بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Deklarasi Balfour adalah sebuah kesepakatan pengkhianatan yang dilakukan antara Inggris dengan Yahudi, yang isinya menyerahkan tanah Palestina kepada Yahudi.  Palestina yang saat itu jatuh dalam kekuasaan Inggris Raya saat Perang Dunia I, telah berkhianat terhadap agama mereka sendiri, Nasrani, dan telah melakukan penzoliman terhadap Palestina.

Deklarasi tersebut menyatakan :

Pandangan pemerintahan Yang Mulia dengan sanjungan pendirian tanah air nasional bagi orang Yahudi di Palestina, dan akan memakai dorongan terbagi mereka untuk mengayomi pengabdian dari obyek ini, ini secara jelas menyatakan bahwa tak ada hal yang harus dilakukan yang dapat menghakimi hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status politik yang dinikmati oleh Yahudi di negara manapun lainnya.

Deklarasi tersebut tercantum dalam sebuah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur Balfour kepada Lord Walter Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi Britania, untuk transmisi ke Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia. Teks deklarasi tersebut diterbitkan dalam pers pada 9 November 1917.

Kabinet Perang Britania mulai mengkondisikan masa depan Palestina yang menyusul deklarasi perang mereka terhadap Kekaisaran Utsmaniyah pada November 1914. Saat deklarasi tersebtu dimajukan, perang yang lebih besar mencapai puncaknya, dengan dua Sekutu Inggris dan Blok-Blok Terkait tak sepenuhnya kompak : Amerika Serikat mengalami kerugian, dan Rusia mengalami kebangkitan internal. Negosiasi tingkat tinggi pertama antara Inggris dan Zionis dapat diadakan dalam sebuah konferensi pada 7 Februari 1917 yang meliputi Sir Mark Sykes dan para pemimpin Zionis. Diskusi-diskusi berikutnya berujung pada permintaan Balfour, pada 19 Juni, dimana Rothschild dan Chaim Weizmann mengajukan sebuah kerangka dari deklarasi publik. Kerangka-kerangka lanjutan didiskusikan oleh Kabinet Inggris pada bulan September dan Oktober, dengan keterlibatan dari Yahudi Zionis dan anti-Zionis namun dengan tanpa perwakilan dari penduduk lokal di Palestina. Perilisan deklarasi akhir tersebut diotorisasikan pada 31 Oktober; diskusi Kabinet sebelumnya telah memajukan manfaat-manfaat propaganda di kalangan Yahudi di seluruh dunia bagi upaya perang Sekutu.

Kalimat pembuka dari deklarasi tersebut mewakili ekspresi pertama dari dukungan publik untuk Zionisme dari kekuatan politik besar. Istilah “tanah air nasional” tak sejalan dalam hukum internasional, dan secara intensional menimbulkan pertanyaan tentang apakah negara Yahudi searah dengan hal tersebut.

Perbatasan-perbatasan yang ditujukan pada Palestina tak spesifik, dan pemerintah Inggris kemudian menyatakan bahwa akta “di Palestina” artinya adalah tanah air nasional Yahudi dan tak ditujukan untuk meliputi seluruh Palestina. Paruh kedua deklarasi tersebut ditambahkan untuk mensatisfikasikan lawan-lawan dari kebijakan tersebut, yang mengklaim bahwa ini hal lain yang menghakimi penduduk asli Palestina dan mendorong antisemitisme melawan Yahudi di seluruh dunia. Meskipun deklarasi tersebut diserukan untuk hak politik di Palestina untuk Yahudi, hak untuk Arab Palestina, yang meliputi sebagian besar penduduk lokal, terbatas pada lingkup sipil dan agama. Pada tahun 1939, pemerintah Inggris menyadari bahwa pandangan penduduk lokal haruslah dicantumkan dalam catatan, dan pada tahun 2017, menyatakan bahwa deklarasi tersebut seharusnya diserukan untuk perlindungan hak politik Arab Palestina.

Deklarasi tersebut memiliki beberapa konsekuensi jangka panjang. Ini sangat meningkatkan dukungan populer untuk Zionisme, dan berujung pada pembentukan Mandat Palestina, yang kemudian menjadi Israel dan teritorial Palestina. Akibatnya, deklarasi tersebut dianggap menyebabkan konflik Israel-Palestina berkelanjutan, yang seringkali dianggap sebagai konflik paling berintrik di dunia. Kontroversi masih melingkupi sejumlah ranah, seperti apakah deklarasi tersebut berseberangan dengan janji-janji sebelumnya yang Inggris buat kepada Syarif Mekkah dalam korespondensi McMahon–Hussein.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .