasinya.  Ia hanya baru meletakkan ‘batu pertama’.  Dan batu pertama itu belum tertanam dengan benar dan kuat.<br />
Namun pekerjaan harus dilakukan dengan tenang dan rahasia, agar sang macam tidak terbangun.<br />
Aqidah menjadi semacam pondasi pertama yang harus ditanam Rasul.  Karena hanya aqidah yang benarlah yang akan mampu memancarkan ibadah dan perilaku yang benar.  Pada saat yang sama aqidahlah yang akan memberikan keteguhan jiwa diatas kebenaran dan pengorbanan di jalannya.  Segala bentuk keraguan, ketidakpastian, nifaq dan penyimpangan dari jalan yang benar, terjadi karena lemahnya aqidah didalam hati setiap muslim.<br />
Aqidah bukan masalah kepuasan intelektual yang dingin, juga bukan masalah dorongan sentimentil yang tidak berlandaskan intelektual.  Tetapi aqidah adalah semacam visualisasi dari iman seorang muslim.</p>
<p>Keimanan yang tertanam dalam hati, akan terproyeksikan dengan sangat indahnya dalam setiap tindak dan ucap seorang muslim.  Dan ibarat film, adegan yang tampillah yang akan dinilai dan dilihat orang lain.  Yang akan membuat orang terpesona, kagum, jatuh cinta.  Tetapi bisa juga malah jadi benci, tidak suka, kesal dan marah.<br />
Itulah sebabnya Rasul berkepentingan untuk meluruskan sekaligus mewarnai aqidah dari kelompok awal yang baru saja terbentuk dengan susah payah ini.<br />
Rasul ingin kelompok awal ini menjadi semacam jembatan pelangi penuh warna, penuh daya pikat sekaligus penuh misteri karena hanya orang-orang tertentu yang bisa menaikinya.<br />
Aqidahlah yang bisa menjelaskan dengan baik dan benar sebuah iman.  Kelak, strategi jitu ini benar-benar seperti revolver beramunisi atom.  Daya ledak dan jangkaunya benar-benar luarbiasa.<br />
Kelompok awal ini terbukti menjadi prajurit yang paling handal dan kuat dalam sejarah ‘kemiliteran’ yang pernah ada.  Tak ada satu pun dari mereka yang berkhianat bahkan murtad dari ajaran Islam.  Kendati terjadi tribulasi dan konflik fisik mulai terbuka.<br />
Generasi di awal dakwah ini menjadi generasi Islam yang terbaik dari segi kualitas iman, prilaku, jihad dan pengorbanan.  Mereka juga menjadi generasi pemimpin (jiil al-qiyadah) bagi masyarakat yang terbina.</p>
<p>Jumlah mereka sekitar 60 orang dan Rasul memutuskan untuk melakukan pembinaan di rumah salah seorang dari mereka. Agar pembinaan menjadi lebih terkonsentrasi, lebih khusuk, aman sehingga diharapkan usaha mentazkiyah (menyucikan  diri)  kaum muslimin dan mengajarkan mereka wahyu-wahyu Allah yang telah turun bisa lebih optimal.<br />
Salah seorang dari mereka, Al Arqam bin Abi al Arqam al Makhzumiy memiliki rumah yang terletak di atas bukit shafa dan terpencil sehingga akan aman bila pembinaan dilakukan disana.  Kegiatan ini berjalan hingga kira-kira tiga tahun lamanya.<br />
Darul (rumah) Al Arqom menjadi tempat sekaligus pusat dakwah umat Islam pertama.  Di sinilah Rasul bisa berkonsentrasi menjalankan pembinaan dengan tenang dan aman.  Sebuah proses implantasi telah dimulai.  Untuk kemudian tahapan pembuahan berjalan satu persatu dengan alamiah.  Sebelum embrio ini bisa ‘lahir’ dengan selamat dan diberkahi Allah Yang Memiliki Kehidupan ini sendiri. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-keluarga-yang-terpecah-pecah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Kabar Dari Langit</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-kabar-dari-langit/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-kabar-dari-langit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 01:34:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=852</guid>
		<description><![CDATA[“Itulah anak muda dari klan Hasyim yang membawa kabar dari langit” ujar orang-orang Quraisy sambil menunjuk pada  Rasul yang melewati mereka yang tengah duduk-duduk di sekitar Kabah.
