بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Peristiwa di Thaif sungguh meninggalkan bekas yang mendalam dalam hati Rasulullah.  Penolakan mereka saat itu sangat mempengaruhi jiwa Rasulullah ﷺ , sehingga beliaupun bersedih. Namun kesedihan ini tidak berlangsung lama. Karena sebelum Rasulullah ﷺ sampai di Mekkah, saat melakukan perjalanan kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ mendapatkan pertolongan Allah Azza wa Jalla .

Pertolongan ini sangat berpengaruh positif pada jiwa Rasulullah ﷺ , mengurangi kekecewaan karena penolakan penduduk Thaif, sehingga semakin menguatkan tekad dan semangat Rasulullah ﷺ dalam mendakwahkan din (agama) yang hanif ini.

Sekarang, kita akan membahas bagaimana Rasulullah ﷺ ketika kembali lagi ke Mekah.  Sampai disini dulu, penting bai kita untuk memahami sistem yang berlaku dalam masyarakat arab pada saat itu.  Saat itu, sistem kesukuan yang demikian kuat, akan menyebabkan bila seseorang yang tidak lagi diakui atau bahkan dibuang dari sukunya, maka keselamatannya tidak lagi menjadi tanggungan.  Rasulullah berasal dari bani Hasyim.

Dan wafatnya  Abu Thalib merupakan pemimpin bani Hasyim, telah menyebabkan Rasulullah ﷺ kehilangan ‘perlindungan suku’ dari bani Hasyim.  Karena tongkat estafet kepemimpinan dari bani Hasyim, beralih ke Abu Lahab.  Padahal, Abu Lahab inilah yang meskipun paman Rasulullah ﷺ , tapi merupakan musuh Islam dan Rasulullah yang paling keras dan kejam.  Dengan jabatan kepala suku berada ditangannya, otomatis bani Hasyim telah melepaskan perlindungannya kepada Muhammad.  Dan itu sangat berbahaya bagi seseorang di arab dalam sistem kesukuan seperti itu.

Bagaimana dengan bani Khuwailid, baninya Khadijah?  Betul bani Khuwailid termasuk bani yang kuat di Mekah, namun wafatnya Khadijah sebelum Abu Thalib telah menyebabkan ‘putusnya’ hubungan Rasulullah ﷺ dengan bani Khuwailid.  Karena dalam bani Khuwailid, sama persis seperti bani Hasyim.  Sebagian menolak Islam dengan keras, sebagian menerima dan sebagian lainnya tidak bersikap apa apa.  Apalagi menantu Rasulullah, Abu Al Ash, suaminya Zaynab yang juga berasal dari bani Khuwailid, termasuk orang yang tidak bisa menerima Islam.  Meskipun Abu Al Ash sendiri juga tidak pernah menentang.

Dulupun, Abu Tahlib semasa hidupnya yang telah memberi perlindungan kepada Rasulullah ﷺ , dan dia mendapat tekanan keras dari seluruh suku Quraish karena penyebaran agama yang dilakukan Muhammad. Walaupun begitu, Abu Thalib tidak pernah berhenti mendukung Muhammad.

Itulah sebabnya Rasulullah pergi ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau.  Namun di Thaif, apa yang diharapkan Rasulullah tidaklah terjadi.

Lalu, bagaimana dengan nasib Rasulullah selanjutnya jika kembali ke Mekah?

Rupa rupanya, Allah memiliki rencana yang jauh lebih bagi Rasulullah ﷺ .  Sekembalinya Rasulullah ﷺ ke Mekah, semula beliau amat bersedih mengingat ia kini tidak lagi dalam perlindungan siapapun.  Bukan nyawanya yang beliau pikirkan, tapi keselaman umat Islam yang waktu itu masih sedikit sekali jumlahnya yang membuatnya bersedih.  Jika Rasulullah ﷺ wafat ditangan kaum Quraishi, bagaimana dengan nasib umatnya?  Bagaimana dengan nasib agama Islam itu sendiri?

Namun ternyata, adalah Muth’im bin ‘Adi yang dengan penuh perhatian memberikan ‘suaka politk’ perlindungan kepada Rasulullah ﷺ .

Saat itu bahkan Rasulullah ﷺ tidak bisa masuk ke kota Makkah kecuali bila ada seseorang yang bersedia memberikan perlindungannya.  Dan perlindungan itu, lagi lagi datang dari orang orang kafir.

Perlindungan diberikan seorang tokoh Musyrikin Quraisy yang bernama Al Muth’im bin ‘Adi. Rasulullah saw. meminta perlindungan dan Al Muth’im mengabulkan permintaan Rasulullah ﷺ . Al Muth’im bin ‘Adi dan keluarganya kemudian mengambil perlengkapan senjata mereka dan keluar bersama menuju Kabah.

Setelah sampai di Kabah, ia mengutus orang untuk meminta Rasulullah ﷺ segera masuk ke kota Makkah. Rasulullah ﷺ pun memasuki kota Makkah, lalu menuju Kabah, dan beliau langsung thawaf  dan melakukan shalat, kemudian kembali ke rumahnya.

Diriwayatkan bahwa Abu Jahal sempat bertanya kepada Al Muth’im bin ‘Adi, seperti yang tertera di Sirah Ibnu Hisyam, Bab “Kaifa Ajara Al Muth’im Rasulallah” (bagaimana Al Muth’im melindungi Rasulullah saw).

Abu Jahal bertanya, “Engkau pemberi jiwar ataukah pengikut Muhammad (muslim)?”

Al Muth’im menjawab, “Aku pemberi jiwar.”   Mendengar jawaban tegas Al Muth’im, akhirnya Abu Jahal berkata, “Kami melindungi siapapun yang engkau lindungi.” ( lihat juga Ar Rahiq Al Makhtum, Shafiyyur Rahman Mubarakfuri, Bab Ar Rasul shallallahu alaihi wasallam fi At Thaif ).

Pembelaan Al Muth’im bin ‘Adi ini amat berkesan di hati Rasulullah ﷺ . sehingga ketika Perang Badar usai dan Rasulullah saw. telah memutuskan perlakuan terhadap tawanan Perang Badar.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya Al Muth’im bin ‘Adi masih hidup kemudian berbicara kepadaku tentang tawanan perang yang buruk ini, pasti akan kubebaskan mereka untuknya.”

(lihat Zadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, hlm 100; Ar Rahiq Al Makhtum, Shafiyyur Rahman Mubarakfuri, Bab Ar Rasul shallallahu alaihi wasallam fi At Thaif).

 

Wallahu a’lam bil showab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..