بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dzulhijjah adalah nama bulan ke 12 atau bulan terakhir dari kalender Hijriah.  Bulan Dzulhijjah disebut juga bulan haji, bulan Haram dan Hari Raya Iedul Adha.

Bulan Dzulhijjah  disebut bulan haji karena ia termasuk bulan bulan haji [ Asyhrul Hajj ] dan di bulan inilah puncaknya pelaksanaan rangkaian ibadah haji, yakni tanggal 8 – 12 Dzulhijjah.

Bulan Dzulhijjah juga termasuk satu dari empat bulan Haram [ Rajab, Muharram, Dzulkaidah dan Dzulhijjah ] yakni bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Dan di bulan inilah jatuhnya perayaan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban.

Kata Dzulhijjah berasal dari bahasa  Arab [ ذو الحجة ] yang terdiri dari dua kata.

  • Dzul [ ذو ] artinya pemilik
  • Al Hijjah [ الحجة ]  artinya haji.

Dalam kitab Tahdzibul Asma  [ 4/156 ] disebutkan bahwa nama Dzulhijjah maksudnya adalah karena ibadah haji  [ puncaknya] dilakukan pada bulan ini. Setelah ibadah haji dimulai pada pertengahan bulan Dzulkaidah, dan diakhiri di awal bulan Dzulhijjah.

Dan ritual ini telah dilakukan oleh orang Arab, sejak zaman jahiliyah, sebagai bentuk pelestarian terhadap ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissallam.  Oleh Allah SWT waktu pelaksanaan haji  tetap mulai dilaksanakan di bulan Dzulkaidah dan diakhiri di bulan  Dzulhijjah.  Namun tentu syariatnya telah diubah sesuai dengan syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah.

 


Menunaikan Haji 

Amalan yang utama di bulan Dzulhijjah ini adalah haji. Untuk para wanita, berhaji itu lebih afdhol daripada berjihad. Apalagi jika hajinya adalah haji mabrur, itu bahkan bisa mengalahkan jihad. Demikian penjelasan Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif (hal. 463-464).
Dari  Aisyahummul Mukminin– radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ : لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ

“Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” ( HR. Bukhari no. 1520 )


Hari Khusus di bulan Dzulhijjah.

Hari Tarwiyah [ arab: التروية ] :

Tanggal 8 Dzulhijjah disebut hari tarwiyah.  Tarwiyah berasal dari kata irtawa – yartawi [arab: ارتوى – يرتوي ], yang artinya banyak minum.

Karena pada hari ini, masyarakat banyak minum dan membawa air untuk perbekalan hari setelahnya. Ada juga yang mengatakan, tarwiyah dari kata ar-rawiyah [arab: الرَّوِيَّةُ ], yang artinya berfikir atau merenung.

Disebut tarwiyah, karena pada tanggal 8 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berfikir dan merenungkan isi mimpinya. ( Al Qamus Al Muhit, kata: ra-wi-ya )

Hari Arafah [ arab: عرفة ] 

Tanggal 9 Dzulhijjah disebut hari Arofah, karena pada tanggal ini, jamaah haji melakukan wukuf di Arafah. ( Al Mu’jam Al Wasith, kata: ‘arafah ). Dengan demikian, hadis yang menyebutkan anjuran berpuasa ‘arafah adalah puasa di tanggal 9 Dzulhijjah.

Hari Raya Idul Adha [ Qurban ]  atau An Nahr [ arab: النحر : menyembelih ]

Tanggal 10 Dzulhijjah disebut hari  raya Idul Qurban  An Nahr. . Kata An Nahr secara bahasa artinya menyembelih binatang di bagian pangkal lehernya ( tempat kalung ).

Ini merupakan cara yang digunakan dalam menyembelih onta. Karena onta terlalu sulit untuk disembelih di bagian ujung leher. Disebut hari Nahr, karena pada hari ini banyak orang yang menyembelih onta qurban. ( Al Qamus Al Muhit, kata: An Nahr )

 


Kemuliaan Bulan Dzulhijjah

Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini ( yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah ).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”

Di dalam sepuluh hari bulan Dzulhijah terdapat hari Arofah dan hari an nahr ( Idul Adha ). Kedua hari tersebut adalah hari yang mulia sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Qurth,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari an nahr ( Idul Adha ) kemudian yaumul qorr ( hari setelah hari an nahr ).”