Pada mulanya reaksi mereka teramat biasa, seperti mereka biasa menanggapi para pendeta atau rahib yang berteriak-teriak di pasar malam Ukaz atau di sebuah bukit. Menyebarkan ajaran mereka.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Itulah anak muda dari klan Hasyim yang membawa kabar dari langit” ujar orang-orang Quraisy sambil menunjuk pada  Rasul yang melewati mereka yang tengah duduk-duduk di sekitar Kabah.<br />
Pada mulanya reaksi mereka teramat biasa, seperti mereka biasa menanggapi para pendeta atau rahib yang berteriak-teriak di pasar malam Ukaz atau di sebuah bukit. Menyebarkan ajaran mereka.  Mekah, sebagai pusat transit tentu tak bisa menutup diri dari ide-ide baru kendati gagasan itu seringkali menyesakkan dada mereka. Apalagi ditambah sudah tidak adanya lagi pemimpin di Mekah sejak Abdul Muthalib turun tahta.<br />
Mekah, benar-benar menjadi sebuah kota terbuka.</p>
<p>Itupula sebabnya mereka tak menghiraukan adanya agama baru yang dibawa oleh seorang anak muda yang bahkan mengaku-aku sebagai Nabi.  Sebuah gagasan yang semula terdengar teramat biasa bagi telinga mereka.  Karena mereka hanya mendengar sepintas saja tentang agama baru ini.  Dan sebagaimana sebuah informasi yang diterima sepotong sepotong, maka bias yang timbul seringkali menimbulkan luka yang dalam dan serius.  Yang baru disadari lama setelah itu.<br />
Betul Muhammad membawa ajaran baru, hanya saja konsep Satu Tuhan sesungguhnya cukup mengejutkan mereka.  Mereka cukup punya kekhawatiran bahwa hal ini bisa merembet pada tuhan-tuhan kesayangan mereka, para berhala yang mereka buat sendiri.  Namun karena Muhammad tak pernah mencela perbuatan mereka dalam kepercayaan ini, mereka masih bisa berdiam diri.  Membiarkan Rasul baru itu asyik dengan kegiatan dakwahnya.</p>
<p>Mereka percaya ajaran baru itu akan bernasib sama dengan ajaran para pendeta, rahib atau orang-orang ahli seperti Quss, Umayya atau Waraqa.  Orang-orang pasti akan kembali pada Latta, ‘Uzza atau Hubal.<br />
Rasul tentu saja belum secara terang-terangan menghujat berhala-berhala itu. Ia berpikir sikap seperti itu seperti membangunkan seekor beruang kutub, setelah enam bulan tertidur dengan perut lapar.  Saat ini Rasul menekankan kepda para pengikutnya untuk tetap menjaga dan memperkuat  barisan.<br />
Sikap ini benar-benar dimanfaatkan oleh Rasul untuk cepat-cepat menyebarkan ajaran Islam.  Tanpa kenal istirahat, Rasul dan barisan para pelopor ini seperti bergerak dengan kecepatan seekor cita.<br />
Banyak kaum kerabat Rasul yang kemudian secara cepat atau butuh sedikit pemahaman, bersedia menerima ajaran ini. Seperti anak Abu Thalib yang diangkat anak oleh Abbas, Ja’far, teman dekat dus sepupu Rasul, Abdullah bin Jahsy dan saudara perempuannya Zainab, serta saudara lelakinya Ubaidillah.  Uubaidillah adalah seorang hanif yang telah lama mencari bentuk alternatif agama lain.   Kendati banyak kerabatnya akhirnya memeluk Islam, kekecewaan terbesar Rasul adalah ketika ia tidak berhasil menarik paman-pamannya, kedalam barisannya.  Paman sebaya yang disayanginya, Abbas dan Hamzah (saat itu) tidak tertarik dengan tawarannya. Begitu pula Abu Thalib yang telah menyatakan ketidakmungkinannya untuk meninggalkan agama nenek moyangnya.  Usianya yang sudah lanjut, kemungkinan besar menjadi alasan utamanya kenapa ia tidak mau capek-capek mengubah keyakinannya.  Kendati ia percaya sepenuhnya pada Muhammad, mendukungnya dan tetap menghormatinya secara pribadi.  Itu sebabnya ia tidak keberatan Ali dan Ja’far, anaknya, ikut agama ini.   Sebagai bukti dukungannya, Abu Thalib menyatakan secara terbuka bahwa ia bertindak sebagai pelindung Rasul.  Dukungan Abu Thalib yang menjabat sebagai ketua klan Hasyim,  menjadi penting bagi Rasul.  Karena Rasul paham sekali, pernyataan resmi perlindungan ini, untuk sementara, membuat posisinya cukup aman dari gangguan kaum Quraisy.  Tanpa adanya perlindungan, seorang anggota suku klan akan bebas untuk diperlakukan apa saja oleh anggota suku lainnya.  Sekalipun itu dibunuh.  Dan tak seorang pun akan berani menolong.  Karena ia telah di’buang’. Ia menjadi khali. Sebatang kara di padang pasir yang ganas tanpa ampun.  Sementara seringai hyne gurun akan setia menunggu hingga saat tidur tiba.</p>
<p>Kendati para paman yang disayanginya tidak bersedia menerima ajakannya, namun Rasul yang penyabar itu merasa yakin Allah akan menolongnya.  Suatu saat, dengan ijin Allah, Rasul bisa membuang batu-batu yang menyumbat gairah spiritual mereka. Melepaskan lapisan hitam yang menghalangi pupil mereka untuk melihat cahaya yang Haq.   </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-kabar-dari-langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Dakwah Rahasia</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-dakwah-rahasia/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-dakwah-rahasia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 01:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[Embrio pertama sebuah masyarakat Muslim, telah dibentuk Rasul.  Itulah keluarganya sendiri.  Sebuah keluarga yang semula berpencar-pencar dalam hal kepercayaan kini disatukan Allah dalam satu ikatan kukuh.  Mereka semua beriman kepada Allah dan Muhammad sebagai RasulNya.  Betapa indahnya nuansa yang kini menyelimuti keluarga itu.  Sebuah atsmosfer yang sudah lama sesungguhnya mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Embrio pertama sebuah masyarakat Muslim, telah dibentuk Rasul.  Itulah keluarganya sendiri.  Sebuah keluarga yang semula berpencar-pencar dalam hal kepercayaan kini disatukan Allah dalam satu ikatan kukuh.  Mereka semua beriman kepada Allah dan Muhammad sebagai RasulNya.  Betapa indahnya nuansa yang kini menyelimuti keluarga itu.  Sebuah atsmosfer yang sudah lama sesungguhnya mereka rindukan.<br />
Kini mereka punya satu Tuhan yang sama yang mereka percayai, mereka bisa beribadah secara bersama-sama pula. Kendati saat itu masih harus sembunyi-sembunyi.  Lebih dari itu semua, mereka berada pada barisan yang sama!  Betapa bahagianya!</p>
<p>Sejak itu Rasul bersama Khadijah dan anak-anak mereka, melakukan ibadah dengan tekun dan khusuk.<br />
Namun, embrio ini masih terlalu muda dan lemah untuk menetas di jagat yang penuh sengatan matahari ini.  Ia masih harus diam lebih lama dalam cangkang yang kuat sebelum mentas.  Dan Rasul berpikir untuk membuat embrio-embrio lain agar komunitas ini bisa diperluas.  Sebuah strategi dakwah mulai disusun kembali.  Setelah rencana pertama mengislamkan keluarganya berhasil dengan mulus.<br />
Rasul akhirnya menetapkan untuk mencoba memperkenalkan Islam kepada teman-teman yang mempercayainya.  Sebetulnya ini rencana mudah.  Karena Rasul dikenal sebagai AL Amin, artinya semua orang pasti percaya ia akan berkata jujur.  Cuma masalahnya, apakah orang-orang itu memiliki akhlak yang terpuji,  sehingga mau diajak berbuat kebajikan dan terlebih-lebih menyembah Tuhan yang Tunggal?<br />