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يوم عرفة ، ويوم النحر ، وأيام التشريق ، عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل وشرب

“Hari Arafah, hari berqurban, dan hari Tasyriq adalah hari raya kita, wahai kaum muslimin. Itu adalah hari makan dan minum.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, & Turmudzi )

 


Amal Sunnah di Bulan Dzulhijjah

Pertama, Memperbanyak puasa di sembilan hari pertama

  • Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)

Ada riwayat yang menyebutkan, “Puasa pada hari tarwiyah ( 8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.” Ibnul Jauzi [ Lihat Al Mawdhu’at, 2/565 ], Asy Syaukani [ Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96 ], dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah). [ Lihat Irwa’ul Gholil no. 956 ]

Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadisnya dha’if ( lemah ). Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.

  • Puasa Arofah [ 9 Dzulhijjah ]

Dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده

“…puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” ( HR. Ahmad & Muslim ).

Disamping itu, terdapat keterangan khusus dari Ummul Mukminin, Hafshah radhiallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad, dan dinilai shahih oleh Al Albani)

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari Asyura ( 10 Muharram ), berpuasa tiga hari setiap bulannya. [ HR. Abu Dawud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih ]

Namun ada sebuah riwayat dari Aisyah yang menyebutkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” [ HR. Muslim no. 1176  ]

Mengenai riwayat ini, Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah, yaitu hadits pertama. Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya. [ Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460 ]

Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah ( dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah ) atau berpuasa pada sebagian harinya.

Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari Ied. [Lihat Fathul Bari, 3/390 dan Latho-if Al Ma’arif, hal. 460 ]

Jangan Tinggalkan Puasa Arofah

Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro ( 10 Muharram ) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” [ HR Muslim no 1162 ]

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. [ Lihat Fathul Bari, 6/286 ]

Keutamaan Puasa Arofah  adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat. [ Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi’ Al Islam ]

Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” [ HR. Tirmidzi no. 750. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih ]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa Arofah di Arofah. Beliau mengatakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji  bersama Abu Bakr,  beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan Utsman , beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.” [ HR. Tirmidzi no. 751. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih ]

Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafaur Rosyidin ( Abu Bakr, Umar dan Utsman ), juga agar lebih menguatkan diri dalam berdoa dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas ulama. [ Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 2/137, Al Maktabah At Taufiqiyah  ]

Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari Hari Tasyriq.

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وقد ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده وسمى وكبّر ووضع رجله على صفاحهما

“Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [ Muttafaq’alaih ].

Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

Takbiran

Takbiran di bulan Dzulhijjah ada dua:

  • Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.

Takbir mutlak menjelang Idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst. Dalilnya adalah:

Pertama, Allah berfirman dalam surat Al Hajj ayat 28 :

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah   pada hari yang telah ditentukan…”

Kedua, Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 203, yang artinya:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah   dalam beberapa hari yang berbilang…”

Keterangan:

Ibn Abbas mengatakan:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ

“Yang dimaksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ”beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Al Bukhari secara Mua’alaq, bab: Keutamaan beramal di hari tasyriq)

Ketiga, hadis dari Abdullah bin Umar , bahwa Nabi bersabda:

ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه من العمل فيهن من هذه الأيام العشر فاكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد

“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad & Sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Keempat, Imam Al Bukhari mengatakan:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا .

“Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.” (HR. Al Bukhari, bab: Keutamaan beramal di hari tasyriq)

  • Takbiran yang terikat waktu (Takbir Muqayyad)

Takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat Asar tanggal 13 Dzulhijjah. Berikut dalil-dalilnya:

Pertama, dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu,

أنه كان يكبر من صلاة الغداة يوم عرفة إلى صلاة الظهر من آخر أيام التشريق

Bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi dan sanadnya dinilai shahih oleh Al Albani)

Kedua, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,

أنه كان يكبر من صلاة الفجر يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق، ويكبر بعد العصر

Bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: “Shahih dari Ali ”)

Ketiga, dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu,

أنه كان يكبر من صلاة الفجر يوم عرفة إلى آخر أيام التشريق، لا يكبر في المغرب

bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). ( HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih )

Keempat, Dari Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

يكبر من صلاة الصبح يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق

Bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. ( HR. Al Hakim dan dinilai shahih oleh An Nawawi dalam Al Majmu’ ).

[table “” not found /]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.