Tentu saja tidak semuanya.  Mereka bisa saja percaya Rasul adalah orang yang Al Amin, tapi bila itu menyangkut berhala, urusan kepercayaan terhadap Al Amin bisa menjadi urusan kesekian setelah fanatisme buta mereka terhadap berhala.  Kemarahan yang tersulut bisa menutupi kebenaran yang pada dasarnya mereka percayai bila itu keluar dari mulut Rasul.</p>
<p>Artinya, mereka percaya pada Rasul apapun itu sepanjang Rasul tidak menyuruh mereka untuk tidak percaya pada berhala.<br />
Itulah sebabnya lapis kedua setelah keluarga, adalah orang-orang yang punya akhlak cukup baik dan diperkirakan mau menerima ajaran ini.  Sehingga konfrontasi secara langsung bisa dihindarkan.  Ini bukan moment yang tepat melakukan konfrontasi semacam itu. Embrio ini betul-betul masih sangat lemah, sehingga tantangan fisik yang sangat keras yang bisa saja dialami, bisa dihindari.  Tapi bila itu terjadi, resiko pembunuhan bukan hal yang mustahil mengingat karakteristik paganisme yang bengis. Bak membabat cendawan dengan parang.  Sekali ayun, maka akan habislah sudah.  Tamatlah usia agama baru. Karena itulah saat ini betul-betul yang diperlukan adalah membangun jaringan yang kuat.<br />
Untuk memperluas jaringan, Rasul memilih berdakwah pada kerabat terdekat atau sahabat-sahabat terbaik mereka.  Pilihan pertama jatuh pada Abu Bakr bin Abi Quhafa dari kabilah Taim.   Abu bakar adalah sahabat terbaik yang dimiliki Rasul dan juga Khadijah.  Ia dikenal sebagai orang yang bersih, jujur dan baik hati.  Itulah sebabnya Rasul tanpa ragu menjelaskan agama baru ini padanya.  Rasul mengajaknya untuk menyembah Allah Yang Tunggal.  Tiada sekutu bagiNya.  Dan bahwa Tuhan mengangkatnya sebagai Rasul Allah di muka bumi ini.<br />
Karena Rahmat Allah jualah, dakwah ini disambut terbuka dan begitu mulusnya oleh Abu Bakar.  Sahabat tercinta ini dengan penuh kesadaran mengimani apa yang diucapkan Rasul.  Ia tahu, Muhammad tak pernah berdusta.  Muhammad adalah pribadi paling halus dan berbudi yang pernah ia kenal.  Namun sebaliknya, Abu Bakar sendiri adalah jiwa yang sedang mendamba kebenaran.  Sebuah jiwa yang gelisah akan rusaknya moral masyarakatnya.  Sehingga, jiwa manalagi yang memang sedang mendamba kebenaran hakiki ragu untuk meninggalkan berhala-berhala tak berguna itu?  Jiwa manalagi yang rindu pada Tuhannya untuk segera meninggalkan kebatilan dan kesesatan?</p>
<p>Abu Bakar masuk Islam! Ah, betapa suka citanya Muhammad menemukan sekutu yang amat berarti ini.  Tak henti-hentinya ia mensyukuri nikmat Allah ini.  Kedudukan Abu Bakar dimata kaumnya cukup terpandang, ucapan-ucapannya didengar oleh orang-orang.  Ia menguasai permasalahan dan seluk beluk bangsa Arab.  Sebagai pedagang ia dikenal banyak relasi dan cukup dihormati, seperti reputasi yang dimiliki Khadijah.<br />
Keimanan Abu Bakar mempermudah dakwah Rasul selanjutnya.<br />
Berkat bantuan Abu Bakar, berturut-turut  Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Talhah bin ‘Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqash dan Zubair bin’l-‘Awwam mengikutinya masuk Islam.  Kemudian disusul Abu ‘Ubaida bin’l-Djarrah.  Inilah gelombang pertama yang menyatakan keimanannya pada Rasul.<br />
Gelombang berikutnya yang menyapu lebih dasyat lagi berhasil menambah jumlah komunitas agama muda ini.  Hingga mencapai 40 orang.  Suatu jumlah yang cukup fantastis mengingat inti ajaran ini yang cukup radikal. Mengejutkan bagi masyarakat Arab yang menganut paganisme dimana perbudakan masih merajalela dan ketidakadilan sosial menjadi pandemi yang mengerikan.  Gagasan inti Islam yang  mengajarkan kesamaan hak dan kedudukan semua umat manusia cukup menjadi magnet bagi mereka yang tertindas karena sistem sosial yang berlaku.  Mereka golongan lemah (dhu’afa’un-nas) secara ekonomi dan sosial yang merindukan keadilan dan kesejahteraan.  Namun hirarki, ketidakadilan dan pembagian kekuasaan yang teramat pincang juga menimbulkan rasa tidak puas golongan muda (ahdats ar-rijal) Arab yang tidak terlalu tergila-gila akan konsep kapitalisme yang dianut ayah-ayah mereka. Itu pula sebabnya kaum muda adalah golongan yang juga banyak merasakan magnet Islam ini untuk kemudian mengimaninya.  Konsep Satu Tuhan yang diusung Rasul benar-benar membuat kaum muda ini terpikat.  Mereka adalah generasi muda dengan pemikiran yang lebih maju dan rasional.</p>
<p>Turunnya wahyu dalam bahasa yang luar biasa indahnya itu juga menjadi semacam sinar diekor kunang-kunang.  Berkerlap-kerlip ditengah kegelapan malam.  Dan ketika wahyu itu dibacakan, sesuatu yang terkubur begitu dalam di hati mereka  seakan tersentuh lalu melesak keluar.  Bersamaan dengan kerinduan sekaligus mimpi yang secara tak sadar terukir dalam kalbu mereka.<br />
Namun sesungguhnya, dasar keimanan mereka adalah mencari kebenaran yang hakiki.  Dimana tuhan-tuhan yang mereka sembah mau menyodorkan ajaran yang rasional, adil dan tentu saja terbuka pada hal-hal baru.  Dan kebenaran hakiki itu betul-betul disebarkan Nabi Muhammad.</p>
<p>Diluar itu, konsep Satu Tuhan benar-benar membuat mereka terkejut.  Ini benar-benar diluar pemikiran mereka dimana mereka terbiasa pada konsep tuhan dengan kekuasaan tertentu.  Yang kadang kekuasaan itu bisa menunjukkan bahwa satu tuhan lebih hebat dan menakutkan dibanding tuhan lainnya.  Tuhan yang menguasai api tentu lebih menakutkan dibanding tuhan yang mengatur cuaca.<br />
Itulah sebabnya dalam berdakwah Rasul lebih suka mengedepankan kosep Tuhan Yang Satu.  Yang tiada sekutu baginya.  Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta ini, yang  menciptakan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, angin, gunung, lautan.  Satu Tuhan yang  menguasai segala-galanya.  Ini benar-benar agama yang rasional.  Karena sesungguhnya sulit sekali membayangkan bila tuhan api bertengkar dan kemudian berkelahi dengan tuhan tumbuh-tumbuhan.  Apa yang terjadi?  Siapa yang menang dan siapa yang kalah?  Bagaimana bila ada tuhan yang mati?<br />
Rasul juga tidak menjanjikan kehidupan ekonomi dan kedudukan sosial yang lebih baik. Tapi konsep bahwa semua mahkluk adalah sama di hadapan Allah cukup menggetarkan pilar-pilar spiritual mereka.  Tuhan manalagi yang menganggap semua mahkluk ciptaannya berhak mendapat cinta dan perhatian yang sama kecuali Tuhan Yang Sesungguhnya.  Jika Tuhan itu menentang penindasan antar umat manusia, tentu inilah Tuhan Yang Benar-benar.  Inilah Tuhan yang selama ini mereka cari-cari.  Tuhan yang mereka rindu-rindukan.  Yang akan membimbing mereka kearah kebaikan.  Membawa mereka kepada kebahagiaan hakiki.<br />
Tentang Muhammad yang mengaku sebagai utusan Allah yang membawa wahyu-wahyu dariNya sesungguhnya tidak mereka persoalkan.  Karena reputasi Muhammad selama ini cukup menjadi jaminan bagi mereka, bahwa apa-apa yang diucapkan Muhammad hanyalah kebenaran semata.</p>
<p>Akhlak Muhammad yang mulia menjadi dasar utama kemudahan mereka menerima ajaran baru yang luarbiasa itu.  Dan mereka tidak keberatan bila dipimpin oleh Muhammad.  Siapa pula yang mampu menolak pribadi seindah Nabi Muhammad?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-dakwah-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
